NovelToon NovelToon
Putri Yang Hilang

Putri Yang Hilang

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintapertama / Balas Dendam / Keluarga & Kasih Sayang / Detektif / Teen School/College / Romansa-Teen school / Masalah Pertumbuhan / Tamat
Popularitas:71.7k
Nilai: 5
Nama Author: Tika77h

" Tanda tangani surat pengalihan perusahaan Wisesa Grup, kalau tidak mau, kalian semua akan kami siksa "Gertak Vera, ibu tiri Hardiansyah.
Dengan disaksikan istrinya Kiara, Hardiansyah menandatangani pernyataan penyerahan pengelolaan perusahaan.
Juna menantu Hardiansyah mendengar dibalik pintu baja, ia bersembunyi di lorong bersama Alissa istrinya yang baru melahirkan satu minggu.
Aruna Putri Permana yang baru berusia satu minggu dibawa Jono dan Isah, supir serta pengasuh setia keluarga Hardiansyah, mereka telah menunggu Juna yang lewat lorong di rumah kecil disebelah rumah utama sampai dua jam tak kunjung datang, sehingga mereka berpendapat kalau keluarga Hardiansyah telah dibunuh maka untuk menyelamatkan Aruna sebagai keturunan Wisesa, Jono dan Isah lari ke Jogja.
AFfandra cowok tampan anak Ferdiansyah harus pindah sekolah ke Jogja di SMA Aruna sekolah bahkan sekelas dengan Aruna.
Tasya, ikut pindah ke sekolah Ffandra dan sekelas dengan Ffandra juga Runa.
Penasaran? baca ya cerita ku.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tika77h, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 27 Masuk Sekolah

Aruna POV

Seperti mimpi, ya ini mimpi buruukku, tak terbayangkan di benakku mau kehilangan kedua orang tuaku.

" Ya dua orang tua yang selalu memberi cinta padaku tiba tiba telah meninggalkanku tanpa memberi pesan," aku menangis di kamar mereka, aku sangat rindu padanya, hanya bisa menciumi bau khas kamarnya, malam ini sudah satu minggu kepergian bapak dan bunda, Rinda sama Sisi masih menemaniku, bahkan Rinda telah memindahkan barang barang ke rumahku.

" Run, jangan tangisi terus kepergian orangtuamu, kasihan mereka," Nenek masuk ke kamar tidur orangtuaku, karena ia tahu kalau aku berada disitu cukup lama, Nenek mengelus elus rambut punggung kepalaku.

" Cucuku yang paling cantik, Nenek tahu kalau kamu sangat kehilangan Bunda sama Bapak."

" Iya Nek, aku lagi kangen, hatiku serasa damai menciumi bau khas mereka Nek."

" Sambil doakan mereka ya, biar lapang disana."

" Iya Nek."

" Nenek akan selalu menemanimu, sesuai permintaanmu."

" Bener Nek," aku bangkit dan memeluk erat tubuh tua nenekku, kuciumi pipi rentanya lembut, bahkan malam ini pertama kali aku bisa tersenyum, dia kupandangi wajahnya yang menyambut senyumanku, dan kami akhirnya saling memeluk.

" Run, Nenek jadi nelangsa, abis sejak dulu tak mau nuruti permintaan Bundamu untuk berkumpul disini, mungkin kalau aku nuruti tak merasa menyesal ya Run."

" Iya Nek, malam ini tidur di kamar ini ya," Nenek mengangguk.

" Thok thok, Run besok masuk sekolah ya," Rinda terus membuka pintu lalu mendekatiku saat aku lagi berpelukkan dengan Nenek.

" Iya Nda, naik angkutan umum saja ya."

" Ffandra enggak cerita ke kamu, klo dia mau menjemput kita."

" Cerita sih cuman aku enggak enak hati saja selalu merepotkannya,"

" Kan sejalan dengan kita, apalagi ia ikhlas, juga aku sempat nguping pembicaraan Oom Ferdi dengan tante Mia," aku sempat tak nyaman, takut kalau orang tua Ffandra keberatan padaku.

" Yaaang dibicarakan apa Nda? sempat tergagap aku, bahkan dadaaku bergemuruh.

" Katanya almarhum bapakmu menitipkan kamu ke Oom Ferdi, bahkan saat jemput kamu di stasiun bapak kirim pesan ke Papanya Ffandra agar kelak Oom Ferdi jadi wali nikahmu."

" Bapak kaya sudah kerasa apa ya Nda?"

" Iya kelihatannya lho Run," karena Runa masih diliputi rasa duka, tak mikir panjang, apalagi belum kepikiran menikah, wong menerima cinta Ffandra saja belum bisa, apalagi mikir nikah.

