NovelToon NovelToon
Resep Cinta Setelah Akad

Resep Cinta Setelah Akad

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:745
Nilai: 5
Nama Author: Keysa Bom

Katanya, cinta harus datang sebelum menikah. Tapi bagaimana jika cinta justru lahir setelah akad terucap?

Menjadi seorang PNS membuat Satria Baskara terbiasa menjalani hidup dengan aturan dan tanggung jawab. Di sisi lain, Naira Azzahra, seorang pembuat kue rumahan, percaya bahwa setiap kue memiliki resepnya sendiri.

Namun, ia tak pernah menyangka takdir justru menuliskan resep cintanya melalui sebuah perjodohan.

Tanpa proses pacaran. Tanpa janji manis. Hanya sebuah akad yang menyatukan dua hati yang sebelumnya tak saling mengenal.

Di balik sarapan hangat, bekal makan siang, dan perhatian-perhatian kecil yang awalnya terasa biasa, perlahan tumbuh perasaan yang tak mampu mereka sangkal. Namun ketika cinta akhirnya hadir, ujian demi ujian mulai mengetuk pintu rumah tangga mereka.

Akankah Satria dan Naira berhasil mempertahankan cinta yang tumbuh setelah akad? Atau justru takdir kembali menguji hati mereka, saat keduanya mulai benar-benar saling mencintai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Keysa Bom, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sebuah Kesalahpahaman

Senin pagi yang sibuk telah dimulai.

Jarum jam bahkan belum sepenuhnya menunjukkan pukul enam ketika alarm nyaring di ponsel Satria sudah berbunyi memecah keheningan fajar. Pria jangkung itu segera bangkit dari tidurnya tanpa menunda waktu. Dengan cekatan ia merapikan tempat tidur, melipat selimut, lalu bersiap untuk mandi.

Hari ini jadwalnya berbeda dan jauh lebih padat dari biasanya. Seluruh pegawai Kantor Kecamatan diwajibkan untuk mengikuti upacara rutin awal pekan yang dimulai tepat pukul setengah tujuh pagi.

Saat Satria keluar dari kamarnya dengan seragam PNS cokelat yang telah dikenakan dengan sangat rapi dan beraroma parfum maskulin tipis, aroma harum masakan dari arah dapur ternyata sudah memenuhi seluruh sudut rumah kecil mereka.

"Nai, sudah bangun?" sapa Satria lembut, melangkah mendekati meja makan.

Naira yang sedang sibuk menuangkan teh hangat ke dalam cangkir menoleh, lalu menyambut suaminya dengan senyuman manis. "Sudah, Mas. Ini sarapannya juga sudah siap."

Satria melirik jam tangan perak yang melingkar di pergelangan tangannya dengan gurat segan. "Nai, hari ini aku harus berangkat lebih pagi karena ada upacara. Jadi... maaf sekali, sepertinya pagi ini aku tidak bisa mengantarmu ke toko kue seperti biasa."

Naira mengangguk paham tanpa gurat kecewa sedikit pun. "Tidak apa-apa, Mas, sungguh. Jangan tidak enak hati begitu. Aku bisa naik ojek daring atau angkutan umum nanti. Jaraknya kan dekat."

Satria tetap tampak kurang enak hati, hatinya merasa ada yang kurang jika tidak mengantar istrinya sendiri. "Besok aku antar lagi seperti biasa, ya."

Naira mengangguk kecil sambil menghidangkan piring berisi sarapan sederhana di depan suaminya. "Iya, Mas, jangan kepikiran terus. Ini memang sudah menjadi tugas dan tanggung jawab Mas sebagai ASN."

Usai sarapan kilat diselesaikan, mereka kini sudah berdiri bersama di depan pintu rumah yang terbuka. Satria membungkuk sedikit untuk mengenakan sepatu pantofel hitamnya yang mengilat. Sementara itu, Naira berdiri tegak di samping daun pintu, memperhatikan setiap gerak-gerik suaminya dengan saksama.

