NovelToon NovelToon
Ditinggal Menikah Dipinang Pewaris

Ditinggal Menikah Dipinang Pewaris

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO
Popularitas:484
Nilai: 5
Nama Author: Anjana

Ketika Zilia mengetahui kekasihnya menikah dengan wanita lain, hidupnya seketika berubah.
Belum sempat menyembuhkan luka, ia justru dijodohkan dengan Rafael, pewaris keluarga Darmawan yang nyaris tidak dikenalnya. Namun, siapa sangka jika Vio datang kembali dan bersumpah akan merebutnya, sementara Rafael terang-terangan bahwa Zilia sebagai calon istrinya.
Di antara cinta lama, perjodohan, kecemburuan, dan rahasia keluarga, Zilia tidak pernah menyangka, bahwa pria yang awalnya hanya dianggap sebagai pengganti, justru akan menjadi lelaki yang mengubah seluruh hidupnya.

Akankah Zilia mendapatkan kebahagiaan? Atau justru ujian hidupnya semakin berat.
Penasaran? yuk ikuti jalan cerita mereka

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 25

Rafael melangkah memasuki ruang tamu dengan sikap tenang.

"Om Adrian. Papa..."

Kedua orang tua itu menganggukkan kepala.

"Rafael."

"Saya memang sengaja kemari, Om. Saya ingin memastikan keadaan Zilia."

Mendengar namanya disebut, Zilia menoleh.

"Aku sudah jauh lebih baik."

Rafael tidak langsung menjawab. Ia justru berjalan mendekati Zilia, lalu berjongkok di hadapannya.

"Masih sakit?"

"Sedikit. Sudah pakai salep?"

"Sudah."

"Obatnya diminum?"

"Iya."

Rafael mengangguk puas.

"Bagus."

Ia kemudian berdiri.

Tanpa sengaja pandangannya bertemu dengan Rendra yang sejak tadi memperhatikan mereka. Tatapan kedua bersaudara itu kembali beradu.

Tak ada senyum. Tak ada sapaan.

Hanya keheningan yang dipenuhi arti.

Rafael lalu sedikit membungkukkan badan ke arah Zilia.

Dengan suara pelan yang hanya bisa didengar oleh mereka berdua, ia berbisik.

"Jaga jarak sama Rendra."

Zilia mengernyit.

"Kenapa?"

"Pokoknya jaga jarak."

"Dia kakakmu."

"Aku tahu."

"Justru karena aku tahu, aku yang bilang."

Zilia mendesah pelan.

"Kamu ini aneh."

Rafael menatapnya lekat.

"Aku serius."

"Kalau ada yang ingin kamu bicarakan, telepon aku.bBukan mengobrol berdua dengan laki-laki lain."

Zilia memutar bola matanya pelan.

"Kamu mulai mengatur lagi."

"Bukan mengatur, tetapi lebih tepatnya menjagamu."

Jawaban singkat itu membuat Zilia kehilangan kata-kata.

Entah mengapa, nada bicara Rafael terdengar begitu tegas hingga sulit dibantah.

Rafael kemudian meluruskan tubuhnya.

"Om."

"Kalau Zilia sudah tidak ada keperluan di sini, lebih baik dia kembali ke kamar. Kakinya masih butuh istirahat.nKalau terlalu lama duduk atau banyak bergerak, nanti bengkaknya bisa kambuh."

Tuan Adrian mengangguk setuju.

"Benar juga katamu."

"Zilia. Kamu istirahat saja dikamar."

"Iya, Pa."

Zilia perlahan bangkit dari duduknya.

Sebelum berbalik menuju tangga, ia sempat melirik Rafael.

"Aku ke kamar dulu."

"Hem. Istirahat yang cukup. Jangan turun lagi kalau tidak ada keperluan."

"Iya, Tuan Rafael."

Zilia sengaja menekankan kata Tuan dengan nada menggoda.

Rafael hanya menggeleng kecil sambil tersenyum tipis.

"Dasar."

Zilia terkekeh pelan, lalu berjalan menuju tangga.

Rendra mengikuti kepergian Zilia dengan pandangan yang sulit diartikan.

Tak luput dari perhatian Rafael. Ia melangkah mendekati kakaknya, lalu berkata pelan tanpa menghilangkan senyum di wajahnya agar tidak menarik perhatian kedua orang tua mereka.

