Elnaya Bellarose Valenzia, gadis polos yang selalu menjadi korban perundungan di Golden International School, mengalami percobaan pembunuhan misterius yang membuatnya koma.
Mengetahui hal itu, saudara kembarnya, Elnara Bellamont Valenzia, seorang bad girl yang bersekolah di luar negeri, kembali ke Indonesia untuk mencari pelaku. Dengan menyamar sebagai Elnaya, ia mulai menyelidiki rahasia di balik kejadian tersebut.
Namun di tengah pencariannya, Elnara justru menarik perhatian dua siswa paling berpengaruh di sekolah: Alaric Alden Adinata, ketua OSIS yang sempurna, dan Nathaniel Atharva Pradana, ketua geng Blaze yang terkenal sebagai bad boy.
Semakin dalam Elnara mengungkap kebenaran, semakin banyak rahasia gelap yang terkuak. Hingga ia menyadari bahwa orang yang menghancurkan hidup saudara kembarnya ternyata lebih dekat dari yang pernah ia bayangkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fayepey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Motoran
“Ar, lo bisa, kan, cari tahu isi HP ini?” tanya Nara kepada abang sepupunya.
Sepulang sekolah tadi, Nara sempat berharap HP itu akan kembali menyala setelah diisi daya. Namun sayangnya, meski sudah menunggu cukup lama dan berulang kali mencoba menyalakannya, layar HP tersebut tetap gelap.
Karena tidak tahu harus berbuat apa lagi, ia memutuskan membawanya ke rumah Arvard. Dan sekarang, di sinilah ia berada, duduk di ruang keluarga milik sepupunya itu sambil menunggu dengan penuh harap.
Arvard membolak-balik HP tersebut, memeriksa tombol daya serta bagian belakangnya dengan teliti. Sesekali ia mencoba menyalakannya, tetapi tetap tidak ada respons apa pun. “Gue coba dulu, ya. Siapa tahu berhasil,” ucapnya sambil terus memperhatikan HP itu.
“Thanks, ya. Gue berharap banget lo bisa nolongin gue kali ini,” kata Nara penuh harap.
“Iya, serahkan semuanya sama gue,” jawab Arvard dengan yakin.
Nara mengangguk kecil, lalu berdiri dari sofa. Ia meraih helmnya yang tergeletak di samping tempat duduk. “Ya udah, kalau gitu gue pulang dulu, ya,” pamitnya.
“Mau gue temenin? Udah malam, nih,” tawar Arvard sambil melirik ke arah jendela. Langit di luar memang sudah gelap.
“Enggak usah, gue bisa, kok. Bye!” tolak Nara santai. Ia kemudian berjalan keluar rumah dan menaiki motor sport miliknya yang terparkir di pekarangan. Setelah mengenakan helm, Nara melambaikan tangan sebentar sebelum melajukan motornya meninggalkan rumah Arvard.
Sesudah memastikan Nara benar-benar pergi, Arvard kembali berjalan menuju ruang bermainnya. Namun, saat pintu ruangan itu dibuka, ia mendapati dua temannya sedang berdiri di dekat pintu seperti baru saja mengintip dari celah. Jaegar langsung memasang wajah penasaran, sedangkan Satria hanya diam sambil kembali duduk di depan layar permainan mereka.
“Oh, jadi itu cewek yang pernah menangin geng gue waktu balapan sama Blaze, ya, Bang?” tanya Jaegar penasaran.
“Enggak usah ngaco, lo. Mau ngapain sama adik gue?” ketus Arvard. Ia berjalan melewati mereka, lalu kembali duduk sambil membawa HP yang dibawa oleh Nara tadi.
“Santai aja kali. Gue cuma nanya doang,” jawab Jaegar santai. Setelah itu, ia kembali memegang pengontrol permainan, meskipun pandangannya beberapa kali masih tertuju kepada Arvard.
“By the way, namanya siapa, Bang?” tanyanya lagi beberapa detik kemudian.
“Namanya Nara. Dia sekolah di GIS, tempat musuh lo,” jawab Arvard sambil fokus memeriksa HP tersebut. Ia mencoba menghubungkannya ke kabel pengisi daya lain, berharap ada tanda-tanda kehidupan dari layar benda itu.
