SANG NAGA PURBA (Garis Darah yang Terbuang)
Di Benua Canglan, garis darah adalah segalanya. Terlahir dari pasangan prajurit kuat Klan Chi, bayi Chi Tian justru dibuang ke kasta terendah karena Altar Naga tidak memberikan respon sedikit pun. Dianggap sampah tak berguna, ia ditinggalkan untuk mati.
Belasan tahun berlalu, Chi Tian kembali menyamar di balik jubah hitam dan zirah perak, siap membalas dendam di Arena Penyisihan.
Namun, empat klan agung tak pernah menyadari kebenaran mengerikan ini: Altar Naga hari itu bukannya mati, melainkan darah Chi Tian terlalu tinggi dan agung untuk dijangkau oleh altar biasa.
Mereka pikir telah membuang sebuah sampah, tanpa tahu telah melepaskan seekor Naga Purba yang siap meruntuhkan seluruh takhta kesombongan benua!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kausafiksi.id, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penghuni Dunia Tersembunyi
Desiran angin tajam menerpa wajah Tian Xue dan Lu Shi saat tubuh mereka meluncur bebas menembus kegelapan jurang bawah tanah. Namun, tepat ketika kecepatan jatuh mereka berada di puncaknya, sebuah keanehan terjadi.
WUUSSSSSHHH!
Tanpa ada guncangan fisik yang menghancurkan, tubuh mereka seolah menerobos sebuah tirai tipis tak kasat mata. Riak spasial memancar halus, dan seketika itu pula, kegelapan pekat yang mengurung mereka sirna, berganti dengan kilatan cahaya alami serta aura energi alam yang teramat melimpah.
BRUUUKKK!
Tian Xue mendarat dengan tangkas di atas hamparan rumput basah di pinggiran sungai. Sementara itu, Lu Shi yang tidak sempat memperbaiki keseimbangan tubuhnya terlempar sedikit lebih jauh ke arah aliran air.
BYUUUURRRRRRR!
"Woooaaaaahh!"
Suara kepakan air menggema nyaring saat tubuh Lu Shi mendarat tepat di tengah sungai yang jernih dan dingin. Air membuncah tinggi, membasahi seluruh tubuh gadis itu hingga ujung rambutnya.
"Sialan!" jerit Lu Shi histeris.
Dengan wajah bersungut-sungut dan tubuh basah kuyup, ia berjalan perlahan menepi ke tepi daratan. Jemari lentiknya memeras pinggiran gaunnya yang tampak kuyup dengan gumpalan amarah yang hampir meledak.
"Gaun artefak mewahku... Ah, benar-benar sial!" Lu Shi memelototi Tian Xue yang berdiri tenang tak jauh darinya. "Bodoh! Kenapa kau malah diam berdiri sok tampan seperti itu, hah?! Bukannya menolongku!"
Tian Xue hanya melirik dingin tanpa menunjukkan rasa bersalah sedikit pun. Ia menepuk-nepuk jubah hitamnya untuk membersihkan sisa debu dan tanah yang menempel di bagian belakang tubuhnya.
"Ini bukan Benua Canglan," ujar Tian Xue pelan, mengabaikan omelan gadis di depannya.
Lu Shi yang semula hendak kembali mengumpat perlahan menghentikan ucapannya. Ia menyapu pandangannya ke sekeliling, merasakan hembusan udara yang meresap ke pori-pori kulitnya.
Suasana di tempat ini teramat berbeda dari Hutan Purba. Langit di atas sana memancarkan pendar keemasan lembut tanpa matahari langsung, pepohonan tumbuh meliuk dengan kilau energi spiritual pekat, dan pemandangannya tampak begitu murni—seolah belum pernah tersentuh oleh peradaban luar selama jutaan tahun.
"Ya... tempat ini terasa sangat berbeda," bisik Lu Shi, rasa jengkelnya berganti kekaguman tipis. "Sangat indah dan alami."
"Bukan hanya berbeda dari Hutan Purba," Tian Xue memusatkan indra persepsinya, menganalisis fluktuasi energi di sekitarnya. "Tempat ini adalah dunia terpisah. Sebuah dunia kecil tersembunyi yang terisolasi dari Benua Canglan."
Namun, masa kebingungan mereka tidak berlangsung lama. Dari balik semak-semak pepohonan purba di sekitar tepi sungai, suara derak langkah kaki yang berat dan teratur mendadak mendekat dari berbagai arah.
SRAK... SRAK... SRAK!
Naluri bertarung Tian Xue dan Lu Shi terpicu secara bersamaan. Keduanya langsung berbalik dan bersiaga saat belasan sosok berotot kekar melompat keluar dari balik rindangnya vegetasi.
Pakaian yang mereka kenakan terbuat dari kulit binatang purba berkain kasar dengan gaya amat kuno. Masing-masing dari mereka memegang senjata tradisional berupa tombak batu berkilau, pedang perunggu, dan panah kayu berujung runcing. Dalam hitungan detik, mereka telah mengurung Tian Xue dan Lu Shi dari empat penjuru.
Perlahan, seorang pria berbadan tegap dengan zirah kulit bersisik melangkah maju dari garis depan. Pria itu memancarkan tekanan fisik yang lumayan kuat, dengan sepasang mata tajam yang menatap penuh kecurigaan.
"Sebutkan dari mana asal kalian!" gertak pria itu dengan suara berat berwibawa. "Dan apa tujuan kalian menyusup ke wilayah kami?!"
Tian Xue menyipitkan matanya, mengamati struktur fisik para pemburu tersebut. Otot-otot mereka terukir sangat padat, dan pola garis di kulit mereka memancarkan densitas fisik yang jauh melebihi manusia biasa.