"Kak. Aku sudah bilang sebelumnya. Zilia adalah calon istriku."

Rendra menoleh.

"Aku tahu itu."

"Kalau tahu...bberhentilah menatapnya seperti itu."

Rendra tersenyum tipis.

"Tenang saja. Aku hanya sedang mengenal calon adik iparku."

Meski kalimat itu terdengar ringan, Rafael tahu kakaknya tidak sepenuhnya bercanda.

Dan sejak saat itu, Rafael semakin yakin, ia tidak boleh lengah sedikit pun jika tidak ingin kehilangan perempuan yang telah dijodohkan untuknya.

Melihat Zilia sudah kembali ke kamarnya, Rafael akhirnya merasa sedikit lega.

Ia menoleh kepada Tuan Adrian.

"Om, kalau begitu pamit dulu."

Tuan Adrian menganggukkan kepala.

"Mau langsung ke kantor?"

"Iya, Om. Masih ada beberapa rapat yang harus dihadiri."

"Baik. Terima kasih sudah menyempatkan datang hanya untuk memastikan keadaan Zilia."

"Itu sudah menjadi tanggung jawabku, Om."

Jawaban Rafael terdengar tenang, tetapi cukup membuat Tuan Adrian tersenyum puas.

"Ternyata memang tidak salah memilih calon menantu."

Di sudut ruangan, Rendra hanya diam memperhatikan. Entah mengapa, setiap kali melihat Rafael memperlakukan Zilia dengan penuh perhatian, ada perasaan yang sulit ia jelaskan.

Rafael kemudian menyalami Tuan Adrian, disusul calon besan.

"Pa, aku berangkat dulu."

"Hati-hati di jalan," ujar ayahnya.

"Iya, Pa."

Saat hendak melangkah keluar, Rafael sempat melirik ke arah tangga menuju lantai dua.

Sekilas, ia melihat tirai jendela kamar Zilia sedikit terbuka. Senyum tipis terukir di sudut bibirnya.

"Keras kepala, ternyata masih mengintip."

Di balik jendela kamar, Zilia memang memperhatikan Rafael yang berjalan menuju mobil.

"Bukannya langsung pergi, malah nengok ke atas segala," gumamnya pelan.

Tanpa sadar, sudut bibirnya ikut terangkat.

Namun senyum itu segera menghilang saat mengingat pesan Rafael tadi.

"Dasar orang aneh," gerutunya sambil menggeleng kecil.

Di halaman rumah, Rafael memasuki mobilnya.

Doni yang sejak tadi menunggu di kursi pengemudi langsung menoleh.

"Bos, jadi langsung ke kantor?"

"Iya."

Doni melirik sekilas ke arah balkon lantai dua.

"Bos sempat-sempatnya mampir cuma buat nengok calon istri."

Rafael memasang wajah datar.

"Memangnya kenapa?"

"Hehe... enggak kenapa-napa. Cuma beda aja. Dulu Bos pulang-pergi isinya kerja. Sekarang sebelum ke kantor saja masih sempat mampir."

Rafael menyandarkan tubuhnya.

"Ah! cerewet banget kamunya. Nyetir saja."

"Iya, Bos."

Mobil pun perlahan meninggalkan kediaman keluarga Adrian.

Di dalam mobil, Rafael membuka ponselnya.

Ia berpikir sejenak, lalu mengirim sebuah pesan singkat kepada Zilia.

"Istirahat. Jangan turun tangga dulu kalau tidak perlu. Kalau kakimu masih sakit, kabari aku."

Tak lama kemudian, balasan dari Zilia masuk.

"Iya, Pak Dokter cerewet."

Melihat balasan itu, Rafael terkekeh pelan.

"Anak itu..."

Doni yang mendengar tawa kecil atasannya sampai menoleh heran.

"Bos ketawa?"

Rafael buru-buru mengembalikan wajah datarnya.

"Fokus nyetir."

"Iya, Bos."

Doni menggaruk tengkuknya.

"Benar kata orang... Kalau sudah jatuh cinta, Bos yang sedingin es pun akhirnya bisa senyum-senyum sendiri."

Sementara mobil melaju menuju kantor, tanpa disadari Rafael, sepasang mata dari balkon lantai dua masih mengikuti mobilnya hingga menghilang di balik gerbang.

Zilia mengembuskan napas pelan.

"Semoga hari ini tidak ada masalah lagi."