“Serius lo, Bang?” Jaegar langsung menoleh dengan ekspresi kaget.
“Yoi. Kenapa, sih?” tanya Arvard mulai kesal karena Jaegar tidak berhenti bertanya.
“Gue boleh minta nomornya, enggak? Siapa tahu dia mau kencan sama gue,” jawab Jaegar tanpa beban.
Mendengar ucapan itu, Arvard langsung meraih bantal sofa di sebelahnya dan melemparkannya tepat ke wajah Jaegar. “Urus dulu pacar lo yang bejibun itu! Enggak usah deketin adik gue!” kesalnya.
Bukannya marah, Jaegar malah tertawa sambil menurunkan bantal yang menutupi wajahnya. “Emang kenapa, sih? Gue ganteng begini, kok, lo segitunya,” katanya santai, seolah lemparan bantal tadi sama sekali tidak mengganggunya.
“Dia udah dijodohin. Jadi, jauh-jauh lo dari dia,” balas Arvard tegas.
Senyuman Jaegar seketika berubah menjadi raut penasaran. “Sama siapa?”
“Kepo lo,” jawab Arvard kesal. Ia memilih kembali fokus pada HP milik Naya, sementara Jaegar hanya menyipitkan mata, semakin penasaran dengan siapa gadis itu dijodohkan.
Sementara itu, Nara melajukan motornya dengan santai di jalanan kota. Ia menikmati udara malam yang terasa sejuk menerpa tubuhnya. Berkendara dengan motor memang menjadi salah satu hal favoritnya, apalagi saat jalanan tidak terlalu ramai seperti sekarang.
Tanpa Nara sadari, sedikit jauh di belakangnya, geng Blaze juga sedang melajukan motor mereka. Marel yang berada di samping Niel tanpa sengaja memperhatikan motor di depan mereka. Merasa tidak asing dengan motor itu, ia langsung membunyikan klakson untuk menarik perhatian bosnya.
“Bos! Bos!” panggil Marel dari atas motornya, membuat Niel menoleh sejenak ke arahnya.
“Tuh, lihat yang di depan. Itu cewek yang ngalahin lo waktu balapan kemarin, kan? Pelat motornya sama,” ucap Marel sambil menunjuk motor Nara.
Niel mengalihkan pandangannya ke arah motor tersebut. Setelah memperhatikan pelat nomornya dengan teliti, ia langsung menyeringai penuh dendam. Tidak salah lagi. Motor itu memang milik cewek yang telah mempermalukannya dalam balapan beberapa waktu lalu.
“Kejar dia,” perintah Niel kepada ketiga temannya.
Mereka langsung menambah kecepatan dan mencari celah di antara kendaraan lain agar bisa masuk ke jalur yang sama dengan Nara. Suara deru motor mereka perlahan terdengar semakin dekat. Nara yang awalnya berkendara santai mulai merasa terganggu dengan suara berisik dari belakang. Ia menatap kaca spion dan seketika membelalakkan mata saat melihat siapa saja yang sedang mengejarnya.
“Shit! Ngapain, sih, mereka ada di sini?” gerutunya kesal.
Nara langsung menarik gas dan melajukan motornya lebih cepat. Namun, sayangnya, geng itu juga ikut menambah kecepatan dan terus mengejarnya. Jarak mereka bahkan semakin lama semakin dekat.
“Anjing!” umpat Nara panik.
“Mau lari ke mana lo?” teriak Niel dari balik helm full face-nya.
Nara membelokkan motornya ke sebuah jalan yang sedikit lebih sepi. Ia berharap bisa menghilang dari pandangan mereka, tetapi ternyata Niel dan teman-temannya masih berhasil mengejar.
“Fuck!” umpat Nara sekali lagi.
Ia mulai meliuk-liukkan motornya, berpindah jalur, dan sesekali mengecoh perhatian para cowok itu agar bisa kabur. Namun, usahanya masih nihil. Niel dan ketiga temannya tetap membuntutinya dengan ketat.
