Pernikahan yang berlandaskan rasa bersalah juga karena ingin bertanggung jawab membuat Icha terjebak dalam situasi rumah tangga yang sangat menyedihkan. Kehadirannya tak dianggap ada oleh suami yang dia cintai. Namun, dia masih bisa tetap bertahan.
"Bukan aku yang menginginkan pernikahan ini, kak Adit. Tapi kenapa kamu malah membuat aku semakin lama semakin tersiksa? Apakah aku harus tetap bertahan, atau malah pergi jauh meninggalkan kehidupan yang menyedihkan ini?" Marisa Aurelia.
"Beri aku waktu untuk belajar mencintai kamu, Icha. Jika aku sudah siap nanti, maka rumah tangga kita pasti akan baik-baik saja." Aditya Hutomo.
Namun, bukannya malah membaik. Rumah tangga yang sudah dasarnya rusak itu malah semakin rusak dengan munculnya orang ketiga. Akankah Icha masih tetap bertahan dengan Aditya yang semakin dingin padanya? Atau ... Icha malah memilih pergi meninggalkan kehidupan pahit yang selama ini menyiksa hati juga pikirannya.
Ikuti kisahnya di sini. Di Sebatas menikah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
*Bab 27
Cleo yang ada di antara kedua pasangan suami itu hanya bisa terdiam. Hatinya merasa antara bahagia juga cemas. Bahagia dengan kebahagiaan yang sedang om dan tantenya rasakan. Namun cemas karena kebahagiaan itu akan merenggut kebahagiaan yang dia miliki.
____
Dua hari kemudian. Icha sudah baik-baik saja sekarang. Berkat perawatan yang penuh dengan kasih sayang juga cinta, Icha membaik dengan cepat.
Seperti yang Irene harapkan. Hasil tes DNA juga akhirnya keluar dengan hasil yang sangat memuaskan. Bukan hanya satu laporan hasil tes DNA yang keluar, tapi tiga.
Ketika rumah sakit memberikan kabar yang sama. Marisa Aurelia adalah anak kandung mereka. Anak kandung kedua pasangan tersebut.
Tak bisa menahan air mata bahagia, Irene langsung menangis di pelukan suaminya. Setelah itu, dia bergegas menuju taman untuk mencari keberadaan Icha yang sedang bersama dengan Cleo sekarang.
"Jalannya pelan aja, Ma. Dia gak akan ke mana-mana kok. Dia akan tetap berada di taman."
"Gak bisa pelan, Pah. Mama udah gak sabar lagi buat ngungkapin semuanya. Dia anak kita, Pa. Anak kita yang hilang selama dua puluh tahun lebih. Aku benar-benar gak akan melepaskannya lagi. Akan aku pertaruhkan semuanya untuk menebus hal yang hilang selama lebih dari dua puluh tahun ini."
"Iya, papa tahu apa yang mama rasakan. Tapi .... "
"Tante, om. Ada hal apa ini? Kenapa kalian begitu terburu-buru? Mau ke mana?" tanya Cleo yang tiba-tiba muncul di hadapan mereka.
"Ah! Ini dia. Ya Tuhan .... Mama cari kamu sayang." Irene berucap dengan mata yang berlinangan memandang ke arah Icha yang ada di samping Cleo.
Kata mama yang Irene ucapkan barusan, sontak membuat Icha kaget bukan kepalang. Dia membulatkan mata menatap wanita paruh baya yang ada dihadapannya sekarang.
"Mama?" tanya Icha lirih.
"Iya. Mama. Aku adalah mama kamu. Hasil tes DNA sudah keluar, sayangku. Kau adalah anak kandungku."
"Ap--apa? Hasilnya benar-benar mengatakan kalau Icha adalah anak kandung kalian, tante, om?"
"Tentu saja. Aku tidak hanya mengirim kan sempel di stau rumah sakit. Tapi tiga. Dan semuanya, sesuai dengan yang aku harapkan. Marisa adalah anak kandungku yang sah."
"Ka--kalau begitu ... dia .... "
"Dia sepupu kamu. Ingat itu, Cleo. Marisa adalah adik sepupu kamu." Irene bicara dengan nada yang penuh dengan penekanan.
Ada guratan sedih di raut wajah Cleo karena kabar bahagia tersebut. Namun, dia ingin tetap merasakan kebahagiaan untuk Icha yang kini bisa memiliki orang tua. Sama seperti yang Icha harapkan selama ini.
Satu keluarga lengkap yang kini sudah kembali utuh itupun akhirnya berpelukan dengan suasana yang sangat bahagia. Cleo hanya bisa tersenyum melihat mereka yang sedang melepas rindu.