Namun firasatnya berkata lain.

Di bawah atap rumah yang sama, Lora masih menyimpan rencana yang belum ia jalankan. Dan di luar sana, Vio belum benar-benar menyerah memperjuangkan Zilia.

Zilia masih berdiri di balkon kamarnya.

Pandangannya menerawang ke arah gerbang yang baru saja dilewati mobil Rafael.

Entah sejak kapan, pikirannya terasa begitu penuh.bBelum sempat ia menghela napas panjang, ponselnya yang berada di atas meja berdering.

Nama yang tertera di layar membuat wajah Zilia seketika melembut.

Ibu Retno. Senyum tipis terukir di bibirnya.

"Halo, Bu. Apa kabarnya?"

"Baik. Kamu sendiri bagaimana?"

"Sehat juga, Bu."

Suara Ibu Retno terdengar begitu hangat.

Meski tidak memiliki hubungan darah, perempuan itu telah membesarkan Zilia dengan penuh kasih sayang sejak kecil.

Karena itulah, di hati Zilia, Ibu Retno tetaplah seorang ibu.

"Maaf ya, Nak. Akhir-akhir ini Ibu belum sempat menghubungi kamu."

"Gak apa-apa, Bu. Yang penting Ibu sehat."

Ibu Retno tersenyum haru di balik sambungan telepon.

"Gimana, kamu betah di rumah yang sekarang?"

Mendengar itu, mata Zilia mulai berkaca-kaca.

"Sebenarnya pingin tinggal sama Ibu, tapi..."

Suara Ibu Retno mulai bergetar.

"Ibu ini bukan ibu kandungmu. Tapi... kamu juga harus berbakti sama Papa kamu. Mau bagaimanapun, kamu putrinya."

Air mata Zilia akhirnya jatuh tanpa bisa ditahan.

"Bu..."

"Buatku, Ibu tetap ibu. Mau siapa pun yang melahirkanku... Yang membesarkan dan menyayangiku tetap Ibu."

"Jangan ngomong begitu lagi."

Tangis Ibu Retno pecah.

"Anak baik... Ibu bangga sama kamu. Kalau kamu pulang nanti, Ibu masakin makanan kesukaanmu."

Zilia tersenyum di sela tangisnya.

"Iya, Bu. Terimakasih perhatiannya."

Suasana menjadi hangat.

Untuk beberapa menit, mereka saling melepas rindu dengan cerita-cerita sederhana.

Sebelum menutup telepon, Ibu Retno kembali berpesan.

"Jaga kesehatan. Jangan lupa makan. Kalau ada masalah, cerita sama Ibu. Jangan dipendam sendiri."

"Iya, Bu."

"Aku janji. Ya udah ya, Bu. Sampai ketemu di rumah."

Sambungan telpon pun terputus.

Zilia menatap layar ponselnya beberapa saat.

Air mata yang sempat mengalir perlahan ia usap.

Di tengah rumitnya kehidupan yang kini ia jalani...

Masih ada satu tempat yang selalu membuatnya merasa pulang. Bukan rumah megah milik ayah kandungnya.

Melainkan rumah sederhana yang dihuni seorang perempuan bernama Ibu Retno, yang telah memberinya kasih sayang tanpa pernah membedakan darah dan keturunan.

Keesokan paginya...

Seusai sarapan bersama, Zilia masih duduk di ruang makan. Jemarinya saling bertaut, seolah sedang mengumpulkan keberanian untuk mengatakan sesuatu.

Tuan Adrian yang menyadari perubahan sikap putrinya itu meletakkan cangkir kopinya.

"Ada yang ingin kamu bicarakan?"

Zilia mengangguk pelan.

"Iya, Pa."

"Bicara saja."

"Aku ingin izin pulang ke rumah Bu Retno. Besok atau lusa aku harus mempersiapkan wisuda. Teman-temanku juga sudah mulai berkumpul."

Tuan Adrian menganggukkan kepala.

"Tentu boleh."

"Habis wisuda, kamu kembali ke sini."

"Iya, Pa."

Suasana kembali hening.

Beberapa detik kemudian, Tuan Adrian kembali bersuara.

"Nanti Papa ikut menghadiri wisudamu."

Mendengar kalimat itu, Zilia perlahan mengangkat wajahnya.

Sorot matanya tampak ragu.

"Pa..."

"Ada apa?"

