NovelToon NovelToon
Warisan Dua Ratus Triliun

Warisan Dua Ratus Triliun

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:239
Nilai: 5
Nama Author: Lawa Amora

bagaimana rasanya jika tubuh sendiri berada ditubuh orang lain, bahkan tau-tau sudah memiliki suami dan memperebutkan warisan dua ratus triliun?

Yuk ikuti kisah Warisan dua ratus triliun!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lawa Amora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22

"Kamu berubah, Nadira. Atau mungkin kamu hanya lelah berpura-pura menjadi orang yang

tidak kamu sukai?" tanya Arga pelan.

Nadira memilih untuk diam, membiarkan keheningan di koridor itu menjawab pertanyaan suaminya. Angin sore yang masuk dari jendela menyibak rambut mereka berdua, membawa aroma parfum Arga yang sedikit maskulin dan menenangkan.

Nadira menarik napas panjang, mencoba menenangkan pikirannya yang mulai kacau. Ia harus fokus pada tujuannya, namun hatinya mulai terombang-ambing oleh rasa simpati

yang baru tumbuh.

"Aku hanya ingin kita bisa lebih saling memahami. Tidak hanya

soal uang atau warisan, tapi soal kita." ucap Nadira dengan suara yang sedikit bergetar.

Arga menoleh ke arahnya, mata mereka bertemu dalam tatapan yang intens.

"Memahami itu kata yang berat, Nadira. Tapi aku menghargainya." Arga mengusap lengan Nadira dengan lembut, sebuah sentuhan yang sangat asing namun terasa hangat di kulitnya.

"Ayo, kita turun. Pelayan sudah menyiapkan makan siang di ruang makan utama."

Mendengar ajakan itu, Nadira merasakan sedikit ketegangan. Makan siang bersama

keluarga besar biasanya adalah ajang pertempuran verbal yang melelahkan. Namun, melihat ketenangan Arga saat ini, ia merasa sedikit lebih berani untuk menghadapi apa

pun yang akan terjadi di meja makan nanti. Ia mengangguk dan mulai berjalan di samping

Arga.

Mereka melangkah meninggalkan koridor yang sunyi, menuju tangga utama yang megah. Nadira melirik punggung Arga yang tegak, merasakan kebanggaan yang aneh terhadap pria itu. Visi propertinya, ketenangannya saat berbicara di telepon, dan cara ia memandang Nadira saat ini membuat semua rencana jahatnya terasa seperti debu yang tertiup angin.

"Arga," panggil Nadira saat mereka sampai di anak tangga terakhir. Arga berhenti dan

menoleh, menunggu kata-kata dari istrinya.

"Apa pun yang terjadi nanti di meja makan, aku akan berada di sisimu. Aku tidak akan membiarkan mereka merendahkanmu lagi." ucap Nadira dengan nada yang tegas, mencoba menunjukkan sisi yang selama ini terpendam. Arga tersenyum tipis, sebuah senyuman yang jarang sekali ia tunjukkan pada siapa pun.

"Terima kasih, Nadira. Tapi kamu tidak perlu melawannya demi aku. Cukup jaga dirimu

sendiri dan jangan ikut campur jika Shegan mulai menyerang." Arga mengusap rambut

Nadira dengan lembut sebelum akhirnya membuka pintu ruang makan.

Bau masakan yang kaya rempah langsung menyambar hidung mereka berdua saat pintu dibuka. Ruang makan yang luas itu sudah dipenuhi oleh anggota keluarga besar yang lain, termasuk Shegan yang sedang duduk di ujung meja dengan wajah masam. Nadira

menghela napas panjang, mempersiapkan dirinya untuk babak baru dalam kehidupan

barunya di tubuh wanita jahat ini.

Suara denting sendok yang beradu dengan piring porselen memecah keheningan ruang

makan siang itu. Nadira mengambil mangkuk sup dari depan Arga sebelum pria itu sempat

mengulurkannya. Uap panas dari kuah bening itu langsung menyengat wajah Arga,

membuatnya mengerutkan kening sesaat. Ia meletakkan mangkuk itu tepat di hadapan

suaminya dengan gerakan yang sengaja dibuat lambat agar terlihat peduli.

