NovelToon NovelToon
Marcella & Olivia

Marcella & Olivia

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Teen School/College / Diam-Diam Cinta / Pihak Ketiga
Popularitas:467
Nilai: 5
Nama Author: Denny Ramdhani

Lima tahun menjalin hubungan dengan Marcella, hidup Doni terasa begitu tenang. Marcella adalah definisi wanita ideal. Cantik, cerdas, anggun, dan penuh perhatian. Doni yakin masa depannya sudah terkunci pada wanita itu. Namun, keyakinan tersebut mendadak goyah saat suatu hari dia bertamu ke rumah kekasihnya itu, dan bertemu dengan adik kandungnya.

Olivia namanya. Sifatnya bertolak belakang dengan sang kakak. Enerjik, meletup-letup, dan sporty. Pertemuan pertama disambung dengan pertukaran pesan sampai tengah malam menyalakan percikan rasa yang salah di hati Doni. Muncul kedekatan rahasia yang melahirkan dilema: bertahan demi cinta yang telah dijalin lama, atau hanyut oleh debaran baru yang lebih memicu adrenalin.

Terjebak dalam rasa bersalah, Doni melarikan diri dengan menumpahkan seluruh kegelisahan dan rahasianya menjadi sebuah cerita fiksi di NovelToon. Ironisnya, novel itu justru viral dan ikut dibaca oleh kedua saudari itu. Di antara dua rasa, siapakah yang akan terluka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Denny Ramdhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 34: Satu Meja Makan

Psst… Psst…

Doni menyemprotkan sedikit parfum ke arah leher dan ketiaknya. Dia sudah bersiap-siap untuk pergi ke rumah Marcella untuk memenuhi ajakan makan malam yang Marcella sebutkan tadi malam. Jarum jam sudah menunjukkan lima belas menit sebelum pukul lima sore saat Doni berdiri di depan cermin kamar kosnya. Dia merapikan kerah kemeja kasual lengan pendek berwarna abu-abu yang dikenakannya.

Walaupun hanya makan malam di rumah, namun tetap saja Doni harus tampil rapi dan menjaga sopan santun. Karena hari ini tidak ada jadwal kuliah, Doni jadi punya banyak waktu senggang untuk menyetrika kemeja yang dipakainya, serta kaus Polo milik Papa Marcella yang akan dia kembalikan hari ini. Setelah merasa cukup rapi dan wangi, Doni menyambar sebuah paper bag cokelat berisi kaus Polo yang sudah disetrikanya itu, lalu melangkah keluar kamar kos menuju ke parkiran.

Tak lama kemudian, Doni sudah berada di atas motornya. Dia meluncur membelah jalanan sore menuju rumah keluarga Marcella. Di sepanjang jalan, pikirannya tak henti membayangkan suasana makan malam nanti. Mungkin akan hampir sama dengan suasana beberapa hari lalu di saat dia berkunjung setelah hari yang melelahkan di supermarket, bedanya nanti akan ada sosok Papa. Doni hanya berharap agar dia bisa mengendalikan debaran jantungnya saat berhadapan dengan Olivia, gadis yang baru kemarin sore menerobos kamar kosnya.

Begitu motor Doni memasuki halaman rumah bergaya modern minimalis itu, pintu depan sudah terbuka. Marcella keluar menyambutnya dengan senyum lebar. Sudah bukan rahasia lagi kalau Marcella adalah sosok wanita yang perfeksionis, dia selalu memperhatikan penampilannya. Sore ini dia tampil manis mengenakan atasan henley top berbahan rajut tipis berwarna pastel dengan aksen kancing kecil di bawah leher, dipadu dengan celana kulot kasual. Rambut panjangnya terurai rapi, dan kacamata berbingkai tipisnya yang masih bertengger cantik di hidungnya, memberikan kesan casual-chic yang anggun khas dirinya.

“Aku telat nggak, Cell?” tanya Doni setelah melepas helmnya.

“Nggak, kok. Pas!” jawab Marcella gembira sambil merangkul lengan Doni.

“Kamu kok, pakai kacamata? Abis ngerjain tugas?” tanya Doni heran.

“Eh, iya! Astaga, lupa aku lepas”, jawab Marcella seraya melepas kacamatanya. “Tadi abis bantuin Mama dikit-dikit, aku pakai buat baca resep”, sambungnya dengan senyum manisnya.

Mereka berdua berjalan masuk ke dalam rumah. Suasana hangat khas keluarga langsung menyapa. Dari arah dapur, aroma wangi masakan Mama memenuhi ruangan. Tak lama kemudian, sosok pria paruh baya dengan wibawa yang tenang muncul dari arah ruang keluarga, Papa Marcella.

“Eh, Nak Doni. Udah sampai”, sapa Papa ramah, menepuk bahu Doni pelan.

“Sore, Pa. Iya, baru aja nyampe”, balas Doni sopan. Dia kemudian menyerahkan paper bag cokelat di tangannya. “Oh iya, Pa. Ini kaus Polo Papa yang kemarin dipinjemin ke saya. Udah dicuci dan dilipat rapi. Terima kasih banyak ya, Pa”

“Loh?” Papa sedikit terkejut, lalu membuka sedikit paper bag itu. “Iya bener, ini punya Papa. Kok bisa ada di kamu? Papa kayaknya nggak inget pernah minjemin”, tanya Papa heran.

