Bahagiana Bahtiar adalah wanita cantik, cerdas dan kaya raya dari keluarga terpandang. Sosok yang tak pernah percaya dengan namanya cinta, kekasih, suami. Karena sesuatu terjadi pada salah satu organ tubuhnya, dia dijodohkan oleh sang Papi dengan Balin Azura, pria dewasa dan tampan dari kalangan biasa.
"Ilmu gaib apa yang kau gunakan hingga berhasil mencuci otak Papi?" bentak Bahagiana seraya berkacak pinggang, menatap tajam.
"Asal kau tahu bahwa salah satu dalam organ tubuhmu itu adalah alasan utamaku menerima PERJANJIAN PERNIKAHAN ini!" Batin Balin dengan perasaan murka karena kalimat yang dilontarkan Bahagiana.
"Tidak bisa menjawab? uang, harta dan kekayaan? selamat kau berhasil!" Teriak Bahagiana untuk kesekian kalinya.
Bagaimana kisah antara Bahagiana dengan Balin? dua sosok beda karakter, martabat yang akan hidup satu atap.
Ikuti kisahnya di karya author recehan ini yang masih banyak kesalahan dalam penulisan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vanzhuella annoy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode: 27. Sungguh Aku Tidak Tahu Gia
Usai makan malam bersama mereka memutuskan untuk beristirahat di kamar masing-masing. Sepertinya penghuni rumah ini cukup lelah dengan aktivitas masing-masing.
Balin duduk di sofa seraya mengecek email yang masuk pada ponselnya. Sedangkan Gia bergegas masuk ke kamar mandi untuk mengambil pakaian kotor mereka untuk dibawakan ke ruang laundry yang berada di bawah.
Gia sendirilah yang membawakan pakaian ke ruang laundry. Untuk pekerjaan mudah itu ia lakukan sendiri.
Pandangannya kembali tertekun pada noda Lipstik yang masih tercetak utuh di bagian pundak baju kemeja warna putih milik Balin. Senyuman getir tercetak pada bibirnya.
Pikiran negatif pun meliputi dirinya. Ia tidak menyangka bila Balin tega melakukan itu di belakangnya. Ia sadar dengan hubungan mereka, mungkin saja Balin lelah dengan semua itu, hingga membuatnya nakal di luaran sana. Ataukah sebelumnya ia memang memiliki kekasih hati yang tak pernah ia ketahui masa lalu suaminya itu.
Gia menghela nafas sesak, entah perasaan apa ini. Seharusnya ia tidak merasa marah karena ini bukanlah urusannya tetapi bohong jika ia terima. Rasa sesak, marah dan lain sebagainya.
Sudah merasa tenang ia kembali keluar dengan tangan memegang keranjang, berisi pakaian kotor milik mereka.
"Hmm biar aku saja yang bawakan," tawar Balin dengan tiba-tiba, menyadari keluarnya Gia dari kamar mandi.
Gia menghentikan langkahnya tepat di hadapan Balin. Balin meletakan ponselnya di atas meja sofa, ia beranjak bangkit ingin meraih keranjang yang masih di pegang Gia.
"Tidak perlu, aku bisa melakukan ini," tolak Gia tanpa ekspresi.
"Sekalian aku ingin ke bawah, kebetulan persediaan air minum di kamar habis," ucap Balin.
Entah setan apa yang tiba-tiba merasuki diri Gia hingga membuatnya melemparkan baju kemeja milik suaminya itu tepat mengenai wajahnya. "Apa kamu takut ketahuan?" sindir Gia dengan nada cukup mengagetkan.
Atas perlakuan kasar itu membuat Balin sangat kaget. Ia tak paham dengan apa yang dilontarkan Gia kepadanya. Ia pun meraih baju tersebut tanpa tahu apa yang terjadi.
Gia menatap sinis, membuang muka dengan raut wajah muram.
"Apa maksud perkataannya?" tanya Balin dengan nada lembut.
"Aku kira kamu bukanlah orang bodoh!" Gia masih engan memberitahu karena ia tahu Balin pura-pura atau bersandiwara.
Baju kemeja yang menjuntai di tangannya tak sengaja di lipat-lipat oleh Balin hingga ujung matanya menangkap noda merah itu, yang terlihat jelas cetakan bibir seorang wanita. Ia terbelalak kaget tak percaya, memandangi Gia dengan mata membuat.
Gia terkekeh kecil melihat akting yang diperankan oleh Balin, cukup profesional. "Tidak perlu dijelaskan!" Usai mengatakan itu Gia berlalu dengan raut wajah datar, membawa keranjang. Balin tercengang dalam diam.
"Bagaimana aku mau menjelaskannya sedangkan aku saja tidak tahu tentang ini," gumam Balin masih tak mengerti dengan noda Lipstik tersebut.
Ia berusaha mengingat-ingat tetapi tak kunjung terjawab. Ia yakin ini bukanlah noda Lipstik milik Gia, sedangkan Gia hanya memoleskan bibirnya secara natural.
Ia merebahkan tubuhnya di atas sofa, mengingat kembali. Satu hari ini ia lebih lama menghabiskan waktu dengan Gia, jadi kapan noda Lipstik tersebut bisa tercetak di baju kemejanya.
Balin meremas rambutnya karena tak mendapati jawaban. Seketika senyuman mengembang di bibirnya. "Apakah Gia cemburu?" gumam Balin menebak. Tapi senyuman itu tak bertahan lama ketika ia menepis semua pikiran konyolnya itu. Bagaimana mungkin Gia merasakan hal yang dituduhkannya itu.
DUM
Bunyi dentuman pintu kamar yang ditutup kasar mengagetkan Balin. Ia menoleh kearah pintu, dimana Gia berjalan tanpa menoleh kearahnya. Gia bukan berjalan menuju ranjang tetapi ke balkon.
Bagaimanapun Balin harus menjelaskan ini dengan sejujurnya, walau sangat sulit dipercaya. Ia pun beranjak bangkit, menyusul Gia.
"Aku akan menjelaskan," ucap Balin hingga sedikit buat Gia kaget karena ia tak menyadari kedatangan Balin.
"Tidak perlu karena aku tidak butuh penjelasan apapun," sahut Gia dengan tatapan lurus ke depan.
Balin berdiri di samping Gia, memandangi kelap-kelip lampu malam kota.
"Percaya atau tak percaya aku tidak tahu dengan noda tersebut, bahkan baru tahu sekarang," pungkas Balin dengan jujur.
Gia mendesis dalam hati. Ingin menertawakan penjelasan omong kosong suaminya itu tetapi ia engan melakukan itu. Ia sadar jika hubungan mereka tidaklah baik yang seperti dilihat oleh orang-orang diluar sana.
"Sungguh aku tidak tahu Gia!" Ujar Balin ingin sekali menyakinkan Gia. Entah kenapa perasaannya tidak ingin menyakiti atau mengecewakan wanita ini, walau hubungan mereka hanya sekedar status saja tetapi ada perasaan yang kuat agar Gia percaya.
Gia merapatkan mulutnya, melengkungkan bibir. Lalu melirik Balin cukup lama.
"Semua laki-laki itu sama!" Sindir Gia.
Bersambung....
🌹🌹🌹
Jangan lupa tinggalkan like vote favorit hadiah dan komennya agar author lebih semangat lagi
jangan lupa juga yaaa kak mampir vote dan likenya cmiww💐