Di hari yang seharusnya menjadi perayaan cinta, dia justru disingkirkan dari hidup mereka.
Ketika seorang istri setia berharap mendapat kejutan di hari ulang tahun pernikahannya, yang ia terima justru pengkhianatan dari orang-orang yang paling ia percayai.
Suami yang berubah. Pelakor yang datang tanpa rasa bersalah. Serta ibu mertua dan ipar yang mendukung semuanya.
Akankah ia bertahan demi rumah tangganya?
Atau memilih pergi dan membuktikan bahwa dirinya mampu hidup tanpa mereka?
Siapkan hati kalian, karena kisah ini akan menghadirkan banyak air mata, kemarahan, penyesalan, dan tentunya balas karma yang memuaskan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Barra Ayazzio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17. Jauh Panggang dari Api
Pagi itu benar-benar terasa seperti hukuman bagi Galang.
Setelah cukup lama menunggu, akhirnya sebuah ojek online menerima pesanannya. Begitu pengemudi datang, Galang langsung naik tanpa banyak bicara. Helm dikenakan seadanya, lalu motor melaju membelah jalanan Kota Bandung yang sejak pagi sudah dipadati kendaraan.
Senin memang selalu menjadi hari yang menyebalkan. Di setiap lampu merah, antrean kendaraan mengular panjang. Mobil, motor, hingga angkutan kota saling berebut ruang. Klakson bersahutan tanpa henti, sementara matahari yang mulai meninggi membuat udara semakin gerah.
Galang berkali-kali melirik jam tangan. "Ya ampun... terlambat... terlambat," gumamnya gelisah.
Perutnya semakin nyeri karena belum sempat diisi. Tadi pagi tidak ada sarapan di rumah. Bahkan secangkir kopi pun tak sempat dibuat karena dapur kosong dan suasana rumah sudah lebih dulu dipenuhi keributan.
*"Kruuuk..."* Suara perutnya sendiri terdengar jelas. Galang mengusap perutnya sambil meringis.
"Kenapa sih macet banget?" keluhnya pelan.
Belum lagi duduk di jok motor membuat kemeja yang sejak tadi dikenakannya semakin kusut. Biasanya ia berangkat menggunakan mobil dengan pakaian tetap rapi sampai kantor. Kini, angin jalanan membuat rambutnya berantakan, sementara bagian belakang kemejanya ikut lecek karena terus bergesekan dengan tas punggung.
Sesekali ia mencoba merapikan kerah bajunya, tetapi percuma saja. Semakin dirapikan, semakin terlihat acak-acakan.
Setelah hampir satu jam berjibaku dengan kemacetan, motor akhirnya memasuki kawasan kantor Dinas Pariwisata tempat Galang bekerja di Kota Bandung.
Begitu turun, Galang buru-buru membayar ongkos, lalu berlari kecil menuju gedung kantor. Napasnya masih memburu ketika baru saja melewati pintu masuk.
"Galang." Suara berat atasannya membuat langkahnya otomatis terhenti.
Galang menelan ludah. "Masuk ruangan saya!"
Dengan wajah pasrah, ia mengikuti sang atasan.
"Jam berapa sekarang?" tanya atasannya sambil menunjuk jam dinding.
"Maaf, Pak!"
"Ini sudah lewat jam masuk hampir tiga puluh menit. Ini bukan pertama kali saya mengingatkan soal disiplin."
Galang menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Maaf, Pak. Mobil saya... mogok di rumah, jadi terpaksa naik ojek online. Jalanannya juga macet sekali."
Atasannya menghela napas panjang. "Alasan boleh macam-macam, tapi tanggung jawab tetap nomor satu. Jangan sampai terulang lagi!"
"Baik, Pak."
Setelah menerima teguran yang cukup membuat telinganya panas, Galang keluar ruangan dengan wajah ditekuk.
Baru beberapa langkah menuju mejanya, suara tawa langsung menyambut.
"Waduh... akhirnya datang juga, Pak Galang!" seru Aldi sambil terkekeh.
Beberapa rekan kerja ikut menoleh. Aldi menyeringai jahil.
"Biasanya turun dari mobil. Sekarang turun dari ojek online. Gaya baru, ya?"
Beberapa orang ikut tertawa kecil. "Eh, bajunya juga kusut. Kayak habis digulung kasur."
Tawa kembali pecah. Galang hanya memasang wajah manyun. Malas meladeni. Ia langsung menjatuhkan tubuhnya ke kursi kerja sambil mengembuskan napas panjang.
Kesal. Malu. Lapar. Semuanya bercampur menjadi satu. Tangannya mengepal di atas meja. Dalam benaknya, satu nama terus berputar.
**Arini.**
Menurutnya, semua kekacauan pagi ini bermula karena perempuan itu pergi meninggalkan rumah. Kalau Arini masih ada, sarapan pasti sudah tersedia. Mobilnya juga tidak mungkin dipakai dia. Pakaiannya pasti sudah disetrika rapi seperti biasanya. Ia pun tidak perlu naik ojek, tidak akan terlambat, apalagi dimarahi atasan dan ditertawakan Aldi.
Semakin dipikirkan, semakin besar rasa kesalnya.
*"Pokoknya Arini harus pulang."*
Galang menyandarkan tubuhnya ke kursi.
