NovelToon NovelToon
IBU TIRI SEWAAN

IBU TIRI SEWAAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Orang Disabilitas / Menikahi tentara / Anak Genius
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Lisa

Demi uang, Asia menerima tawaran menikah kontrak dengan Kapten Hugo, seorang tentara yang mengalami kelumpuhan parsial karena cidera tugas. Baginya pernikahan itu hanyalah jalan tercepat untuk melunasi utang seratus juta rupiah yang ditinggalkan ayahnya setelah kabur karena kalah berjudi.

Namun ia harus menjadi ibu tiri bagi putra bungsu yang super aktif dan sulit dikendalikan. Serta putri kelas 3 SMP yang membencinya karena merasa Asia telah menggantikan posisi mendiang ibunya.

Asia tak berniat menjadi istri yang baik atau ibu yang penyayang. Targetnya hanya satu: mengumpulkan uang sebanyak mungkin, lalu pergi saat kontrak pernikahan berakhir.

Hanya saja, keluar dari keluarga itu ternyata jauh lebih sulit daripada masuk ke dalamnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 7

"Ini suatu kebetulan atau memang Anda mengikuti saya?" tanya Asia curiga. Ini bukan pertama kalinya dia dibantu. Tatapannya menuntut penjelasan yang jujur dari pria berseragam di depannya.

Gilang tidak terkejut dengan kecurigaan wanita di depannya. Dia merapikan posisi berdirinya lalu menjawab dengan tenang tanpa kepura-puraan. "Awalnya kebetulan karena saya sedang patroli di daerah sini. Tapi memang benar, saya sedang mencari Anda atas perintah Pak Hugo. Beliau ingin bertemu langsung dengan Anda."

Asia mengerutkan dahi, merasa tidak nyaman karena namanya masuk dalam radar pencarian seorang perwira militer. "Untuk apa beliau mencari saya?"

"Itu bisa dibicarakan saat Anda bertemu langsung dengan beliau."

"Bertemu langsung?"

"Ya. Beliau ada keperluan dengan Anda. Jika tidak keberatan, Anda bisa ikut saya."

Asia terdiam mendengarnya. Jawaban Gilang yang tidak mau memberi tahu tujuannya secara mendetail membuat Asia sadar bahwa ini adalah urusan yang serius

"Ini bukan sebuah candaan bukan? Atu jebakan militer begitu?" Asia sering menonton drama tentara. "Saya takut soalnya."

Gilang tersenyum. Dia paham ketakutan Asia. Dan itu normal. "Tidak. Ini murni pertemuan biasa. Mungkin beliau masih mau berterima kasih karena Anda sudah membantu beliau. Semacam itu mungkin."

Asia diam lagi.

"Baiklah. Di mana saya bisa menemui atasan Anda?" tanya Asia akhirnya memutuskan.

"Ikut saya," jawab Gilang singkat sambil memberi isyarat agar Asia mengikutinya menuju kendaraan. Gilang sudah mengirim pesan pada Hugo bahwa ia menemukan Asia.

***

Asia duduk sendirian di dalam rumah makan yang privasinya terjaga. Ruangan itu sengaja dipesan khusus agar tidak terganggu oleh pengunjung lain. Gilang sengaja mengantar Asia ke tempat ini terlebih dahulu, karena dia harus pergi lagi untuk menjemput Hugo.

Tidak lama kemudian, pintu ruangan terbuka. Gilang melangkah masuk sambil mendorong kursi roda Hugo. Asia segera berdiri dari duduknya untuk menyambut kedatangan mereka.

"Selamat siang," ujar Asia membungkukkan badannya sedikit sebagai bentuk kesopanan.

Hugo mengangguk pelan menerima sapaan itu, sementara Gilang membantu memposisikan kursi roda Hugo di seberang meja sebelum akhirnya pamit mundur untuk berjaga di luar.

"Silakan duduk." Hugo mempersilakan Asia kembali duduk.

"Terima kasih." Asia duduk. Matanya beredar ke sekeliling ruangan yang sepi. Dia yang tidak pernah ke tempat ini mencoba menikmati pemandangan yang ada di depan tempat duduknya. Sebuah taman kecil dengan air mancur dan kolam. Tampak sejuk dimata.

Meski begitu, ada atmosfer tegang dan formal yang terasa di antara mereka berdua. Suasana ini lebih mirip seperti negosiasi bisnis daripada pertemuan biasa.

Asia juga tidak mengulurkan tangan karena ia merasa tidak pantas bersalaman dengan perwira militer di depannya, mengingat kondisinya yang berantakan setelah dikejar penagih utang.

"Kita berjumpa lagi," kata Hugo memulai pembicaraan dengan suara berat yang tenang.

"Ya, tapi kali ini sepertinya bukan kebetulan. Ada apa Anda mencari saya, Pak ..." Asia lupa nama pria ini.

"Pak Hugo," kata Gilang membantu.