Arga menatap mangkuk itu sejenak, lalu mengangguk tipis tanpa banyak bicara.

"Kamu belum makan sejak tadi pagi," kata Nadira, suaranya sengaja diturunkan agar tidak terdengar seperti perintah. Arga hanya menarik napas panjang sebelum membalasnya dengan suara serak.

"Makasih. Ini sudah dingin di perut sejak tadi." Ia mulai menyendok sup itu, namun tangannya berhenti di udara saat mata itu tak sengaja bertemu dengan tatapan Nadira. Ada keraguan di sana, seolah dia sedang mengukur seberapa jauh dia bisa mempercayai perempuan yang kini menempati tubuh istri saudaranya itu.

Arga meletakkan sendoknya kembali dengan bunyi pelan.

"Kamu tak akan pernah mengerti rasanya terjebak dalam pernikahan yang kamu tahu hanya soal angka dan aset." Nadira tidak memotong, hanya membiarkan punggungnya bersandar ke sandaran kursi kayu jati yang keras.

Ia melihat bagaimana jemari Arga menegang memegang sendok, urat nadinya menonjol di

tangan yang biasanya tersembunyi balik lengan kemeja rapi.

"Aku bukan pilihan pertama mereka, dan aku bukan pilihan yang mereka inginkan sampai akhirnya kontrak warisan itu turun," lanjut Arga, matanya menatap kosong ke arah jendela besar yang menghadap kolam renang.

Nadira merasa ada celah di sana, sebuah peluang untuk menarik benang-benang

kepercayaan yang selama ini kusut. Ia tidak ingin terlihat seperti Dinda yang akan

menertawakan kelemahan pria itu.

"Aku tahu rasanya jadi pion dalam permainan orang lain," jawab Nadira, kali ini nada suaranya lebih rendah, lebih jujur. Arga mendongak, keningnya berkerut dalam.

"Kamu? Tapi kamu... kamu selalu tampak menguasai segalanya."

Nadira hanya tersenyum tipis, mencoba menutupi kenyataan bahwa dia adalah jiwa yang asing di tubuh Clarissa.

"Tidak semua orang yang berdiri di atas panggung sebenarnya ingin di situ," balas Nadira sambil memainkan tepi gelas airnya. Arga terdiam, menatap Nadira dengan cara yang berbeda dari sebelumnya. Tidak ada lagi sinisme di mata pria itu, hanya rasa lelah yang sangat dalam.

"Aku dulu punya mimpi sendiri," bisik Arga, suaranya hampir tidak terdengar karena suara AC yang menyala di sudut ruangan. "Tapi sekarang, aku hanya ingin keluar dari rumah ini tanpa harus kehilangan harga diri."

Ketegangan di udara perlahan mencair, digantikan oleh kejujuran yang getir. Nadira

menyadari bahwa ini adalah pertama kalinya mereka berdua benar-benar berbicara tanpa

topeng sosial yang berat. Tanpa Clarissa yang suka menyela dengan ejekan tajam, mereka

bisa melihat satu sama lain sebagai manusia yang terluka.

Nadira merasa simpati tumbuh di dadanya, sebuah emosi yang berbahaya jika dia tidak hati-hati. Dia ingin warisan itu, tapi dia juga mulai peduli pada pria di depannya yang terlihat begitu rapuh.

"Kita bisa saling membantu," kata Nadira tiba-tiba, membuat pria itu tertegun. "Aku

butuh sekutu di sini, dan kamu butuh jalan keluar. Jika kita bekerja sama, warisan itu bisa jadi kemenangan bagi kita berdua, bukan cuma untuk saudara-saudaramu yang lain."

Nadira mencoba menyusun kalimat yang terdengar seperti aliansi strategis, padahal dalam hatinya dia hanya ingin memastikan Arga tidak menjadi rintangan bagi ambisinya

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!