Lima tahun lalu, Adeline Wijaya dijebak oleh adik tirinya sendiri hingga keguguran dan diusir oleh suaminya, Bramantara, dalam kondisi sekarat. Semua orang mengira Adeline telah tewas di dasar jurang.Lima tahun kemudian, ia kembali ke Kota Jakarta dengan identitas baru sebagai Elena Vance, seorang desainer perhiasan kelas dunia yang genius dan kejam. Tujuannya hanya satu: menghancurkan mereka yang telah merebut kebahagiaannya.Demi melancarkan aksinya, Elena mendekati Nicholas Syailendra, CEO tertinggi di balik konglomerat nomor satu sekaligus musuh bebuyutan mantan suaminya.
Nicholas menawarkan kesepakatan: "Jadilah istriku, dan aku akan memberikan dunia untukmu membalas dendam." Namun, Elena tidak tahu bahwa di balik pernikahan kontrak itu, ada rahasia masa lalu yang jauh lebih besar yang siap menguji hatinya sekali lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Finus Ina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 20
happy reading guys
------------------------------
## BAB 20: Kartu Mati Baru dan Janji Nicholas
Malam semakin larut ketika mobil limosin hitam itu akhirnya berhenti di pelataran paviliun utama kediaman Syailendra di Menteng. Suasana di dalam mobil yang sunyi sejak meninggalkan basemen parkir kini berganti dengan ketukan sepatu yang teratur melintasi koridor rumah besar. Nicholas Syailendra menuntun Elena Vance masuk ke dalam kamar tidur utama mereka dengan gerakan yang tak melepaskan cengkeramannya dari pinggang ramping sang istri.
Cklek.
Nicholas menutup pintu kayu mahogani itu rapat-rapat, lalu menguncinya dari dalam. Begitu berbalik, matanya yang sedingin es langsung terkunci pada pergelangan tangan kiri Elena. Di atas kulit putih susunya, kini tercetak samar sebuah bekas memar kemerahan akibat cengkeraman ketat dari sisa ketegangan menghadapi terjangan liar Bramantara di basemen tadi.
Melihat noda memar itu, rahang Nicholas seketika mengeras bagai batu karang. Sepasang mata elangnya berkilat memancarkan kemarahan tersembunyi yang amat pekat.
"Duduklah di sofa, Elena," perintah Nicholas, suaranya terdengar begitu berat dan rendah, namun memiliki getaran emosional yang jarang ia tunjukkan di depan orang lain.
Elena melangkah pelan menuju sofa kulit beludru di dekat jendela, lalu menjatuhkan tubuhnya di sana dengan helaan napas panjang. "Ini hanya memar kecil karena gesekan seragam taktis tadi, Nicholas. Aku bahkan tidak merasakan sakitnya," ucap Elena mencoba mencairkan atmosfer ruangan yang mendadak terasa begitu menyesakkan.
Nicholas tidak menanggapi kalimat Elena. Pria itu berjalan menuju laci meja rias, mengambil sebuah kotak obat berbahan beludru, lalu kembali melangkah mendekat. Nicholas menjatuhkan lututnya ke atas lantai marmer—berlutut tepat di hadapan sofa tempat Elena duduk—sebuah posisi tunduk yang tidak akan pernah diperlihatkan oleh penguasa tertinggi Syailendra Group di depan manusia mana pun di dunia ini.
Sret.
Nicholas meraih telapak tangan mungil Elena, meletakkannya di atas paha kekarnya dengan sangat hati-hati laksana sedang memegang sebuah kaca kristal yang rapuh. Dengan jemari tangannya yang besar dan hangat, Nicholas membuka tutup salep antiseptik, lalu mulai mengoleskan krim dingin tersebut di atas permukaan kulit Elena yang memar dengan gerakan yang teramat lembut.
Deg!
Jantung Elena mendadak berdegup kencang secara tidak teratur. Sentuhan ujung jari Nicholas yang hangat dikombinasikan dengan tatapan mata pria itu yang begitu fokus dari jarak dekat seketika mengirimkan sengatan listrik aneh yang menjalar hebat ke seluruh urat saraf tubuhnya. Aroma parfum maskulin Nicholas yang khas kembali mengepung seluruh indra penciumannya, merusak seluruh batasan pertahanan logika di dalam otaknya.
"Nicholas... kamu tidak perlu melangkah sejauh ini sampai harus mengobatiku sendiri," bisik Elena, suaranya sedikit serak dan bergetar samar saat mencoba menarik tangannya kembali.
Nicholas mempererat genggaman tangannya secara lembut, menolak pelepasan tersebut. Ia mendongak, mengunci manik mata indah Elena dengan sepasang mata elangnya yang memancarkan kegilaan posesif dan gairah kepemilikan yang mutlak.