" Sudah pada tidur besok kesiangan."

" Iya Nek, oh ya Nda aku pengin tidur sama nenek di kamar bapak dan bunda, kamu dengan Sisi ya," Rinda keluar, pintu kamar ditutup, aku dan nenek berbaring bersebelahan aku miring sambil memeluk tubuh nenek, sedang nenek mengecup ubun ubunku lembut, dan rasa kantuk tak tertahankan.

Pagi pagi Ffandra datang lebih awal, bu lik di bantu Sisi sama Rinda masak untuk sarapan pagi, sementara keluarga sudah pada pulang baik dari pihak keluarga bapak maupun bunda jadi hanya nenek dari bunda yang menemaniku. Dan aku bersyukur baik keluarga dari pihak bunda atau bapak tidak rese tentang harta, dan sumbangan dari berbagai pihak sengaja tidak ku terima, hanya aku menyodorkan tulisan agar sumbangan itu di bagi bagi untuk kepentingan sosial juga kuserahkan pada keluarga bapak juga bunda.

" Bu lik, kalau bahan bahan di kulkas habis bilang ya."

" Iya Run, toh di kebun banyak kok, gambang soal bahan masakan," aku hanya " oh".

Aku berangkat sekolah hari pertama masuk setelah kedua orangtua meninggalkanku, tak lupa berpamitan pada nenek juga bu lik, terasa aneh juga kosong di hatiku.

" Run, duduk disebelahku," Ffandra melihatku sedang buka pintu belakang, kedua temanku mendukung kata kata Ffandra, aku menurut saja.

" Tasya masih belum keluar dari kantor polisi Ffand?" Sisi yang duduk dibelakang sopir membuka suara,

" Katanya besok Rabu masuk sekolah," aku tak mau menanggapi lebih asyik menikmati kebengonganku saja, bahkan aku hanya fokus pada jalanan kota yang padat di pagi hari pertama di minggu ini, cuman di hati muncul kegelisahan terutama bertemu dengan teman teman dan semua yang ada di sekolah, karena aku menganggap penghuni sekolah tahu tentang nasibku yang sudah yatim piatu, untuk sementara gelisahku baru seputar ketidaksanggupanku menghadapi penghuni sekolah ini, terutama pada sikap mereka saat menyambutku, mungkin banyak yang iba, atau tentu ada yang acuh juga ada yang membuat aku sedih dan golongan yang ketiga adalah yang sekelas dengan Tasya, untung ia belum bisa masuk kelas, untuk sementara aku nanti hanya ingin di kelas saja.

" Na, sudah nyampai," aku sempat kaget, dan merasa aneh pada penglihatanku, satu minggu tak berangkat sekolah kaya ada yang beda pada sekolah ini.

" Apa ini benar sekolahku?"

" Kenapa, kamu baik baik saja Na?" pertanyaan Sisi membuat tubuhku merajuk.

" Iiiyaa Si, aku tak kenapa."

" Mungkin kamu tak pernah lewat parkir mobil siswa Run, biasanya kita lewat gerbang depan, ini disamping kiri dan kamu belum pernah kesini sama sekali."

" Iya bener Nda, area ini baru dipakai tiga hari yang lalu, ada pihak swasta yang bekerjasama dengan pihak sekolah untuk membuka lahan parkir sebab pengembang itu melihat banyaknya siswa sini yang bawa mobil, tadinya pihak sekolah menolak karena belum bisa menerima siswa bawa mobil sendiri, tetapi desakan orang tua yang mengatakan lebih nyaman hatinya di perjalanan kota seramai ini kalau bawa mobil ketimbang roda dua, sehingga pihak sekolah mau menerima."

" Ih gitu ya Ffand," Ffandra mengangguk lalu mengajakku keluar dari mobil, Ffandra melihatku yang penuh keraguan saat mau turun sehingga ia menjemput di pintu sebelah kiri, hatiku semakin berat pada pengorbanan Ffandra beserta kedua orangtuanya, aku merasakan juga tante Mia juga Oom Ferdi mendukung usaha Ffandra untuk mencintaiku, paling tidak bisa membantu mereka agar Tasya tak mengejar ngejar terus pada Ffandra, ya untuk sementara apa yang ada di otak berfokus pada Tasya saja, sedang ada hal lain tentu aku tak mau mengada ada, terutama yang berhubungan dengan kemiripanku sama mereka bahkan saat di Solo aku di anggap cewek yang bernama Arine.

