Dijual oleh keluarganya sendiri sejak kecil, Viona Lin tumbuh sebagai pembantu keluarga Jiang. Hidupnya berubah ketika ia dipaksa mendonorkan ginjalnya untuk menyelamatkan Dylan Jiang, pewaris keluarga yang berkuasa.
Mengetahui pengorbanan itu, Dylan membawa Viona pergi dari keluarga Jiang. Namun alih-alih mendapatkan kebebasan, Viona justru terjebak dalam perhatian dan obsesi Dylan yang semakin sulit ia hindari.
Ketika seorang pria bertekad menjadikan dirinya miliknya selamanya, masih bisakah Viona menemukan jalan untuk bebas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Clara melirik tajam ke arah Viona. “Siapa namamu?” tanyanya.
“Viona Lin,” jawab Viona.
Clara tersenyum sinis. Ia membuka tasnya lalu mengeluarkan seikat uang tunai.
“Ambil ini sebagai bayaran dariku. Jangan lagi menghalangiku. Kau hanya seorang pembantu. Pasti belum pernah melihat uang sebanyak ini, bukan?” ujarnya sambil melempar uang itu ke arah Viona.
Lembaran-lembaran uang langsung berhamburan di udara sebelum jatuh berserakan di lantai.
“Nona Clara, walaupun kami hanya pelayan, bukan berarti Anda bisa memasuki rumah orang begitu saja,” ucap Bibi Ma.
“Maaf, Nona. Saya tidak membutuhkan uang Anda,” jawab Viona dengan tenang.
Clara mendengus sinis.
“Kenapa harus berpura-pura? Aku bahkan berhak memecat kalian berdua. Setelah aku menikah dengan Dylan, rumah ini akan menjadi milikku. Kalian hanyalah pelayan yang harus mematuhi semua perintahku.”
“Tuan Muda tidak ada di sini. Sebaiknya Anda datang lain kali,” ucap Viona dengan sopan.
Clara menghampiri Viona dengan tatapan sinis.
“Kau berani mengusirku? Apa kau tidak takut Dylan akan mengusirmu dari sini?” tanyanya sambil menatap Viona dengan tajam.
“Saya tidak melakukan kesalahan. Saya hanya menjalankan perintah Tuan Muda,” jawab Viona dengan tenang.
Clara tertawa kecil penuh ejekan.
“Seorang pembantu sepertimu ternyata cukup berani. Apa kau pikir Dylan akan membelamu hanya karena kau mengikuti perintahnya?”
“Saya tidak berpikir seperti itu,” jawab Viona. “Tapi Tuan Muda sudah berpesan bahwa tidak seorang pun boleh memasuki ruang pribadinya tanpa izin. Saya hanya menjalankan tugas saya.”
Mendengar jawaban itu, wajah Clara langsung mengeras.
Ia merasa harga dirinya diinjak oleh seorang pembantu.
Clara yang kesal langsung mengepalkan tangannya.
Tanpa menghiraukan peringatan siapa pun, ia memaksa melangkah menuju koridor.
Viona segera berdiri di depannya.
“Nona, Anda tidak boleh masuk. Tuan Muda sudah berpesan tidak seorang pun boleh memasuki ruang pribadinya tanpa izin,” ucap Viona.
Clara mendengus kesal.
“Minggir!”
Dengan kasar, Clara mendorong tubuh Viona ke samping.
Brak!
Pinggang Viona yang masih dalam masa pemulihan menghantam sudut meja dengan keras.
“Ahhh...!”
Jeritan Viona langsung menggema di dalam mansion.
“Viona!” seru Bibi Ma sambil berlari menghampirinya.
“Nona Clara, kenapa Anda begitu kasar?” tegur Bibi Ma dengan wajah panik.
Clara justru mencibir.
“Dasar lemah dan tidak berguna. Kenapa Dylan bisa mempekerjakan pelayan selemah dirimu?” ketusnya.
“Bibi... sakit...” lirih Viona.
Wajahnya seketika memucat.
Tangannya refleks memegangi pinggangnya yang terasa seperti ditusuk.
Bibi Ma segera membantu menopang tubuh Viona.
Dengan tangan gemetar, ia menaiki baju yang menutupi bagian pinggang gadis itu.
Seketika wajahnya berubah pucat.
“Darah...”
Bekas jahitan operasi itu kembali mengeluarkan darah hingga membasahi perban putih yang baru diganti sehari sebelumnya.
“Duduk dulu!” ujar Bibi Ma sambil memapah Viona ke sofa.
Viona menahan sakit sambil menggigit bibirnya, wajahnya semakin pucat.
