NovelToon NovelToon
Menolak Cerai dari Sang Perwira, Aku Malah Jadi Permata Keluarganya

Menolak Cerai dari Sang Perwira, Aku Malah Jadi Permata Keluarganya

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Fantasi / Menikahi tentara / Antagonis Jahat
Popularitas:121
Nilai: 5
Nama Author: Aura Rizki

Larasati membuka mata dan mendapati dirinya terjebak di dalam sebuah novel — menjadi "istri pertama yang jahat", hamil enam bulan, tepat di detik sang suami, perwira dingin Arya Reksonegoro, mengucap satu kata: cerai.
Ia tahu jalan ceritanya. Di novel itu, tokoh seperti dirinya menggugurkan kandungan, bercerai, lalu menghilang — dan dua tahun kemudian keluarga Reksonegoro direhabilitasi, hidup bahagia bersama "tokoh utama wanita" yang terlahir kembali.
Tapi Laras menolak mengikuti naskah.
Saat keluarga suaminya difitnah, jatuh miskin, dan terusir dari Jakarta ke sebuah desa terpencil di Jawa Tengah, ia justru memeluk erat suaminya, menolak cerai, menolak menyerah. Dengan satu rahasia yang tak dimiliki siapa pun — ia tahu masa depan — Laras perlahan menghangatkan hati sang perwira yang dingin, memenangkan seluruh keluarga besar yang tadinya membencinya, dan satu per satu mementahkan rencana si "tokoh utama" yang terlahir kembali.
Yang tak ia duga: perempuan yang selama ini dianggap anak buangan ini... ternyata menyimpan rahasia asal-usul yang mengguncang seluruh negeri. Ibunya seorang pahlawan yang gugur. Ayah kandungnya — seorang jenderal legendaris yang selama puluhan tahun mencarinya.
Dari menantu yang dihina menjadi permata yang diperebutkan seluruh keluarga; dari istri buangan menjadi putri sang jenderal. Sekali ini, Laras akan menulis ulang takdirnya sendiri.
"Kalau kamu pikir aku akan menyingkir sesuai naskah… kamu salah besar, Mas."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aura Rizki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 28

Bab 28

Panen dan Rantang ke Sawah

Musim panen mengubah Girimulyo menjadi lautan suara sabit dan tawa.

Sejak pagi, warga turun ke sawah secara gotong royong. Arya, Jarwo, dan para lelaki lain memotong serta mengangkut ikatan padi. Sekar membantu di bagian yang kering. Guntur tetap di rumah menyiapkan jawaban perkara bersama Rukmini, mengikuti kesepakatan agar ia tidak terlalu tampil di tengah kerumunan.

Laras dilarang mendekati lumpur.

“Aku hanya membawa makanan,” protesnya.

Arya menaruh empat rantang di dekat pintu. “Ningsih membawa dua, Sekar dua. Kamu membawa botol minummu sendiri.”

“Mas membagi tugasku sampai habis.”

“Saya menyisakan tugas paling penting.”

“Apa?”

“Datang.”

Laras menahan senyum. Setelah hubungan mereka berubah, Arya semakin berani mengucapkan kalimat manis dengan wajah seolah sedang membaca perintah dinas.

Rukmini memasak nasi, ayam bumbu kuning, tumis kacang panjang, dan sambal terasi. Ningsih membawa tahu goreng serta lalapan. Semua bahan berasal dari patungan keluarga yang ikut panen, dicatat agar tidak ada satu rumah menanggung seluruh biaya.

Menjelang siang, mereka berjalan ke sawah melalui jalan kering. Laras memakai topi lebar dan sepatu bersol kasar. Ia berhenti dua kali untuk minum, meski jaraknya tidak sampai satu kilometer.

Pematang penuh ikatan padi. Debu sekam menempel pada kulit para pekerja. Di bawah matahari, punggung Arya tampak basah. Ia mengangkat dua karung kecil sekaligus, tetapi segera menurunkannya ketika melihat Laras datang.

“Kenapa berjalan sendiri?”

Ningsih menunjuk dirinya. “Aku ini tidak kelihatan?”

Arya mengabaikan ejekan itu. Ia mengambil botol dari tangan Laras, memeriksa wajahnya, lalu membimbingnya ke tikar di bawah pohon nangka.

“Aku tidak pusing. Tidak mulas. Bayi bergerak normal,” Laras melapor sebelum ditanya.

“Kakinya?”

“Masih milikku.”

Arya mengangkat alis.

“Sedikit berat, tapi tidak bengkak.”

Baru setelah itu ia kembali membantu mengangkat rantang.

Para pekerja mencuci tangan dan duduk berkelompok. Laras membagikan makanan bersama Ningsih dan Sekar. Tidak ada porsi khusus untuk Pak Waluyo atau keluarga mana pun. Orang lanjut usia mendapat tempat teduh lebih dahulu.

Seorang nenek datang terlambat karena menjaga cucunya. Laras masih menyimpan satu porsi di rantang paling bawah. Nenek itu terkejut ketika lauknya tetap lengkap.

“Saya kira sudah habis.”

“Nama Mbah ada di daftar.”

Arya yang mendengar dari kejauhan tersenyum. Laras dapat membuat orang merasa diingat hanya dengan satu kotak makan dan tulisan kecil.