Sampai tiba-tiba, seekor kucing berlari menyeberangi jalan tepat di depan motornya. Nara yang terkejut langsung menekan rem secara mendadak.
CIIIIITTTTT!
Ban motornya bergesekan keras dengan aspal. Nara kehilangan keseimbangan hingga tubuhnya terjatuh ke sisi jalan bersama motornya. Rasa sakit langsung menjalar di tubuhnya, tetapi ia tidak memiliki waktu untuk mengeluh. Begitu melihat geng motor itu berhenti tidak jauh darinya, Nara segera bangkit dan berlari meninggalkan motornya.
“Kejar!” teriak Niel sambil turun dari motornya.
Nara membuka helmnya dan melemparkannya begitu saja ke pinggir jalan agar bisa berlari lebih cepat. Untungnya, ia mengenakan jaket dengan penutup kepala yang cukup lebar. Wajahnya hampir seluruhnya tertutup dan hanya menyisakan bagian mata, sehingga orang lain tidak akan mudah mengenalinya.
Ia terus berlari sampai melihat sebuah perpustakaan umum yang masih buka di pusat kota. Tanpa berpikir panjang, Nara langsung masuk ke dalam gedung itu untuk mencari tempat bersembunyi. Namun, suara langkah kaki para cowok tersebut masih terdengar mengejarnya dari belakang.
Di sisi lain, Alden sedang berada di ujung salah satu lorong perpustakaan. Cowok itu tengah mencari sebuah buku kuno yang diperlukan untuk tugas sekolahnya. Ia sama sekali tidak menyadari kekacauan yang terjadi sampai terdengar suara langkah kaki tergesa-gesa mendekati tempatnya.
Nara tidak tahu lagi harus berlari ke mana. Saat pandangannya tertuju ke ujung lorong, ia berniat bersembunyi di antara rak-rak buku yang tinggi. Namun, ternyata ada seorang cowok berdiri di sana.
Karena tidak memiliki pilihan lain, Nara langsung berlari mendekatinya dan menarik bagian depan jaket cowok tersebut. Tarikan mendadak itu membuat tubuh Alden berputar sedikit hingga tanpa sengaja mengurung tubuh Nara di antara tubuhnya dan rak buku.
Nara menarik kepala cowok itu agar sedikit menunduk. Namun, gerakannya terlalu cepat hingga bibir Alden tanpa sengaja menempel pada bibirnya, walaupun masih dibatasi oleh bagian jaket yang menutupi wajah Nara. Dari kejauhan, posisi mereka terlihat seperti sepasang kekasih yang sedang berciuman.
Marel yang sengaja mencari sampai ke lorong itu langsung berhenti. Matanya melebar saat melihat pemandangan di depannya.
“Anjing! Enggak ada di sini,” umpat Marel sambil buru-buru mengalihkan pandangan.
“Cari di tempat lain!” teriak Niel dari lorong sebelah.
Marel langsung pergi dari sana untuk kembali mencari Nara. Setelah merasa situasi sudah cukup aman, Nara buru-buru melepaskan Alden dan mundur beberapa langkah.
“Sorry. Thanks udah nolongin gue,” ucap Nara gugup.
Barulah ia menyadari bahwa cowok yang baru saja ditariknya itu adalah Alden. Sementara itu, Alden terus memperhatikan kedua mata di balik penutup kepala tersebut. Terlebih lagi, suara gadis itu terdengar sangat familier di telinganya.
Nara berniat segera pergi, tetapi Alden lebih dulu menangkap tangannya. Hal itu membuat Nara terpaksa menoleh kembali.
“Elnara,” panggil Alden pelan.
Bola mata Nara langsung membesar. “Siapa? Gue enggak kenal sama lo,” elaknya sambil berusaha menarik tangannya.
“Dan lo kira gue percaya?” balas Alden santai.
Alden menarik tubuh gadis itu mendekat, lalu menyandarkannya ke rak buku. Tangannya perlahan membuka ritsleting jaket yang menutupi sebagian wajah Nara. Begitu penyamarannya terbuka, Nara langsung menatap Alden dengan kesal.
