NovelToon NovelToon
Buy 1 Get 1

Buy 1 Get 1

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Duda / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Dikejar tenggat waktu menikah oleh sang nenek, Sari Maheswara CEO kaya raya yang dingin dan perfeksionis. Mobilnya mogok di dekat pasar subuh. Namun, kesialan itu membawanya bertemu dengan Arka, seorang duda tampan penjual kue basah yang karismatik. Hanya dengan sebutir kue klepon buatan Arka, lidah dan hati Sari langsung meleleh.
Terbiasa mendapatkan apa pun dengan uang, Sari dengan angkuh menyodorkan Black Card-nya untuk membeli seluruh dagangan, gerobak, sekaligus sang penjual! Bukannya tergiur, Arka yang berprinsip justru menolak mentah-mentah keangkuhan sang CEO.
Penolakan itu malah menyulut jiwa kompetitif Sari. Demi menaklukkan hati sang duda, Sari rela menanggalkan gengsinya: bangun jam 4 subuh, menerjang beceknya pasar dengan high heels, hingga berebut kue dengan emak-emak berdaster. Meski Arka berulang kali memintanya mundur karena perbedaan kasta dan status dudanya, Sari justru makin tertantang untuk membuktikan bahwa cinta sejatinya tidak bisa dibeli melainkan diperjuangkan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6

"Naik," perintah Arka pendek.

Ia sudah kembali berdiri di samping sepeda motor bebeknya yang masih terparkir di tepi trotoar.

Langit di ufuk timur perlahan mulai berubah abu-abu keunguan, menandakan hari sudah mulai terang.

Aktivitas di sekitar jalan raya luar pasar pun mulai menggeliat.

Sari melirik motor bebek tua itu dengan pandangan ngeri.

Jangankan mengendarainya, seumur hidupnya, kulit mahalnya tidak pernah sekalipun bersentuhan dengan jok motor yang berdebu.

"Tidak mau!" tolak Sari mentah-mentah, melipat tangan di depan dada meski tubuhnya masih agak limbung.

"Aku tidak level naik kendaraan seperti itu. Aku lebih baik menunggu taksi!"

Arka mengembuskan napas panjang, menatap wanita keras kepala di depannya dengan tatapan jengah sekaligus geli.

Ia melangkah satu langkah lebih dekat, memberikan pilihan yang tegas dan tidak bisa dinegosiasikan.

"Mbak, lihat ke belakang Anda," ujar Arka tenang sambil menunjuk ke arah gerbang pasar.

"Satu jam lagi pasar ini akan penuh sesak. Orang-orang akan keluar-masuk lewat jalan ini. Mbak mau tetap berdiri di sini dengan jas berlumpur, tanpa sepatu, dan kaki bengkak seperti itu? Menjadi tontonan dan bahan gosip orang sepasar?"

Sari menoleh sekilas ke arah pasar. Beberapa tukang becak dan pengendara motor yang lewat mulai memperlambat lajunya, menatap aneh ke arahnya yang telanjang kaki.

Bulu kuduk Sari merinding membayangkan dirinya menjadi pusat perhatian dengan kondisi sesedih ini.

Namun, ketakutan lain mendadak menyergap benak sang CEO.

Ia menatap Arka dengan pandangan penuh selidik dan curiga.

"Aku tidak akan ikut denganmu! Bagaimana kalau kamu punya niat buruk? Kamu, pasti mau menculikku, kan?!" tuduh Sari dengan suara yang sengaja dikeras-keraskan untuk menutupi rasa takutnya.

Mendengar tuduhan acak dan dramatis dari mulut seorang CEO kaya raya, pertahanan wajah datar Arka runtuh seketika.

Arka tertawa terbahak-bahak. Suara tawa baritonnya yang renyah dan lepas menggema di kesunyian subuh, terdengar begitu tampan dan maskulin hingga membuat jantung Sari berdesir aneh tanpa alasan.

