NovelToon NovelToon
Berpijak Di Antara Batu Karang

Berpijak Di Antara Batu Karang

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta
Popularitas:250
Nilai: 5
Nama Author: Siti Gemini 75

meylani yang sedang putus cinta dengan Andrian membuat nya mengambil keputusan untuk menerima tawaran dipindahkan ke Surabaya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Gemini 75, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ujian di Balik Pintu Joglo

Minggu pagi di Banyumanik terasa lebih hening daripada biasanya. Langit berwarna biru cerah, angin sepoi-sepoi membawa aroma melati dari halaman depan. Namun, di dalam rumah keluarga Meylani Nur Haliza, ketegangan terasa begitu padat hingga hampir bisa disentuh.

Bu Mellysa sudah sibuk sejak subuh. Ia memastikan taplak meja makan tertata rapi tanpa satu pun kerutan, vas bunga mawar putih diletakkan tepat di tengah, dan aneka kue basah serta buah-buahan impor disusun dengan presisi militer. Pak Bramasta duduk di ruang tamu, membaca koran, namun matanya sesekali melirik ke arah jam dinding. Ia mengenakan kemeja batik tulis motif parang yang wibawa, rambutnya disisir rapi ke belakang.

"Mey sudah bilang jam berapa mereka sampai?" tanya Pak Bramasta tanpa menurunkan korannya.

"Jam sepuluh, Pak. Katanya macet di Tol Surabaya-Semarang lumayan," jawab Bu Mellysa sambil merapikan bantal sofa untuk kesekian kalinya. "Aku harap anak itu nggak bawa pria yang aneh-aneh, Pak. Soalnya Meylani cerita kalau dia orangnya... blak-blakan."

Pak Bramasta melipat korannya pelan. "Blak-blakan itu belum tentu buruk, Bu. Bisa jadi dia jujur. Yang penting adabnya. Kalau adabnya baik, asal-usulnya dari mana pun akan kita hormati. Tapi kalau kasar... ya harus kita lihat dulu."

Tepat pukul 10.15 WIB, suara mobil berhenti di depan pagar. Jantung Bu Mellysa berdegup kencang. Meylani turun dari mobil SUV hitamnya, mengenakan dress midi berwarna pastel yang lembut dan syal sutra tipis. Penampilannya sangat "Meylani": elegan, halus, dan terukur.

Namun, ketika pintu penumpang terbuka, sosok yang keluar membuat Bu Mellysa mengerutkan kening.

Bima Arkhan Bagaskara turun dengan langkah agak kaku. Ia mengenakan kemeja lengan panjang berwarna biru muda yang dimasukkan ke dalam celana bahan hitam, dipadukan dengan sepatu yang mengkilap pakaian yang jelas baru dibeli khusus untuk acara ini. Rambutnya disisir rapi dengan gel, dan wajahnya dicuci bersih hingga kinclong. Namun, ada sesuatu yang "kurang pas". Postur tubuhnya yang tegap dan tatapan matanya yang tajam tetap memancarkan aura keras yang sulit disembunyikan oleh pakaian formal.

"Mbak Meylani, ini Bapak sama Ibu?" bisik Bima pelan saat mereka berjalan menuju teras. Suaranya terdengar sedikit serak karena gugup.

"Iya, Mas Bima. Tenang saja. Senyum, dan jangan lupa salam," bisik Meylani balik, tangannya sedikit gemetar saat menyentuh lengan Bima.

Mereka naik ke teras. Pak Bramasta dan Bu Mellysa sudah berdiri menunggu.

"Assalamualaikum, Pak. Bu," sapa Meylani dengan suara lembut, mencium tangan ayahnya lalu ibunya.

"Waalaikumsalam, Nak," jawab Pak Bramasta hangat. Matanya kemudian beralih ke pria di samping putrinya.

Bima menelan ludah, lalu membungkukkan badan cukup dalam, sebuah gestur hormat yang ia pelajari semalaman dari video YouTube tentang "Etika Bertemu Mertua Jawa".

"Assalamualaikum, Pak Bramasta. Bu Mellysa. Saya Bima Arkhan Bagaskara. Mohon maaf kalau kedatangan saya mengganggu waktu istirahat Bapak dan Ibu," ucap Bima. Suaranya lantang, jelas, dan terdengar sangat formal terlalu formal, hingga terdengar kaku seperti robot yang sedang belajar berbicara.

Bu Mellysa tersenyum tipis, meski matanya masih menyapu penampilan Bima dari ujung kaki ke ujung kepala. "Waalaikumsalam, Mas Bima. Silahkan masuk. Jangan berdiri di luar."

Mereka duduk di ruang tamu. Suasana hening mencekam selama beberapa detik pertama. Bu Mellysa segera menyajikan teh manis hangat dan potongan nanas madu.

"Silahkan diminum, Mas Bima. Tehnya masih hangat," kata Bu Mellysa ramah, namun nada suaranya mengandung interogasi halus.

