Alya yang baru tamat SMA harus menerima takdir perjodohan kakak kandungnya yang mengakibatkan Alya harus mengubur mimpi dan menerima perlakuan kasar dari Suaminya sendiri yang merupakan Pacar kakak kandungnya.
Namun takdir membawa Alya bertemu dengan Trainer Aerobik yang memiliki kepedulian melebihi kakak kandungnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dibawah Langit Sore
Udara di dalam ruko lantai satu sanggar aerobik Sangkar Hati sore itu terasa lebih padat dari biasanya. Dentum musik bertempo cepat baru saja mereda, digantikan oleh suara riuh obrolan ibu-ibu komplek yang bergegas menuju dispenser air atau ruang ganti.
Alya berdiri di sudut dekat loker, menyeka keringat yang membasahi leher dan keningnya dengan handuk kecil. Kaus olahraga kuning terangnya melekat pas di tubuhnya yang kini tampak lebih bugar dan berisi.
Aktivitas fisik intens ini benar-benar telah menjadi jangkar kewarasannya. Di tempat ini, ia bisa melupakan sejenak dualitas getir yang terjadi di atas ranjang Blok C-12, terutama memori intens tentang penaklukan sore itu yang masih menyisakan rasa hangat samar di perut bagian bawahnya.
"Latihanmu hari ini sangat fokus, Alya. Bagus sekali."
Alya menoleh, menemukan Diana sudah berdiri di sampingnya. Sang instruktur berambut pixie-cut itu malam ini mengenakan jaket parasut tanpa lengan berwarna hitam, memperlihatkan otot-otot lengannya yang padat dan atletis.
Sepasang mata elangnya menatap Alya dengan kelembutan yang teramat dalam—sebuah tatapan protektif yang selalu membuat Alya merasa dihargai sebagai manusia.
Alya tersenyum tulus, sesuatu yang hanya bisa ia lakukan di tempat ini. "Terima kasih, Mbak Diana. Rasanya kalau tidak ke sini satu hari saja, badanku malah terasa aneh."
Diana terkekeh pelan, suara baritonnya yang rendah terdengar sangat menenangkan. "Itu artinya tubuhmu sudah mulai mencintai olahraga. Tapi ingat, jangan terlalu memaksakan diri jika pikiranmu sedang lelah."
Wanita matang itu melangkah satu langkah lebih dekat, auranya yang dominan namun menenangkan seolah mengunci ruang di sekitar mereka.
"Kamu tahu... pintu ruanganku selalu terbuka jika kamu butuh tempat untuk sekadar melepaskan penat."
Alya menatap manik mata Diana. Di tengah pusaran hidupnya yang dikelilingi oleh manipulator seperti Gita dan pria labil seperti Reza, perhatian murni dari Diana terasa seperti oase yang teramat berharga.
Rasa kesepian yang mengendap di dadanya mendadak menuntut ruang untuk berbagi. Ia merasa Diana adalah sosok yang tepat—seorang wanita dewasa yang kuat, yang tidak memiliki kepentingan bisnis dengan keluarganya.
Alya meraba kantong jaket biru tuanya, mengeluarkan ponselnya perlahan. "Mbak Diana... boleh saya minta nomor WhatsApp Mbak? Kadang... saya merasa butuh teman mengobrol di luar jam kelas."
Kilatan kepuasan dan hasrat tersembunyi seketika melintas di sepasang mata tajam Diana, meskipun wajah tegasnya tetap teratur rapi. Senyuman tipis penuh arti terukir di bibirnya.
"Tentu saja, Alya. Dengan senang hati." Diana menerima ponsel Alya, mengetikkan nomor pribadinya, lalu menyerahkannya kembali.
"Hubungi aku kapan saja. Malam sekalipun, aku akan mendengarkanmu."
"Terima kasih, Mbak Diana," bisik Alya hangat, merasa sebuah ikatan kenyamanan baru baru saja terbangun, tanpa menyadari bahwa perhatian Diana padanya menyimpan getaran rasa yang jauh lebih dalam sebagai sesama wanita.
Sementara itu, di Bandara Internasional, atmosfer yang sepenuhnya berbeda sedang berlangsung.
Reza berdiri di area kedatangan terminal 3, bersandar pada pilar beton dengan setelan kemeja kerja yang rapi. Matanya terpaku pada pintu keluar penumpang, mengabaikan hiruk-pikuk orang-orang di sekitarnya.
