Bejo Mulyorejo pemuda berusia 18 tahun, dia hidup sendirian di Desa Krajan jauh dari hiruk-pikuk kota. Dia mendapatkan warisan dari leluhurnya menjadi Penggali Makam melanjutkan peninggalan sang kakek buyut.
Kehidupan sehari-hari Bejo terbilang cukup, dia selalu hemat dalam pengeluarannya. Walaupun sesekali dapat bantuan dari orang tak terduga tapi dia berusaha membuka usaha kecil-kecilan, akan tetapi perjalan panjang Bejo sedikit sulit.
Bukan kesulitan tentang kebutuhan tapi kesulitan dalam menghadapi segala penampakan setelah menggali makam, dia yang memiliki mata peka dan terbiasa dengan makhluk gaib namun dia juga memiliki rasa takut tersendiri.
Bagaimana kehidupan Sang Penggali Makam ini, kita lanjutkan dalam perjalanan panjangnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon D.P. Auzora., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nyawa Diujung Tanduk
Semakin Bejo berteriak lebih kencang, semakin tebal dinding peredam suara. Bejo terpaku melihat sosok di belakang Mirna, ia tak menyangka ternyata ada sosok seperti itu sebelum.
"Mbak Mirna.. itu belakangmu! Cepat sadar"
Bejo terengah-engah, ia merasakan lelah saat berteriak-teriak memberitahu kepada Mirna. Belum selesai Bejo merasakan lelah, kesadaran kembali di tarik paksa ke tubuhnya.
Dengan perlahan Bejo membuka matanya, ia melihat kondisi kamar yang tak asing baginya. Suara samar terdengar parau, tangis pecah, ingatan, gambaran bagaimana proses kematian Mirna terpampang jelas dalam rak pikiran Bejo.
Bejo terbangun, wajahnya pucat pasi, napasnya memburu mengingat seluruh kejadian dalam ingatannya.
"Mas.. kamu akhirnya sadar. Aku sangat khawatir.."
Intan memeluk erat dalam kehangatan, suara tangis tertahan dari balik kekhawatiran. Ia tak melepaskan pelukannya, ia lebih erat dalam memeluk Bejo.
Bejo kebingungan, ia sadar bahwa dirinya berada di rumah. "Kenapa aku sebenarnya?" Suara Bejo berat, ia bertanya pada Intan yang menangis tersedu-sedu.
"Kamu sudah tidak sadar seharian mas.. kamu sebenarnya kenapa?"
Bejo menyipitkan matanya, ia merasakan pusing luar biasa.
"Tolong buatkan aku teh hangat," pinta Bejo.
"Dinda susah membuatnya mas, kamu rebahan saja" balas Intan.
"Kenapa aku sudah berada di rumah! Bukannya aku lagi di kampung mangga?" Bejo berkata, ia sangat bingung dengan apa yang di rasakannya.
"Kamu di temukan warga tak sadarkan diri kemarin pagi, dengan kondisi pucat, tubuh sangat dingin."
Bejo termenung, ia mulai menyusun kembali pecahan ingatan dalam benaknya. Terasa begitu jelas dan nyata saat semua serpihan ingatan tersusun rapi, Bejo mulai memahami apa yang terjadi dengan kematian Mirna.
"Jo.. kamu sudah sadar?"
Bejo tersenyum, ia menghela napasnya. Dinda duduk di dekat Bejo dengan wajah sedih, matanya berkaca-kaca menahan air matanya jatuh.
"Kalian berdua tenang saja, aku baik-baik saja kok"
Dinda dan Intan tersenyum, lalu mereka membantu Bejo untuk bangkit dari tidurnya. Seharian penuh Bejo tidak sadarkan diri, ia melewatkan segala kegiatannya. Namun satu misteri terjawab dengan aneh, seperti ada yang kurang dalam alur ceritanya.
Dinda dan Intan pamit pulang, karena besok akan ke kota untuk pergi ke kampus. Sedangkan Bejo tak melanjutkan kuliah, ia tau bahwa ekonominya tidak bisa sampai kesana.
Bejo duduk di teras rumah, ia merasa lebih enakan.
"Mbak Mala, belum kembali ke kampus lagi?"
"Nanti malam aku kembali ke kosannya. Kenapa tiba-tiba kamu bertanya?"
"Hmm.. kalau nanti sudah di kampus, aku titip Dinda sama Intan ya mbak?"
Mala tersenyum kecil, lalu ia jalan mendekatinya.
"Emm.. sekarang kamu begitu ya Jo, sudah ada dua calon istri lupain mbak!" Bisik lirih Mala.
Bejo tercekat, napasnya seketika berhenti. Ia tak menyangka mbak Mala akan berkata seperti itu, apa istimewa dirinya sampai banyak wanita mendekatinya.
Bejo tersenyum canggung, ia tak berani menatap wajah Mala. Sedangkan Mala tersenyum kecil, lalu menepuk bahu Bejo.
Mala kembali kerumah, meninggalkan Bejo yang tetap diam di teras. Kini Bejo sendirian, Jarot dan Dirga melanjutkan kuliah karena permintaan orang tua mereka.
