Amira tiba-tiba diperhatikan Dimas — cowok paling populer di sekolah. Tapi di sisi lain, ada Farhan, sahabat sejak kecil yang diam-diam udah lama menyayanginya.
Dua hati sama tulus, dua cara beda sayang. Dan Amira harus memilih — tanpa menyakiti salah satu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azqia putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9: Hanya Berdua Saja
Gue berdiri kaku di tempat, napas tertahan di tenggorokan. Rasanya baru aja ketimpa beban berat banget.
"Lo... lo yakin bener?"
Rina masih megang lengan gue, tangannya dingin dan gemetar. "Gue baca sendiri, Mir. Tulisan tangan ibunya Dimas. Tertulis jelas — kalau sampai Dimas tau, dia bakal nanggung rasa bersalah seumur hidup. Makanya mereka diam, makanya mereka biar Farhan yang diem juga."
"Jadi..." gue telan ludah susah, kepala rasanya mau pecah. "Farhan bukan cuma nutupin dia. Farhan yang nyelamatin nyawa orang itu. Dan dia gak pernah cerita ke siapa pun? Termasuk ke Dimas?"
"Gak pernah. Dia mau Dimas pikir itu murni kesalahan dia sendiri. Biar Dimas belajar, tapi juga biar Dimas gak nanggung beban tambahan." Rina turunkan kepala, air mata jatuh ke pipinya. "Gue baru ngerti sekarang kenapa Farhan selalu diem. Bukan karena pengecut. Tapi karena dia gak mau orang lain ngerasa berhutang sama dia."
Gue gak tau harus bilang apa. Semua yang gue kira udah jelas — balik berantakan lagi. Kali ini lebih dalam.
"Gue harus cari Farhan." Gue langsung berbalik arah, jalan cepat ke arah gerbang.
"Mir! Lo mau bilang ke dia?" Rina ngejar dari belakang.
"Gue harus tau dari mulut dia sendiri. Kalau ini bener, kenapa dia gak pernah sekalipun bilang? Bahkan ke gue?"
Gue lari pelan sampe ke tempat biasa — di bawah pohon rindang di pinggir lapangan. Di sana, Farhan masih berdiri, tas di pundak, natap jalanan keluar. Kayak orang yang udah siap pergi, tapi nunggu satu hal sebelum melangkah.
Pas lihat gue lari ke arahnya, dia kaget, langsung maju selangkah. "Hei... lo oke? Ada apa?"
Gue berhenti di depannya, napas ngos-ngosan, dada naik turun. "Lo harus jujur sama gue. Sekarang."
Farhan kaku. Tatapannya berubah — dari lembut jadi waspada. "Tentang apa?"
"Kecelakaan itu." Gue natap matanya langsung, gak mau lepas. "Ada yang lain kan? Yang gak pernah lo ceritain. Bahkan kemarin, di rumah tua itu, lo masih sembunyikan."
Dia diam. Jauh lebih lama dari biasanya. Tangan di saku mengepal erat.
"Siapa yang bilang?" suaranya pelan, hampir berbisik.
"Rina. Dia baca surat ibunya Dimas." Gue mendekat sedikit, gak peduli orang lewat. "Bener gak, Han? Lo yang narik setir waktu itu? Karena ada orang lain yang lewat?"
Farhan turunkan kepala, napasnya keluar berat sekali. Bahunya turun, seolah beban satu tahun lebih baru aja jatuh dari pundaknya — tapi gak sepenuhnya hilang.
"Iya."
Satu kata itu bikin gue lemas.
"Kenapa?" Gue pegang lengan bajunya pelan. "Kenapa lo gak pernah bilang? Ke gue, ke siapa pun? Lo rela semua orang natap lo buruk — padahal lo yang nyelamatin orang itu?"
Dia angkat muka pelan, matanya merah dan basah. "Karena kalau gue bilang... Dimas bakal hancur. Dia udah ngerasa bersalah banget. Kalau dia tau dia hampir menabrak kerabat sendiri... dia gak bakal bisa maafin dirinya sendiri. Gue lebih baik nama gue jelek dari pada masa depan dia hancur sama rasa bersalah."