Pikirannya sempat terbagi antara memori pergulatan kasarnya dengan Alya di bawah guyuran hujan tempo hari dan kepulangan wanita yang selama ini ia puja.
Tepat pukul empat sore lewat tiga puluh menit, sosok yang ditunggunya muncul.
Gita berjalan keluar dengan langkah anggun yang teramat percaya diri, memimpin di depan asistennya yang sibuk mendorong koper-koper mahal.
Ia mengenakan setelan blazer berwarna terakota dengan kacamata hitam yang bertengger di hidung mancungnya. Rambut panjangnya sengaja digulung rapi ke atas, memperlihatkan leher jenjangnya yang putih.
Begitu melihat Reza, Gita melepaskan kacamata hitamnya, menampilkan sepasang mata tajam yang melengkung indah penuh kemenangan.
"Reza!" sapa Gita dengan suara cerianya yang khas saat pria itu melangkah mendekat dan langsung mengambil alih tas jinjingnya.
Reza tersenyum lebar, menarik Gita ke dalam pelukan singkat namun erat di depan umum.
"Selamat datang kembali, Git. Bagaimana Singapura?"
"Melelahkan, tapi sukses besar," jawab Gita sambil mengecup pipi Reza sekilas, aroma parfum melatinya yang mahal langsung menyergap indra penciuman Reza. Gita menatap wajah suaminya itu dengan tatapan menilai.
"Kamu kelihatan agak kurusan, Rez. Dan... ada yang berbeda dari tatapanmu. Apa sesuatu terjadi selama aku di luar negeri?"
Jantung Reza berdesir sesaat, teringat bagaimana raga Alya memohon ditaklukkan di atas ranjangnya. Namun dengan cepat ia menguasai ekspresi wajahnya, menampilkan senyuman patuh yang biasa Gita sukai.
"Hanya urusan kantor yang menumpuk, Git. Aku merindukanmu, itu saja."
Gita tersenyum puas, menggandeng lengan kokoh Reza dengan posesif saat mereka berjalan menuju tempat parkir mobil mewah. Paranoia kecil yang sempat ia rasakan tempo hari perlahan menguap melihat kepatuhan Reza yang tampaknya masih utuh di bawah kendalinya.
Dua jam kemudian, malam telah sepenuhnya menguasai kota. Di kampus swasta yang terang benderang, Alya duduk di bangku deretan ketiga dekat jendela ruang kelas Manajemen-A.
Suara dosen yang sedang menjelaskan materi akuntansi dasar menjadi latar belakang yang merdu bagi telinganya. Di atas meja, buku catatannya dipenuhi oleh rumus-rumus dan tabel analisis yang rapi. Di sampingnya, Maya sedang menatap lembar kerja Alya dengan mata berbinar kagum.
"Al, sumpah, ini bagian neraca lajur yang dari tadi aku bingung setengah mati, kamu cuma butuh waktu lima menit buat menyelesaikannya?" bisik Maya dengan suara tertahan agar tidak ditegur dosen.
Alya terkekeh pelan, membalik halaman bukunya dengan jemari lentik. "Ini hanya soal ketelitian memasukkan akun penyesuaiannya saja, Kak Maya. Sini, biar aku tunjukkan cara cepatnya."
Doni yang duduk di bangku belakang langsung mencondongkan tubuhnya ke depan, ikut menguping.
"Alya, nanti setelah kelas selesai, boleh ya aku fotokopi catatanmu? Otak buruh pabrik sepertiku ini sudah mau meledak kerja seharian, gak sempat baca modul."
"Boleh, Kak Doni. Pakai saja," jawab Alya dengan senyuman hangat yang teramat tulus.
Di dalam ruangan kelas yang dipenuhi oleh para pejuang nafkah malam ini, Alya merasakan harga dirinya tegak berdiri.
Di tempat ini, ia bukan lagi pajangan hampa Blok C-12, bukan juga korban yang raganya bisa diambil kapan saja. Di sini, ia adalah Alya yang cerdas, yang dibutuhkan, dan yang dihormati karena kemampuannya.
Setiap ilmu yang ia serap malam ini terasa seperti fondasi beton yang ia bangun untuk menghancurkan sangkar emasnya sendiri. Perang saraf ini masih panjang, namun dengan nomor Diana di ponselnya dan kecerdasan yang diakui di kampus ini, Alya tahu, ia tidak lagi berjalan dalam kegelapan sendirian.
jangan lupa mampir yaa🤭