Bagi Arvin, Karin bukan sekadar tante dari sahabatnya. Karin adalah tempatnya pulang, tawa yang selalu ia cari, dan masa depan yang ingin ia tuju. Di saat kedekatan mereka mulai mencairkan dinding perbedaan usia, sebuah kencan tak sengaja justru membawa kembali bayang-bayang masa lalu Karin yang belum usai.
Ketika masa lalu menuntut tempatnya kembali, akankah Karin bertahan pada zona nyamannya, atau berani melangkah demi rasa yang lebih dari sekadar tante?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agatha soul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Seperti keluarga kecil
Di sudut pantai yang agak teduh, Sela menyenggol lengan Aurel yang sedang asyik meminum es kelapa muda. Tatapan mata Sela tertuju pada barisan pantai di depan mereka, di mana Karin dan Arvin sedang menemani Lulu membuat istana pasir.
"Rel, lo lihat deh mereka bertiga," bisik Sela sambil menunjuk halus ke arah depan. "Mereka udah kayak keluarga kecil gak sih? Serasi banget."
Aurel menoleh, memperhatikan pemandangan tersebut. Arvin yang biasanya bersikap sedingin es dan menjaga jarak dari perempuan, kini tampak berlutut di atas pasir, membantu Lulu memadatkan ember mainannya sementara Karin duduk di sampingnya sambil tertawa lepas.
"Iya, bener juga ya," sahut Aurel. Tiba-tiba, sebuah ide jahil melintas di kepalanya. Aurel buru-buru merogoh tasnya, mengeluarkan ponsel, lalu diam-diam mengambil beberapa foto kebersamaan Karin, Arvin, dan Lulu dari kejauhan.
Tanpa membuang waktu, Aurel membuka ruang obrolan WhatsApp dan mengirimkan foto itu ke sebuah nomor.
"Lo ngapain kirim ke dia?" tanya Sela bingung setelah mengintip layar ponsel Aurel. Ternyata, foto itu dikirimkan ke Sherly.
"Iseng aja, pengen tahu reaksinya," bisik Aurel terkekeh.
Benar saja, hanya dalam hitungan detik, ponsel Aurel bergetar. Sebuah balasan masuk dari Sherly dengan rentetan pesan yang panik.
Sherly: Itu Arvin sama siapa?!
Sherly: Jangan bilang Arvin lagi deketin janda muda?!
Melihat balasan itu, Sela dan Aurel tertawa terpingkal-pingkal di bawah payung pantai. Mereka tidak berniat membalasnya lagi, membiarkan Sherly terbakar cemburu di sana.
Namun, keisengan itu berbuntut panjang. Di dekat bibir pantai, ponsel di saku celana pendek Arvin mendadak bergetar hebat menyanyikan nada dering panggilan video masuk. Arvin merogoh sakunya dan mengernyitkan dahi begitu melihat nama Sherly tertera di layar.
Karin yang menyadari ponsel Arvin berisik, menoleh sekilas dari kegiatannya menemani Lulu. "Angkat aja dulu, siapa tahu penting," ujar Karin mengingatkan.
Arvin menghela napas malas. Dengan terpaksa, dia menggeser tombol hijau dan mengarahkan ponsel itu di depan wajahnya. Begitu sambungan terhubung, wajah Sherly yang tampak kusut dan menuntut langsung memenuhi layar.
"Arvin! Kok lo gak ajak gue liburan sih?!" cecar Sherly langsung dengan suara melengking, bahkan sebelum Arvin sempat mengucapkan sepatah kata pun.
"Apaan sih lo?!" sahut Arvin ketus.
"Lo sama siapa di sana sekarang?" tanya Sherly lagi, matanya menyipit mencoba mengintip latar belakang video Arvin yang menampilkan hamparan laut.
Karin sempat menoleh lagi mendengar suara perempuan dari ponsel Arvin. Namun, tidak ingin mencampuri urusan anak muda, Karin kembali memfokuskan dirinya membantu Lulu merapikan menara istana pasir.