"Tapi lo juga hancur, Han!" Suara gue pecah, air mata jatuh sendiri. "Lo hancur pelan-pelan sendirian tanpa ada yang tau lo sebenarnya pahlawan di cerita ini!"
"Gue gak butuh dipuji, Mir." Dia senyum kecut, air mata jatuh di pipinya. "Gue cuma mau mereka semua baik-baik aja. Termasuk lo."
"Gue?" Gue mundur selangkah, kaget. "Apa hubungannya sama gue?"
Dia tarik napas panjang, buang pelan-pelan, kayak orang yang siap jatuh dari tebing tapi tenang.
"Karena kalau semuanya keluar, urusannya makin ribet. Polisi, orang tua, sekolah... nama lo pasti ikut terseret. Orang bakal nanya kenapa lo tau, dari kapan lo tau. Gue gak mau lo kena masalah. Gue gak mau lo dijauhi, dibenci, diomongin." Dia natap gue dalam-dalam, seakan mau hafal setiap inci wajah gue. "Gue rela jadi orang jahat di cerita ini. Asal lo aman."
Gue gak tahan lagi. Gue melangkah maju dan peluk dia erat-erat. Gak mikir dua kali. Gak peduli siapa yang lihat. Gak peduli apa yang orang bilang.
Dia kaget sebentar, lalu pelan-pelan kedua tangannya naik dan memeluk punggung gue dengan lembut dan hati-hati — kayak gue benda paling rapuh di dunia.
"Gue bukan beban yang harus dijagain diam-diam," gue bisik di bahunya. "Gue temen lo. Dan kalau lo jatuh... gue harus bisa narik lo, bukan nonton lo jatuh sendirian."
Dia memeluk gue lebih erat, napasnya berat di bahu gue. "Gue takut, Mir. Gue takut kalau gue buka semuanya... gak ada yang mau deket sama gue. Semua orang bakal pergi."
"Gue gak bakal pergi." Gue mundur sedikit, natap matanya langsung. "Dengar gue. Gue gak kemana-mana. Tapi mulai sekarang — gak boleh ada rahasia lagi. Apa pun yang terjadi, kita hadapi berdua. Bukan gue di luar dan lo di dalam sendirian."
Dia mengangguk pelan, air mata masih di pipi. "Janji."
"Janji."
Kita berdiri di situ cukup lama, di bawah pohon, di pinggir lapangan yang mulai sepi. Gak banyak ngomong. Cuma berdiri berdekatan, saling tau — dari sekarang, semuanya berubah.
"Lo harus kasih tau Dimas," kata gue pelan. "Dia berhak tau, Han. Dia berhak tau siapa yang sebenarnya nyelamatin dia dan keluarganya."
Farhan menghela napas panjang. "Gue tau. Tapi gue takut reaksinya. Dia bakal ngerasa berhutang seumur hidup."
"Kalau dia temen lo... dia bakal berterima kasih. Dan dia bakal bantu lo perbaiki semuanya." Gue pegang tangannya pelan. "barengan."
Farhan natap tangan kita yang saling pegang, lalu balik ke muka gue. Senyumnya beda kali ini — lebih ringan, lebih tenang. "Oke. Besok gue ke kantor polisi. Gue cari dia."
"Gue ikut."
"Mir..."
"Gue ikut." Gue potong tegas tapi lembut. "Gue mau di situ. Bukan buat ikut bicara. Tapi buat lo tau — lo gak berdiri sendirian."
Dia tersenyum tulus, senyum yang udah lama gak gue lihat. "Makasih ya."
"Sama-sama."
Malam itu gue pulang dengan perasaan yang gak bisa gue jelasin. Berat banget, tapi sekaligus ringan. Kayak gue baru aja keluar dari ruangan sempit yang gak ada jendela. Langit di luar masih gelap, tapi gue mulai lihat bintang.
Di kamar, gue tulis di buku catatan halaman baru:
"Orang paling hebat bukan yang berdiri di atas dan dipuji semua orang. Tapi yang berdiri di bawah, diomongin, dihina — dan tetap memilih berbuat baik tanpa minta balasan."
