Cikar Bobrok Berjalan Juga, Kerasnya batu jika selalu diteteskan air akan Berlubang juga, Waiting Tresno Jalaran Soko
Kulino.
Itulah landasan Seorang Nadya Marlynda Sismoko Tetap menancapkan cintanya kepada si kapten tentara tampan nan gagah Rexsaka Pramuja anak dari sopir pribadi keluarganya, Meski Tidak Mendapatkan Balasan yang sama. Ditengah penolakan dan sikap profesionalnya Rexsaka yang menganggap Nadya hanya sebagai nona majikannya, berbagai sarkas yang di lontarkan Rexsaka seolah merendahkan Nadya, membuat Nadya menjauh namun tak kunjung membuat Nadya jenuh untuk menaklukkan dinginnya puncak Everest itu.
" Lo memang cegil sejati Nad, Lo tau betapa dinginnya rexsaka itu, kenapa Lo gak menyerah juga jadi bucinnya sih"
"Asal Lo tau Ris, Cegil Nama tengah gue dan bucin nama belakang gue, gue gak akan menyerah"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon daehwi25, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33
"Kakak kenal Jesica?"
Pertanyaan yang sejak tadi tertahan di ujung lidah akhirnya terlontar juga.
Di dalam kabin mobil yang hening, kendaraan berpacu melintasi jalan raya seirama dengan gejolak kekesalan yang membakar dada Nadya. Bayangan betapa minimnya jarak antara Rexsaka dan Jesica di lobi tadi terus berputar di kepalanya, menolak pergi.
Netra hitam Rexsaka yang semula fokus menatap jalanan di depan bergulir singkat, menatap Nadya selama beberapa detik sebelum kembali tertuju ke jalan.
"Bohong!" sergah Nadya tak percaya. "Kalau tidak kenal, kenapa sikap Jesica seakrab itu sama Kakak? Kenapa kalian menempel erat seperti perangko begitu, dan Kakak bahkan tidak menolaknya?"
Nadya mendengus kesal. Bagaimanapun centil dan menyebalkannya Jesica, Nadya tahu betul tabiat musuhnya itu. Jesica tak akan pernah bersikap murahan pada pria yang tak dikenal, gadis itu punya gengsi dan harga diri setinggi langit.
Fakta bahwa Jesica berani bertindak sejauh itu pada Rexsaka justru makin menegaskan bahwa ada rahasia yang sengaja ditutupi sang pengawal darinya.
"Apa urusannya denganmu, Nona? Kamu siapa?" potong Rexsaka dingin. "Ini urusan pribadi saya, jadi kamu tidak berhak ikut campur."
Kalimat telak itu menghantam dada Nadya bagai pukulan telak. Menyadarkan dirinya secara paksa bahwa di mata Rexsaka, ia memang bukan siapa-siapa. Pria itu telah menegaskan batas, memasang tembok tebal yang melarang Nadya mengikis jarak atau memasuki jalurnya.
"Iya, Kak... Nadya sadar. Nadya bukan siapa-siapanya Kak Rex," bisik Nadya Lirih.
Nadya buru-buru memalingkan wajah ke luar jendela. Ia tak ingin Rexsaka menyaksikan gumpalan air mata yang mulai menggenang, pun meratapi raut piasnya yang terluka.
Sisa perjalanan sore itu menjelma menjadi keheningan yang menyiksa. Tak ada alunan musik yang mengudara, hanya desir hembusan AC yang mengalirkan hawa dingin yang menusuk kulit, berpadu dengan dengung halus mesin mobil yang melaju konstan. Di dalam kabin yang membeku itu, keduanya tenggelam dalam riak pikiran masing-masing, membiarkan kilau jingga senja di luar sana menyaksikan jarak yang kian membentang di antara mereka.
Mobil akhirnya berhenti sempurna di pelataran luas kediaman Sismoko. Dengan dada yang masih diliputi sesak, Nadya melepas seatbelt yang sejak tadi melingkari tubuh cantiknya.
"Terima kasih untuk hari ini, Kak," tutur Nadya pelan, mencoba mencairkan atmosfer beku di antara mereka.
"Saya di sini semata-mata hanya demi pekerjaan. Kamu tidak perlu berterima kasih, Nona."
Kalimat yang meluncur kaku dan begitu formal itu menegaskan kembali garis batas di antara mereka. Meski panggilan 'Anda' telah menghilang, sebutan 'Nona' yang meluncur dari bibir Rexsaka tetap menjadi dinding tebal yang tak sanggup ditembus oleh Nadya. Tak peduli seberapa keras ia memprotes, Rexsaka tak akan pernah mengubah sikapnya. Sebab dalam kacamata pria itu, status mereka sudah terpatri jelas, seorang majikan dan anak dari bawahannya.
Hati Nadya tercubit pedih. Betapa bodohnya ia karena sempat berharap jika sikap Rexsaka hari ini telah melunak. Tumbler berisi air dingin yang disodorkan padanya, sorot mata penuh dukungan saat ia melangkah ke ruang audisi, hingga bentengan tangan kekar Rexsaka yang melindunginya dari tabrakan peserta lain di lobi tadi... rupanya seluruh gestur protektif yang sempat melambungkan perasaannya itu nyatanya tak lebih dari sekadar pemenuhan SOP pekerjaan.
"Baik... Kak Rex," bisik Nadya pasrah. Ia mengangguk pelan, lalu segera mendorong pintu mobil dan melangkah keluar tanpa berani menoleh lagi.
