"Dunia ini riuh oleh nama-nama, sementara aku tersisa di sela-sela kata." Nio tidak memiliki identitas, gender yang jelas, maupun ingatan masa lalu. Dia hanya hidup bersama pendar layar monitor dan residu informasi yang dibuang orang lain.
Ketika sebuah kasus anomali mendatangi meja kerjanya, Nio menemukan bentuk kejahatan yang tidak biasa: seseorang sedang mencabut sejarah manusia hingga tak bersisa. Di balik berkas-berkas mati yang membusuk dalam sistem, sebuah teror berinisial Zero mulai mengawasi setiap geraknya. Berpacu dalam kesepian dan ketakutan, Nio harus memilih: membongkar rahasia yang terkunci, atau menjadi lembaran kosong berikutnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Omni Tales, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Saksi yang Kehilangan Kata
Pendar merah di ujung saluran air itu melayang tenang di tengah keheningan lorong beton yang dingin.
Nio menahan dada Kael dengan telapak tangannya, menghentikan langkah mereka tepat di samping genangan limbah.
"Nio... apa itu mata-mata buatan Zero?!" bisik Nora gemetar rapat di balik punggung Nio.
"Bukan. Cuma pendar reflektor dari pipa pembuangan tua," sahut Nio datar tanpa menoleh.
'Cih! Bikin jantung gue mau lepas saja di depan cewek ini,' batin Nio menggeram gusar.
Nio menyibak tirai lumut tebal yang menutupi pintu keluar saluran air bawah tanah tersebut.
Udara dingin kawasan pelabuhan mati Distrik Timur menyergap wajah mereka dengan bau garam dan besi tua.
Sisa pendar lampu jalan yang berkedip samar menandakan wilayah ini benar-benar terisolasi dari peta digital kota.
"Area ini nirnama di jaringan publik. Sinyal pelacak tidak akan menembus ke sini," ujar Nio meraba sakunya.
Lembaran kertas kosong yang polos menenangkan denyut nadinya yang sempat meningkat pesat.
"Sekarang kita mau ke mana, Nio?" tanya Kael sambil mengencangkan pegangan pada linggisnya.
"Melacak keberadaan teman kerja Elena Ross. Dia bersembunyi di pemukiman liar ini," jawab Nio.
Nora memiringkan kepalanya bingung. "T-teman Elena? Bukankah data Elena sudah tereliminasi total?!"
"Orangnya terhapus dari sistem, tapi residu ingatan manusia tidak bisa diuji dengan variabel biasa," balas Nio.
'Gue cuma berharap otak fisiknya belum korslet penuh kena terror paranoik Zero,' batin Nio sinis.
Nio memimpin langkah menelusuri lorong sempit yang dihimpit gubuk-gubuk seng berkarat di kegelapan malam.
Langkah kaki mereka berhenti di depan sebuah pintu kayu lapis yang terkunci rapat menggunakan tiga rantai tebal.
Nio mengetuk papan kayu lapis tersebut dengan pola tiga kali pukulan berjarak dua detik.
"Pergi! Jangan sebut nama siapa pun di depan pintuku!!" teriak suara pria dari balik pintu, sangat histeris.
"Gue bukan utusan Zero. Gue cuma mau tanya soal fenomena Elena Ross," balas Nio tenang.
Pintu terbuka beberapa sentimeter, menampilkan sepasang mata merah dengan lingkaran hitam tebal kurang tidur.
Pria itu memegang sebilah pisau dapur berkarat dengan jemari gemetar hebat akibat ketakutan kronis.
"Jangan ucapkan nama wanita itu! Jangan sebut nama siapa pun di tempat ini!!" histeris pria itu berbisik kasar.
"Tenanglah, Pak. Kami cuma butuh petunjuk untuk mencari adikku yang hilang," puji Nora mencoba mendekat.
"JANGAN MENDEKAT, PEREMPUAN!" bentak saksi itu histeris sambil memundurkan badannya secara refleks.
"DIAM ATAU GUE PATAHKAN PISAU LU SEKARANG!!" potong Nio penuh dominasi, melangkah maju mengikis jarak.
Pria paranoik itu tersentak kaget, menatap mata Nio yang begitu dingin dan mengintimidasi tanpa cela.
"N-Nio... jangan kasar-kasar..." bisik Nora memegang lengan baju Nio secara refleks.
Nio tidak menanggapi rintihan Nora, pandangannya terkunci rapat pada raut wajah saksi yang terguncang.
"Lu mau tetap bersembunyi di sini sampai Zero mencabut sejarah lu juga?" tekan Nio dingin.
"D-dia mendengarkan kita dari balik udara! Setiap nama yang diucapkan... akan dijemput olehnya!!" rintih saksi itu pasrah.
Pria itu menjatuhkan pisaunya ke lantai tanah, menggigil hebat sambil menutupi kedua telinganya rapat-rapat.
'Gila. Ketakutan pria ini sudah mengejawantah jadi gangguan jiwa tingkat akut,' batin Nio.
Kael berlutut pelan di sebelah pria tua yang gemetar di atas lantai tanah tersebut.
"Kami cuma ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Elena sebelum dia lenyap," tutur Kael lembut.
"D-dia menemukan berkas rahasia di server utama... dokumen fenomena tabula rasa," bisik saksi terputus-putus.