"Menculik Mbak?" Arka menyeka ujung matanya yang sedikit berair karena tertawa, lalu menatap Sari dengan senyum jail yang sarat karisma.

"Iya, betul. Saya akan menculik Anda sekarang. Dan tahu tidak? Nanti di rumah, Anda akan saya giling dan saya gunakan sebagai bahan campuran adonan klepon!"

"Apa?! Kamu—"

Wajah Sari memerah sempurna akibat kesal bercampur malu karena diledek habis-habisan.

Belum sempat ia membalas kalimat menyebalkan pria itu, Arka sudah lebih dulu menyodorkan sebuah helm kain sederhana ke depan wajahnya, memaksa sang CEO untuk segera menentukan pilihan sebelum hari benar-benar terang.

"Aku tidak bisa naik, kakiku sakit," ucap Sari lirih.

Nada suaranya mengecil, berganti menjadi cicitan pasrah karena rasa ngilu di pergelangan kakinya kian berdenyut hebat tiap kali ia mencoba bertumpu.

Gengsinya runtuh bersama rasa sakit yang tak lagi bisa ditoleransi.

Arka menarik napas panjang. Ia menatap Sari yang berdiri payah dengan satu kaki, lalu tanpa memberikan peringatan apa pun, pria itu melangkah maju.

Wusss.

Sari terkesiap saat tubuhnya mendadak melayang di udara.

Dengan satu gerakan luwes dan bertenaga, Arka membopong tubuh wanita keras kepala itu ke dalam pelukan kekarnya.

Refleks, kedua tangan Sari yang gemetar langsung mengalungkan erat di leher tegap Arka untuk menjaga keseimbangan.

Jantung sang CEO berdegup maraton, berdetak begitu kencang di balik setelan jas mahalnya.

Untuk pertama kalinya, ia berada begitu dekat dengan seorang pria asing yang aroma tubuhnya bukan wangi parfum mahal, melainkan perpaduan maskulin antara wangi pandan dan sisa kepulan asap kukusan.

Arka mendudukkan Sari dengan perlahan di jok belakang motor bebeknya secara menyamping, memastikan posisi kaki kanannya yang bengkak tidak terbentur bodi motor.

Sari yang masih mengumpulkan kesadarannya setelah dibopong, menatap punggung tegap Arka yang kini sudah duduk di setir kemudi. Rasa bersalah mendadak menyelinap di hatinya.

"Lalu, bagaimana dengan lapakmu? Kamu meninggalkan daganganmu demi aku?" tanya Sari, nadanya melunak, kehilangan seluruh keangkuhan CEO-nya.

Arka menoleh sedikit ke belakang, lalu menghidupkan mesin motornya dengan sekali seloroh.

"Jangan khawatir, Mbak. Lapak sudah saya titipkan ke Kang Asep, penjual sayur di sebelah saya. Dia orangnya amanah."

Arka mulai melajukan motornya dengan kecepatan rendah yang stabil, membelah jalanan Jakarta yang mulai disinari fajar, menuju ke arah rumah kontrakan kecilnya di pinggiran pasar.

Di atas motor yang bergoyang pelan, Sari perlahan mencengkeram ujung jaket kain Arka, membiarkan angin pagi menerpa wajah sembapnya dengan sejuta rasa baru yang mulai tumbuh di dalam dadanya.

"Pegangan, Mbak, ya," ucap Arka setengah berteriak agar suaranya tidak tersapu angin pagi yang mulai berembus kencang.

Mendengar instruksi itu, Sari tidak lagi berpikir dua kali tentang kasta, gengsi, atau statusnya sebagai seorang pimpinan Maheswara Group.

Rasa lelah yang luar biasa akibat kurang tidur, ditambah rasa nyeri yang berdenyut-denyut dari kakinya, membuat tubuhnya mendadak lemas.

Grep.

Tanpa ragu, Sari langsung melingkarkan kedua lengan lentiknya ke pinggang tegap Arka, memeluk pria itu erat-erat dari belakang.

