Aldara, wanita yang hatinya baru saja remuk redam ditinggalkan kekasih demi wanita lain, berusaha menyembunyikan kesedihannya di balik senyum tenang agar tidak dikasihani orang lain. Ketika dipanggil oleh kenalannya, Siska, untuk bertemu di kafe langganan, ia tidak menyangka bahwa kunjungannya kali ini akan menjadi titik balik hidupnya. Di sana ia diperkenalkan kepada Aries—seorang pemuda pendiam namun memiliki pesona tersendiri. Pertemuan yang awalnya terasa biasa saja perlahan membuka jalan bagi sebuah kisah baru yang akan menyembuhkan luka lama dan mengajarkan Aldara arti cinta yang sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chinta Maulana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 026: Sindiran Tajam dan Rencana Masa Depan
“Eh, Ikbal? Kamu ada di sini?” tanya Dede Ara kaget melihat kedatangan Ikbal.
“Kebetulan tugasku sudah selesai lebih awal, jadi aku bisa menyempatkan waktu berkumpul sama kalian,” jawab Ikbal sambil tersenyum ramah.
“Sayang, izinkan aku perkenalkan teman-teman ya,” ucap Hafizah lembut. “Ini Siska, mungkin baru pertama kali kamu bertemu. Di sebelahnya ada Hiken, pacarnya Dede Ara, sama sepertimu, dia juga jarang bisa ikut kumpul. Dan yang cantik di sana itu Fearny, baru bergabung dengan kita hari ini.”
“Salam kenal semuanya,” sapa Ikbal sopan.
“Salam kenal juga,” jawab Siska dan Fearny bersamaan, sementara Hiken hanya mengangguk pelan dengan sikap tenang seperti biasanya.
“Ngomong-ngomong, pacarmu ke mana, Dar?” tanya Hiken tiba-tiba.
“Dia sedang sibuk bekerja,” jawab Aldara singkat, matanya tetap tak beralih dari layar laptop.
“Masa bekerja sampai tidak ada waktu sedikit pun memberi kabar? Itu bukti jelas kalau dia pasti menyembunyikan sesuatu, mungkin saja ada wanita lain di luar sana,” ucap Randy dengan nada sinis dan meremehkan.
Plak!
Siska menepuk lengan Randy dengan keras. “Jangan bicara begitu, itu tidak baik,” tegurnya pelan namun tegas.
Aldara pun berhenti mengetik, lalu menatap Randy dengan pandangan tajam. “Dia bekerja di tempat yang memang sulit dijangkau sinyal. Lebih baik dia sibuk bekerja keras demi masa depan, daripada sibuk bergonta-ganti wanita di luar sana,” sindirnya tajam.
Randy seketika bungkam, wajahnya berubah pucat takut Siska menangkap maksud ucapan itu. Ia tak berani membalas lagi, belum saatnya rahasianya terbongkar, apalagi niatnya mendekati Aldara belum berhasil.
“Betul sekali kata Kak Aldara,” timpal Dede Ara membela. “Dalam hubungan tidak mungkin pasangan harus selalu ada di samping dua puluh empat jam sehari. Kita juga Punya tanggung jawab dan kesibukan masing-masing kan?”
“Sudahlah, kenapa malah jadi berdebat begini? Kita kan mau bersenang-senang,” potong Abang Chepot dengan nada tenang.
Aldara kembali fokus pada tulisannya.
“Jangan sampai Kak Aldara marah lho,” bisik Siska di telinga Randy.
“Aku hanya bicara apa yang terlihat saja,” balas Randy pelan.
“Ada apa sebenarnya?” tanya Fearny penasaran.
“Tidak ada apa-apa. Hanya saja suasana hatinya kadang berubah cepat kalau soal Aries,” jawab Siska yang sudah mulai mengerti sifat Aldara.
“Terus bagaimana sekarang?” tanya Fearny lagi.
“Tenang saja, nanti Abang Chepot dan Dede Ara yang akan menghiburnya sampai hatinya kembali ceria,” jawab Siska yakin.
“Kak Dar, cerita apa yang sedang Kakak buat? Serius sekali mukanya,” tanya Dede Ara penasaran.
“Hebat sekali kamu ya, Dar,” puji Hafizah.
“Aku memang suka menulis dan membaca. Tapi ini pertama kalinya aku menulis cerita cinta yang lembut, biasanya aku lebih suka menulis kisah aksi, mafia, atau anak geng motor,” jelas Aldara tersenyum tipis.
“Kalau begitu tuliskan juga kisahku dong nanti,” pinta Fearny antusias.
“Boleh, nanti saja ya. Sekarang aku harus selesaikan bab ini dulu baru lanjut ke cerita yang lain,” jawab Aldara ramah.
“Ngomong-ngomong Hiken, sekarang sibuk apa saja?” tanya Abang Chepot beralih topik.
“Masih bekerja seperti biasa, Bang. Kebetulan hari ini libur jadi bisa menemani Ara sebentar,” jawab Hiken.
“Masih di tempat yang dulu?” tanya Chepot lagi.
“Iya, Bang. Aku sedang mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya supaya bisa segera melamar Ara,” jawab Hiken mantap.
“Apaan sih! Aku belum siap nikah, umurku baru sembilan belas tahun!” protes Dede Ara sambil cemberut. “Mending Kak Hafizah dan Ikbal dulu, kan umur mereka sudah pas!”
“Lho kok malah aku yang disebut?” seru Hafizah kaget.
“Kalau begitu aku juga harus bekerja lebih giat supaya bisa segera melamarmu, sayang,” goda Ikbal sambil menatap Hafizah lembut.
Wajah Hafizah seketika memerah padam menahan malu. “Lihat deh, Kak HaFizah malu!” ledek Siska tertawa.
“Diamlah kalian!” seru Hafizah sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangan.
Waktu berlalu begitu cepat hingga matahari mulai condong ke barat. Mereka pun satu per satu bersiap berpamitan dan pulang ke rumah masing-masing dengan hati yang jauh lebih ringan.