“Iya, ini gue. Kenapa, hah? Puas, kan?” ucapnya jutek.
“Penyamaran lo masih jelek,” ledek Alden.
Nara mendengkus, lalu mengeluarkan rambut panjangnya yang sejak tadi disembunyikan di dalam jaket. Namun, belum sempat ia menjawab, suara langkah sepatu kembali terdengar mendekati lorong mereka.
Panik, Nara langsung menarik Alden lagi dan bersembunyi di depan tubuh cowok itu. Alden yang terkejut secara refleks melingkarkan kedua tangannya ke depan tubuh Nara. Dari sisi lorong, posisi mereka terlihat seperti sepasang kekasih yang sedang berpelukan.
Azka yang baru tiba di sana langsung berhenti ketika melihat mereka. “Anjing, malah pacaran di sini,” gumamnya kesal sebelum berbalik dan pergi ke lorong lain.
Setelah suara langkah Azka menjauh, Nara mengembuskan napas lega. Ia segera melepaskan diri dari pelukan Alden, tetapi cowok itu justru menatapnya dengan ekspresi santai.
“Udah dua kali lo modus sama gue. Pertama, lo cium gue. Kedua, lo meluk gue,” ucap Alden.
“Gue enggak modusin lo. Enggak usah ngaco!” ketus Nara.
Ia ingin segera keluar dari lorong tersebut, tetapi masih ragu karena takut geng Niel belum benar-benar pergi. Nara akhirnya mengintip keadaan sekitar melalui celah di antara deretan buku.
“Gue minta ganti rugi,” ucap Alden tiba-tiba.
Nara langsung menoleh dengan tatapan heran. “Lo mau gue ganti berapa? Sebutin aja totalnya,” jawabnya kesal.
“Lo udah ngerugiin gue tiga kali,” ucap Alden seenaknya.
“Tadi lo bilang dua kali. Korupsi, ya, lo?” ketus Nara.
“Masih ada waktu lo bikin keributan di kafe. Itu kafe gue,” jawab Alden.
Nara langsung menatapnya kaget. “Kafe?”
“Sama geng cabe-cabean lo,” lanjut Alden.
“Enggak usah fitnah lo,” elak Nara cepat.
“Udah gue bilang, itu kafe gue. Gue tahu semuanya karena gue juga ada di sana,” jawab Alden, membuat Nara seketika terdiam. “Dan barusan, lo nyium bibir gue dan meluk gue. Dua hal yang selama ini belum pernah gue lakuin sama siapa pun.”
“Gue enggak ada nyium lo, ya!” balas Nara sewot.
“Lo yang narik kepala gue dan nempelin bibir lo ke bibir gue. Walaupun lo pakai penutup wajah, tetap aja namanya nyium,” lanjut Alden santai.
Ucapan itu membuat Nara semakin kesal. “Terserah lo!” katanya sebelum berbalik dan pergi begitu saja, meninggalkan Alden sendirian di lorong tersebut.
Alden hanya berdiri sambil menatap punggung Nara yang semakin menjauh. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum miring, seolah merasa terhibur melihat tingkah gadis itu.
“Sialan tuh cowok,” gerutu Nara setelah keluar dari perpustakaan.
Ia kembali ke tempat motornya terjatuh. Setelah mengambil helm yang tadi dilemparnya, Nara menegakkan motornya dengan susah payah. Untungnya, motor itu masih bisa digunakan dan tidak mengalami kerusakan parah.
“Awas lo,” gumam Nara kesal sambil mengenakan helmnya kembali. “Gue balas sepuluh ribu kali lipat nanti.”
Ia kemudian menaiki motornya dan segera melaju meninggalkan tempat tersebut. Sementara itu, tanpa Nara sadari, Alden berdiri di depan perpustakaan sambil memperhatikan kepergiannya dari kejauhan.
“Pantesan dikejar Nathaniel sama komplotannya,” gumam Alden.
Ia tahu bahwa cowok yang mengejar Nara tadi adalah Nathaniel karena sempat mendengar suara Niel saat berteriak di dalam perpustakaan.