Sejak kecil, Kiara hidup sebagai anak yang dibenci dan disiksa oleh keluarga yang membesarkannya. Ia tak pernah tahu bahwa semua penderitaan itu berawal dari sebuah pembunuhan yang terjadi dua puluh lima tahun lalu.
Demi merebut harta dan kekuasaan, pamannya membunuh ayah kandung Kiara, mengurung ibu kandungnya selama puluhan tahun, lalu membesarkannya dengan identitas palsu.
Saat kebenaran mulai terungkap, Kiara harus merebut kembali haknya dan membalas semua dosa yang telah merenggut keluarganya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pineapple banana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
“Mau apa Rico ke rumah besar itu?” gumam Angga sambil mengamati dari kejauhan. Ia melihat pagar rumah megah itu terbuka, lalu Rico masuk bersama sepeda motornya, dan pagar kembali tertutup rapat.
“Tuan, apakah kita akan masuk ke dalam?” tanya sopirnya.
“Tidak, Juan. Kita pulang saja,” jawab Angga singkat.
“Baik, Tuan.”
Mobil itu pun bergerak meninggalkan tempat tersebut. Angga masih penasaran: ada apa sebenarnya dengan Rico? Mengapa ia masuk ke rumah megah itu? Sebuah teka-teki yang belum terpecahkan.
Sepanjang perjalanan, pikiran Angga terus melayang pada adiknya itu. Ia sama sekali tidak tahu milik siapa rumah tersebut. Tak lama kemudian, ia teringat pada ayahnya dan segera menghubungi Anton lewat telepon.
“Halo, Angga. Ada apa?” sapa Anton dari seberang sana.
“Halo, Pa. Tidak ada masalah serius, Angga hanya ingin memberi tahu soal Rico.”
“Hm… Rico? Ada apa dengan dia?”
“Tadi aku melihat dia masuk ke sebuah rumah megah di daerah Tangerang, tapi aku tidak tahu siapa pemilik rumah itu.”
“Nanti Papa suruh Baron untuk menyelidiki Rico dan rumah itu. Ngomong-ngomong, kau sedang apa di Tangerang?”
“Angga hanya lewat saja, Pa. Tadi baru saja dari Pelabuhan Merak. Papa tentu tahu, kan, ada barang yang baru masuk.”
“Begitu rupanya. Kau harus tetap waspada, banyak musuh di sekitarmu. Jangan sampai lengah. Dan ingat, Angga: penyelundupan barang ilegal termasuk tindak pidana, jadi berhati-hatilah.”
“Tenang saja, Pa. Kalau sampai terjadi apa-apa, kan Angga bisa menghubungi Tante Yuli atau Om Rafa.”
“Terserah kau saja. Papa sedang sibuk dengan urusan lain.”
Klik. Sambungan telepon pun terputus. Angga meletakkan ponsel di jok samping, lalu berkata kepada sopirnya.
“Kita pulang saja dulu, Juan. Nanti kalau aku ada keperluan lagi, akan kuhubungi kamu.”
Juan hanya mengangguk mengerti, lalu mobil itu melaju membelah jalan raya menuju kediaman mereka.
.
.
.
Di tempat lain, Kiara dan Bara sedang duduk di sebuah taman bersama Vera dan Ucup. Keempatnya terdiam dalam kesunyian, namun pikiran mereka sibuk menyusun rencana terbaik untuk menjatuhkan musuh satu per satu.
“Kiara, Ucup, Vera… ikut aku ke rumah. Tadi Papa menelepon dan meminta kita datang,” ajak Bara tiba-tiba.
“Ada apa gerangan Om Seno memanggil kita?” tanya Vera penasaran.
“Aku juga belum tahu pasti, tapi perasaanku mengatakan Papa dan Mama sudah mengetahui segala hal tentang Anton,” jawab Bara.
“Baiklah, Mas. Aku ikut,” sahut Kiara setuju.
“Kalau begitu, ayo kita berangkat sekarang.”
Tanpa menunda waktu lagi, keempat pemuda itu masuk ke dalam mobil dan segera melaju menuju kediaman keluarga Bara.
Tak lama kemudian, mereka tiba di sana. Saat masuk, terlihat Pak Seno dan Bu Yuni sudah menunggu kedatangan mereka.
“Pa, Ma,” sapa Bara, diikuti oleh yang lain.
“Silakan duduk semuanya,” persilakan Pak Seno.
Mereka pun duduk berhadapan dengan Pak Seno.
“Papa memanggil kami dan meminta Kiara datang ke sini, ada hal penting apa sebenarnya, Pa?” tanya Bara.
“Ada sesuatu yang harus Papa sampaikan dan selesaikan di sini. Tapi sebelum itu, siapa pria yang duduk di sampingmu, Vera?” tanya Pak Seno sambil menatap Ucup.
“Oh, perkenalkan, Om. Namanya Ucup. Dialah yang membantu saya mencari rekaman video kejadian 25 tahun lalu, tentang kecelakaan yang menimpa almarhum ayah Kiara,” jawab Vera pelan.
Pak Seno terdiam sejenak, memejamkan mata, menarik napas panjang lalu menghembuskan perlahan. Setelah itu, ia membuka mata dan menatap lurus ke arah Kiara.
“Jadi… kau sudah mengetahui semuanya, Nak?”
Kiara hanya mengangguk pelan.