"Terima kasih banyak, Bu," jawab Bima. Ia mengambil cangkir dengan kedua tangan, lalu menyeruputnya. Karena terlalu gugup, ia menyeruput terlalu keras, menghasilkan suara slurp kecil yang terdengar nyaring di ruangan yang sunyi.

Mata Pak Bramasta berkedip sekali. Meylani menutup matanya sebentar, menahan rasa malu. Bima menyadari kesalahannya, wajahnya memerah padam.

"Maaf, Bu. Saya... kurang sopan tadi," kata Bima cepat, meletakkan cangkir kembali dengan hati-hati.

"Tidak apa-apa, Mas. Namanya juga kehausan," jawab Bu Mellysa datar. Lalu, ia mulai menyerang dengan pertanyaan-pertanyaan yang tampaknya santai, namun sebenarnya menjebak.

"Jadi, Mas Bima bekerja di bidang properti ya? Spesifiknya di bagian apa?"

"Iya, Bu. Saya Marketing Executive dan Site Supervisor di agen properti X. Tugas saya menjual tanah dan kapling, sekaligus mengawasi kondisi lapangan biar nggak ada penipuan spesifikasi," jawab Bima lugas.

"Oh, jadi tangan kanan di lapangan ya?" sela Pak Bramasta. "Berarti sering berurusan dengan tukang, preman, atau orang-orang keras?"

Bima mengangguk. "Iya, Pak. Kadang gitu. Tapi saya usahakan selalu pakai pendekatan persuasif. Kalau nggak mempan, baru pakai tegas. Tapi nggak sampai main fisik, Pak. Saya percaya hukum harus jalan."

Jawaban Bima terdengar jujur, namun bagi telinga Jawa Tengah yang halus, frasa "kalau nggak mempan, baru pakai tegas" terdengar agak mengintimidasi. Pak Bramasta mengangkat alis.

"Hmm. Menarik. Dan bagaimana dengan latar belakang pendidikan Mas Bima?" tanya Bu Mellysa lagi.

"Saya lulusan S1 Manajemen dari universitas swasta di Surabaya, Bu. Nilai saya biasa saja, Bu. Nggak cumlaude kayak Mbak Meylani. Tapi saya belajar banyak dari pengalaman langsung di lapangan," jawab Bima rendah hati.

Bu Mellysa bertukar pandang dengan Pak Bramasta. Ada keheningan singkat. Mereka menilai: Pria ini sederhana. Pekerja keras. Jujur. Tapi apakah dia "setingkat" dengan Meylani? Apakah dia bisa memahami dunia intelektual dan sosialita yang dijalani putri mereka?

"Meylani kan sekarang posisinya tinggi, Mas. Direkur Nasional. Apa Mas Bima nggak merasa... minder? Atau takut nanti dikontrol istri?" tanya Pak Bramasta tiba-tiba, pertanyaannya menusuk langsung ke inti ketakutan banyak pria tradisional.

Meylani hendak menjawab, tapi Bima mengangkat tangan pelan, meminta izin untuk menjawab sendiri. Ia menatap Pak Bramasta lurus-lurus, kali ini tanpa kegugupan. Tatapannya tenang dan penuh keyakinan.

"Pak, saya nggak merasa minder. Karena saya tahu nilai saya di mana. Saya mungkin nggak punya jabatan setinggi Mbak Meylani, dan rekening saya nggak sebanyak dia. Tapi saya punya hal lain: saya punya waktu, saya punya tenaga, dan saya punya komitmen untuk membahagiakan dia dengan cara saya. Kalau soal dikontrol, saya nggak masalah. Selama itu dalam koridor kebaikan dan agama. Saya justru respek sama wanita mandiri seperti Mbak Meylani. Dia nggak butuh pria yang mendominasi, dia butuh partner yang mendukung. Dan saya siap jadi itu," ucap Bima tegas.

Ruangan menjadi hening total. Jawaban itu blak-blakan, tanpa basa-basi, namun sarat makna. Pak Bramasta terdiam, seolah sedang mencerna kata-kata pria muda itu. Bu Mellysa tampak sedikit terkejut dengan keberanian Bima.

Meylani menatap Bima dengan kekaguman. Ia tidak menyangka Bima bisa sefasih itu menyampaikan isi hatinya, meski dengan gaya bahasa yang kaku.

Pak Bramasta akhirnya tersenyum tipis, senyuman yang jarang terlihat. "Jawaban yang berani, Mas Bima. Di zaman sekarang, jarang ada pria muda yang mau mengakui bahwa istrinya lebih sukses tanpa merasa tersaingi. Itu tanda kedewasaan."

Bu Mellysa masih tampak ragu. "Tapi Mas, gaya bicara Mas... agak keras ya? Di sini kami terbiasa dengan tutur kata yang halus. Apa Mas bisa beradaptasi? Soalnya Lani itu sensitif. Kalau dibentak sedikit saja, dia bisa sedih berhari-hari."