“Jadi gini, Pa. Beberapa hari lalu pas Papa masih di luar kota, saya diajakin Marcella juga buat makan malam disini. Trus, pas sampai disini, Mama nyuruh saya mandi, dan ganti baju pakai baju Papa aja, katanya. Makanya baju itu ada di saya. Maaf kalau lancang ya, Pa. Main ambil-ambil aja”, Doni menjelaskan panjang lebar.

“Oh, begitu ceritanya”, ucap Papa sambil tertawa khas bapak-bapak. “Iya, nggak apa-apa banget kok, Nak Doni. Aduh, kamu ini sopan banget. Sampai dicuciin segala lagi, baju Papa”

“Tuh kan, Pa. Doni mah emang rapi anaknya”, timpal Mama yang baru keluar dari dapur sambil membawa mangkuk besar berisi sup iga hangat. “Ayo, ayo. Langsung ke meja makan aja. Mumpung Papa udah pulang dari luar kota dan si Oliv juga tumben-tumbenan lagi ada di rumah hari ini. Jarang-jarang kan kita ngumpul lengkap begini”, ajak Mama.

Doni mengangguk dan melangkah menuju ruang makan. Namun, langkah kakinya mendadak tertahan sejenak saat melihat sosok Olivia baru saja turun dari tangga. Gadis itu mengenakan kaus oversized hitam dan celana pendek. Dia tampak sedang mengikat rambutnya yang agak basah sehabis mandi. Tidak seperti kakaknya yang selalu memperhatikan penampilan, Olivia selalu begini, cuek dan apa adanya. Mata mereka beradu selama beberapa detik. Olivia tampak terkejut kecil melihat keberadaan Doni, namun dengan sangat cepat dia menguasai raut wajahnya kembali menjadi cuek dan santai.

“Eh, ada Kak Doni”, sapa Olivia singkat tanpa beban.

“Oliv…” panggil Mama pelan. “Kamu kok, pakaiannya gitu sih. Ada tamu, loh”, sambung Mama sambil menunjuk Doni.

“Ya elah, Ma. Kak Doni doang. Berapa hari yang lalu kan, kesini juga. Santai aja”, jawab Olivia cuek, lalu langsung mengambil posisi duduk di salah satu kursi meja makan. Mama hanya menggelengkan kepalanya pasrah mendengar jawaban putri bungsunya itu.

Doni juga sudah menyusun posisi duduknya. Dia duduk di sebelah Marcella, yang artinya dia berada tepat berhadapan langsung dengan Olivia di seberang meja. Posisi yang tak dapat dihindari oleh Doni ini sama persis dengan posisi duduknya beberapa hari lalu.

Makan malam dimulai dengan kehangatan. Papa bercerita singkat mengenai pekerjaannya di luar kota, sementara Mama sibuk mengambilkan nasi dan lauk untuk Papa dan Doni. Marcella sesekali menimpali cerita Papanya dengan tawa renyah, sesekali jemarinya mengelus lengan Doni di bawah meja untuk menunjukkan rasa sayangnya.

Di tengah kehangatan keluarga itu, Doni justru merasa berada di dalam ruangan yang menyusut. Setiap kali dia menyuap nasi, pandangannya tak sengaja berbenturan dengan mata cokelat Olivia. Gadis SMA itu tampak begitu tenang, mengunyah makanannya dengan santai seolah rahasia besar di antara mereka sama sekali tidak pernah terjadi. Padahal baru kemarin dia menginvasi kamar kos Doni.

“…Nah, waktu itu Papa jadi inget Oliv soalnya kan dia suka banget sama Chelsea”, cerita Papa yang membuat Doni dan Olivia yang tadinya saling bertatapan, menjadi kompak menoleh ke arah Papa. “Di situ, Papa beliin dia tumbler biru berlogo Chelsea yang limited edition buat kado ulang tahunnya. Inget nggak kamu, Liv?” tanya Papa menoleh ke arah Olivia.

“Itu bukannya yang hilang di GOR, Liv?” timpal Marcella sebelum Olivia menjawab pertanyaan Papanya.

Uhuk!

Doni hampir saja tersedak kuah sup iga yang baru ditelannya. Dia segera meraih gelas air putih dan meminumnya cepat-cepat untuk menutupi reaksinya.

“Hah? Hilang, Liv?” tanya Papa kaget. “Kok bisa?”

Olivia di seberang meja menghentikan gerak sendoknya sejenak. Dia melirik Doni yang sedang mengusap bibirnya dengan tisu, lalu kembali menatap Papa dan kakaknya dengan ekspresi sangat polos.

“Tenang, tenang semuanya”, ucap Olivia santai. “Pertama, iya, sempet hilang. Kedua, udah ketemu! Aman”, sambungnya sambil mengangkat jempol.

“Loh? Udah ketemu, Liv? Kapan? Kok nggak bilang?” tanya Marcella menginterogasi.

“Iya, Kak. Baru kemarin sore ketemu. Sori nggak bilang”, jawab Olivia tersenyum sambil menyendok potongan wortel ke mulutnya.

“Iya, nggak apa-apa. Yang penting udah ketemu. Syukur, deh”, Marcella tersenyum lega. “Soalnya kamu tuh kebiasaan, barang pribadi suka teledor nyimpennya. Nanti kalau ada barang penting lain yang ketinggalan di tempat orang, gimana?”

Doni memegang gelasnya agak erat. Kalimat Marcella barusan seperti sindiran tak sengaja yang menghujam dadanya tepat di sasaran. Di seberang meja, Olivia meneguk air mineral dinginnya perlahan. Dari balik gelas yang bening, matanya melirik ke arah Doni dengan kilatan senyum tipis yang penuh arti.

1
Aisyah Utami
😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!