NovelToon NovelToon
Perjalanan Sang Ronin

Perjalanan Sang Ronin

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir / Perperangan
Popularitas:343
Nilai: 5
Nama Author: Mr.Mounyenk

Di Benua Aldabaron yang dipenuhi sihir, monster, dan teknologi Rune, seorang ronin muda bernama Ryosuke Tagawa kehilangan seluruh keluarganya akibat perang yang dipicu ambisi tersembunyi Empire Krusador. Dalam pengembaraannya, ia menemukan Tenkū Matō, pedang legendaris yang ditempa dari pecahan meteor dan menguasai sihir kegelapan. Bersama katana warisannya, Nichirin-gatana, yang memiliki sihir cahaya, Ryosuke menguasai gaya pedang Hyoho Niten Ichi-ryū. Ketika pasukan Krusador menginvasi Kepulauan Great Sea dengan senjata mengerikan Beast Crust Rune Cannon, Ryosuke harus menentukan pilihan: tetap menjadi pengembara yang menghindari perang, atau bangkit melindungi mereka yang tidak mampu melawan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr.Mounyenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23 — Regu Baru

Di tengah kesibukan tersebut, tidak sedikit anggota yang memperhatikan dua wajah asing yang datang bersama Ryosuke.

Seorang gadis membawa busur.

Seorang pemuda bertubuh tinggi dengan kapak raksasa di punggungnya.

Tatapan mereka dipenuhi rasa ingin tahu, tetapi tidak ada seorang pun yang mengajukan pertanyaan sebelum Alfaro datang.

Beberapa saat kemudian, pintu bangunan utama terbuka.

Alfaro Perez melangkah keluar sambil memandang halaman yang mulai ramai.

Tatapannya pertama-tama tertuju pada hasil buruan yang memenuhi kereta kecil, kemudian beralih kepada Ryosuke.

"Kalian kembali tepat sebelum gelap."

Ryosuke menganggukkan kepala.

"Misi selesai."

Alfaro tersenyum tipis.

"Lihat dari hasil buruan itu, sepertinya berjalan cukup baik."

"Awalnya memang begitu." jawab Ryosuke tenang.

"Tetapi kami menemukan sesuatu di dalam hutan."

Perhatian Alfaro langsung berubah serius.

Ryosuke melangkah sedikit ke samping, memberi ruang kepada dua orang yang berdiri di belakangnya.

"Mereka yang kami temukan."

Melinda dan Hector maju beberapa langkah.

Melinda membungkukkan badan dengan sopan.

"Namaku Melinda."

Hector mengikuti dengan anggukan hormat.

"Aku Hector."

"Kami kakak beradik."

Alfaro memperhatikan keduanya dengan saksama, tanpa menyela sepatah kata pun.

Ryosuke kemudian menceritakan secara singkat apa yang terjadi di hutan. Ia menjelaskan bagaimana rombongannya mendengar suara pertarungan ketika sedang berburu, menemukan Hector dan Melinda dikepung puluhan monster, lalu memutuskan membantu mereka hingga berhasil keluar dari kepungan.

"Desa mereka juga telah hancur akibat perang."

kata Ryosuke pelan.

"Karena itu mereka tidak memiliki tempat untuk kembali."

Halaman barak yang sejak tadi ramai perlahan menjadi sunyi.

Beberapa tentara bayaran saling berpandangan.

Kisah seperti itu bukan sesuatu yang asing bagi mereka.

Perang yang terus meluas telah membuat semakin banyak orang kehilangan rumah, keluarga, dan masa depan.

Alfaro tetap memandang Hector dan Melinda beberapa saat sebelum akhirnya membuka mulut, sementara seluruh anggota barak menunggu keputusan pemimpin mereka.

Keheningan menyelimuti halaman barak beberapa saat setelah Ryosuke menyelesaikan penjelasannya. Cahaya jingga yang tersisa di ufuk barat perlahan memudar, digantikan nyala obor yang mulai menerangi setiap sudut barak. Para tentara bayaran yang sejak tadi sibuk mengurus hasil buruan kini memusatkan perhatian kepada Alfaro Perez. Tidak ada seorang pun yang menyela, sebab mereka mengetahui bahwa keputusan menerima orang baru selalu berada di tangan pemimpin mereka.

Alfaro melangkah mendekati Hector dan Melinda.

Tatapannya berpindah dari kapak raksasa yang tergantung di punggung Hector menuju busur yang dibawa Melinda. Bekas-bekas luka kecil pada pakaian keduanya, noda tanah yang masih menempel di sepatu mereka, serta raut wajah yang dipenuhi kelelahan menunjukkan bahwa perjalanan yang mereka lalui sebelum bertemu Ryosuke bukanlah perjalanan yang mudah.

"Kalian kehilangan desa karena perang?" tanya Alfaro dengan tenang.

Hector menganggukkan kepala.

"Ya."

Jawabannya singkat, tetapi cukup menjelaskan semuanya.

Melinda menundukkan pandangan.

"Kami bertahan hidup dengan berburu di hutan."

"Beberapa hari terakhir monster mulai bermunculan semakin banyak."

"Kalau Ryosuke dan rombongannya tidak datang..."

Ia tidak melanjutkan kalimatnya.

Semua orang memahami maksudnya.

Alfaro mengangguk pelan.

Kemudian ia mengalihkan pandangan kepada Ryosuke.

"Kau membawa mereka ke sini."

