Annisa, seorang TKI dari Indonesia, merantau ke Tiongkok untuk mencari nafkah. Ia bekerja sebagai pembantu di kediaman Chensi—seorang pengusaha kaya raya, pemimpin perusahaan raksasa, dan dikenal sebagai sosok yang kejam, dingin, serta tak ada yang berani menentangnya. Hidup Annisa terasa penuh ketakutan hingga suatu malam, Chensi pulang dalam keadaan mabuk berat dan melakukan perbuatan keji yang merenggut kehormatannya. Kejadian itu membuat Annisa hamil, memaksanya menghadapi pilihan sulit: bertahan atau kembali pulang dengan membawa beban yang tak terbayangkan. Akankah sang tiran yang dingin itu akhirnya berubah, atau justru menambah penderitaan bagi Annisa dan janin di dalam kandungannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Risnawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chensi murka
Pagi itu, sinar matahari masuk dengan lembut lewat celah gorden, namun suasana di kamar terasa dingin dan kaku. Chensi terbangun dengan kepala yang terasa berdenyut, sisa mabuk semalam masih terasa berat. Ia melihat ke sisi tempat tidur, namun Annisa tidak ada di sana. Gadis itu sudah berdiri di depan meja rias, membelakangi pintu, dan terlihat sedang merapikan hijabnya dengan gerakan yang kaku.
“Selamat pagi,” sapa Chensi lembut, mencoba memecah keheningan.
Annisa hanya mengangguk pelan, tidak menoleh, dan tidak menjawab dengan kata-kata. Sikapnya terasa dingin, acuh, dan jauh berbeda dari biasanya. Semalam kejadian itu terngiang kembali di pikirannya, menimbulkan keraguan yang semakin besar.
“Apa gunanya bertahan di sini?” batinnya bertanya-tanya. “Setiap kali dia tidak sadar, dia hampir melukai aku lagi. Status kami tidak jelas, tidak ada ikatan yang sah, dan perbedaan keyakinan ini seolah tembok yang tak akan pernah roboh. Anak ini nanti akan lahir dalam kebingungan, dan aku hanya akan terus hidup dalam ketakutan dan ketidakpastian.”
Setelah mengumpulkan keberanian, Annisa akhirnya berbalik menghadap Chensi. Wajahnya tenang namun matanya terlihat lelah dan penuh keputusan.
“Tuan Chensi… saya ingin bicara lagi. Serius kali ini.”
Chensi mengerutkan dahi, merasakan ada hal yang tidak biasa. “Katakan saja. Ada apa lagi yang mengganjal hatimu?”
“Saya ingin pulang,” ucap Annisa lantang namun lembut. “Pulang ke kampung halaman saya. Saya sudah memikirkannya berulang kali. Kita tidak bisa bersatu, tidak bisa menjadi pasangan yang sah menurut ajaran saya. Kehadiran saya di sini hanya menimbulkan keraguan dan ketakutan dalam diri saya sendiri. Setiap kali Tuan kehilangan kendali, saya merasa kembali terjebak. Saya tidak ingin hidup dalam ketakutan seperti ini, dan saya juga tidak ingin anak saya tumbuh tanpa kejelasan status dan identitas yang jelas.”
Chensi terdiam sesaat, lalu raut wajahnya perlahan berubah. Tatapannya yang tadinya lembut kini menjadi tegang dan gelap.
“Pulang? Kau masih ingin membicarakan hal itu lagi?” tanyanya dengan nada yang mulai meninggi. “Sudah berapa kali aku katakan, kau tidak boleh pergi! Di sini kau aman, di sini kau mendapatkan segala kebutuhanmu, dan anak kita akan tumbuh dengan baik!”
“Tapi keamanan apa, Tuan?” bantah Annisa, suaranya sedikit bergetar namun tegas. “Secara materi ya, saya mengakuinya. Tapi secara batin? Saya merasa terpenjara. Kita hanya majikan dan bekas pelayan, tidak ada ikatan yang sah. Jika Tuan benar-benar bertanggung jawab, mengapa tidak berikan saya kebebasan untuk hidup sesuai keyakinan saya dan membesarkan anak saya dengan cara yang saya yakini benar?”
Kalimat itu seolah menjadi pemicu amarah yang meledak. Chensi berdiri dengan gerakan cepat, lalu tanpa sadar meninju keras kaca cermin di meja rias di sebelahnya.