"Apa isi berkas rahasia itu?!" cerceh Nora lupa pada rasa takutnya sendiri.
"Jangan sebut!! J-jangan sebut nama dokumen itu!! DIA PASTI DATANG!!" histeris saksi itu meraung halus.
Pria itu merayap mundur hingga punggungnya menabrak tumpukan kardus bekas di sudut ruangan yang gelap.
Nio meraba tekstur halus kertas kosong di sakunya demi menyakinkan presensi jiwanya sendiri.
"Kertas kosong ini tidak bicara, tetapi dialah satu-satunya hal yang tidak pernah berbohong padaku," gumam Nio.
Ketenangan wibawa Nio membuat saksi yang paranoik itu menghentikan raungannya secara perlahan.
"Zero tidak membunuh tubuh; dia mencabut sejarah dari dada manusia. Lu tahu itu, kan?" uji Nio.
Saksi itu menatap Nio dengan mata terbelalak lebar. "K-kamu... bagaimana kamu tahu kalimat rahasia itu?!"
"Karena kalimat itu adalah rekaman logika yang ditulis oleh pencipta sistem aslinya," jawab Nio tegas.
Nora menatap Nio dengan kekaguman yang makin memuncak dan berdesir hangat dari dalam dadanya.
'Pria ini... dia tidak pernah goyah sedikit pun meski di hadapan kegilaan seperti ini,' batin Nora kagum.
"P-peretas itu... dia meninggalkan sebuah lokasi sebelum Elena lenyap tanpa preseden..." bisik saksi mulai terbuka.
"Di mana lokasinya?!" potong Kael cepat.
"Gudang pendingin nomor empat... di dermaga tua... tempat penyimpanan peladen fisik lama," jawab saksi.
Nio mencatat koordinat tersebut di dalam ingatan kepalanya secara presisi tanpa bantuan catatan digital.
"Terima kasih atas keterangan lu. Sekarang tutup kembali pintu ini dan jangan keluar," perintah Nio.
Saksi itu mengangguk cepat sambil merayap mendekati pintu kayu untuk menguncinya rapat kembali dari dalam.
"Nio, gudang pendingin itu cuma berjarak dua ratus meter dari posisi kita sekarang," ujar Kael mengamati luar.
"Bagus. Berarti kita tidak perlu membuang energi untuk berjalan jauh," sahut Nio santai.
"T-tapi Nio... bagaimana kalau tempat itu adalah jebakan yang disiapkan Zero?!" cemas Nora merintih halus.
Nio menoleh ke arah Nora, mengikis jarak mereka hingga napas cewek itu tertahan sepenuhnya.
"Kalau itu jebakan, kita cuma perlu merusaknya dari dalam. Paham?" bisik Nio penuh percaya diri.
"Ngh... i-iya Nio... aku mengerti..." sahut Nora menunduk pasrah di bawah kendali aura Nio yang kuat.
'Bagus. Cewek ini makin penurut kalau diyakinkan dengan gaya berwibawa begini,' batin Nio tertawa kecil.
Mereka bertiga keluar dari rumah saksi, kembali menembus keheningan malam di pelabuhan tua yang terbengkalai.
Bau amonia yang menyengat mulai tercium saat langkah mereka mendekati struktur gudang besi raksasa di depan.
Dinding gudang pendingin nomor empat tampak berkarat dengan pintu geser baja yang sedikit terbuka.
Nio mendeteksi lalu lintas sinyal anomali yang sangat lemah dari dalam gudang lewat laptop minisnya.
"Sinyal ini... pola enkripsinya sangat mirip dengan berkas serangan yang menghapus Milo," desis Nio.
"Apakah adikku benar-benar ada di dalam sana, Nio?!" tanya Nora penuh harapan yang menggebu.
"Jangan terlalu berharap sebelum kita melihat bentuk fisiknya secara langsung," jawab Nio realistis.
Kael menarik tuas besi pintu geser gudang tersebut hingga menciptakan derit nyaring yang memotong senyap.
Kegelapan pekat di dalam gudang pendingin menyambut keberadaan mereka bertiga dengan bau es yang menyengat.
Nio menyalakan lampu kilat dari genggamannya, menyapu sudut ruangan yang dipenuhi gumpalan es kering.
Di tengah-tengah gudang, berdiri sebuah rak peladen hitam raksasa yang masih menyala redup secara independen.
Pendar biru dari lampu indikator peladen berkedip cepat memancarkan gelombang frekuensi rendah yang janggal.
"Itu... peladen fisik yang menyimpan sisa data para korban!" pekik Nora menunjuk rak besi tersebut.
Nio melangkah mendekati rak peladen itu, namun kakinya mendadak menginjak kabel optik yang terputus.
Bip! Bip! Bip!
Sistem keamanan lokal gudang mendadak aktif, menyalakan deretan lampu merah darurat di langit-langit.
Pintu baja di belakang mereka terdorong dan terkunci rapat secara otomatis dari luar dengan dentuman keras!
"K-KITA TERKUNCI!! NIO, PINTUNYA TERKUNCI RAPAT!!" histeris Nora memegang lengan Nio ketakutan.
Sebuah suara sintetis yang terdistorsi bergema nyaring dari pengeras suara tua di sudut atas ruangan.
"Selamat datang kembali di karya masa lalumu, Nio. Mari kita lihat berapa lama eksistensimu bertahan di dalam ruang pendingin ini."