Di hari ketika seluruh mimpinya hancur, Lin Yuan divonis memiliki Akar Roh Rusak Total dan diusir dari Sekte Awan Langit.
Tunangannya meninggalkannya, sahabat menjauhinya, dan musuh-musuhnya memilih membunuhnya agar tak menyisakan ancaman.
Namun di ambang kematian, sebuah sistem kuno terbangun.
**Sistem Pemakan Takdir.**
Selama mampu mengalahkan lawannya, Lin Yuan dapat melahap takdir, bakat, keberuntungan, bahkan kesempatan hidup mereka untuk menjadi miliknya.
Sejak malam itu, seorang "sampah" yang ditertawakan seluruh dunia mulai menapaki jalan yang belum pernah dilalui siapa pun.
Jika langit menolak memberinya takdir...
Maka ia akan memakan takdir langit itu sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Otna Forever, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12: Komandan Bayangan Takdir
Sepasang mata emas itu menatap lurus ke arah Lin Yuan dengan tatapan yang sangat dingin dan tenang.
Tekanan yang terpancar darinya begitu besar hingga udara di sekitar reruntuhan kota kuno terasa membeku seketika.
Lin Yuan refleks menggenggam pedang besinya lebih erat, keringat dingin mulai mengalir di dahinya yang pucat.
Wanita berjubah merah itu tidak mengeluarkan aura Qi sedikit pun, namun kehadirannya saja sudah membuat jantung Lin Yuan berdebar.
Suara sistem bergema berturut-turut di dalam benaknya, memberikan peringatan bahaya ekstrem yang belum pernah dirasakan sebelumnya.
[Ancaman ekstrem terdeteksi! Peluang kemenangan Tuan saat ini hanya 0,8%. Disarankan segera menghindari pertempuran!]
Lin Yuan menarik napas panjang untuk menenangkan diri. "Kalau memang harus bertarung, aku tidak akan pernah mundur lagi."
Mata emas wanita itu sedikit bergetar mendengar jawaban tersebut, seolah terkejut dengan keberanian yang ditunjukkan Lin Yuan.
Di belakangnya, puluhan Bayangan Takdir masih berlutut tanpa bergerak. Tidak satu pun berani mengangkat kepala mereka.
Penjaga Makam melangkah maju ke depan, tongkat batunya menghantam lantai batu dengan suara dentuman yang berat.
DUG! Gelombang energi hitam menyebar perlahan ke segala arah.
"Komandan, sudah cukup. Dia belum waktunya bertemu denganmu sekarang."
Wanita berjubah merah mengalihkan pandangannya kepada Penjaga Makam.
"Belum waktunya?" Nada suaranya datar namun sangat tajam.
"Selama puluhan ribu tahun, aku hanya menunggu kedatangan satu orang saja di tempat yang sunyi ini."
Tatapannya kembali jatuh kepada Lin Yuan. "Dan sekarang, orang yang aku tunggu itu akhirnya berdiri di hadapanku."
Lin Yuan mengernyitkan dahi. "Apa maksudmu menunggu kedatanganku?" tanyanya dengan penuh kebingungan.
Wanita itu tidak menjawab, dia hanya mengamati wajah Lin Yuan seolah sedang mencari sesuatu yang tersembunyi jauh di dalam.
Beberapa saat kemudian, dia menggelengkan kepalanya perlahan.
"Bukan, wajahmu berbeda dan suaramu juga sangat asing bagiku."
Dia menutup kedua matanya sesaat. "Tetapi Gerbang Agung itu tidak pernah salah dalam memilih seorang pewaris sejati."
Begitu kalimat itu selesai diucapkan, Gerbang Pemakan Takdir di dalam lautan kesadaran Lin Yuan kembali bergetar dengan hebat.
KLANG! KLANG!
Delapan rantai emas yang masih tersegel bergetar bersamaan, memancarkan cahaya hitam samar dari balik gerbang kuno.
Wanita berjubah merah membuka matanya kembali, tatapan emasnya kali ini dipenuhi sedikit perasaan rindu yang mendalam.
Sudah sangat lama dia tidak merasakan getaran energi seperti itu di dalam wilayah Kota Kuno Takdir ini.
Penjaga Makam menghela napas pelan.
