NovelToon NovelToon
Dihina di Depan Umum, Bangkit Jadi Pengacara Terkuat

Dihina di Depan Umum, Bangkit Jadi Pengacara Terkuat

Status: sedang berlangsung
Genre:Perubahan Hidup
Popularitas:0
Nilai: 5
Nama Author: Galaxy

Alexander Wijaya hanyalah pengacara magang berpenghasilan pas-pasan, menanggung uang kos dan biaya kuliah adiknya sendirian — sampai malam ia dipermalukan habis-habisan oleh mantan kekasihnya, Priscilla Salim, di depan umum. Amarah dan keterhinaan itu justru membangunkan Sistem Pengacara Terkuat: panel status rahasia, kemampuan membaca pikiran, dan analisis bukti secepat kilat yang hanya bisa dilihat olehnya sendiri.

Sejak saat itu, setiap lawan yang meremehkannya berakhir mati sosial di ruang sidang. Namun di balik kebangkitannya, tersimpan luka lama: kematian ayahnya 27 tahun silam yang penuh kejanggalan, dan sebilah golok berdarah warisan keluarga yang menyimpan rahasia kelam.

Ketika seorang profesor dijatuhi vonis mati atas tuduhan yang tidak pernah ia lakukan, dan waktu eksekusi tinggal menghitung hari, Alexander harus membuktikan satu hal yang bisa mengubah segalanya — bahwa keadilan yang tak terlihat, lebih berharga untuk diperjuangkan daripada nyawanya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Galaxy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 23

Bab 023: Tekanan dari Segala Arah

Alexander hampir jatuh di tangga kos.

Serangan belum datang.

Karena kakinya lupa bahwa tubuh manusia perlu tidur.

Map biru berisi berkas MakanYuk membentur dinding. Ponselnya tetap menyala di tangan, menampilkan tiga pesan belum dijawab: Gunawan meminta revisi argumen penutup, Rafi mengirim kuitansi obat anaknya, dan panitera memberi kabar jadwal sidang putusan akhir gugatan class action ditetapkan minggu depan.

Minggu depan.

Kata itu seharusnya membuatnya lega.

Yang ia rasakan justru dadanya kosong.

"Bang Alex?"

Nathan berdiri di depan pintu kamar kos, masih memakai seragam sekolah. Di tangannya ada buku latihan matematika yang halamannya penuh coretan kecil.

Alexander segera menegakkan tubuh. "Kamu belum tidur?"

"Ini baru jam sembilan."

"Oh."

Nathan menatap wajah kakaknya. "Bang, kamu lupa makan lagi?"

"Tidak."

Perut Alexander berbunyi.

Nathan tidak tertawa. Ia hanya masuk ke kamar, mengambil kotak makan plastik, lalu menaruhnya di meja. Nasi, telur dadar tipis, dan sayur tumis yang sudah dingin.

"Ibu titip. Katanya kalau Bang Alex bilang sudah makan, berarti belum."

Alexander duduk perlahan.

Kamar kos itu masih sempit. Hanya saja sekarang meja kecilnya dipenuhi berkas yang lebih besar daripada hidup mereka: putusan pidana Robert Salim, laporan Komisi Yudisial, daftar penggugat, tangkapan layar tawaran Rp 7.500.000, dan draft argumen penutup.

Nathan mendorong air putih. "Minum dulu."

Alexander menurut.

Ponselnya berdering. Herlina.

Ia mengangkat.

"Alex, sudah makan?"

Alexander menatap Nathan.

Nathan menatap balik seperti saksi kunci.

"Sedang, Bu."

"Jangan bohong sama ibu."

"Saya benar-benar sedang makan."

Herlina diam sebentar, lalu suaranya melembut. "Kamu menang banyak akhir-akhir ini, Alex. Tapi badanmu tidak tahu bedanya menang dan kalah. Kalau kamu runtuh, siapa yang kamu bela?"