Entah mengapa... untaian ucapan Raisa kemarin siang di toko kue masih terus terngiang-ngiang dan berputar seperti kaset rusak di kepala Naira.

“Kurangi batasannya, Mbak... Lakukan pendekatan seperti orang pacaran... Sentuhan-sentuhan kecil...”

Naira menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan keberanian yang sempat timbul tenggelam.

"Mas Satria..." panggil Naira memecah kesunyian pagi.

"Iya? Kenapa?" Satria menegakkan tubuhnya kembali, menatap sang istri dengan dahi berkerut halus.

"Semangat kerjanya untuk hari ini," ucap Naira tulus.

Sebelum Satria sempat membalas ucapan tersebut, Naira memberanikan diri untuk melangkah maju satu langkah sedikit lebih dekat. Jarak di antara tubuh mereka kini memangkas habis, hanya terpaut beberapa puluh sentimeter saja hingga harum parfum masing-masing bisa tercium jelas.

Dengan senyum malu-malu yang membuat pipinya merona, kedua tangan lentik Naira terangkat ke atas. Ia merapikan sedikit lipatan kerah seragam cokelat Satria yang sebenarnya... sudah sangat rapi dan kaku.

"Nah, sudah," gumam Naira pelan, menepuk dada seragam suaminya ringan. "Baru sekarang aku sadar kalau dari tadi kerah baju Mas agak miring sedikit."

Satria tertegun sejenak menatap jemari istrinya yang bergerak di dadanya, sebelum akhirnya seulas senyum tipis yang hangat terukir di bibirnya. "Terima kasih, Nia."

Naira mengangguk kecil, jantungnya sudah berdegup tidak karuan. "Hati-hati di jalan, Mas."

"Iya, aku berangkat."

Seperti rutinitas baru mereka, Naira meraih tangan kanan suaminya lalu mencium punggung tangan itu dengan takzim. Namun kali ini, ada sebuah perubahan kecil. Saat Naira hendak melepaskan pegangannya untuk membiarkan Satria pergi... ia tidak langsung menarik tangannya menjauh.

Selama beberapa detik yang magis, jemari lentik Naira tetap menggenggam dan bertaut erat dengan telapak tangan besar Satria, seolah enggan untuk berpisah.

Satria yang menyadari perubahan sikap manis itu menatap lembut wajah istrinya, seulas senyum tak lepas dari wajahnya.

"Naira." panggil Satria lembut

"Hm? Iya, Mas?" Naira mendongak polos.

"Aku benar-benar harus berangkat sekarang, nanti terlambat upacara," pamit Satria dengan nada selembut mungkin, enggan merusak suasana manis ini.

"Ah... iya, Mas. Maaf," jawab Naira salah tingkah, barulah ia perlahan melepaskan genggaman tangannya dengan berat hati.

Satria terkekeh pendek lalu melangkah menuju motornya. Entah mengapa, rasa hangat dari genggaman tangan Naira seolah membekas di kulitnya, membuat senyuman pria kaku itu terus bertahan menghiasi wajahnya sepanjang perjalanan membelah jalanan menuju kantor kecamatan.

Sesampainya di rumah kembali setelah mengunci pintu, Naira langsung bergerak cepat membereskan meja makan. Saat sedang mencuci piring, sebuah ide mendadak melintas di dalam benaknya.

"Kalau hari ini Mas Satria sibuk dan belum sempat sarapan bagaimana aku membuat kan bekal dan kue penutup manis yang ia sukai?" gumam Naira, matanya berbinar senang dengan idenya sendiri.

Ia segera membuka pintu kulkas lebar-lebar. Kebetulan masih ada sisa ayam kecap bumbu pekat buatan mereka semalam yang tinggal dipanaskan. Dengan penuh semangat, Naira segera menyalakan kompor, memasak tumis sayur segar yang baru, menggoreng telur dadar gulung yang tebal, lalu menyiapkan seporsi nasi putih hangat yang masih mengepul.

