NovelToon NovelToon
Takdir Di Pulau Bai She

Takdir Di Pulau Bai She

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Istana/Kuno / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Divya bharti

"Tiga minggu di surga tersembunyi, atau tiga minggu terjebak di istana para penguasa abadi?"

Liburan akhir semester yang seharusnya menjadi momen healing bagi empat sahabat Elena, Aldara, Keisha, dan Amanda berubah menjadi awal dari petualangan lintas dimensi yang berbahaya sekaligus mendebarkan. Tergiur oleh foto-foto estetik di internet, mereka sepakat untuk melakukan camping selama tiga minggu di Pulau Tirta Asri, sebuah pulau terpencil tak berpenghuni di wilayah laut selatan.

Mereka tidak pernah tahu bahwa di balik keindahan pasir putih dan air kristalnya, pulau itu memiliki nama asli yang terhapus dari peta manusia Pulau Bai She. Pulau tersebut adalah domain suci yang menyembunyikan empat istana kolosal kuno, rumah bagi empat raja klan siluman tertinggi dengan rupa ketampanan yang mematikan.
Bai Yuanjun, Sang Raja Ular Putih yang dingin Mo Chenxi, Sang Raja Buaya Putih yang tak tersentuh Su Lingkong, Sang Raja Rubah Putih yang penuh tipu daya dan Lang Ye, Sang Raja Serigala

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Divya bharti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertemuan di Batas Dua Dunia

Pendaran cahaya perak dari batu giok kuno di genggaman tangan Elena perlahan-lahan memudar, seiring dengan sensasi ganjil yang menghantam kesadaran keempat gadis itu. Udara yang semula terasa sejuk dan beraroma wewangian magis istana, mendadak berubah menjadi anyep, lembap, dan berbau tanah basah khas hutan hujan tropis. Kabut tebal yang menyelimuti pandangan mereka perlahan-lahan tersibak, menyingkap jajaran pohon-pohon raksasa dengan sulur-sulur liar yang saling membelit.

"Kita... kita berhasil?" bisik Keisha dengan suara bergetar, matanya membelalak menatap sekeliling.

Elena menunduk, menatap pakaian hanfu mewah yang melekat di tubuhnya, lalu beralih menatap tanah di bawah kakinya yang kini berupa hamparan daun kering dan lumut. "Iya, Kei. Batu giok ini benar-benar membuka jalan pulang yang sesungguhnya. Kita sudah keluar dari dimensi terkutuk itu. Ini hutan Pulau Tirta Asri, tempat di mana kita diculik sebelumnya."

Meskipun kaki mereka telah memijak dunia manusia, rasa lega sama sekali belum menghampiri batin mereka. Keempat wanita itu masih belum tenang jika mereka masih berada di pulau terisolasi itu. Atmosfer magis yang pekat masih terasa menggantung di sela-sela pepohonan, seolah-olah bayangan para suami siluman mereka bisa muncul kapan saja dari balik kegelapan untuk menyeret mereka kembali ke penjara emas.

"Jangan santai dulu. Kita masih ada di pulau ini, artinya kita belum aman 100%," tegas Amanda, tangannya reflek menyentuh pundak kirinya yang tertutup kain jubah bulu serigala tempat di mana tanda bulan sabit perak itu kini tertanam permanen di kulitnya. "Segera kita kembali ke tempat tenda yang sebelumnya kita dirikan. Kita harus mencari barang-barang kita, terutama ponsel, dompet, atau sesuatu yang akan bisa membuat kita menghubungi dunia luar dan kembali pulang ke Jakarta."

"Benar, ayo cepat! Gue enggak mau semenit pun sisa hidup gue dihabisin di tempat ini," sahut Aldara dengan napas yang masih memburu. Ia segera memimpin di depan, mencoba mengingat-ingat arah jalur setapak menuju bibir pantai tempat perkemahan mereka.

Sambil melangkah tergesa-gesa membelah semak belukar, mereka berempat sama sekali tidak berpikir atau menyadari sudah berapa lama mereka menghilang di Pulau Tirta Asri itu. Di dalam dunia siluman, tatanan waktu berjalan sangat bias dan menipu hari demi hari dan minggu demi minggu yang mereka lewati di sana terasa berjalan lambat, namun mereka tidak tahu sudah berapa hari atau minggu waktu yang telah bergulir di dunia fana sejak malam penculikan itu. Yang mereka tahu, tubuh fisik mereka terasa lelah secara batin, dan mereka harus segera pergi sebelum fajar menyingsing sepenuhnya.

Di sudut hutan yang berbeda, suasana pencarian yang dilakukan oleh rombongan Padepokan Cakra Buana sedang berada di tingkat kewaspadaan tertinggi. Setelah menemukan kalung jimat milik Elena yang pecah di tanah, Pakde Baskoro memutuskan untuk membagi tim demi mempercepat pelacakan sebelum sisa-sisa jejak sukma korban menguap ditelan kabut fajar.

"Edgar, Ardi, Kevin, Aidan. Kalian berpencar lah radius dua ratus meter ke arah barat dan selatan. Cari tanda-tanda patahan ranting atau kain yang tertinggal. Aku akan memperluas radar batin di titik pusat ini. Jika ada sesuatu, langsung rapalkan mantra pemanggil," perintah Baskoro dengan suara berat yang berwibawa.

"Baik, Guru!" jawab keempat murid itu serentak sebelum akhirnya melesat membelah rimbunnya hutan secara terpisah.

Edgar berjalan dengan langkah tegap, parangnya sesekali menyibak akar gantung. Di arah yang sejajar namun terpisah jarak beberapa puluh meter, Ardi, Kevin, dan Aidan juga bergerak dengan indra yang menajam.