Bima menggaruk tengkuknya, lalu tertawa kecil, mencoba mencairkan suasana. "Waduh, maaf Bu. Itu memang kebiasaan orang Surabaya. Kami kalau ngomong keras itu tandanya akrab, bukan marah. Kalau saya marah beneran, malah diam saja. Tapi saya janji, Bu. Di depan Mbak Meylani, saya akan usahakan selembut mungkin. Meskipun kadang lidah saya keseleo. Mohon dimaklumi ya, Bu."

Kelucuan spontan Bima itu berhasil membuat Pak Bramasta tertawa renyah. Bahkan Bu Mellysa pun terpaksa tersenyum melihat usaha keras Bima untuk menyesuaikan diri.

"Ya sudahlah. Yang penting niatnya baik," kata Bu Mellysa akhirnya, meski nada suaranya masih sedikit dingin. "Sekarang, ayo makan siang. Sudah disiapkan nasi liwet khas Solo. Semoga Mas Bima cocok."

Saat mereka bergerak menuju meja makan, Meylani menghela napas lega di bawah meja. Ia menyelinapkan tangannya dan mencubit pelan paha Bima sebagai tanda terima kasih. Bima menoleh, memberikan kedipan mata nakal.

Ujian pertama telah berlalu. Mereka selamat. Namun, Meylani tahu, ini baru babak penyisihan. Tantangan sesungguhnya bukanlah menerima restu awal, tetapi bagaimana Bima dan keluarganya bisa benar-benar berbaur dalam jangka panjang.

Di meja makan, Bima berusaha makan dengan sopan, mengunyah perlahan, dan tidak bersuara. Tapi setiap kali Pak Bramasta bercerita tentang sejarah budaya Jawa, Bima mendengarkan dengan antusias, meski kadang ia salah mengartikan istilah-istilah halus. Meylani sering kali harus menjadi "penerjemah" budaya antara ayah dan calon suaminya.

Pak Bramasta tersenyum. "kamu pintar memilih teman bicaranya, Mey. Meski bahasanya beda, hatinya nyambung."

Kalimat itu menggema di hati Meylani. Ya, hati mereka nyambung. Di tengah perbedaan budaya, kelas sosial, dan gaya hidup, ada benang merah kejujuran dan saling menghargai yang mengikat mereka.

Sore harinya, saat Bima dan Meylani hendak pulang, Pak Bramasta memanggil Bima ke teras belakang.

"Mas Bima," panggil Pak Bramasta serius.

"Iya, Pak?" Bima berdiri tegak.

"Jaga Meylani baik-baik. Dia kuat di luar, tapi rapuh di dalam. Jangan biarkan kesuksesannya membuatnya lupa pada kebahagiaan sederhana. Dan ingat, jika kamu menyakitinya, aku punya banyak cara untuk membuatmu menyesal. Bukan dengan kekerasan, tapi dengan doa dan restu yang kutarik kembali," pesan Pak Bramasta berat.

Bima menunduk hormat. "Siap, Pak. Saya akan jaga dia sebaik kemampuan saya. Doa Bapak adalah kekuatan terbesar buat saya."

Pak Bramasta menepuk bahu Bima. "Bagus. Pulanglah dengan hati-hati."

Di dalam mobil, saat mereka melaju meninggalkan rumah orang tua Meylani, Bima menghela napas panjang seolah baru saja lepas dari medan perang.

"Gila, Mbak. Ayah mbak itu serem banget. Tatapannya kayak bisa tembus jiwa," keluh Bima sambil mengendurkan dasinya.

Meylani tertawa terbahak-bahak, tawa yang lepas dan bahagia. "Tapi Mas Bima lolos. Mas Bima berhasil. Bapak bahkan tersenyum."

Bima menoleh pada Meylani, wajahnya berseri. "Berarti ada harapan ya? Berarti aku boleh lanjut PDKT secara resmi?"

Meylani menatap Bima lekat-lekat. Di mata pria sederhana itu, ia melihat masa depan yang tidak sempurna, mungkin akan penuh perdebatan budaya dan kesalahpahaman, namun juga penuh dengan cinta yang jujur dan tanpa topeng.

"Iya, Mas Bima," jawab Meylani lembut. "Kita lanjut. Tapi ingat janji Mas Bima. Pelan-pelan belajar jadi halus. Aku juga akan belajar jadi lebih 'ceplas-ceplos' ala kamu."

Bima tersenyum lebar, meraih tangan Meylani dan menggenggamnya erat. "Deal, Mbak Meylani. Deal."

Mobil itu melaju menuju Surabaya, membawa dua hati yang semakin dekat, meski jalan di depan mereka masih berkelok-kelok menghadang perbedaan dunia mereka. Namun, untuk pertama kalinya, mereka yakin bisa melewatinya bersama.

...****************...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!