NovelToon NovelToon
Ghaffar Si Penakluk Arwah

Ghaffar Si Penakluk Arwah

Status: sedang berlangsung
Genre:Hantu / Horor / Mata Batin
Popularitas:883.8k
Nilai: 5
Nama Author: Nike Julianti

Seorang anak lelaki, yang harus menyaksikan kematian ibunya di ulang tahunnya yang ke 9. Tumbuh dengan hati yang dingin, seolah tak tersentuh. Tetapi ia sudah terbiasa, dengan sahabatnya. Petualangan bersama para roh, kuy kita baca🤗

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nike Julianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Cerita Kematian Tiga Arwah

Tak lama setelah angin itu bertiup, menerpa wajah Ghaffar. Kini Ghaffar sudah berpindah tempat, lebih tepatnya jiwa ia yang kini berada di masa lalu. Ini bukan yang pertama kalinya, ia tentu pernah melakukan hal ini. Di kasus-kasus sebelumnya, Ghaffar melihat ke sekeliling.

'Sebuah sekolah? Ini sekolah Theresia kah?' Ghaffar melihat lingkungan sekolah elit, ia berdiri di tengah-tengah lapangan basket. Ini merupakan Internasional School besar, yang ada di kota. Sekolah ini memiliki fasilitas lengkap, di mulai dari TK sampai ke SMA. Saat Ghaffar tengah fokus memperhatikan sekitar, tiba-tiba ia mendengar suara tak jauh darinya. Ghaffar berbalik, ia melihat ada seorang wanita yang sudah tak muda lagi. Bahkan terlihat usia lanjut, mungkin sekitar 60 tahun ke atas.

'Apa yang dia bawa, seperti... peti buah' karena penasaran, Ghaffar mengikuti wanita tersebut. Wanita itu menggumamkan sesuatu, tetapi Ghaffar tak bisa mendengarnya. Ia pun mendekat, karena penasaran dengan apa yang di ucapkan wanita tersebut.

"Anak baik tidak boleh lama-lama hidup, aku akan membantu kalian terbebas dari penderitaan yang kalian alami. Kalian hanya diam saja, saat kalian di perlakukan tidak adil oleh teman-teman kalian. Bahkan, kalian juga tidak mengadukan hal ini pada orang tuanya. Jadi... aku akan membantu kalian, seperti aku membantu anakku bertemu dengan Tuhan lebih cepat." Ghaffar membulatkan kedua bola matanya

'Jadi... dia bukan hanya membunuh anak orang lain, bahkan anaknya pun ia habisi? Astaghfirullah' Ghaffar masih mengikuti wanita tua tersebut

Bila di lihat dari pakaiannya, wanita itu bekerja sebagai tukang bersih-bersih di sekolah ini. Mereka semakin masuk ke dalam sekolah, Ghaffar mengerutkan dahinya, saat ia melewati sebuah lubang di dinding penghalang. Yang di tutupi oleh tumpukan meja dan kursi, cara dia memanipulasi pintu tersebut.

Lubang yang,,, tidak terlalu kecil, tapi juga tak besar. Cukup untuk satu orang, wanita itu berjongkok dan masuk ke dalam lubang tersebut. Setelah sebelumnya, ia memasukkan terlebih dahulu peti buah yang ia bawa-bawa. Ghaffar ikut masuk, saat ia keluar dari lubang tersebut. Lagi-lagi Ghaffar di kejutkan, dengan apa yang ada di depannya.

Di depannya kini, menjulang bangunan besar tak terurus. Wanita itu terus melangkahkan kakinya, melewati sebuah taman yang terbengkalai. Rumput liar, terlihat tumbuh begitu tinggi. ILALANG...

Sampai mereka kini berada di depan sebuah pintu..

KRIEEETTT

Suara pintu, yang sudah lama tidak mendapatkan perawatan. Begitu terbuka, bau lembab dan anyir menguar keluar. Ghaffar sempat tahan nafas, karena bau yang begitu menusuk hidungnya. Kembali melangkahkan kakinya, untuk masuk ke dalam rumah. Semakin ke dalam, baunya semakin jelas.

"Kamu yang tenang ya, ibu akan bantu kamu meringankan rasa sakitnya. Orang tua mu tak peduli, biar ibu yang peduli. Ini hanya sakit sebentar, setelahnya kamu akan bertemu dengan Tuhan mu." ucap wanita itu, Ghaffar mendengar suara jeritan tertahan. Ia pun mendekat, kedua matanya kembali membulat sempurna.

