"Bagaimana jadinya kalau gadis nakal harus takluk menghadapi anak dari pemilik pesantren?"
Tsabita Azzahra, sebagai bentuk protes karena selalu dibanding-bandingkan dengan kakaknya, Safira, yang nyaris sempurna, Bita memilih hidup bebas: nongkrong di lounge elite, pulang subuh, dan akrab dengan kehidupan malam.
Puncaknya, setelah mabuk berat akibat patah hati, Bita membuat kekacauan terbesar dalam hidupnya. Di area parkir remang-remang, ia mengira seorang cowok jangkung yang sedang duduk tenang di atas moge hitamnya adalah tukang parkir. Dengan lancang, Bita memaki-maki cowok itu, menarik kerah bajunya, dan... muntah tepat di atas sepatu sneakers mahal si cowok sebelum akhirnya pingsan.
Sepanjang insiden itu, si cowok hanya diam, menatap Bita dengan pandangan dingin yang tidak terbaca, lalu menolongnya dengan tenang.
Kehabisan kesabaran, orang tua Bita memberikan hukuman final: Bita dijodohkan dengan anak pemilik salah satu Pesantren.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elma Grace, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28
Cahaya matahari pagi Jakarta menyelinap masuk melalui celah gorden yang sengaja dibuka sedikit, membentuk garis emas di atas lantai kayu kamar utama. Bita menggeliat pelan di balik selimut tebalnya. Kesadaran yang perlahan terkumpul membawa rasa hangat yang tidak biasa di sekujur tubuhnya.
Saat ia mencoba menggerakkan badannya, sepasang lengan kekar yang melingkar erat di pinggangnya membuat gerakannya tertahan.
Bita membuka mata sepenuhnya. Hal pertama yang ia lihat adalah dada bidang yang bergerak naik turun dengan teratur. Di atasnya, wajah rupawan Gus Ibra—atau yang kini sudah resmi ia panggil Mas Ibra—tampak begitu damai dalam tidurnya. Guratan tegas yang biasanya memancarkan wibawa dingin di depan para santri, kini melunak total.
Ingatan tentang apa yang terjadi semalam mendadak berputar serentak di kepala Bita. Sentuhan lembut, bisikan doa yang menenangkan di sela napas yang memburu, dan penyerahan diri seutuhnya yang menyatukan mereka dalam ikatan paling suci.
DEG!
Wajah Bita seketika terasa terbakar hebat. Rasa canggung dan malu yang luar biasa mendadak menyerang pertahanan dirinya. Dengan gerakan super pelan, ia mencoba mengangkat tangan Ibra dari pinggangnya, berniat kabur ke kamar mandi sebelum suaminya itu terbangun.
Namun, baru saja tangan Ibra terangkat satu sentimeter, cekalan di pinggang Bita justru semakin mengencang. Tarikan spontan itu membuat tubuh Bita kembali merapat tanpa jarak ke dada Ibra.
"Mau ke mana, Hm?"
Suara bariton yang serak khas bangun tidur terdengar tepat di atas ubun-ubun Bita. Bersamaan dengan itu, sepasang mata elang Ibra terbuka perlahan, menatap langsung ke manik mata Bita dengan binar kehangatan yang begitu pekat.
Bita menggigit bibir bawahnya, langsung menarik selimut hingga menutupi separuh wajahnya, menyisakan sepasang matanya yang bulat gelisah. "M-mau ke kamar mandi, Mas. Udah siang."
Ibra terkekeh rendah. Suara tawa subuhnya terdengar begitu renyah dan seksi, menciptakan getaran halus yang membuat bulu kuduk Bita meremang indah. Pria itu mengulurkan tangan, menurunkan batasan selimut yang menutupi wajah istrinya.
"Kenapa sembunyi? Hmm?" goda Ibra, ujung jarinya dengan lembut merapikan beberapa helai rambut Bita yang berantakan ke belakang telinga. "Kemarin malam seingat saya ada yang berani sekali menantang tatapan saya di depan meja rias. Kok pagi ini malah jadi mirip kucing rumahan yang ketakutan?"
"Mas Ibra, ih! Jangan dibahas!" cicit Bita, wajahnya makin memerah sempurna sampai ke leher. Ia memukul pelan dada Ibra dengan tangan kanannya, membuat suaminya itu kembali tertawa lepas.
Ibra meraih tangan kecil Bita yang baru saja memukulnya, lalu mengecup punggung tangan itu dengan khidmat dan lama. Sepasang matanya menatap Bita dengan rasa syukur yang begitu dalam, membuat Bita perlahan melupakan rasa malunya dan terpaku pada ketulusan sang suami.