Semua komponen makanan itu ditata dengan sangat rapi, estetik, dan higienis ke dalam rantang susun berwarna hijau tua kesayangan Satria. Tak lupa, di susunan paling atas... Naira memasukkan dua potong kue brownies panggang cokelat padat yang merupakan takaran favorit suaminya ke dalam wadah kotak kecil terpisah.

"Mudah-mudahan Mas Satria suka dengan kejutan kecil ini," harap Naira sembari tersenyum simpul, membayangkan ekspresi senang suaminya nanti.

✨✨✨✨

Sementara itu, di halaman luas Kantor Kecamatan...

Seluruh pegawai struktural maupun staf biasa sudah berbaris dengan sangat rapi di bawah terik matahari pagi yang mulai menghangat, mengikuti jalannya upacara rutin. Satria berdiri tegak di barisan depan bersama para pejabat eselon lainnya. Sikap tubuhnya tampak tegap, disiplin, dan berwibawa layaknya seorang Kasubag teladan.

Satu jam kemudian, upacara bendera akhirnya selesai ditunaikan. Para pegawai mulai membubarkan barisan dan berjalan berbondong-bondong kembali menuju ruangan divisi masing-masing untuk memulai pelayanan publik.

"Pak Satria," panggil sebuah suara perempuan dari arah belakang.

Satria menghentikan langkah jangkungnya, lalu berbalik badan. Seorang pegawai perempuan muda yang mengenakan seragam PNS rapi yang baru saja dimutasi ke kantor kecamatan minggu lalu menghampirinya sambil tersenyum ramah.

"Selamat pagi, Pak Satria," sapa pegawai itu sopan.

"Pagi," jawab Satria lempeng dan formal seperti biasa.

"Perkenalkan kembali Pak, saya Nabila, staf baru di bagian divisi perencanaan yang baru pindah dari kabupaten sebelah," ucap Nabila mengulurkan tangannya ramah.

Satria hanya menganggukkan kepalanya singkat tanpa membalas jabatan tangan, menjaga batasan profesionalitas. "Iya, selamat bergabung di kecamatan ini. Semoga bisa cepat menyesuaikan diri dengan ritme kerja di sini."

"Terima kasih banyak, Pak Satria."

Belum sempat percakapan singkat itu selesai, dari arah koridor datang lagi seorang pegawai perempuan lain membawa beberapa berkas. "Pak Satria, maaf menyela. Nanti setelah jam istirahat, boleh saya meminta arahan dan bimbingan sebentar soal kelengkapan administrasi laporan bulanan?"

"Boleh. Silakan datang ke ruangan saya, tapi setelah jam pelayanan masyarakat selesai," jawab Satria tegas dan solutif.

"Baik, terima kasih, Pak Kasubag!"

Doni yang sejak tadi memperhatikan interaksi itu dari kejauhan bersama Gea langsung menyenggol lengan temannya itu dengan tatapan jahil. "Waduh... lihat deh, Ge. Pak Kasubag kita yang kaku itu lagi-lagi jadi pusat perhatian para staf perempuan baru."

Gea menahan tawanya agar tidak meledak, menggeleng-gelengkan kepala. "Ya maklum saja sih, Don. Orangnya tinggi jangkung, penampilannya selalu rapi, jabatannya bagus, terus wajahnya juga lumayan kalau tidak sedang pasang muka lempeng. Untung saja Bu Naira istrinya nggak ikut lihat pemandangan ini, bisa cemburu berat dia."

Mereka berdua terkekeh pelan lalu melanjutkan langkah masuk ke dalam kantor. Sementara itu, Satria sama sekali tidak menyadari atau memedulikan obrolan iseng rekan-rekannya. Fokus utamanya hari ini murni hanya pada tumpukan berkas pekerjaan negara di atas mejanya.

Menjelang pukul sebelas siang...

Di toko kue milik Naira, suasana sudah mulai lengang setelah lonjakan pembeli pagi hari. Naira dengan hati-hati menutup tas kain pembungkus rantang hijau milik Satria, memastikan posisinya tegak agar kuah tumisan tidak tumpah.