Kebetulan, jalur pencarian yang diambil oleh keempat murid Baskoro ini memotong lurus jalur pelarian yang sedang ditempuh oleh Elena dan ketiga sahabatnya. Keheningan hutan purba itu mendadak dipecahkan oleh suara kresek-kresek langkah kaki yang terburu-buru serta kasak-kusuk suara wanita dari arah balik semak-semak besar di depan mereka.

Sret!

Edgar langsung memasang kuda-kuda siaga, tangannya memegang gagang parang, sementara Kevin dan Aidan yang mendengar pergerakan segera merapat ke posisi Edgar dalam hitungan detik.

Dari balik rimbunnya pohon pakis raksasa, muncullah empat sosok wanita dengan penampilan yang sangat ganjil dan kontras untuk ukuran sebuah hutan terpencil. Mereka mengenakan pakaian hanfu kolosal China yang sangat mewah dengan warna putih, merah muda, hijau zamrud, dan biru tua, lengkap dengan riasan wajah yang anggun namun tampak acak-acakan dan dipenuhi keringat.

Kedua kelompok itu saling berhadapan, membeku di tempat masing-masing.

"Siapa kalian?!" tanya Edgar dengan nada tegas dan menyelidik, menatap curiga pada pakaian luar biasa mewah yang dikenakan keempat gadis di hadapannya.

Keempat gadis itu terengah-engah, wajah mereka pucat pasi karena terkejut melihat adanya empat orang pria asing berbadan tegap dengan pakaian taktis hitam di tengah hutan sepi ini. Mereka tidak tahu siapa keempat pemuda ini, termasuk Elena sendiri. Padahal, Elena adalah keponakan kandung dari Baskoro. Elena memang tahu sejak kecil bahwa Pakde-nya adalah seorang ahli spiritual yang mendirikan sebuah padepokan besar bernama Cakra Buana sudah dari zaman ketika Pakde nya masih berusia muda, namun karena Elena jarang berkunjung ke padepokan dan para murid ini baru bergabung dalam beberapa tahun terakhir, Elena sama sekali tidak mengenali wajah Edgar, Ardi, Kevin, atau Aidan.

Namun, di tengah rasa panik dan ketakutan akan kejaran para siluman, melihat adanya manusia lain yang membawa peralatan lengkap di hutan ini terasa seperti melihat malaikat penolong bagi mereka.

Elena melangkah maju, menurunkan cadar sutranya yang basah oleh keringat. "Tolong... tolong kami," ucap Elena dengan suara serak, matanya berkaca-kaca menatap Edgar. "Kami tersesat... kami diculik dan baru bisa kabur dari... dari tempat aneh. Kami cuma mau pulang."

Mendengar suara Elena dan melihat wajahnya dari dekat, Kevin mendadak membelalakkan mata. Ia merogoh saku rompinya dan mengeluarkan sebuah foto fisik yang diberikan oleh Zinta sebelum mereka berangkat dari Jakarta. "Edgar! Lihat... dia Elena! Keponakan Guru Baskoro yang kita cari!" bisik Kevin dengan nada terkejut yang tertahan.

Edgar langsung menatap foto di tangan Kevin lalu beralih menatap Elena. Guratan wajahnya langsung melunak, digantikan oleh rasa lega yang luar biasa. "Anda... Anda Mbak Elena? Keponakan dari Guru Baskoro?" tanya Edgar memastikan.

Mendengar nama Pakde-nya disebut dari mulut pria asing di depannya, jantung Elena seolah mencelos. "K-kalian... kalian kenal Pakde Baskoro? Kalian siapa?"

"Kami adalah murid-murid dari Padepokan Cakra Buana, Mbak. Kami datang ke pulau ini bersama Guru Baskoro atas permintaan Ibu Zinta untuk menyelamatkan Anda sekalian," jelas Aidan dengan cepat, mencoba menenangkan atmosfer yang tegang.

Mendengar penjelasan itu, tangis Keisha dan Aldara langsung pecah. Rasa syukur yang luar biasa membuncah di dalam dada mereka. Mereka akhirnya bertemu dengan tim penyelamat yang dikirim oleh keluarga mereka.

"Mas... tolongin kita, Mas!" seru Aldara, ego keras kepalanya runtuh digantikan keputusasaan seorang korban. "Kami mohon bantuan kepada kalian... tolong bawa kami secepatnya pergi dari pulau ini sekarang juga! Para makhluk... makhluk aneh di dalam sana pasti bakal sadar kalau kita kabur. Kita harus pergi ke pantai!"

Edgar mengangguk tegas, aura kepemimpinannya langsung keluar. "Tenang, Mbak sekalian. Kalian sudah aman bersama kami. Ardi, Aidan, jaga posisi belakang! Kevin, hubungi Guru lewat batin sekarang juga, katakan kalau target sudah ditemukan dalam keadaan selamat dan kita akan langsung mengamankan mereka menuju titik perkemahan pantai!"

"Siap, Kak!" jawab ketiga murid lainnya dengan sigap.

Dengan pengawalan ketat dari keempat murid Baskoro, keempat sahabat itu segera membalikkan tubuh dan melanjutkan perjalanan dengan kecepatan penuh menuju tempat tenda mereka, berharap perlengkapan mereka masih utuh sehingga mereka bisa secepatnya angkat kaki dari Pulau Tirta Asri sebelum amarah para raja siluman membelah dimensi nyata.

1
Devi..
bukannya di awal rencananya cuma seminggu y..kok jd lama banget 3 minggu..persediaan makannya gmna??🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!