"Ya. Ada apa Anda mencari saya pak Hugo?" tanya Asia langsung. Enggan menahan diri untuk tidak bertanya tentang alasan ia dipanggil dalam pertemuan ini. Dia ingin segera tahu apa tujuan pria itu mencarinya secara spesifik.

Hugo tidak terkejut dengan sikap Asia yang serba cepat dan tidak bertele-tele. Dia justru menyukai kelugasan wanita itu karena mempermudah urusannya.

"Saya punya kesepakatan untuk Anda," kata Hugo.

"Kesepakatan? Apa itu?"

Map di atas meja membuat Asia tertarik dan curiga. Karena itu diletakkan di atas meja tepat setelah Hugo datang. Asia menatap map tersebut, lalu kembali menatap Hugo, menunggu kelanjutan kalimat pria itu.

"Saya butuh istri."

Mendengar itu, Asia memundurkan tubuhnya. Menoleh ke Gilang dan balik lagi ke Hugo. Dia waspada. Informasi yang baru saja didengarnya terasa sangat mendadak dan tidak masuk akal untuk situasi mereka.

Ini seperti sedang bercanda. Bibir Asia tergelak sedikit merasa lucu. Dia tidak bisa menahan tawa kecilnya karena merasa situasi ini sangat aneh.

"Ini bukan sebuah candaan. Saya memang butuh istri, tapi ..." Hugo membuka berkas di depannya. "Saya masih mencintai istri saya yang sudah meninggal, jadi saya tidak benar-benar mencari istri sesungguhnya." Hugo menjeda kalimatnya.

Gilang melirik. Dia menemukan peperangan batin Hugo. Antara butuh istri untuk status dan tapi enggan punya hubungan seperti itu. Gilang tahu seberapa besar rasa cinta Hugo pada mendiang istrinya.

"Mmm ... Saya rasa topik pembicaraan ini cukup rumit. Maaf. Saya orang awam merasa bodoh karena tidak mengerti yang pak Hugo katakan." Tidak perlu lama, Asia mengakui langsung kalau dia tidak menyambung apa yang sebenarnya pria ini katakan.

Lugas sekali kata-kata Asia ketika menyatakan ketidakpahamannya. Gilang paham juga apa yang dimaksud Asia. Hugo masih bimbang untuk meneruskan rencananya atau tidak. Padahal wanita ini sudah ada di depan mata.

"Pak Hugo," sebut Gilang untuk menyadarkan Hugo. Hugo seperti ingin lari dan membatalkan rencananya. Keheningan sempat tercipta selama beberapa saat di dalam ruangan itu.

"Anak Bapak sehat? Yang waktu itu makan sama saya." Asia tahu keheningan aneh ini bikin tidak nyaman. Dia cari cara mencairkannya.

"Dia Nero," ucap Hugo sambil mendongak. Kata-kata Asia menyadarkannya dari kebimbangan.

"Oh, dia namanya Nero."

"Sudah lama sejak ia lahir dia tidak punya seorang ibu. Istriku meninggal karena melahirkannya. Nero hanya sempat dipeluk beberapa hari, lalu istriku pergi selamanya."

Suasana tidak nyaman tadi berubah menjadi sedih. Asia merasa bersalah sudah bahas bocah itu, membuat pria di depannya mengatakan hal sedih.

"Maaf."

"Tidak apa-apa. Itu memang hal yang harus saya katakan pada Anda. Karena itu saya butuh seseorang untuk mendampingi anak-anak saya." Akhirnya Hugo meyakinkan diri untuk melanjutkan rencananya.

"Oh, pengasuh?" Asia merasa paham. Ia menyimpulkan sendiri berdasarkan cerita Hugo tentang anaknya.

"Bukan. Karena keluarga saya menuntut untuk mendapatkan istri, saya juga butuh seorang istri. Kesepakatan. Saya tahu Anda kesulitan karena utang, jadi saya membuat kesepakatan yang tidak berat sebelah. Utang Anda menjadi tanggung jawab saya."

"Utang? Utang saya yang banyak itu? Anda tahu?" Asia terkejut.

"Maaf, saya sengaja mencari tahu untuk melakukan kesepakatan ini."

"Tunggu. Utang saya itu banyak. Anda tahu kan?" Asia memastikan lagi, karena jumlah utangnya bukan angka yang kecil.

"Saya tahu. Utang dan perlindungan. Saya akan bertanggung jawab penuh dengan semua itu. Namun, Anda harus jadi istri saya sekaligus pengasuh anak-anak saya untuk beberapa tahun."

Asia diam sejenak. "Maksudnya ini saya dikontrak? Istri kontrak gitu?" Kalimat terakhir diucapkan Asia secara bisik-bisik, padahal restoran ini sudah penuh dengan privasi.

Hugo melirik Gilang di sampingnya. Ia seperti risih membahas soal istri kontrak yang Asia katakan. Karena sebenarnya menurutnya pernikahan itu sakral.

"Ya. Itu maksud Pak Hugo. Ini demi kebaikan bersama. Bukan karena ego semata," Gilang membantu untuk bicara, memperjelas situasi agar Asia tidak salah paham terhadap niat atasannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!