"Selamat Icha. Akhirnya, kamu bisa bertemu dengan orang tua kandungmu sekarang. Aku ikut bahagia untuk kebahagiaan kalian ini," ucap Cleo sambil mengulur tangan setelah keluarga itu usai melepas rindu.
"Hei ... dasar anak tidak tahu diri. Kau juga harusnya ikut bahagia, Cleo. Ini adik sepupu kamu sekarang. Dia sudah kembali, itu tandanya, keluarga ini sudah kembali utuh. Tahu gak?"
"Iya tante. Aku tahu kok soal itu. Tapi .... "
"Eitc. Jangan ungkit soal perasaan kamu lagi mulai saat ini. Kau dan dia adalah sepupu."
Semuanya tertawa bahagia. Terasa sekali kebahagiaan diantara mereka semua. Icha yang kini merasakan kebahagiaan untuk, tiba-tiba ada yang kosong dari hatinya.
Rasa kosong yang entah mengapa bisa dia rasakan di saat-saat bahagia seperti sekarang ini. Namun, dia mencoba menepis rasa itu agar tidak merusak segalanya. Merusak kebahagiaan kedua orang tua yang baru saja dia miliki beberapa menit yang lalu.
"Oh iya, Pa. Karena putri kita sudah kembali. Maka aku ingin kita mengadakan pesta buat mengumumkan pada semua orang, kalau dia adalah pewaris sah keluarga Nugroho."
"Tinggu, tante. Apa sebaiknya, jangan mengumumkan soal keberadaan Icha sekarang. Karena Icha sekarang, masih belum siap buat jadi putri seorang ketua mafia."
"Iya, Ma. Aku rasa apa yang Cleo katakan itu ada benarnya. Jika kita mengumumkan keberadaan putri sekarang. Aku takut kita akan membahayakan keselamatan putri kita. Karena dia masih belum siap untuk menjadi putri seorang ketua mafia."
Irene terdiam. Benaknya membenarkan apa yang suami juga keponakannya katakan. Sementara Icha yang kebingungan, kini hanya bisa menatap mereka satu persatu. Berharap menemukan jawaban atas ucapan mereka yang sudah membuat hatinya di penuhi dengan kebingungan.
"Iya. Aku tahu kalau Marisa belum siap untuk kita umumkan sebagai pewaris tunggal keluarga Nugroho." Irene berucap dengan lemas.
"Jangan kecewa seperti itu dong, Ma. Dia belum siap, bukan tidak siap. Iyakan? Kita akan latih dia supaya jadi putri mafia yang tangguh."
"Apa maksudnya ini, tante, om?" tanya Icha yang sedari tadi hanya diam saja. Hingga pada akhirnya, dia merasa tidak kuat untuk tetap diam lagi.
Irene dan suaminya langsung menatap ke arah Icha secara bersamaan.
"Sayang, apakah kamu lupa siapa aku ini? Aku mama kamu lho, nak. Kok malah panggil tante dan om juga lagi?"
"Oh iya. Maafkan aku, Tante. Eh, maksudku mama. Aku hanya merasa bingung dengan apa yang kalian bicarakan. Aku tidak siap? Kenapa aku tidak siap? Lalu, bahaya? Bahaya apanya?"
"Risa. Kamu memang belum siap bertempur dengan dunia luar, nak. Karena seorang putri mafia itu sangat tangguh dan tidak polos. Jadi, kamu harus di latih biar bisa jadi wanita tangguh terlebih dahulu. Itu semua agar tidak ada yang berani menindas kamu nantinya, sayang."
"Mama kamu benar, Risa. Kau tahu bagaimana kehidupan mafia bukan? Kita tidak boleh jadi orang yang lugu. Atau nantinya kita akan di manfaatkan orang lain. Jika kamu punya misi, maka kamu harus tuntaskan. Begitulah kehidupan kelam ini, nak."
"Papa tidak akan memaksa kamu buat setuju, sayang. Jika kamu jadi putri papa dan mama secara sembunyi, maka kedudukan kamu akan sedikit lebih terasing. Karena kamu akan mendapat penjagaan. Tidak bisa bebas dengan sesuka hati."
Icha terdiam sesaat. Lalu ....
"Aku siap jadi putri mafia, pa. Karena aku punya misi dan dendam yang harus aku balas kan." Icha berucap dengan penuh semangat sampai tidak sadar dengan apa yang baru saja dia ucapkan.
"Kamu punya dendam, Cha?" tanya Cleo penasaran. "Apa butuh aku bantu buat membalaskan dendam yang kamu punya?"
"Tidak. Aku ingin membalaskan dendam ku sendiri, Leo. Aku ingin melihat mereka menderita. Tunduk di bawah kakiku untuk minta maaf akibat apa yang telah mereka lakukan padaku waktu itu."