Senja tak pernah menduga, jika di rahimnya bakal hadir dua sosok malaikat kecil akibat pelecehan yang dilakukan Bumi terhadapnya.
Pasca menikah dengan Bumi, Senja seringkali mendapat perlakuan kasar.
Bahkan Bumi tega beberapa kali mencelakai Senja hanya untuk melenyapkan bayi yang dikandungnya.
Di saat Senja tak mendapat kasih sayang dari suaminya, kehadiran Langit sudah cukup menjadi pelipur lara baginya. Namun, kehadiran Langit justru membuat Bumi menjadi cemburu sekaligus takut jika Senja akan jatuh ke pelukan Langit.
“Aku nggak mau kamu menjadi hujan. Tapi langit seperti namamu, Mas. Bak sebuah pepatah, 'Sesetia Langit Menemani Senja'. Langit yang begitu setia menemani senja meski ia nggak selamanya indah.” Senja
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arrafa Aris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27. SLMS
Lio Cafe & Resto ....
Begitu tiba di ruangan VIP, Bumi langsung menyapa Close yang sejak tadi sudah menunggunya.
“Close, maaf aku sedikit telat. Aku hampir lupa jika kita sudah janjian di sini. Bagaimana kabarmu? Sudah lama sekali kita nggak bertemu sejak terakhir kamu menikah dengan Azzura.”
“Alhamdulillah aku baik, Bumi.” Close mempersilahkan temannya itu duduk. “Sayangnya pernikahanku dengan Azzura kandas di tengah jalan.”
Bumi cukup terkejut mendengar ucapan Close. Ia mengerutkan kening lalu menatap pria blasteran itu.
“Maksudmu, kalian divorce?”
“Hmm ... sudah delapan tahun. Azzura sudah bahagia dengan suaminya sekarang. Bahkan kini dia sudah memiliki lima orang anak,” jelas Close lalu tersenyum.
Hening sejenak ....
Sebelum akhirnya pintu dibuka oleh seseorang. Close dan Bumi langsung menoleh.
“Sayang.”
“Dokter Syakila.”
“Apa kalian sudah saling kenal?” tanya Close dengan alis berkerut tipis.
“Ya, dokter Syakila inilah yang menangani istriku,” jawab Bumi. Ia tampak bingung sekaligus bertanya-tanya, ada hubungan apa Close dan dokter Syakila.
Melihat wajah penuh tanda tanya dari Bumi, Close mengulas senyum lalu menjelaskan jika dokter Syakila adalah istrinya.
Obrolan mereka terus berlanjut. Sesekali membahas urusan pekerjaan diselingi dengan obrolan pribadi.
Ketiganya seolah tak merasa canggung ketika membahas tentang masalah rumah tangga. Bahkan Close tak segan menasehati Bumi. Ia tak ingin Bumi bernasib sama seperti dirinya.
Setelah cukup lama menghabiskan waktu di cafe itu, akhirnya Bumi berpamitan untuk kembali ke kantor.
.
.
.
Di lain tempat, Gerry yang baru saja keluar dari restoran, langsung menghubung salah satu temannya untuk melacak plat motor pria misterius yang ditemui Bu Cahaya semalam.
“Apa kecelakaan itu ada hubungannya dengan Bu Cahaya, ya?” gumam Gerry. “Nggak kebayang jika dugaanku benar adanya.”
Ia pun memutuskan mendatangi temannya itu di kantor.
Begitu tiba di kantor temannya, Gerry langsung mengambil langkah seribu menuju ruangan kerja temannya itu.
“Dewa,” tegurnya sesaat setelah membuka pintu. Menghampiri pria itu kemudian duduk saling berhadapan.
“Gerry, cepat juga kamu kemari.” Dewa menghela nafas. “Ini nama dan juga alamat pemilik plat motor itu.”
Dewa menyodorkan dua lembar kertas ke arah Gerry.
“Makasih ya, Dewa,” ucap Gerry lalu mengambil lembaran itu. Membaca dengan seksama lalu tersenyum sinis.
Tak ingin membuang-buang waktu, Gerry lalu berpamitan. Tujuannya kini, ke alamat pria misterius itu.
********
“Bajingan! Jadi di sini kamu bersembunyi?!” ucap Gerry dengan geram.
Ia langsung menekan bel pintu tanpa jeda. Tak lama berselang pintu itu dibuka.
Bugghh!!
Satu bogem mentah langsung mendarat keras di rahang pria itu. Sehingga membuatnya terjatuh.
“Apa-apaan kamu, hah! Brengsek!” gertak pria itu lalu kembali berdiri.
“Rio Andito, itu kan namamu! Pria yang menabrak seorang wanita hamil di pusat perbelanjaan satu bulan yang lalu!” Gerry balik menggertak sembari mencengkram baju kaos Rio.
Tanpa merasa bersalah Rio tertawa lalu berdalih.
“Jangan asal menuduh jika kamu nggak punya bukti.”
Tak bisa menahan emosi, Gerry kembali menghajar Rio tanpa ampun.
“Ada apa ini?!” tegur seseorang.
Gerry langsung mendorong Rio lalu berbalik. Alangkah terkejutnya ia ketika mengetahui jika orang itu adalah Bu Cahaya.
“Bu!”
Sama halnya dengan Gerry, Bu Cahaya ikut terkejut mendapati asisten suaminya itu berada di apartemen Rio.
Tanpa sepatah kata pun Bu Cahaya langsung meninggalkan tempat itu dengan perasaan cemas.
“Katakan padaku, ada hubungan apa kamu dengan Ibu itu tadi?!” tanya Gerry dengan geram.
“Beliau yang telah membayarku untuk menghabisi nyawa wanita hamil itu,” jawab Rio dengan suara lirih.
“Apa?!” Gerry cukup terkejut sekaligus tak menyangka jika Buk Cahaya tega berbuat demikian.
...----------------...