"Sama anak-anak. Biasa," jawab Arvin dingin, suaranya sarat akan rasa tidak suka karena waktu bersamanya dengan Karin diganggu. "Apaan sih lo tiba-tiba telepon gini?"
"Terus... itu lo sama siapa di sana? Yang pakai baju bunga-bunga itu siapa, Vin?!" tanya Sherly mendesak.
"Sama Lulu, adeknya si Eja. Dah ah," bohong Arvin tanpa berkedip. Tepat setelah kalimat itu meluncur, Arvin langsung memutuskan panggilan video tersebut sepihak sebelum Sherly sempat memprotes lebih jauh. Dia memasukkan kembali ponselnya ke saku dengan kasar.
Karin yang mendengar percakapan itu merasa penasaran. Dia menatap Arvin dengan senyuman menggoda. "Siapa? Gebetanmu ya?"
"Bukan," jawab Arvin singkat dan tegas. Dia kembali berlutut di atas pasir dekat Karin. "Temen sekolah."
"Dia suka ya sama kamu? Kenapa gak pacaran aja sama dia? Cantik kok kelihatannya tadi di layar," tanya Karin lagi, mencoba bersikap layaknya seorang tante yang sedang mengorek kehidupan asmara keponakannya.
Arvin menghentikan gerakan tangannya di atas pasir. Dia menoleh, menatap langsung ke dalam manik mata Karin dengan tatapan intens yang membuat senyum di wajah wanita itu perlahan memudar.
"Gue gak suka sama dia. Gue suka sama orang lain," ujar Arvin, suaranya merendah dan terdengar begitu bersungguh-sungguh.
Karin terkekeh pelan, teringat obrolan semalam. "Terus? Udah ngasih tahu ke ceweknya kalau kamu suka?" Karin menjeda kalimatnya, lalu menaikkan alis. "Oh... apa karena kamu ditolak sama cewek yang kamu suka itu, makanya kamu galau dan nyender-nyender manja ke Tante semalam?"
Arvin menatap Karin lekat-lekat selama beberapa detik. Ada rasa gemas sekaligus jengkel melihat wanita di depannya ini masih saja bisa bertanya dengan wajah sepolos itu.
"Iya," jawab Arvin akhirnya dengan nada malas, lalu memalingkan wajahnya kembali ke arah istana pasir Lulu.
‘Padahal ceweknya itu lo, Tan. Lo yang bikin gue patah hati semalam,’ batin Arvin miris, membiarkan kalimat itu terkunci rapat di dalam hatinya seiring dengan deburan ombak pantai yang menghapus sebagian fondasi istana pasir di depan mereka.
Di tengah keasyikan mereka membangun istana pasir yang hampir jadi, seorang fotografer keliling yang membawa kamera DSLR berkalung di lehernya berjalan mendekat.
"Foto dulu, mbak? Langsung cetak jadi, buat kenang-kenangan di pantai," tawar si tukang foto ramah.
Karin mendongak, matanya langsung berbinar. "Wah, boleh deh! Ayo foto, Lulu!" ujar Karin bersemangat.
Untuk foto pertama, Karin mengambil posisi berjongkok di atas pasir hangat, berhadapan langsung dengan Lulu. Keduanya tertawa lebar ke arah kamera saat kilatan lensa mengambil gambar kedekatan mereka yang tampak sangat natural. Foto kedua, Karin berpose sendiri dengan latar belakang hamparan ombak biru dan angin yang menerpa lembut dress pantainya.
Saat masuk ke foto ketiga, Lulu melompat-lompat kecil. "Mau foto lagi! Mau foto lagi!" serunya.
Si fotografer tersenyum, lalu melirik ke arah Arvin yang sejak tadi hanya berdiri diam memperhatikan mereka. "Ayo, Masnya sekalian ikut foto aja di samping Mbaknya. Biar lengkap bertiga."