*"Aku harus bawa dia kembali ke rumah. Mau bagaimana pun caranya. Dia nggak boleh terus keras kepala begini."*
Namun, sama sekali tidak terlintas dalam pikirannya bahwa selama ini semua kenyamanan itu hadir karena ketulusan Arini, bukan karena kewajiban yang harus terus dipikulnya. Yang ia rasakan hanyalah hidupnya mendadak berantakan sejak perempuan itu memilih pergi.
***
Pagi di rumah itu belum juga tenang. Baru saja Galang berangkat, Bu Sumarni sudah berjalan cepat menghampiri Mayang yang sedang asyik memainkan ponselnya di ruang tamu. Wajahnya dipenuhi harapan, mengira menantu barunya akan mengambil alih urusan dapur seperti Arini dulu.
"Mayang," panggil Bu Sumarni dengan nada lembut. "Ibu minta uang buat beli kebutuhan rumah sama makan hari ini. Beras habis, minyak habis, lauk sama sayur juga nggak ada apa-apa."
Mayang mengangkat wajah sekilas, lalu membuka dompetnya. Tanpa banyak berpikir, ia menyodorkan selembar uang seratus ribu.
"Nih, Bu."
Bu Sumarni menerimanya, tetapi dahinya langsung berkerut. "Masa cuma segini?" tanyanya sambil membolak-balik uang itu seolah berharap ada lembar lain yang menempel. "Yang harus dibeli kan banyak. Lagian ibu minta buat tiga kali makan lho, bukan cuma buat sarapan."
"Iya, memang itu buat tiga kali makan, Bu."
"Mana cukup?"
Mayang mengangkat bahu santai. "Ya dicukup-cukupin aja, Bu. Kita harus belajar hemat."
Bu Sumarni mulai menghela napas panjang. "Iya, tapi kalau cuma segini mana cukup? Beras aja sudah mau habis."
Mayang menyilangkan tangan di dada. "Soalnya anak ibu ternyata kere. Nggak sekaya yang selama ini ibu gembor-gemborkan ke orang-orang kampung. Tahu begini, dulu saya juga malas nerima lamaran Mas Galang."
Kalimat itu membuat wajah Bu Sumarni memerah.
"Eh, jangan sembarangan ngomong! Anakku itu orang kaya, kok."
Mayang terkekeh kecil. "Oh ya? Kaya?"
"Iya. Nih buktinya. Rumah anak ibu lebih bagus daripada rumahmu di kampung, kan? Berarti anak ibu memang kaya."
Mayang hanya mengangguk-angguk sambil tersenyum miring. "Iya deh, terserah ibu mau ngaku apa."
"Ya memang kenyataannya begitu."
"Iya... iya..."
Mayang lalu menunjuk uang yang masih dipegang mertuanya. "Gimana? Mau diambil nggak uang seratus ribu itu? Kalau nggak juga, ya nggak apa-apa."
Bu Sumarni menggigit bibir. "Ya... tapi tambahin lagi lah. Beras minimal lima kilo harus beli. Minyak juga habis. Belum telur, bumbu, sama sayur."
Mayang malah bersandar santai di sofa. "EGP, Bu."
Bu Sumarni mengernyit. "EGP? Apa itu EGP?"
Mayang tersenyum lebar, lalu menjawab tanpa rasa bersalah. "Emang gue pikirin?"
Setelah mengucapkannya, ia tertawa terbahak-bahak.
"Hahaha...!"
Tawa itu menggema memenuhi ruang tamu. Bu Sumarni melongo tak percaya. Wajahnya berubah pucat menahan kesal, sementara Pak Hardi yang sedari tadi hanya mendengarkan dari kursinya ikut membelalakkan mata. Suami istri itu saling berpandangan.
Baru sehari tinggal serumah, mereka mulai merasakan perbedaan yang sangat mencolok antara Mayang dan Arini.
Dulu, tanpa diminta, Arini selalu memastikan beras terisi, lauk tersedia, dan dapur tetap mengepul. Ia selalu memastikan penghuni rumah makan dengan layak.
Sedangkan Mayang, diminta menambah uang belanja saja, jawabannya hanya satu.
"Emang gue pikirin?"
Kalimat itu terasa seperti tamparan keras bagi Bu Sumarni dan Pak Hardi. Kini keduanya mulai menyadari bahwa menantu barunya yang selama ini mereka idam-idamkan ternyata sama sekali tidak seperti yang mereka bayangkan. Jauh panggang dari api.
__________________________________
Hai Readers jangan lupa mampir ke novel aku yang lainnya ya!
Rahasia Masa Lalu Suami dan Sang Ipar (sudah tamat).
Ditalak Sesaat Setelah Akad (sudah tamat)
Benang Putus Karena Cinta Pertama. (Up)
Oh iya jangan lupa beri masukan dan kritikan yang membangun yah, biar makin semangat up novelnya. Terimakasih 🙏🏼🙏🏼🙏🏼
sehat terus dan semangat Thor 😍💪💪💪
Kalau istri lebih mandiri punya apa-apa sendiri ya mending pisah daripada cuman diperalat keluarga suami.
tp kl gk berani laporin berarti wanita lemah. mkne pantes di injak injak lemah sih. kasian kl punya anak ntar kl Ada apa apa ma anaknya pasti suruh ngalah walau bener. bukan mncerminkan wanita badas😄🔥
lbih bagus laporin beres.