"Komandan, jangan mencoba membangunkan kembali kenangan yang seharusnya tetap terkubur selamanya."
Wanita itu tersenyum tipis. "Sulit, karena setiap kali Gerbang itu muncul, masa lalu selalu ikut terbangun secara otomatis."
Lin Yuan semakin bingung dengan semua ucapan misterius itu. Semua orang di sini seolah mengenal rahasia tentang dirinya.
Pria berjubah putih menunggu, Bayangan Takdir berkata dia telah kembali, dan kini Komandan Bayangan menunjukkan sikap yang sama.
Apakah semua ini hanya kebetulan? Ataukah memang ada rahasia besar tentang asal-usul dirinya yang belum pernah terungkap?
Suara wanita berjubah merah kembali terdengar memecah keheningan.
"Lin Yuan, jawablah satu pertanyaan sederhana dariku sekarang juga."
"Untuk alasan apa kau menginginkan kekuatan yang sangat besar itu?"
Pertanyaan itu membuat Lin Yuan terdiam sejenak. Dia teringat malam hujan di Sekte Awan Langit, tatapan meremehkan para murid, dan wajah dingin Zhao Feng.
Lin Yuan perlahan mengangkat kepalanya dengan tatapan mata yang sangat tajam.
"Aku ingin menjadi kuat agar tidak tertindas."
"Aku ingin menjadi kuat agar tidak ada lagi orang yang bisa menentukan jalan hidupku dengan semena-mena."
"Aku ingin menentukan Takdirku sendiri!" serunya dengan penuh tekad.
Keheningan menyelimuti jalanan kota setelah pernyataan berani itu diucapkan.
Wanita berjubah merah menatapnya tanpa berkedip, beberapa saat kemudian sudut bibirnya perlahan terangkat membentuk senyum tipis.
"Itu adalah jawaban yang sangat bodoh," ucapnya tenang.
Lin Yuan membeku mendengar penilaian yang menohok tersebut.
Namun sebelum dia sempat berbicara, wanita itu melanjutkan ucapannya. "Dan justru karena kebodohan itulah, kau masih memenuhi syarat."
Seketika, dia menggenggam gagang pedang di pinggangnya.
SRAANG...
Suara logam bergema pelan saat bilah pedang keluar sedikit dari sarungnya.
Langit Kota Kuno Takdir langsung berubah warna menjadi merah darah, sementara awan hitam berputar hebat di atas reruntuhan kota.
Tanah bergetar hebat, puluhan Bayangan Takdir menundukkan kepala mereka semakin dalam seolah menghormati kekuatan yang sangat agung.
Bahkan Penjaga Makam memasang ekspresi sangat tegang.
"Komandan, jangan sampai kau menghancurkan seluruh kota ini dengan kekuatanmu!" teriaknya.
Wanita berjubah merah tidak menjawab, tatapan emasnya tetap tertuju kepada Lin Yuan.
"Lihatlah baik-baik serangan yang akan aku lancarkan. Aku hanya akan mengayunkan pedang ini satu kali saja kepadamu sekarang," ucapnya dengan nada tenang.
SRAANG...
Bilah pedang itu keluar sedikit lagi dari sarungnya, hanya beberapa senti saja namun tekanan di kota meningkat pesat.
Lin Yuan merasa seolah sebuah gunung raksasa menekan kedua bahunya hingga lututnya bergetar hebat menahan beban yang berat.
Retakan mulai memenuhi lantai batu di bawah kakinya, sementara suara sistem terus bergema memberikan peringatan bahaya yang mendesak.
[Tekanan ekstrem terdeteksi! Tubuh Tuan mengalami beban di luar batas normal. Peluang bertahan hidup menurun drastis menjadi 0,6%!]
Lin Yuan menggertakkan giginya rapat-rapat, darah perlahan mengalir dari sudut bibirnya akibat tekanan energi yang luar biasa dahsyat.
Namun, dia tidak mundur satu langkah pun, tatapan matanya tetap tertuju lurus kepada wanita berjubah merah di hadapannya.
Melihat hal tersebut, sepasang mata emas sang komandan memancarkan sedikit kekaguman.
"Tidak buruk, setidaknya kau tidak memilih untuk berlutut."