Anak-anak mengumpulkan bulir padi yang tercecer, lalu menyerahkannya kepada pemilik sawah. Tidak ada hasil yang muncul secara ajaib. Setiap karung adalah punggung yang membungkuk, telapak tangan yang kasar, serta keluarga yang saling menggantikan saat seseorang lelah.

Pakde Karyo memarkir mobilnya dekat jalan besar untuk mengangkut hasil ke lumbung. Ia mencatat setiap karung agar tidak tertukar. Pak Waluyo beberapa kali mencoba berdiri di depan saat orang mengambil foto dokumentasi desa, tetapi para petani justru memanggil Arya dan Jarwo untuk masuk dalam bingkai.

Arya menolak berdiri sendiri. Ia menarik dua petani tertua ke depan dan meminta semua tim ikut.

“Kalau foto ini dipasang di balai, jangan tulis nama saya paling besar,” katanya.

“Tulis saja nama Laras,” celetuk Ningsih. “Dia yang membuat kalian berhenti bekerja demi makan.”

“Itu jabatan paling penting,” jawab Arya.

Laras melemparkan lap kain kecil kepadanya. Arya menangkapnya sambil tertawa. Suara itu menarik beberapa tatapan, sebab orang jarang melihat lelaki tersebut begitu ringan.

Di sisi lain sawah, Melati datang membawa teko untuk Bu Sri. Ia sengaja memakai baju terbaiknya, tetapi tidak seorang pun meminta bantuannya membagi makan. Semua meja sudah ditata Laras dan Ningsih. Bahkan ibunya sibuk bertanya kepada warga mengapa bagian keluarga kepala desa sama dengan yang lain.

Melati memandang kelompok di bawah pohon. Kehangatan mereka tidak dibuat untuk menyakitinya, tetapi justru itu yang paling menyakitkan. Tidak ada satu kursi pun yang sengaja direbut darinya. Dunia hanya bergerak tanpa menunggu ia mengambil tempat.

“Dulu saya kira Bu Laras tidak tahan seminggu di desa,” kata seorang ibu.

“Saya juga,” jawab Laras jujur.

“Sekarang malah tahu siapa yang belum makan.”

“Karena kalau satu orang belum makan, nanti hitungan rantangnya tidak cocok.”

Jawaban itu memancing tawa. Ningsih berbisik bahwa Laras selalu menyembunyikan perhatian di balik buku kas.

Arya duduk di depannya. Laras menyerahkan nasi dan bagian ayam, lalu mengusap sekam yang menempel di alisnya.

“Mas jangan mengangkat terlalu berat.”

“Saya tidak hamil.”

“Pinggang tetap cuma satu.”

“Tadi katanya saya membagi tugasmu sampai habis.”

“Sekarang aku mengambil tugas mengatur suami.”

Jarwo yang duduk dekat mereka bersiul. “Mas Arya, di hutan memimpin satu desa. Di bawah pohon dipimpin istri.”

“Masalah?” tanya Arya.

“Tidak. Saya ingin belajar caranya supaya Ningsih tidak memerintah saya.”

Ningsih menyodorkan sambal lebih banyak ke piring suaminya. “Coba ulangi.”

Jarwo langsung diam. Tawa kembali pecah.

Sesudah makan, Laras membantu mengumpulkan daun pembungkus dan gelas. Ia tetap di atas tikar, tidak menginjak pematang sempit. Arya membuat kipas dari caping dan menggerakkannya di samping wajah istrinya.

“Mas bisa makan dengan tenang,” kata Laras.

“Saya sudah selesai.”

“Aku tidak kepanasan.”

“Saya yang kepanasan melihatmu.”

Laras tersedak air. Arya pura-pura tidak melihat wajahnya memerah.

Dua pemuda lajang yang baru selesai mengangkut padi datang meminta minum. Salah satunya pernah membantu memperbaiki saluran air rumah mereka.

“Bu Laras makin cantik sejak tinggal di desa,” katanya tanpa niat buruk. “Kalau belum menikah, pasti banyak yang antre.”

Temannya tertawa. “Sudah menikah saja banyak yang melihat.”

Arya berhenti menggerakkan caping.

Laras melihat perubahan kecil itu dan hampir tertawa. “Minumnya ada di sebelah Ningsih.”

“Kami cuma bercanda, Bu.” Pemuda itu menerima gelas, tetapi masih berdiri. “Kapan ajari istri saya kelak membuat lauk seperti ini?”

“Cari istrinya dulu,” sahut Sekar.

Pemuda lain menatap Sekar. “Kalau adiknya Mas Arya...”

Arya bangkit sebelum kalimat itu selesai.

Ia berdiri di antara Laras, Sekar, dan kedua pemuda, wajahnya tenang seperti saat mengatur perburuan. Namun semua orang yang mengenalnya tahu ketenangan itu tidak berarti santai.

“Waktu istirahat selesai lima menit lagi,” katanya.

Pemuda itu tersenyum gugup. “Kami masih punya waktu.”

“Gunakan untuk minum.”

Ningsih menutup mulut, bahunya bergetar menahan tawa. Para perempuan di bawah pohon mulai berbisik gembira melihat pahlawan desa cemburu di depan istrinya sendiri.

Dari pematang seberang, Melati menyaksikan Arya menggeser tubuh untuk menaungi Laras dari matahari sekaligus dari tatapan lelaki lain.

Pemuda itu, yang belum menyadari bahaya, kembali membuka mulut untuk menggoda.

Kali ini tangan Arya turun ke pinggang istrinya, menegaskan batas yang tidak membutuhkan penjelasan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!