"Bukan hanya karena kasihan."

Ryosuke menjawab tanpa ragu.

"Mereka mampu bertahan hidup di hutan."

"Melinda mengenal wilayah perburuan dengan sangat baik."

"Hector juga mampu bertarung."

"Aku pikir kemampuan mereka akan berguna."

Alfaro tersenyum tipis.

Ia menyukai jawaban itu.

Ryosuke tidak berbicara karena rasa iba semata, melainkan melihat kemampuan yang dimiliki seseorang. Bagi seorang pemimpin, penilaian seperti itu jauh lebih penting daripada sekadar belas kasihan.

Alfaro kembali memandang dua kakak beradik tersebut.

"Kalau begitu..."

"Kalian boleh tinggal di barak ini."

Wajah Melinda langsung terangkat.

"Benarkah?"

Alfaro mengangguk.

"Selama kalian mematuhi aturan kelompok."

"Hidup sebagai tentara bayaran bukan berarti hidup tanpa aturan."

"Kalian akan bekerja bersama anggota lain, saling membantu, dan menjalankan setiap tugas yang diberikan."

Hector membungkukkan badan dengan hormat.

"Kami mengerti."

"Terima kasih."

Beberapa anggota barak yang sejak tadi memperhatikan percakapan itu mulai kembali melanjutkan pekerjaan mereka. Tidak sedikit yang menyambut Hector dan Melinda dengan senyum ramah. Bagi mereka, kedatangan anggota baru bukan lagi sesuatu yang asing. Selama seseorang memiliki kemauan bekerja dan menjaga kepercayaan kelompok, selalu ada tempat baginya di barak tersebut.

Setelah urusan itu selesai, Alfaro memanggil Ryosuke.

"Ikut aku."

Ryosuke mengikuti Alfaro menuju bangunan utama yang berada di tengah barak. Ruangan itu tidak terlalu besar, hanya berisi sebuah meja kayu, beberapa kursi, rak peta, serta lemari yang menyimpan berbagai catatan penugasan. Di atas meja terbentang peta wilayah perbatasan Green Continent dan Empire Krusador yang telah dipenuhi berbagai tanda.

Alfaro berdiri beberapa saat sambil memandang peta itu.

"Kau sudah beberapa minggu bersama kelompok ini."

Ryosuke tetap diam, menunggu pemimpinnya berbicara.

"Aku sudah melihat bagaimana caramu bertarung."

"Aku juga melihat bagaimana caramu mengambil keputusan di hutan tadi."

Alfaro kemudian berbalik menghadap Ryosuke.

"Seorang pendekar hebat belum tentu mampu memimpin."

"Tetapi seorang pemimpin harus mampu membuat keputusan ketika keadaan berubah."

"Dan hari ini kau melakukannya."

Ryosuke mengernyit sedikit.

"Aku hanya melakukan apa yang menurutku benar."

"Itulah alasannya." jawab Alfaro.

Ia berjalan mendekati meja, lalu mengambil sebuah gulungan daftar anggota kelompok.

"Mulai hari ini..."

"Kau tidak lagi hanya menjalankan perintah sebagai anggota biasa."

Ryosuke memandang Alfaro dengan penuh perhatian.

"Aku akan membentuk satu regu baru."

"Dan kau yang akan memimpinnya."

Ruangan mendadak terasa sunyi.

Ryosuke tidak segera menjawab.

Ia sama sekali tidak menduga pembicaraan itu akan mengarah ke sana.

Alfaro melanjutkan dengan nada yang tetap tenang.

"Anggota awal regumu adalah Hana."

"Hector."

"Melinda."

"Dan dirimu sendiri."

"Mulai sekarang, setiap kali ada penugasan yang sesuai, kalian akan bergerak sebagai satu regu."

Ryosuke memahami bahwa kepercayaan seperti itu bukan sesuatu yang ringan. Memimpin sebuah regu berarti keselamatan setiap anggota menjadi tanggung jawabnya. Keputusan yang diambilnya tidak lagi hanya memengaruhi dirinya sendiri.

Alfaro melihat keraguan yang sesaat muncul di wajah Ryosuke.

"Aku tidak meminta jawaban sekarang."

"Aku hanya ingin kau memahami tanggung jawab yang akan kau emban."

Kemudian, untuk pertama kalinya sejak pembicaraan itu dimulai, Alfaro tersenyum.

"Masih ada satu hal lagi."

Ryosuke mengangkat pandangan.

"Setiap regu memiliki nama."

"Aku tidak akan memilihkannya untukmu."

"Itu hak pemimpinnya."

"Mulailah memikirkannya."

"Karena mulai hari ini, regu itu akan menjadi tanggung jawabmu."

Ryosuke menganggukkan kepala perlahan.

Di luar ruangan, malam telah sepenuhnya menyelimuti barak tentara bayaran. Cahaya obor menerangi halaman tempat para anggota masih bekerja dan berbincang setelah menyelesaikan tugas mereka. Di antara mereka kini berdiri Hana, Melinda, dan Hector, tiga orang yang tanpa mereka sadari akan menjadi anggota pertama dari regu yang suatu hari kelak berkembang menjadi inti pasukan perlawanan melawan Empire Krusador.

..._BERSAMBUNG _...

1
Alia Chans
Hadir Thor
cerita nya seru, like + bunga🌹 , semangat😉
Protocetus
jika berkenan mampir ya ke novelku Remontada
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!