Ia menyandarkan pipinya yang terasa dingin pada punggung lebar Arka, mencari perlindungan dan kehangatan.

Sentuhan tiba-tiba itu seketika membuat tubuh Arka menegang di atas jok motor.

Ada sengatan listrik aneh yang mendadak mengalir ke dadanya.

Arka melajukan motornya dengan jantung yang berdetak kencang, jauh lebih kencang daripada deru mesin motor bebek tuanya.

Aroma parfum mahal Sari yang elegan kini menguar penuh, mengurung indra penciumannya di sepanjang sisa jalanan fajar yang sunyi.

Menyadari pegangan Sari yang perlahan melonggar dan bobot tubuh wanita itu yang kian bersandar pasrah pada punggungnya, Arka mulai cemas.

"Mbak, jangan tidur. Nanti jatuh," tegur Arka, mencoba mencairkan ketegangan hatinya sendiri.

"Iya..." sahut Sari lirih, suaranya terdengar sangat parau dan berjarak.

Untuk mengusir kantuk yang perlahan merebut kesadaran wanita di belakangnya, Arka kembali membuka suara.

"Nama Mbak siapa? Dari kemarin kita ribut terus, tapi saya belum tahu nama Anda."

"Sari... Sari Maheswara," gumam Sari, menyebutkan nama besarnya dengan nada yang teramat lelah.

Arka mengangguk-angguk kecil, menyerap nama itu ke dalam benaknya.

Namun, ia kembali merasakan pelukan Sari semakin melemas, seolah-olah pertahanan wanita itu benar-benar sudah habis.

"Mbak Sari, jangan tidur dulu. Sebentar lagi sampai," panggil Arka lagi, nadanya kali ini terdengar sedikit panik.

"Iya, iya... bawel sekali kamu," gumam Sari jengkel dengan mata yang sudah setengah terpejam.

Namun, rasa lelah yang teramat sangat mengalahkan segalanya.

Sari akhirnya benar-benar memejamkan matanya rapat-rapat, membiarkan kesadarannya terbang terbawa angin pagi.

Kepalanya terkulai pasrah di bahu Arka, dan pelukannya di pinggang pria itu nyaris terlepas sepenuhnya.

Menyadari bahaya yang mengancam jika tubuh Sari oleng, Arka dengan cekatan melepaskan tangan kirinya dari setir motor.

Dengan gerakan cepat dan protektif, Arka meraih pergelangan tangan Sari, menariknya kembali, dan memegangnya dengan erat agar tubuh wanita itu tidak jatuh terjerembap ke aspal.

Dengan satu tangan yang mengendalikan laju motor dan tangan lainnya yang mendekap erat jemari Sari di pinggangnya, Arka melajukan motornya membelah gang-gang sempit, berkejaran dengan waktu menuju rumah kontrakannya yang sudah di depan mata.

Cret...

Motor bebek tua milik Arka akhirnya berhenti sempurna di sebuah halaman sempit.

Di depan mereka, berdiri sebuah rumah kontrakan kecil berpagar bambu dengan cat dinding putih kusam yang sebagian besarnya sudah mulai mengelupas termakan usia.

Sari perlahan terbangun dari tidur singkatnya karena deru mesin motor yang mendadak mati.

Ia mengucek matanya yang masih terasa berat, lalu mengerjapkan pandangan untuk menyesuaikan diri dengan cahaya pagi.

Begitu kesadarannya pulih, sang CEO langsung tertegun melihat lingkungan sekitarnya.

Rumah itu sangat sederhana, bahkan mungkin terlalu kecil jika dibandingkan dengan ruang ganti pakaian di mansion mewahnya.

Jauh dari kata mewah, namun entah mengapa, suasana di sini terasa begitu menenangkan.

Halaman depannya tampak sangat bersih, disapu rapi tanpa ada sampah daun selembar pun, dan di sudut teras terdapat beberapa pot tanaman hias sederhana yang tumbuh subur dan terawat dengan baik.

Tempat ini mencerminkan kepribadian pemiliknya: bersahaja namun perfeksionis dengan caranya sendiri.