“Ya, Om. Dan saya ingin bertanya kepada Om Seno: apakah Om mengenal ayah kandung saya? Mustahil rasanya sesama pengusaha besar tidak saling mengenal,” ucap Kiara penuh harap.
“Baiklah, Kiara. Om akan menceritakan semuanya secara jujur. Saat itu, sebelum kau lahir, ayahmu meminta bertemu dengan Om. Waktu itu bulan Maret, kandungan ibumu sudah berusia tujuh bulan. Yuda meminta tolong padaku untuk menyelidiki kasus kecelakaan yang menimpa ayahnya—kakekmu—dan juga mencari tahu latar belakang serta hubungan antara Risma dan Henri. Yuda sangat curiga pada Risma, firasatnya mengatakan ada sesuatu yang tidak beres antara mereka berdua.”
“Berbulan-bulan lamanya Om menyelidiki mereka, namun belum menemukan bukti yang cukup jelas hingga usia kandungan Linda memasuki bulan kesembilan—saat kelahiranmu sudah semakin dekat. Sebelum itu, Yuda pernah membuat surat wasiat yang menyatakan bahwa jika suatu saat ia tiada, seluruh harta dan perusahaan akan jatuh ke tanganmu, Kiara. Namun ia juga memberikan sebagian kecil bagian untuk Anton dan kedua anaknya. Surat wasiat asli itu ia titipkan dan amankan kepadaku. Selama 25 tahun ini Om menyimpannya dengan sangat rapat, bahkan Anton pun tidak pernah mengetahuinya.”
“Setelah itu, Linda melahirkan kamu tepat di tanggal yang sama saat kakekmu mengalami kecelakaan—tanggal dan bulan yang sama persis. Yuda memintaku untuk segera datang ke rumah sakit guna menyelamatkan Linda dan dirimu. Sayangnya, saat itu Om sedang dalam perjalanan pulang dari Surabaya. Karena terlambat tiba, Om mendapatkan kabar bahwa Yuda tewas di tempat akibat kecelakaan mobil. Di saat yang sama, ibumu baru saja melahirkanmu. Tak lama kemudian Linda menghilang, dan Anton menyebarkan kabar ke media bahwa Linda kabur bersama pria lain—padahal itu semua adalah kebohongan belaka. Saat Linda menghilang, Om juga berusaha mencarinya namun belum berhasil menemukannya.”
“Mereka sungguh kejam… Mereka iblis yang tak punya hati nurani!” desis Kiara dengan suara bergetar. “Bagaimana mungkin mereka melakukan hal sekejam itu kepada ayahku? Tidak hanya itu, ibu pun difitnah dan aku harus kehilangan kedua orang tuaku selamanya…” lanjutnya lirih.
“Seharusnya aku mendapatkan kasih sayang yang utuh dari mereka, namun kenyataannya aku tidak pernah merasakannya sedikit pun. Selama ini hidupku hanya diisi dengan siksaan, pukulan, dan makian. Apa pun yang aku lakukan, mereka selalu mencari alasan untuk menyakitiku. Kini aku mengerti sepenuhnya alasan mereka bersikap begitu…”
Kiara meluapkan segala isi hati dan keluh kesahnya. Air mata membanjiri pipinya, hatinya terasa begitu sesak dan perih. Di sisi lain, Bu Yuni pun tak sanggup menahan tangis mendengar penderitaan yang dialami gadis itu. Bara yang melihat keadaan Kiara segera mendekat dan memeluknya erat untuk menenangkan.
“Mereka melakukan itu agar Kiara perlahan-lahan mati tanpa meninggalkan jejak,” sahut Ucup tiba-tiba, membuat semua orang menoleh ke arahnya.
“Mengapa kau berpikir begitu, Cup?” tanya Vera.
“Coba kita pikirkan secara logika. Seluruh harta, aset, dan saham perusahaan yang seharusnya menjadi hak milik Kiara justru mereka nikmati selama ini. Walaupun Anton membuat surat wasiat palsu, secara hukum dokumen itu tetap tidak sah. Hak kepemilikan yang sesungguhnya tetap berada di tangan Kiara. Mereka menyiksa Kiara dengan harapan gadis itu takkan bertahan hidup, sehingga harta itu selamanya jatuh ke tangan keluarga mereka. Dan aku yakin, sampai saat ini Anton masih berusaha mencari surat wasiat asli itu agar tidak pernah sampai ke tangan Kiara,” jelas Ucup panjang lebar.
Semua yang hadir di ruangan itu mengangguk setuju, membenarkan penjelasan Ucup.
“Dan jika suatu saat Kiara berhasil menemukan dokumen itu, atau Om Seno menyerahkan berkas itu kepadanya sehingga ia menandatangani dan mengklaim hak waris dari kakek dan ayah kandungnya, mereka tidak akan segan melakukan hal yang sama seperti 25 tahun yang lalu—bahkan mungkin lebih kejam lagi,” tambah Ucup.
Mendengar hal itu, Bara dan Pak Seno mengepalkan tangan menahan amarah. Berbeda dengan Vera dan Bu Yuni, keduanya sampai bergidik ngeri dan menggelengkan kepala membayangkan bahaya yang mengancam nyawa Kiara.
“Apapun yang terjadi, kami harus melindungi Kiara… bahkan dengan nyawaku sekalipun,” tegas Bara dengan penuh tekad.
Bersambung