'THERESIA'

"MMMMPPPHHH.... MMMPPPHHH...." Theresia menangis, seraya menggelengkan kepalanya. Ia takut, sangat takut.

"Ssssttt... tenang sayang, sebentar... hanya sebentar saja... Nanti kamu akan bertemu dengan anak ibu, dia sudah lebih dulu di sana. Sampaikan salam ibu padanya, ya?" wanita itu ke berjalan ke samping, Ghaffar ingin sekali menolong. Tapi tak bisa, kejadian di depannya saat ini adalah masa lalu.

'BRENGSEK, APA YANG AKAN KAMU LAKUKAN?' Ghaffar berteriak, bahkan sampai mengumpat. Karena melihat wanita itu, ternyata mengambil sebuah palu besar. Ia menyeretnya, karena ukuran palu itu memang besar. PALU MARTIL

SREEETTTT!!! SREEETTT!!!

"MMMHHHH... MMMHHH..." Theresia kembali menggelengkan kepalanya, kedua tangan dan kakinya terikat. Ia menghentakkan kedua kakinya ke lantai, bahkan ia menghentakkan kepalanya ke belakang. Saking takutnya, ia benar-benar takut.

'TOOOLLLOOONG!!!!' jeritnya dalam hati, mulutnya yang di sumpal gumpalan kain. Membuatnya tak bisa berteriak, air matanya semakin tak terkendali.

"MMMMHHH... EEGGGHHH... EGGHHHH... MMMHHHH" hati Ghaffar begitu sakit melihatnya, seolah ia melihat kembali kejadian saat ibunya meninggal

'JANGAAANN... JANGAAANN BRENGSEK!!!' teriak Ghaffar lagi

'TOOOLLOONG... WAAAAAA..... PAPAAA... MAMAAA.... HWAAAAAA...' kembali Theresia menjerit di dalam hati, berharap ada yang datang menolongnya. Ghaffar bahkan tak sadar, bila dirinya kini tengah menangis.

"ssssttt.... sabar ya, hanya sebentar saja.." wanita itu mengangkat palu martil, menggunakan kedua tangannya. Ia mengayunkan benda itu ke arah kepala Theresia dan..

BUAGH!!!

KREEEKK

'BRENGSEEEEKKK... HWAAAA...' Ghaffar menangis kencang

Ini kejam, terlalu kejam.

Sekali pukul, tentu membuat Theresia yang masih kecil langsung tak bernyawa.

"Tuh kan... sakitnya cuma sebentar, sekarang udah ga sakit lagi." ucap wanita itu, wajahnya terlihat biasa saja.

Kejadian itu terulang pada Diki dan Arkana, sama persis. Dan jenazah mereka di masukkan ke dalam gentong besar, ternyata bukan ada 3 gentong di sana. Melainkan banyak, itu artinya korban bukan hanya Theresia, Diki dan Arkana.

.

"GHAFF... GHAFFAR!!!" teriak Akbar

Akbar terpaksa masuk, saat ia mendengar suara teriakan dan tangisan Ghaffar. Akbar memang tak pulang, ia memilih menunggu di depan kamar Ghaffar. Mendengar suara teriakan Akbar, Ghaffar pun terbangun. Ghaffar memeluk Akbar, Akbar yang tak tau kenapa. Ia pun ikut menangis, mendengar tangisan Ghaffar yang begitu menyakitkan.

"IBU..... HUHU..."

Selama bertahun-tahun, ia tak pernah melihat atau mendengar sahabatnya menangis. Bahkan saat mengantarkan kedua orang tua nya ke liang lahat pun, Ghaffar hanya menatap kosong. Tak ada air mata, atau pun ekspresi lain selain datar. Tapi sekarang... ia melihat sahabatnya begitu rapuh, sahabatnya yang terlihat tegar, bahkan terkesan angkuh. Dingin, tak tersentuh. Kini tengah menangis meraung, di dalam dekapannya.

Akbar hanya diam, ia menepuk pelan punggung Ghaffar. Ia tak tau, apa yang harus ia ucapkan. Ia tak tau, apa yang sebenarnya di rasakan oleh Ghaffar.

Setelah beberapa saat, tangisan Ghaffar pun berhenti.