Tiba-tiba HP di saku bergetar. Bukan pesan. Panggilan masuk. Dari Dimas.
Gue kaget. Dia masih di kantor polisi kan? Gue langsung angkat.
"Halo?"
Suara di seberang terdengar berat, tapi bukan suara yang gue duga.
"Halo, Amira..."
Bukan Dimas. Itu suara Bapaknya.
Gue duduk tegak, jantung berdebar lagi. "Mohon maaf, Pak... di mana Dimas?"
"Dia sedang diwawancarai petugas. Saya meminjam teleponnya sebentar." Bapaknya berhenti sebentar, suaranya berubah lebih lembut dari tadi. "Saya ingin berterima kasih. Atas keberanianmu bicara kemarin. Dan atas apa yang kamu katakan soal Farhan."
"Saya hanya mengatakan yang sebenarnya, Pak."
"Kami mulai menyadari... ada hal yang tidak kami ketahui sepenuhnya." Dia berhenti, terdengar menarik napas dalam. "Bolehkah saya meminta satu hal lagi darimu?"
"Tergantung apa itu, Pak."
"Bisakah kamu minta Farhan menemui kami di sini? Sebelum pernyataan Dimas selesai. Kami... kami merasa perlu mendengar langsung dari mulutnya. Segala hal yang tersembunyi."
Gue telan ludah. "Saya akan sampaikan, Pak."
"Terima kasih, Amira. Dan satu hal lagi..." Suaranya pelan, hampir berbisik. "Farhan... dia anak yang luar biasa. Terlalu baik untuk dibiarkan berdiri sendiri."
Panggilan terputus.
Gue berdiri di tengah kamar, bingung tapi lega. Orang tua Dimas mulai sadar. Pintu yang tertutup selama setahun lebih... mulai terbuka sedikit.
Tapi di saat yang sama, gue sadar satu hal: kalau Farhan ketemu mereka di sana... semua rahasia bakal keluar sekaligus. Termasuk yang soal kerabat itu. Termasuk yang soal perasaan gue ke dia.
Dan gak ada yang bisa kembali seperti semula.
Pintu kamar diketuk pelan.
"Mir? Belum tidur?" Suara Ibu dari luar.
Gue cepat hapus sisa air mata di pipi. "Belum, Bu. Masih sebentar lagi."
"Besok ada yang jemput ya. Pagi-pagi."
Gue kaget. "Siapa, Bu?"
"Dua orang anak laki-laki. Yang satu namanya Dimas, katanya. Yang satu lagi... Farhan. Mereka bilang mau jemput kamu bareng."
Jantung gue berhenti sebentar.
Mereka berdua. barengan.
Gue berlari ke jendela, tarik gorden sedikit. Di jalan depan rumah, ada dua orang berdiri di bawah lampu jalan. Berdiri agak jauh, tapi gak bermusuhan. Kayak dua orang yang baru sadar mereka sama-sama berdiri di pihak yang sama.
Dan di antara mereka... ada satu hal yang harus gue pilih. Bukan karena terdesak. Bukan karena takut. Tapi karena hati gue udah tau ke mana harus pulang.
Tiba-tiba HP bunyi lagi. Pesan dari nomor yang gak gue duga bakal kirim.
Dari Dimas.
"Gue udah tau semuanya. Farhan baru aja kirim pesan panjang ke gue. Soal kerabat itu. Soal setahun ini. Gue nangis di sini, Mir. Gue nangis karena gue gak pantas dapet temen kayak dia. Dan gue tau sekarang... hati lo ada di mana. Bahagia ya, Mir. Dia layak dapet kebahagiaan lebih dari siapa pun."
Gue turunkan HP pelan, senyum sampe air mata jatuh lagi.
Langit di luar mulai terang sedikit di ufuk timur. Besok bakal panjang, bakal berat, bakal banyak yang berubah.
Tapi untuk pertama kalinya... gue gak takut.
Karena gue tau — gue gak sendirian.
Dan di depan rumah, di bawah lampu jalan... mereka berdua nunggu. Bukan buat dimenangkan. Tapi buat pastikan gue aman.