Clara melipat tangan di dada, menatap dingin.
“Hanya terbentur sedikit saja sudah seperti ini. Lebih baik kau keluar saja dari rumah ini. Kau hanya akan membawa masalah dan virus ke dalam rumah,” ketusnya.
Bibi Ma menahan marah, lalu berkata dengan suara tegas namun panik, “Nona Clara, tolong bantu antar Viona ke rumah sakit. Luka jahitannya kembali mengeluarkan darah.”
Clara langsung mendengus.
“Ke rumah sakit? Jangan mengotori mobilku dengan orang seperti dia.”
Viona menunduk, menahan rasa sakit yang semakin menusuk di pinggangnya.
Bibi Ma menggertakkan gigi.
“Ini bukan soal kotor atau tidak, ini soal nyawanya!”
Clara tetap tidak bergeming.
“Kalau memang lemah, itu urusannya sendiri. Jangan merepotkan orang lain.”
Viona menarik napas pelan, suaranya lirih namun masih berusaha sopan.
“Tidak apa-apa, Bibi... saya masih bisa bertahan.”
Keringat dingin membasahi wajah Viona.
Rasa nyeri di pinggangnya semakin menjadi hingga tubuhnya sedikit gemetar.
Clara menatap mereka dengan angkuh.
“Aku adalah calon pemilik rumah ini. Kalian bukan siapa-siapa di hadapanku,” katanya dengan nada meremehkan.
Bibi Ma segera mengeluarkan ponselnya dan menekan nomor Dylan.
Beberapa detik kemudian, panggilan itu tersambung.
“Hallo, Tuan Muda. Luka Viona berdarah lagi...” ucap Bibi Ma dengan suara cemas.
Belum sempat ia menjelaskan lebih lanjut—
Brak!
Clara langsung merebut ponsel dari tangan Bibi Ma dan membantingnya ke lantai hingga hancur berkeping-keping.
“Nona! Apa yang Anda lakukan?” bentak Bibi Ma dengan wajah marah.
Clara hanya tersenyum sinis.
“Meminta bantuan Dylan yang sedang sibuk hanya demi pelayan rendahan ini? Menurutmu dia memang layak?”
“Nona, walaupun Anda adalah teman Tuan Muda, Anda juga tidak berhak menghina kami,” ucap Viona sambil menahan rasa sakit.
Clara tertawa sinis.
“Aku tidak berhak? Aku bahkan berhak mengusirmu dari rumah ini!”
Selesai berkata demikian, Clara langsung mencengkeram lengan Viona dengan kasar lalu menariknya dan menuju ke arah pintu.
“Nona, lepaskan tanganmu!” seru Bibi Ma sambil berusaha melepaskan cengkeraman Clara.
Viona yang sudah tidak sanggup menahan sakit refleks berusaha membebaskan tangannya.
Dengan sisa tenaganya, ia mendorong tubuh Clara.
Bruk!
Clara kehilangan keseimbangan dan terjatuh ke lantai.
Clara menatap Viona dengan mata membelalak, seolah tidak percaya seorang pembantu berani menyentuhnya.
Perlahan ia bangkit berdiri.
“Berani sekali kau melawanku!” bentaknya dengan wajah dipenuhi amarah.
Clara mengangkat tangannya tinggi-tinggi, hendak menampar wajah Viona.
Namun sebelum telapak tangannya mengenai pipi Viona, Viona dengan sigap menangkap pergelangan tangan wanita itu.
“Kau bukan majikanku dan tidak berhak mengusirku. Majikanku adalah Tuan Muda,” ucap Viona dengan tegas.
Tatapan Clara dipenuhi kemarahan.
Tepat pada saat itu—
Klik.
Pintu mansion terbuka.
Dylan melangkah masuk bersama Jay.
Mata Clara langsung berbinar.
Dalam sekejap, ia menarik tangan Viona, lalu menggunakan tangan Viona untuk menampar wajahnya sendiri.
Plak!
Clara sengaja melepaskan pegangan Viona, lalu mundur beberapa langkah sambil memegangi pipinya yang memerah.
Air matanya langsung mengalir.
“Viona... kenapa kau memukulku?” isaknya dengan suara penuh kepura-puraan.
Viona membeku.
“Aku tidak...”
Belum sempat Viona menyelesaikan ucapannya, Clara sudah lebih dulu menangis.
“Aku hanya ingin menemuimu Dylan. Tapi pembantumu malah mengusirku dan memukulku...” ucap Clara sambil berpura-pura terisak.
Suasana ruang tamu seketika menjadi hening.
Tatapan Dylan yang dingin perlahan beralih dari Clara... menuju Viona.