"Terima kasih untuk semalam, Sayang. Terima kasih karena sudah memercayakan seluruh hidupmu pada saya," bisik Ibra lembut, mengecup kening Bita dengan penuh kasih sayang.
Dada Bita membuncah oleh emosi yang membahagiakan. Ia menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Ibra, menghirup aroma maskulin yang kini telah menjadi candu barunya. "Sama-sama, Mas... Makasih juga udah selalu sabar nunggu aku."
Satu jam kemudian, atmosfer yang baru benar-benar terasa di area dapur bersih mereka. Bita, yang sudah berganti pakaian dengan setelan rumahan santai dan jilbab instan, sedang berdiri di depan kompor. Tangannya dengan lihai membolak-balik roti panggang di atas teflon, sementara di sebelahnya, sebuah teko kopi elektrik mulai mengeluarkan aroma arabika yang kuat.
Langkah kaki yang mendekat membuat Bita menoleh. Ibra berjalan masuk ke dapur dengan kemeja koko santai, tampak segar setelah mandi dan menyelesaikan zikir paginya.
Tanpa aba-aba, Ibra kembali melakukan kebiasaan barunya: memeluk Bita dari belakang, menenggelamkan wajahnya di bahu sang istri. Namun kali ini, tidak ada lagi kecanggungan atau tubuh yang menegang dari sisi Bita. Wanita itu justru menyandarkan kepalanya dengan nyaman pada pipi Ibra.
"Mas, lepasin dulu. Ini rotinya mau dioles mentega, nanti gosong," ujar Bita, meski nadanya sama sekali tidak terdengar seperti penolakan.
"Biarkan saja dulu. Saya masih mau seperti ini," gumam Ibra manja—sebuah sisi dari seorang Gus terpandang yang tidak akan pernah dipercayai oleh satu pun santri di Pesantren Al-Madani jika mereka melihatnya sekarang.
Bita terkekeh geli. "Gak nyangka ya, Gus Ibra yang kalau di pondok mukanya kayak mau ngajak perang, kalau di rumah ternyata manja banget kayak anak kecil."
Ibra melepas pelukannya, lalu berputar untuk duduk di kursi bar. "Saya hanya manja pada mahram saya, Istriku. Itu sunah."
Bita mendengus menahan senyum, meletakkan sepiring roti panggang dan secangkir kopi hitam di hadapan Ibra. "Iya deh, Pak Ustaz. Terserah kamu."
Mereka menikmati sarapan dalam keheningan yang intim. Bita memperhatikan cara Ibra meminum kopinya, sementara Ibra sesekali menyuapkan potongan roti ke mulut Bita. Segala bentuk kecemasan tentang masa lalu, tentang Reno, dan tentang ketakutan akan dunia pesantren mendadak menguap begitu saja. Di rumah ini, di bawah perlindungan pria ini, Bita merasa utuh.
"Oh iya, Bita," buka Ibra setelah menyelesaikan kopinya. "Nanti siang, kita harus kembali ke ndalem sebentar. Ada pertemuan keluarga besar yayasan untuk membahas laporan hukum Reno yang sudah P21 (lengkap). Abi dan Umi minta kita hadir."
Mendengar nama Reno disebut, Bita tidak lagi merasakan sesak atau ketakutan seperti dulu. Sorot matanya kini tenang dan stabil.
"Gak apa-apa, Mas. Aku siap," jawab Bita mantap, menggenggam tangan Ibra di atas meja. "Lagipula, ada Mas Ibra kan di samping aku? Aku gak takut lagi."
Ibra menatap tangan mereka yang saling bertautan, lalu beralih menatap wajah cantik istrinya yang kini memancarkan aura kedewasaan yang berbeda. Senyuman penuh kebanggaan terbit di wajah sang Gus. Badai memang telah berlalu, dan kini, mereka siap menghadapi dunia luar sebagai satu kesatuan yang tidak akan bisa dipisahkan oleh apa pun lagi.
😈😤😡😡😡
slm hidup bita diprlakukn tak adil.... sll di anggp ank sialan... 🙄🙄
org tua yg slm ini sll mmprlakukn bita tak adil.... demi ank emasnya🙄🙄🙄
🙄🙄
harus mnambh sabar bita.... kelak saat smuanya trbongkar.... g msLah harus putus hubungan keluarga....
trkadang org lain adalah sbnrnya keluarga... wloupun tnpa ada ikatan darah....