Zilia tersenyum tipis.

Senyum yang justru terasa menyakitkan.

"Terima kasih."

"Tapi... tidak usah."

Alis Tuan Adrian langsung bertaut.

"Kenapa?"

"Bukankah wisuda adalah hari penting?"

"Papa ingin melihatmu menerima gelar."

Zilia menundukkan kepalanya.

"Aku tahu."

"Dan aku juga tahu... Selama ini semua biaya kuliahku berasal dari Papa. Aku sangat berterima kasih. Tapi..."

Kalimatnya terhenti.

Dadanya terasa sesak.

"Aku rasa... tidak perlu."

Tuan Adrian menatap putrinya dalam diam.

"Apa kamu masih marah kepada Papa?"

Zilia buru-buru menggeleng.

"Tidak. Aku tidak marah. Hanya saja... Aku tidak ingin mengganggu kesibukan Papa."

"Itu bukan alasan."

Suara Tuan Adrian terdengar pelan.

Zilia menggigit bibir bawahnya.

Ia tahu, ayahnya sedang menunggu jawaban yang sebenarnya.

Dengan menarik napas panjang, akhirnya ia berkata jujur, meski tetap berusaha menjaga perasaan sang ayah.

"Sejak kecil, setiap ada acara sekolah, pembagian rapor, dan lainnya, sampai kelulusan... Aku selalu melihat teman-temanku datang bersama ayah mereka."

"Tapi... aku sudah terbiasa datang sendiri."

Ruangan mendadak sunyi.

"Tidak apa-apa, Pa. Aku benar-benar sudah terbiasa. Makanya untuk wisuda nanti... izinkan aku pulang ke rumah Bu Retno saja. Beliau sudah menunggu sejak lama. Beliau yang selalu hadir di setiap langkahku. Aku ingin menghabiskan momen itu bersama beliau."

Setiap kata yang diucapkan Zilia terdengar lembut.

Tidak ada nada menyalahkan. Tidak ada nada membenci. Justru sikap tenang itulah yang membuat hati Tuan Adrian terasa semakin berat.

Ia menyadari...

Putrinya tidak menolak karena benci.

Melainkan karena sudah terlalu lama belajar hidup tanpa kehadiran seorang ayah.

Tuan Adrian menundukkan pandangannya.

Untuk pertama kalinya setelah sekian tahun, ia merasa begitu gagal sebagai seorang ayah.

"Apa... Papa benar-benar tidak pernah menjadi sosok ayah yang baik untukmu?"

Pertanyaan itu membuat Zilia terdiam.

Ia lalu bangkit dari kursinya, berjalan mendekat, kemudian tersenyum tipis.

"Papa adalah ayah kandungku. Dan itu tidak akan pernah berubah. Aku juga bersyukur Papa selalu memenuhi kebutuhanku. Tapi... Untuk menjadi seorang ayah... Bukan hanya tentang memberi biaya. Melainkan tentang hadir."

Kalimat itu begitu pelan.

Namun cukup membuat Tuan Adrian terpukul.

Zilia segera melanjutkan sebelum suasana menjadi semakin berat.

"Nanti setelah semuanya selesai, aku akan kembali ke sini."

Tuan Adrian memejamkan matanya sejenak.

Lalu mengangguk pelan.

"Baik."

"Papa akan menghormati keputusanmu."

"Terima kasih, Pa."

Zilia membungkukkan badan dengan hormat, lalu berpamitan menuju kamarnya untuk mulai menyiapkan barang-barang yang akan dibawa.

Sementara itu, Tuan Adrian masih duduk mematung di kursinya.

Tatapannya kosong. Di dalam hatinya hanya ada satu penyesalan. Selama ini ia mampu memberikan kehidupan yang berkecukupan untuk putrinya. Namun ia gagal memberikan sesuatu yang jauh lebih berharga...

Kehadiran seorang ayah di setiap momen penting dalam hidup Zilia.

1
Leisha
Lanjut thor...
awas y thor kalo gk update
suka ceritanya
Leisha
Ditunggu kelanjutannya kak❤
Anjana
Asiap.... gas pol nyampe end kak. Jangan lupa untuk selalu dukung biar authornya semangat nulisnya😍
Leisha
Semoga tidak gantung ceritanya
awas ya thor kalo gak nyampe end
tak jewer kamu thor😄
Leisha
Bagus ceritanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!