Menyadari posisi tubuhnya yang masih menempel erat di punggung Arka, Sari buru-buru melepaskan rangkulannya.

Ia merasa tidak enak dan canggung jika harus memeluk duda itu terus-menerus. Sari mencoba turun sendiri dari atas motor dengan menggeser duduknya.

Namun malang, begitu telapak kaki kanannya baru saja menyentuh tanah dingin, rasa ngilu yang luar biasa langsung menjalar hingga ke pangkal paha.

Kakinya seolah mati rasa dan tak sanggup menopang bobot tubuhnya sendiri.

Tubuh Sari oleng, dan ia hampir terjatuh lagi ke atas tanah untuk kedua kalinya.

Wusss.

Tanpa banyak bicara atau mengeluh tentang berat badan sang CEO, Arka kembali menarik napas panjang.

Dengan satu gerakan sigap dan terlatih, ia menyusupkan kedua lengan kekarnya ke bawah tubuh Sari, lalu membopong tubuh wanita keras kepala itu untuk yang kedua kalinya pagi ini.

Sari yang terkejut spontan memegang bahu tegap Arka.

Sifat aslinya yang egois dan anti-lemah langsung berontak.

Ia memberikan protes kecil sambil memukul pelan dada Arka.

"Turunkan! Turunkan aku, aku bisa jalan sendiri!" seru Sari dengan wajah yang mulai memerah menahan malu.

Arka tidak berhenti melangkah. Sembari membuka pintu rumahnya yang tidak dikunci dengan satu tangan, ia membalas ketus dengan suara baritonnya yang kaku dan datar:

"Jangan keras kepala, Mbak. Ikuti saja kata saya, atau pergelangan kakimu itu nanti makin parah, membusuk, dan terpaksa harus diamputasi untuk dijadikan bahan campuran isi klepon besok subuh."

Mendengar ancaman konyol dan sadis yang diucapkan dengan wajah sekaku tripleks itu, Sari seketika bungkam.

Ia merinding membayangkan kakinya benar-benar dijadikan bahan kue basah.

Akhirnya, Sari hanya bisa diam dan pasrah, menenggelamkan rasa malunya dengan mencengkeram erat kerah kemeja kain milik Arka.

"Dasar menyebalkan," desis Sari pelan, membuang muka ke arah lain agar Arka tidak melihat senyum tipis yang mendadak tertahan di sudut bibirnya.

1
nunik rahyuni
lagian klo baru pertama kerja itu jgn lgsung dilepas di beri bimbingan dlu..suruh melihat dlu atau sambil di kasih aba aba apa dlu urutanya dan cara kerjanya..sdh tau orang kota kaya nyata ae g pernah tau bab dapur..melepuh kh tangan org..lgsg terjadi kecelakaan kerja
nunik rahyuni
thor sepanjang cerita aq masih bingung..bagaimana mereka lgsg serumah seatap tanpa ada ikatan pernikahan.....yg satu duda satunya wanita dewasa lho thor..mereka hidup di negara mana..pasti punya norma dan adat istiadat kan✌️✌️
nunik rahyuni
klo di dunia kita g ada ya thor modelan sari kya ini...yg ada sih sarimin🤣🤣🤣
klo mas duda menolak cinta sih 1000 : 1...
di dunia kita laki2 tu ibarat kucing garong...ikan asin bejejer j di cuntan makinya awewe bungas ✌️✌️✌️🤎
nunik rahyuni
mampir ya thor...perdana ni di lapak author..✌️✌️✌️
my name is pho: terima kasih kak 🥰🥰
total 1 replies
Gege
cepetan kek arka disambar petirnya..🤣 trus diinjek sistem trilyuner gitu...🤭😄🤣
Gege
semua yang namanya sari selalu keras kepala ego tinggi suka bermain perasaan 🤣🤭😄kenyataan...
Rian Moontero
mampiiirr👍😍👍
my name is pho: terima kasih kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!