Kalimat itu lebih tajam daripada keberatan Laura Santoso.

Alexander menunduk. "Maaf, Bu."

"Ibu tidak minta maaf. Ibu minta kamu hidup."

Di seberang, terdengar suara mesin jahit berhenti.

"Ibu masih jahit?"

"Sedikit."

"Bu."

"Jangan mulai. Kamu boleh membela orang satu kota. Ibu tetap boleh membela anak sendiri dengan cara ibu."

Alexander ingin membantah, tetapi tidak punya tenaga.

Nathan duduk di lantai, membuka buku latihannya. "Aku juga belajar sendiri, Bang. Besok ada ujian. Tidak perlu diantar."

"Aku bisa antar."

"Kamu tidak bisa membedakan jam sembilan malam dan tengah malam. Jangan sok bisa antar."

Nada Nathan datar, tetapi tangannya menekan pensil terlalu kuat.

Alexander melihat itu.

Adiknya tidak ingin menjadi beban, sehingga ia belajar terlalu keras. Ibunya tidak ingin menjadi beban, sehingga ia menjahit terlalu malam. Semua orang di rumah ini berusaha menyelamatkan yang lain dengan mengorbankan dirinya sendiri.

Ternyata keberanian juga bisa menjadi penyakit keluarga.

Alexander menutup map biru.

"Nathan."

"Hm?"

"Besok aku tetap antar kamu sampai gerbang sekolah. Setelah itu aku ke kantor."

"Sidangmu?"

"Minggu depan. Besok cuma persiapan."

"Kalau telat?"

"Aku bangun lebih pagi."

Nathan menatapnya curiga. "Kamu yakin bisa bangun?"

"Kalau tidak, lempar buku matematika itu ke kepala saya."

Untuk pertama kali malam itu, Nathan tersenyum kecil.

Herlina di telepon ikut tertawa pelan. Suara itu membuat kamar sempit terasa tidak terlalu sempit.

Setelah panggilan ditutup, Alexander membuka lagi pesan Gunawan.

Jadwal putusan akhir gugatan class action ditetapkan minggu depan. Sebelum itu, argumen penutup harus bersih. Jangan bawa semua emosi. Bawa yang perlu menang.

Alexander mengetik balasan:

Siap, Pak. Saya revisi setelah makan.

Balasan Gunawan datang cepat:

Setelah tidur.

Alexander menatap layar.

Lalu pesan kedua masuk:

Itu perintah mentor, bukan saran.

Nathan membaca dari samping dan mengangguk serius. "Pak Gunawan benar."

"Kamu sekarang pihak kantor?"

"Aku pihak orang yang masih butuh kakak."

Kalimat itu membuat Alexander berhenti.

Di luar jendela, suara motor pengantar makanan lewat satu per satu. Mungkin salah satunya penggugat. Mungkin salah satunya orang yang hampir menerima Rp 7.500.000 karena anaknya sakit. Mungkin salah satunya orang yang tidak tahu bahwa minggu depan, satu ruang sidang akan memutus apakah mereka hanya titik di aplikasi atau manusia yang berhak dilindungi.

Alexander memakan nasi dingin sampai habis.

Setelah itu, ia tidak membuka map.

Ia memasang alarm pukul lima, menaruh lencana advokat Herman Wijaya di samping ponsel, dan berbaring.

Tidurnya tidak langsung datang. Tekanan masih ada: MakanYuk, Laura, tiga hakim, laporan pengawasan, penggugat yang goyah, biaya kecil yang terasa besar.

Tetapi untuk pertama kalinya dalam beberapa hari, ia membiarkan tubuhnya berhenti bergerak.

Sebelum matanya tertutup, ponsel bergetar sekali lagi.

Pesan dari panitera:

Sidang argumen penutup dimajukan. Besok pukul 10.00.

Alexander membuka mata.

Minggu depan baru saja berubah menjadi besok.

Dan tubuhnya baru diberi izin tidur lima menit.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!