“BRAK!”
Suara pecahan kaca terdengar memekakkan telinga. Kaca itu hancur berkeping-keping, dan serpihannya menancap di buku jari serta telapak tangan Chensi. Darah segar tampak mengalir turun membasahi kulitnya, menetes ke lantai dalam tetesan merah yang jelas.
Annisa terkejut hingga melangkah mundur, tubuhnya gemetar hebat. Jantungnya berdebar kencang, campuran antara rasa takut melihat kemarahan itu dan rasa khawatir melihat luka di tangan lelaki itu. Tanpa berpikir panjang, ia segera mendekat dan mengulurkan tangannya untuk memeriksa luka itu.
“Tuan! Tangan Tuan berdarah! Kenapa Tuan melakukan ini pada diri sendiri?” serunya panik, suaranya terputus-putus.
Namun begitu jari-jarinya hampir menyentuh pergelangan tangan Chensi, lelaki itu mengibaskan tangannya dengan kasar, menjauhkan diri dari sentuhan gadis itu. Wajahnya masih merah karena amarah, matanya menyala penuh emosi yang meluap.
“Jangan sentuh aku! Simpan saja kepura-puraan pedulimu itu!” bentaknya keras. “Kau ingin pergi, kau ingin meninggalkan aku dan membawa anakku pergi begitu saja, lalu kau pura-pura khawatir melihat tanganku terluka? Jangan pikir aku tidak tahu apa yang ada di pikiranmu!”
Annisa terhenti di tempat, tangannya tergantung di udara, dan air matanya langsung jatuh membasahi pipi. Ia menatap Chensi dengan pandangan terkejut dan terluka, merasa seolah semua usahanya untuk jujur justru disalahartikan.
“Saya tidak berpura-pura, Tuan… saya hanya khawatir…” bisiknya lirih.
“Cukup! Aku tidak ingin mendengarnya lagi!” potong Chensi, suaranya masih keras namun kini terasa berat dan parau. “Ingat kata-kataku ini. Selama aku masih bernapas, kau tidak akan pernah bisa melangkah keluar dari rumah ini tanpa izinku. Kau dan anak ini adalah bagian dari hidupku, dan aku tidak akan membiarkan kalian pergi begitu saja hanya karena keraguanmu yang tidak berdasar!”
Setelah melontarkan kalimat itu, Chensi berbalik cepat dan melangkah keluar kamar dengan langkah lebar, meninggalkan jejak tetesan darah di lantai. Ia menutup pintu dengan keras, meninggalkan Annisa yang berdiri terpaku, menangis dalam diam, dan kembali merasakan rasa terasing yang mendalam.
Setelah Chensi keluar kamar dengan amarah yang belum sepenuhnya reda, Annisa masih berdiri terpaku di tempatnya. Air matanya terus mengalir, namun rasa khawatir akan luka di tangan lelaki itu mengalahkan rasa takut dan sakit hatinya. Ia tahu Chensi pasti akan menolak, tapi ia tidak bisa membiarkan luka itu terbuka tanpa perawatan—terutama karena banyak serpihan kaca yang masih menancap di kulitnya.
Dengan langkah cepat namun hati-hati, Annisa mengambil kotak obat dan perban dari lemari, lalu berjalan menuju ruang kerja tempat Chensi biasanya bersembunyi saat sedang marah. Begitu membuka pintu, ia melihat Chensi duduk membelakangi pintu, tangan kanannya tergantung longgar di sisi tubuh, darah masih menetes perlahan ke lantai.
“Tuan…” panggil Annisa pelan, suaranya masih terasa serak karena menangis.
Chensi menoleh sekilas, lalu memalingkan wajah lagi dengan dingin. “Pergilah. Aku tidak butuh bantuanmu.”
“Saya tahu Tuan masih marah, tapi luka ini tidak bisa dibiarkan begitu saja. Nanti bisa bernanah atau terinfeksi,” jawab Annisa tetap tegas, meski suaranya bergetar. Ia melangkah mendekat, lalu mencoba meraih tangan kanan Chensi.
Lelaki itu segera menarik tangannya dengan kasar. “Sudah kubilang aku tidak butuh bantuanmu! Pergilah dan lakukan apa yang kau mau, tapi jangan ganggu aku sekarang!”