'Aura ini... tidak ada hawa Beast, dan bukan pula ras manusia murni,' batin Tian Xue cermat.
Sebelum Tian Xue sempat membuka suara untuk bernegosiasi, Lu Shi yang masih kesal karena gaunnya basah kuyup justru mendahului dengan nada ketus.
"Kau pikir kau layak, hah?! Menanyakan asal-usul kami dengan nada menggertak begitu?!" celetuk Lu Shi seraya berkacak pinggang.
Mendengar ucapan barbar dari gadis rubah itu, Tian Xue hanya bisa menghela napas panjang. Ia sudah bisa menebak ke mana arah situasi ini akan berlanjut.
"Apa yang kau bilang, Gadis Liar?!" wajah pria berzirah kulit itu memerah menahan amarah. Tanpa rasa ragu, ia mengibaskan tangannya tinggi-tinggi. "Kurang ajar! Tangkap mereka berdua!"
"Ciiiih! Dasar segerombolan orang barbar tak berotak!" umpat Lu Shi, sama sekali tidak menyadari bahwa tindakannya sendiri tak kalah barbar.
WUUSSSTTT... WUUSSSTTT!
Dalam sekejap, belasan prajurit di empat penjuru melesat serentak. Hantaman tombak dan tebasan pedang perunggu meluncur deras mengincar titik-titik vital Tian Xue dan Lu Shi.
Tepat saat Lu Shi hendak membakar energi jiwa di punggungnya untuk memanggil Wujud Rubah Ekor Sembilan, tangan kanan Tian Xue bergerak cepat menahan pundak gadis itu.
"Jangan ceroboh!" bisik Tian Xue tegas. "Kita belum tahu rahasia tempat ini atau siapa mereka sebenarnya. Simpan garis darahmu!"
Lu Shi mendecak kesal, namun ia sadar teguran Tian Xue ada benarnya. "Cih... Kau benar!"
SRAAAGGG!
Gadis itu menarik Cincin Ruangnya, memanggil Pedang Sembilan Nyawa ke dalam genggamannya. Meskipun belum sepenuhnya menguasai teknik pedang terisolasi tersebut, kilatan energi pedang jarak jauh yang ia kibaskan tetap sanggup menghempaskan tiga prajurit tombak di depannya hingga terpental ke udara!
Di sisi lain, Tian Xue memilih sama sekali tidak memanggil senjatanya. Ia murni mengandalkan ketahanan fisik dan kelajuan refleks fisiknya yang telah ditempa oleh gejolak darah Naga Purba.
BRAKKK!
Tian Xue menggeser tumpuan kakinya seraya mencengkeram mata tombak dari seorang prajurit yang melesat ke arah dadanya. Dengan satu hentakan bertenaga, ia memutar poros tombak tersebut, memanfaatkannya sebagai beban untuk memukul mundur dua prajurit lain di sampingnya.
Pertarungan berjalan sangat sengit!
Meskipun para prajurit ini tidak menggunakan teknik seni bela diri yang rumit seperti praktisi klan murni di Benua Canglan, kepadatan fisik (physical density) mereka teramat ekstrem! Setiap pukulan dan hantaman senjata mereka membawa bobot tonan yang sanggup meretakkan batuan granit. Ketahanan kulit mereka bagaikan perisai baja alami yang sulit ditembus oleh serangan biasa.
"Cepat sekali gerakan mereka!" seru Lu Shi seraya melompat mundur, memutar Pedang Sembilan Nyawa untuk menangkis hujan anak panah yang meluncur bagaikan kilat.
Tian Xue menggertakkan giginya. Ia menyadari jika perkelahian ini dibiarkan berlarut-larut tanpa serangan fatal, stamina mereka akan terkuras habis oleh keunggulan fisik lawan.
"Lu Shi, selesaikan dalam satu gelombang!" seru Tian Xue.
Tian Xue memadatkan aura kekuatan fisiknya ke dalam telapak tangan, meluncurkan hentakan gelombang angin tak berwujud yang menghantam dada empat prajurit secara bersamaan.
BOMMMMM!
Hantaman dahsyat itu membuat barisan prajurit terpental hebat dan tumbang di atas tanah, terengah-engah menahan sakit di persendian mereka. Di saat yang sama, tebasan energi melingkar dari Pedang Sembilan Nyawa milik Lu Shi merebahkan sisa prajurit lainnya tanpa melukai nyawa mereka.
Melihat seluruh pasukannya tumbang dalam waktu singkat, sang pemimpin berzirah kulit membelalak lebar. Ia menyadari kekuatan kedua pemuda asing di depannya berada di luar jangkauan pasukannya.
"Sialan... Siapa sebenarnya kalian?!" teriak sang pemimpin dengan napas memburu.
Tanpa menunggu balasan, pria itu melempar sebuah bom asap berbasis bijih alami ke tanah.
BOMF!
Asap pekat berwarna cokelat mendadak membumbung tinggi melingkupi area sungai. Ketika angin menepis asap tersebut beberapa saat kemudian, sang pemimpin telah melesat kabur menghilang ke dalam Hutan Tersembunyi, meninggalkan belasan pasukannya yang terkulai kaku.
Lu Shi menyapu peluh di dahi seraya menurunkan pedangnya, memelototi arah kaburnya sang pemimpin.
"Cih, penakut! Dia malah melarikan diri!" gerutu Lu Shi.
Tian Xue menatap ke arah vegetasi tempat pria itu menghilang dengan pandangan dalam.
"Biarkan saja," sahut Tian Xue datar. "Fisik mereka teramat kuat dan keras secara tidak alami... Tempat ini pasti menyimpan garis darah kuno yang sangat pekat. Dan kaburnya pria itu berarti... bantuan yang jauh lebih kuat akan segera datang."