Dua sahabat sejati Bejo kini akan pergi ke kota, melanjutkan perjalanan hidup. Bejo meratapi nasibnya, ia menghela napas panjang mengingat bagaimana ekonominya sekarang.
***
Desa Krajan kini terasa begitu sejuk, meninggalkan sejenak masalah. Rintik-rintik hujan turun, sisa-sisa dingin malam masih terasa begitu jelas menembus tulang. Bejo masih diatas ranjangnya, ia menarik selimut merasakan dinginnya pagi.
"Huhh.. dingin bener pagi ini" keluh Bejo.
Bejo mengambil ponselnya, lalu melihat beberapa pesan dari teman-temannya. Ia membalas satu persatu, lalu kembali meletakkannya.
Hujan turun lebih deras, dimana seharusnya panas kini cuaca sulit di tebak kembali. Bejo duduk di ruang tengah, ia melihat hujan yang tadinya rintik-rintik kini sangat deras.
Dingin terasa enggan untuk pergi, mata lelah terasa kantuk. Bejo tak kuat menahan katup matanya, ia tertidur dalam keadaan setengah sadar.
Ia merasakan kembali dimana awal dirinya berada, suara rintih kesakitan dan tangis pecah dalam telinga Bejo. Samar-samar ia kembali tersadar, dimana suara rintih kesakitan itu di kenali.
Bejo terdiam, ia melihat dimana sosok kuntilanak pria menarik paksa jiwa Mirna dengan kondisi tubuh yang penuh lebam. Banyak luka di sekujur tubuhnya, Bejo tercekat ketika melihatnya.
"Mbak Mirna sadar.. itu bukan manusia, itu mahluk gaib"
Suara Bejo keras tapi Mirna tak mendengarkan, hingga katup mata Mirna mulai menutup. Nyawa Diujung Tanduk di lihat nyata oleh Bejo, ia merasakan ngeri melihat begitu dahsyatnya sebuah teluh yang di kirim.
Bejo kembali sadar, keringat deras membasahi tubuhnya. Ia menarik napas dalam-dalam, bagi Bejo ini sangat aneh. Dimana sebuah mimpi memberikan ingatan nyata dalam kehidupannya, saat tersadar Bejo mendengar suara lembut.
"Maafkan aku mas, bukan aku ingin meneror semua warga tapi aku benar-benar tidak siap dengan semua ini. Tolong bantu aku mencari siapa yang sebenarnya mengirim teluh ronggo padaku?!."
Bisikan lirih tertahan sepenuhnya oleh derasnya hujan, Bejo memegang pelipisnya. Ia merasakan pusing dengan dirinya, kenapa berubah sangat aneh. Segala mimpi berhubungan dengan Mirna terus menerus mendatangi benaknya, menjadi tanda tanya besar bagi Bejo.
Bejo berjalan kebelakang rumah, ia melihat kandang ayam yang sudah terisi penuh. Lalu kolam lele sudah ada benihnya, Bejo memberikan makan sambil membersihkan kotoran di bawahnya.
Saat membersihkan itu, Bejo mendapati tiga telur ayam.
"Alhamdulillah... Baru sadar ayam sudah disini dan sudah mendapatkan telur" ucap Bejo.
Bejo meletakkan tiga telur ayam pada tempatnya, lalu ia duduk sambil menata jadwal untuk merawat ayam petelur dan kolam ikan lele samping rumahnya. Sambil mengulir layar ponselnya, membaca setiap detail bagaimana cara merawat ayam petelur itu.
Saat membaca itu, Bejo terbesit sebuah ide. Dimana kotoran ayam akan di kumpulkan sebagai pupuk organik, ia memegang dagunya memikirkan semua segala rencana yang ada dalam pikiran.
"Sebaiknya aku membeli tanah yang aku tempati sekarang, nanti kalau di minta kembali aku akan pindah jadi ribet mencari suasana baru" gumam Bejo.
Namun pikiran Bejo seketika berubah, ia melihat tanah lapang yang tak jauh dari rumahnya. Tepatnya lebih luas dan sangat strategis, walaupun pemandangan tepat melihat pemakaman.
Bejo menimbang-nimbang uang yang di berikan Sinta sebelumnya, seharusnya cukup untuk membeli tanah seluas itu dan membangun rumah sederhana. Akan tetapi Bejo berpikir sebentar, lalu ia berencana akan berbicara terlebih dahulu dengan Intan.
Bejo ingin meminta pendapat pada Intan terlebih dahulu, karena ia adalah sepupu Sinta. Bejo juga akan meminta pendapat Dinda, lalu mengumpulkan semua untuk melanjutkan rencana yang sudah di buat dalam benaknya.
Kemudian Bejo melihat saldo yang ada sepuluh digit lebih, ia berpikir seharusnya ini cukup dan akan sisa untuk membangun rumah sederhana. Apalagi tanah yang di tempati rumahnya sekarang di pinjamkan, jadi Bejo berencana untuk menggunakan uang itu untuk membeli tanah dan membuat tempat tinggal.
"Hmm.. baiklah, aku lebih baik berinvestasi jangka panjang. Jika fokus usaha kecil tak di besarkan pasti tidak akan bertahan lama" gumam Bejo.