"Sorry Bar" ucap Ghaffar, dengan suara seraknya

"Ga masalah, kamu teh memang seharusnya seperti ini Ghaf. Kalo memang sedih, nangis. Kalo bahagia, ketawa. Kalo kesel, ya marah. Luapin aja semuanya perasaan kamu, jangan di pendem sendiri. Aku emang ga tau, sebesar apa rasa sakit kamu. Tapi seenggaknya, aku bisa jadi tempat kamu berkeluh kesah. Sampe nanti, jodoh kamu datang." jawab Akbar, membuat Ghaffar memukul pelan lengan atasnya.

Akbar terkekeh, ia tak ingin bertanya sekarang. Kalo memang mau, Ghaffar pasti akan cerita sendiri nanti.

"Udah tenang sekarang?" tanya Akbar, Ghaffar mengangguk

"Aku ke kamar mandi dulu ya" Akbar mengiyakan, ia melihat waktu di dinding kamar Ghaffar. Waktu sudah menunjukkan 17.50, sebentar lagi adzan Maghrib. Ia pun memilih keluar, bersiap untuk shalat.

.

.

Semua orang tua ketiga arwah sudah datang kembali ke kafe, bahkan kini bukan hanya mereka. Orang tua Arkana dan Diki, membawa anak-anaknya yang lain. Arkana memiliki dua kakak, laki-laki dan perempuan. Sedangkan Diki, memiliki satu kakak lelaki.

"Apa nak Ghaffar sudah menemukan, keberadaan jenazah anak-anak kami?" tanya om Bagus

"Ya....

...****************...

Jangan lupa like, komen, gift dan vote nyaaaa.....🥰

1
nisa
lanjuttt ,,,,
votenya emak🥰
Ayuk Witanto
hajar lah semua sampai habis... gregetan
Ayuk Witanto
ini sih definisi ayah sesungguhnya...menghajar orang yang melecehkan putrinya 👍🏻
bontenk90
kawin keun langsung Mak,terus hajat nanggap dangdut,malem na nanggap wayang golek sampe subuh.
daripada lami trus si ghaffar diudag2 ku hileus cingcet
bontenk90: enya atuh mak
total 3 replies
Hary Nengsih
lanjut
Sri Musdalefi
aa gaffar hebat ..babat semuanya a
≛⃝⃕|ℙ$Ŋบ𝑟ļịãŊãᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🏡⃟ªʸ
Eehh trauma na Gaffar lom ilang toh
bee may
mang jagur.. kenalin ci lelly😍.. uluh uluh🤭
Lilis mulyati
kyanya Gaffar butuh psikolog dech tkutnya trauma mkin parah coba dech klau wulan yg bujuk si Gaffar bkalan gk akan nolak krna rayuan wulan buat bujuk Gaffar.wlaupun skrang Gaffar bisa melawannya tpi entah klau kejadian itu ada lagi mngkin lbh mengerikan lgi skrang aja dia ngamuk krna ada yg jdi pemicunya
Zahbid Inonk
war pisan d bantuan bang jagur semangat Ghaf hilangkan trauma mu
mama_im
sikopet ih kamu mah ghaf 🤣🤣🤣
Eliermswati
akhirnya gaffar melawan rasa trauma nya untung arwah ibunya lngsung bisikin klo g dah pergi itu si gaffar😂😂lngsung ngeluarin jurus seribu bayangan😂😂😂smngt thor up nya
RiriChiew🌺
nah bolehh lah balas kan dendam pada saat inii, habisii semuanya aja ghaf🤭
Ela Jutek
ngamuk nie Ghaff ceritanya, haaa sikat bersih pokoknya mah
Sudi Yanti
Astaghfirullah... untung ghaffar gerak cepet, kl gak gak tau deh apa yg trjadi sama hdp sean. jadi Boneka terus....
Sudi Yanti
Ya allah... anak usia 8 tahun pemikirannya sprti orang dewasa. bpknya juga gak punya hati, menelantarkan anaknya sendiri menikah dengan selingkuhannya, benar-bener kejam.
Rindu
keren ga ngebosenin,tiap bab ceritanya serrruuuu bangettt,pokoknya best lah
ule_keke (IG: ule_keke26): makasih kak
total 1 replies
Sani Srimulyani
angkat jadi adiknya aja langsung tuh anak kecilnya. kasian pasti dia trauma.
kaylla salsabella
kasus lagi.. terus nanti si dede di adopsi sama papa dafa 🤭🤭
Zuny Achmad
ayok kak smngat MW lihat lanjutannya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!