"Raisa," panggil Naira lembut.

"Iya, Mbak? Ada apa?" Raisa menoleh dari balik meja kasir.

"Aku izin keluar sebentar ya sebelum jam istirahat siang ini. Boleh tolong titip jaga toko sebentar?" tanya Naira agak sungkan.

Raisa melirik tas kain hijau di tangan bosnya, lalu sebuah senyuman lebar nan menggoda langsung terbit di wajahnya. "Ciyee... mau mengantarkan bekal makan siang untuk suami tercinta ya, Mbak?"

Naira mengangguk malu-malu, menggigit bibir bawahnya. "Iya. Mumpung menunya masih hangat dan aku juga mau bawakan Cheese Cake kesukaannya"

Raisa memberikan pose hormat dengan ceria. "Siap kapten! Tenang saja, urusan toko biar aku yang handle sampai Mbak kembali. Nikmati waktu pacaran halalnya!"

"Terima kasih banyak ya, Raisa. Aku pergi dulu." Naira mengambil tas kain berisi rantang dan kotak brownies itu dengan hati yang berbunga-bunga. Langkah kakinya terasa ringan, ia tersenyum sendiri sepanjang jalan membayangkan wajah terkejut sekaligus senang Satria saat menerima bekal pertamanya ini

Namun, di saat yang bersamaan... sebuah kejadian tak terduga terjadi di halaman Kantor Kecamatan.

Seorang pegawai perempuan tampak berjalan terburu-buru keluar dari gedung utama menuju aula samping, kedua tangannya membawa setumpuk map dokumen tebal yang menutupi sebagian pandangan matanya.

Karena melangkah terlalu cepat dan kurang fokus, tumit sepatu hak tingginya mendadak tersangkut di sela ubin lantai halaman yang sedikit retak dan tidak rata.

"Aah!" pekik pegawai itu panik.

Keseimbangan tubuhnya hilang seketika, tubuhnya limbung dan oleng drastis ke arah depan. Map-map dokumen penting di tangannya hampir saja berhamburan jatuh ke tanah.

Secara refleks alami... Satria yang kebetulan baru saja keluar dari ruang rapat dan posisi tubuhnya berada paling dekat dengan pegawai tersebut segera mengulurkan kedua tangan panjangnya ke depan untuk menolong.

Bruk.

Kedua telapak tangan kokoh Satria dengan sigap menahan kedua belah bahu pegawai perempuan itu dengan kuat, menahan bobot tubuhnya agar tidak terhempas keras ke atas lantai semen halaman.

"Pelan-pelan kalau berjalan. Hati-hati dengan langkahmu," ucap Satria dengan suara baritonnya yang tegas, memastikan pegawai itu kembali berdiri tegak.

Pegawai perempuan itu perlahan mengangkat wajahnya yang pucat karena syok, menatap Satria dengan napas terengah. "Ma-maafkan saya, Pak Satria. Saya tadi kurang melihat jalan karena terburu-buru."

"Tidak apa-apa, yang penting dokumennya tidak rusak," jawab Satria tenang. Pria itu kemudian membungkuk sedikit, membantu mengambil beberapa map dokumen yang sempat merosot jatuh ke dekat ujung sepatunya.

Tepat pada detik yang krusial itulah... Naira datang arah gerbang yang memang tokohnya tidak jauh dari tempat kantor kecamatan suaminya bekerja hanya bersebelahan gang saja.

Namun... begitu langkah kaki cantiknya baru saja melewati gerbang besi kantor, sepasang mata indahnya langsung tertuju lurus ke arah halaman tengah.

Di sana, di bawah naungan pohon rindang... Naira melihat dengan jelas pemandangan yang seketika membuat pasokan udara di parunya menghilang.

Seketika bekal yang di pegang Naira terasa begitu berat dan jatuh dari tangannya.

"Mas.."

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!