Namun kali ini Annisa tidak mundur. Ia kembali meraih lengan Chensi, tangannya yang gemetar namun tetap kuat menahan agar tidak ditarik pergi. Air matanya kembali mengalir deras, menetes ke atas lengan lelaki itu.
“Tuan… biarkan saya mengobatinya. Saya tidak peduli Tuan marah atau tidak, saya hanya tidak ingin melihat Tuan terluka. Apa salahnya jika saya ingin menjaga orang yang juga menjaga saya dan anak ini? Jangan perlakukan saya seolah saya hanya orang asing yang tidak peduli,” ucapnya sambil menangis terisak, memegang tangan Chensi dengan kedua tangannya.
Suara tangis dan ketulusan yang terlihat jelas di mata gadis itu akhirnya menembus pertahanan hati Chensi. Ia merasakan tangan kecil itu memegang tangannya dengan penuh kekhawatiran, bukan rasa takut atau kepura-puraan seperti yang ia tuduhkan tadi. Perlahan, ketegangan di tubuhnya mereda. Ia menghela napas panjang, lalu akhirnya membiarkan tangannya tergenggam, tidak lagi menariknya pergi.
“Baiklah… lakukan saja apa yang kau inginkan,” gumamnya dengan suara rendah dan dingin, matanya menatap ke arah lain agar tidak terlihat lemah.
Annisa segera duduk di hadapannya, napasnya terengah menahan tangis. Dengan hati-hati dan sangat lembut, ia mulai membersihkan darah yang mengering, lalu menggunakan pinset kecil untuk mengeluarkan sisa serpihan kaca yang masih menancap. Setiap kali Chensi mengerutkan dahi karena rasa perih, tangannya akan berhenti sejenak, meniup pelan luka itu sebelum melanjutkan kembali.
Chensi mengamati wajah cantik yang tengah serius. Rasa takut kehilangannya begitu besar.
Proses itu berlangsung dalam keheningan yang panjang. Tidak ada percakapan, hanya suara napas mereka berdua dan gerakan lembut tangan Annisa. Setelah semuanya bersih, ia mengoleskan salep antiseptik, lalu membungkusnya dengan perban rapi namun tidak terlalu ketat.
“Sudah selesai. Jangan banyak menggerakkan tangan ini selama beberapa hari, agar cepat kering,” ucap Annisa pelan, lalu segera menutup kotak obat dan berdiri untuk pergi.
“Terima kasih…” gumam Chensi lirih, hampir tidak terdengar.
Annisa hanya mengangguk kecil tanpa menoleh, lalu berjalan keluar kamar dengan langkah pelan.
Di balik pintu, Annisa menghela nafas dalam. Perasaannya menjadi tak menentu. Sungguh ia bingung harus bagaimana saat ini. Tak bisa di pungkiri bahwa sikap dan perhatian lelaki itu selama ini telah membuatnya jatuh hati. Namun, tembok di antara mereka terlalu tinggi.
Keesokan harinya, suasana di seluruh kediaman terasa sangat canggung dan berat. Tidak ada lagi percakapan ringan seperti biasanya. Chensi tetap memperhatikan kebutuhan Annisa, memastikan makanan yang disajikan tetap halal dan bergizi, bahkan mengatur jadwal pemeriksaan kandungan seperti biasa—namun semuanya dilakukan lewat perantara Li Wei atau pelayan, bukan secara langsung.
Jika mereka tidak sengaja berpapasan di lorong atau ruang makan, keduanya hanya akan saling menunduk hormat singkat, lalu berjalan melewati satu sama lain seolah tidak ada hubungan apa pun. Tatapan mata mereka selalu dihindari, dan jarak di antara mereka terasa semakin lebar meski berada di bawah atap yang sama.
Annisa merasa semakin terasing. Ia melihat bahwa meski secara fisik ia tetap dirawat, secara batin ia justru semakin jauh. Setiap hari ia bertanya-tanya. Apakah ini yang terbaik? Tetap tinggal dan hidup dalam keheningan yang menyakitkan, atau pergi dan menghadapi ketidakpastian di luar sana?
Sementara itu, Chensi juga merasakan hal yang sama. Ia tahu sikap dinginnya justru membuat jarak itu semakin lebar, namun rasa marah dan rasa takut kehilangan membuatnya bingung bagaimana cara memperbaikinya. Ia ingin mendekat, tapi rasa gengsi dan ketakutan akan dikhianati lagi membuatnya tetap bertahan pada sikap yang keras itu.