Begitu kalimat itu selesai, dia mengayunkan pedangnya dengan gerakan yang sangat lambat namun mengandung kekuatan yang sangat mematikan.
Di mata Lin Yuan, segalanya berubah drastis. Mata Takdir aktif hingga batas maksimalnya, menyingkapkan puluhan ribu benang Takdir di langit.
Setiap benang menunjukkan kemungkinan yang berbeda: menghindar ke kiri berarti mati, menghindar ke kanan juga berarti kematian yang tragis.
Dalam sepersekian detik, Lin Yuan melihat ribuan kemungkinan masa depan dan semuanya berakhir dengan kematian yang mengerikan baginya.
Keringat dingin membasahi seluruh punggungnya. "Mustahil... Apakah tidak ada satu pun jalan hidup bagiku sekarang?" batinnya.
Gerbang Pemakan Takdir tiba-tiba bergetar hebat.
KLANG!
Salah satu rantai emas memancarkan cahaya hitam yang sangat terang dan pekat.
Di antara puluhan ribu benang Takdir, muncul satu jalur yang sangat redup dan hampir tidak terlihat oleh mata biasa.
Suara sistem terdengar memberikan petunjuk terakhir.
[Kemungkinan hidup ditemukan! Segera ikuti jalur tersebut dengan teknik Langkah Pembelah Takdir sekarang!]
Tanpa berpikir panjang lagi, Lin Yuan segera bergerak mengikuti jalur redup tersebut. Langkah pertama, dia justru maju ke arah lawan.
Penjaga Makam membelalakkan matanya karena terkejut. "Dia benar-benar gila!" teriaknya saat melihat Lin Yuan justru mendekati serangan lawan.
Langkah kedua, tubuhnya berputar ringan mengikuti satu benang cahaya yang sangat tipis di tengah hiruk-pikuk energi pedang merah.
Langkah ketiga, dia merendahkan tubuhnya hingga hampir menyentuh tanah yang sudah hancur berantakan akibat tekanan energi yang besar.
Detik berikutnya, cahaya pedang merah melintas di atasnya. Tidak ada ledakan dahsyat, namun seluruh ruang di belakangnya terbelah lurus sempurna.
Gunung-gunung batu di kejauhan terbelah menjadi dua bagian, sementara kabut hitam lenyap dalam satu garis panjang yang mengerikan.
Lin Yuan masih berdiri tegak, namun lengan kirinya terluka parah dengan sayatan tipis yang membelah lengan bajunya hingga berdarah deras.
Wanita berjubah merah menatapnya beberapa saat sebelum akhirnya memasukkan kembali pedangnya ke dalam sarung dengan gerakan yang sangat anggun.
SRAAK.
Suasana yang mencekam langsung menghilang seketika, tekanan yang memenuhi kota juga lenyap seolah tidak pernah terjadi apa pun sebelumnya.
Lin Yuan langsung berlutut dengan napas yang memburu hebat, seluruh tubuhnya gemetar karena baru saja lolos dari maut yang nyata.
Sang komandan mengangguk pelan memberikan pengakuan. "Kau belum cukup kuat, tetapi kau memiliki hak untuk melangkah lebih jauh lagi."
Begitu kata-kata itu terucap, puluhan Bayangan Takdir serempak berdiri dan menundukkan kepala mereka dengan penuh rasa hormat kepada Lin Yuan.
Penjaga Makam tersenyum tipis melihat perkembangan tersebut. "Mulai hari ini, mereka semua telah mengakui keberadaanmu sebagai pewaris yang sah."
Wanita berjubah merah mengangkat tangan kirinya, sebuah lencana hitam kuno perlahan terbentuk dari kabut dan dilemparkan ke arah Lin Yuan.
Lin Yuan menangkap lencana tersebut. Saat jarinya menyentuh permukaannya, suara sistem kembali bergema memberikan informasi mengenai item baru.
[Item Khusus diperoleh: Lencana Penjelajah Kota Takdir. Sebagian wilayah kota tidak lagi menganggap Tuan sebagai penyusup asing.]
Tatapan wanita berjubah merah kembali menjadi tenang.
"Pergilah ke Balai Takdir sekarang, jawaban pertama yang kau cari berada di sana."
.........
Bersambung...