Mendengar ajakan itu, Arvin tidak membuang waktu. Tanpa ragu, dia langsung melangkah maju dan mengangkat tubuh mungil Lulu ke dalam gendongannya. Arvin berdiri tegap di samping Karin. Saat kamera bersiap membidik, Arvin melirik sekilas ke arah Karin yang tersenyum manis di sisinya, membuat senyuman tulus ikut terukir di wajah dingin Arvin.
Cekrek!
"Mau dicetak berapa rangkap, Mas, Mbak?" tanya si fotografer setelah selesai memotret.
"Dua-dua aja semua, Mas," sahut Arvin sigap sebelum Karin sempat bersuara.
Karin langsung menoleh, menatap Arvin dengan dahi berkerut heran. "Loh? Ngapain dicetak dua semua, Vin? Kan ada foto Tante yang sendiri tadi. Kamu... mau simpen foto Tante yang sendiri juga?" tanya Karin menyelidiki.
Arvin menatap balik mata Karin dengan berani. "Iya. Boleh, kan?" jawab Arvin tenang.
Karin menghela napas panjang, merasa kalah berargumen dengan keteguhan remaja di depannya ini. Dia akhirnya beralih pada si fotografer sambil tersenyum pasrah. "Iya deh, boleh, Mas. Cetak dua-dua ya semuanya. Nanti ditunggu di sini, kalau kami udah gak ada di pantai, anterin ke Losmen Melati nomor 4 aja ya, Mas. Kita sampai sore di sana."
"Siap, Mbak. Ditunggu ya," ucap fotografer itu sebelum pamit pergi untuk memproses cetakan foto.
Begitu orang itu menjauh, Karin langsung melipat tangannya di dada, menginterogasi Arvin. "Foto Tante yang sendiri buat apa coba kamu simpen?"
Arvin menahan senyumnya, lalu menjawab dengan wajah lempeng, "Buat nakut-nakutin tikus."
Plak!
Karin spontan memukul pelan lengan kekar Arvin yang tak tertutup baju. "Enak aja! Cantik gini buat ngusir tikus sih!" gerutu Karin, sementara Arvin akhirnya terkekeh renyah melihat wajah cemberut wanita itu.
"Ya enggaklah, Tan. Mau gue simpen aja," ralat Arvin, suaranya kembali melembut. "Emangnya gak boleh gue simpen foto Tante sendiri?"
Karin tidak menjawab, dia hanya membuang muka karena kesal.
Sementara itu, di sisi lain pantai yang agak jauh, Reza, Bima, Dito, Fino, dan Reno sedang berkumpul di bawah payung teduh. Mata mereka berlima sedari tadi tidak lepas memperhatikan interaksi antara Arvin dan Karin di tepi air.
"Heh, kalian sadar gak sih?" buka Reno tiba-tiba sambil menunjuk ke arah depan menggunakan sedotan es kelapanya. "Si Arvin kayaknya jauh lebih seneng dan lepas pas deket sama tante lo, Ja."
"Iya, bener," timpal Fino menyetujui. "Dia gak pernah tuh kelihatan ketawa lepas kayak gitu di sekolah. Di antara kita, dia yang paling dingin, apalagi kalau dideketin cewek kayak Sherly."
"Tapi kalau sama tante lo, dia mencair banget, sumpah. Kayak beda orang," tambah Bima heboh. Dia kemudian menepuk pundak Reza dengan serius. "Jangan-jangan... si Arvin suka lagi sama tante lo, Ja?"
"Gak mungkin!" sangkal Reza instan dengan nada tinggi. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya kuat-kuat, menolak mentah-mentah spekulasi itu. "Arvin itu temen gue dari lama, dan Tante Karin ya tante gue. Gak mungkinlah Arvin nekat suka sama wanita yang jauh lebih tua dari dia. Lo semua jangan ngada-ngada deh!"
Meskipun mulutnya menyangkal dengan keras, pandangan mata Reza yang kini menatap lurus ke arah Arvin dan tantenya yang sedang bermain dengan adiknya.