"Melihat kulitmu tergores oleh pria lain... rasanya sanggup membuatku kehilangan seluruh akal sehatku, Elena," ucap Nicholas, setiap kata yang keluar dari mulutnya terdengar begitu dalam, jujur, dan penuh dengan tirani cinta yang mengintimidasi. "Kontrak di atas kertas emas kita mungkin mengatakan bahwa ini adalah kerja sama bisnis. Tapi di dalam areaku, di bawah naungan namaku, tidak akan ada satu pun manusia yang diizinkan untuk membuatmu menumpahkan darah lagi."
Nicholas meletakkan kotak obatnya ke lantai, lalu menggunakan kedua tangan kekarnya untuk menangkup jemari Elena, membawanya tepat ke depan bibirnya untuk mengecup punggung tangan wanita itu dengan begitu dalam dan intim.
"Yan baru saja mengonfirmasi dari markas besar kepolisian," Nicholas menjeda kalimatnya, kilat matanya berubah menjadi sedingin malaikat pencabut nyawa yang siap mengeksekusi mangsanya. "Dengan bukti video rekaman CCTV basemen hari ini, ditambah dengan laporan manipulasi pajak baru dari Syailendra Group yang kukirimkan sore tadi... penangguhan penahanan Bramantara resmi dibatalkan total. Malam ini juga, dia dipindahkan ke lembaga pemasyarakatan dengan status tahanan tingkat tinggi tanpa hak jaminan kembali."
Nicholas memajukan tubuh tegapnya sedikit, merapatkan jarak wajah mereka hingga Elena bisa merasakan embusan napas hangat pria itu menerpa permukaan kulit wajahnya yang mendadak bersemu merah merona.
"Aku berjanji di hadapanmu malam ini, Elena," desis Nicholas, suaranya merendah namun sarat akan kepastian mutlak yang sanggup membekukan atmosfer seluruh paviliun. "Aku akan memastikan Bramantara dan Siska membusuk bersama di dalam sel penjara seumur hidup mereka. Mereka tidak akan pernah bisa melihat matahari Jakarta lagi, apalagi menyentuh seujung kuku dari pakaianmu. Seluruh kekuatan dunia milik Syailendra Group akan berdiri sebagai perisaimu."
Elena Vance tertegun mematung di atas sofanya. Sumpah tegas dan janji protektif dari pria paling berkuasa di negeri ini merayap masuk ke dalam relung hatinya yang paling dalam, perlahan-lahan menghancurkan sisa-sisa trauma kelam dari pernikahan pertamanya yang berdarah dulu. Rasa aman yang begitu kokoh dan hangat menyelubungi jiwanya, memicu debaran asmara asli yang kini tidak bisa lagi ia sangkal keberadaannya di dalam dadanya.
Elena mengulas sebuah senyuman miring yang begitu cantik di bibirnya yang merona, mendongak menantang tatapan intens dari pria yang kini merajai takdir hidupnya. "Janji yang sangat mahal, Tuan Nicholas Syailendra. Jika kamu terus memperlakukanku seperti ini... aku takut aku tidak akan mau pergi dari kamarmu setelah draf kontrak dua tahun kita selesai nanti."
Nicholas tersenyum miring—sebuah senyuman kejam namun penuh pesona maskulin yang luar biasa memikat. Pria itu bangkit dari lantai, lalu dengan gerakan yang sangat posesif langsung menarik tubuh ramping Elena masuk ke dalam dekapan dada bidangnya yang hangat, meremuk tubuh wanita itu dalam sebuah pelukan kepemilikan mutlak di bawah temaram cahaya lilin lavendel yang menyala hangat.
"Aku memang tidak pernah berniat membiarkanmu pergi dari sisiku sejak malam pertama aku memungut tubuhmu di jalanan, Elena," bisik Nicholas lirih tepat di depan bibir Elena sebelum mengecup kening istrinya dengan begitu dalam dan posesif.
Malam itu, Arka Pertama dari pembalasan dendam lama terhadap keluarga Bramantara telah resmi ditutup dengan kemenangan mutlak di tangan aliansi maut mereka. Dua musuh utama telah didepak menuju dasar neraka penjara, dan lembaran baru dari kehidupan Elena Vance sebagai Nyonya Muda Syailendra yang sesungguhnya kini telah resmi terbuka—siap untuk menghadapi perang intrik perebutan takhta warisan yang jauh lebih besar dan kejam di dalam lingkaran dinasti keluarga besar Syailendra yang sedang menunggu mereka di hari esok.
------------------------------