***
Begitu pintu kamar tertutup rapat, Nadya langsung membiarkan tubuhnya ambruk ke atas ranjang. Rasa lelah yang luar biasa menjalar hingga ke tulang, lelah akibat letihnya memperjuangkan pria setebal tembok seperti Rexsaka. Ia menutupi wajahnya dengan lengannya sendiri, pasrah membiarkan air mata yang sejak tadi ditahannya mengalir tanpa suara.
Di atas perutnya, tas yang belum sempat ia lepas bergetar menyuarakan panggilan masuk. Tanpa melihat nama di layar, Nadya mengangkat telepon itu dan mendekatkannya ke telinga.
"Nad! Tega banget Lo ninggalin gue! Gue kan cuma ke WC bentar! Bodyguard kaku Lo itu nggak menyampaikan pesan gue, ya? Untung gue tanyain ke satpam lobi, kalau nggak bisa gempor kaki gue keliling gedung nyariin Lo! Kena....pa"
Cercaan Riska mendadak terpotong. Tak ada helaan napas bersalah, tak ada candaan balasan, hanya helaan napas berat dan isak samar yang berusaha ditahan dari seberang sambungan.
"Nad... Lo oke, kan?" bisik Riska lembut, kekesalannya menguap seketika digantikan rasa cemas yang mendalam.
Nadya makin mengeratkan lengannya di atas mata, tak sanggup lagi membendung lelehan hangat yang kini membasahi pipinya.
"Ris... kayaknya gue menyerah aja deh," adu Nadya dengan suara parau bergetar. "Tembok yang Kak Rex bangun terlalu tinggi... sulit banget buat gue tembus. Gue lelah, Ris."
Di seberang telepon, Riska menghela napas panjang. Ada rasa kasihan yang membuncah, bercampur gemas pada sahabatnya yang selama ini terkenal pantang menyerah.
"Lagian yang nyuruh Lo bertahan selama ini siapa, Neng?" sahut Riska pelan, nada bicaranya melembut, mengikis sisa omelannya tadi. "Kan dari awal udah gue bilangin... tapi Lo-nya aja yang bebal."
Nadya meremas kain sprei di bawahnya, merasakan denyut nyeri yang makin menjadi-jadi di dalam dadanya.
"Tapi rasanya sesak banget, Ris..." bisik Nadya lirih, suaranya pecah di tengah napasnya yang memburu. "Setiap kali otak gue nyuruh berhenti... hati gue justru yang paling berdarah-darah."
Riska terdiam beberapa detik. Untuk pertama kalinya sejak mereka bersahabat, ia mendengar Nadya menangis seputus asa ini, seolah seluruh ketegarannya telah lebur tak bersisa.
"Nad..."
"Hm?" sahut Nadya parau di antara napasnya yang patah-patah.
"Lo... masih sayang banget ya sama dia?"
Isakan kecil yang tertahan kembali terdengar dari balik telepon, disusul bisikan pilu yang jujur, "Banget, Ris... banget."
Riska memejamkan mata rapat-rapat sambil mengembuskan napas pelan. Dadanya ikut sesak mendengar kepedihan sahabatnya.
"Ya udah... tumpahin aja semuanya sekarang. Nangis aja dulu, Nad."
Nadya tak menjawab. Himbauan lembut itu justru membuat pertahanannya runtuh total, tangisnya pecah makin membumbung. Di seberang sambungan, Riska memilih diam, membiarkan alunan kesedihan itu membasuh luka hatinya.
"Ris..." panggil Nadya sesaat kemudian, diselingi senggukan khas orang yang usai menangis hebat.
"Hm? Kenapa, Nad?" sahut Riska selembut mungkin.
"Apa gue... kena pelet ya, Ris?" celoteh Nadya polos di tengah sisa tangisnya. "Tapi nggak mungkin juga sih... masa di saat gue sibuk mengejar, dianya malah makin gencar menghindar? Apa...mending gue aja ya yang memelet dia ya? Lo ada rekomendasi dukun tokcer nggak?"
Helaan napas berat nan pasrah terdengar jelas dari ujung sambungan.
"Fix, gue rasa otak Lo beneran udah geser deh, Nad," cetus Riska pasrah seraya menggelengkan kepala, bingung harus mengutuk situasi atau kasihan pada sahabatnya.
"Iya ya, gue ke psikiater kali ya, siapa tau kata Lo tadi otak gue geser, Lo mau temenin gue kan" igau Nadya melantur.
"Astaga, Nad..." Riska menghela napas berat yang sarat akan rasa gemas. Tadi ia dibuat hampir menangis membayangkan betapa hancurnya hati Nadya, tetapi dalam hitungan detik, sahabatnya itu berhasil merusak suasana sedih dengan kelakuan ajaibnya.
Nadya memang tetaplah Nadya, gadis absurd yang tindak-tanduknya tak pernah bisa ditebak.
"Daripada Lo melantur makin jauh, mending mandi sana biar pikiran Lo agak jernih sikit. gue tutup dulu teleponnya ya, mau balik. Nanti malam gue hubungin lagi."
Klik.
Garis telepon berakhir, meninggalkan derum halus pendingin udara yang membelai sunyi. Nadya meletakkan ponselnya di atas kasur, lalu memeluk lututnya erat-erat tatkala bayangan sikap dingin Rexsaka kembali melintas. Ucapan Riska mungkin ada benarnya, ia memang sudah gila karena terus-menerus mengharapkan pria yang jelas-jelas memasang benteng baja. Bersamaan dengan langit sore yang kian meredup di balik jendela, Nadya memejamkan mata, membiarkan rasa lelah mengambil alih seluruh kesedihannya hari ini.