" Arine, Aruna nama yang hanya memiliki perbedaan huruf i dan e saja, aaah bodo amat sih, aku lagi bersedih tak ingin mikir hal itu."

" Run, apa kau bilang?"

" Apa Ffand, aakuu enggak ngomong kok."

" Tadi kamu bilang Arine."

" Sudahlah Ffand, hatiku lagi sedih jangan kamu bebani dengan kecurigaanku tentang Arine," karena keraguanku masuk ke areal sekolah maka Sisi dan Rinda menggandengku di kanan kiriku. Sementara kulihat wajah Ffandra berubah memelas melihatku.

" Iya Run, maaf ya, sudah abaikan pertanyaanku ya, aku hanya ingin kamu segera bisa menerima takdir, karena hidup harus terus berjalan," aku mengiyakannya.

Berempat kami berjalan ke kelas, aku hanya menunduk melihat lantai keramik yang kuinjak satu satu, ya aku tak mau melihat tatapan mata iba atau lainnya tertuju padaku, aku hanya ingin cepat cepat sampai ke kelas.

Sampai di kelas semua teman yang telah hadir mengelilingiku, aku hanya diam dengan mata berkaca, semua pada menghiburku,

" Ikhlas Run, banyak di doakan orangtuamu, biar disana tenang," aku tak memperhatikan yang ngomong, hanya mengiyakan dan berterimakasih dengan pedulinya.

Bel pelajaran pertama berbunyi, aku masih belum bisa fokus, sehingga tak secuilpun pelajaran masuk ke otak, tapi bu Siska wali kelasku memakluminya, apalagi sebelum beliau mulai memberi pelajaran mendekatiku dulu.

" Run, selamat ya bergabung kembali dengan teman teman di kelas," tangannya mengelus rambut pucuk kepalaku lembut.

" Iya Bu terimakasih perhatiannya."

Hari pertama sekolah aku rasanya bener bener tak bersemangat, tubuh terasa lelah, letih dan kaya tak punya tenaga, walau teman teman selalu mendekati dengan memberi semangat, seperti keinginanku maka hanya duduk di bangku sampai bel jam terakhir berbunyi.

" Sudah yuk pulang," Ffandra sangatlah perhatian padaku tangannya menyentuh pundakku lembut, sedang aku sibuk memasukkan buku pelajaran serta alat tulis lainnya ke tas ransel, bangkit pelan dari kursi keluar kelas terakhir sendiri, ya masih terasa enggan, malas apalagi teringat saat pulang di jemput kedua orang tua.

Sebenarnya aku sudah berusaha sekuat hati untuk tak kepikiran terus pada bapak sama bunda, cuman ini belum bisa otakku mengenyahkan bayang bayang kasih sayang yang begitu ikhlas dari mereka.

" Ffand besok matematika ada tugas apa?" saat turun tangga melihat Pak guru matematika yang pernah menegurku dan mengeluarkanku, sehingga tak ingin lagi untuk mengecewakannya besok.

" Nanti aku buka tugasnya, abis lupa juga," yang jawab malah Rinda dan di dukung oleh Sisi.

" Nanti malam kita kerjakan bersama Run, aku datang ke rumahmu," Ffandra berjalan di belakangku sambil memain mainkan tas ransel yang ku gendong di punggung, membuat berjalanku agak ketarik tarik ke belakang.

" Ffand, aku sulit nih jalannya, jangan narik narik tasku donk," Rinda dan Sisi tertawa terkekeh lihat candaan Ffandra, akupun ikut tertawa juga.

" Alhamdulillah Arunaku sudah bisa tertawa."

" Ffand, kamu sih membuat aku kaya mau jatuh ke belakang."

" Kalau jatuh ke belakang ada aku kan bisa jagain kamu," tangan Ffandra mengacak rambut kepalaku, aku tersenyum lagi, dan dalam hati aku berguman.

" Eemmm mulai modus, Ffandra tiada hari tanpa modus denganku,"

dan sampai juga ke pintu keluar menuju area parkiran.

Aku sudah mulai tak bengong lagi di perjalanan pulang ke rumah.

" Ffand, lho kok lewat sini, mau kemana nih Ffand?"

" Pengin ngajak kalian makan di luar."

" Kasihan donk bu lik yang sudah nyiapin masakan."

" Aku sudah menghubungi bu lik tadi saat istirahat pertama agar jangan masak banyak."

" Owlh, ya sudah aku nurut aja."

" Iya Run, biar agak fres tubuh kita!", aku sempat tersenyum dengan meliriknya dan ku cubit lengan tangannya lirih, aku sempat melihatnya malahan tangan kirinya menggelayut ke pundakku, aku sebenarnya enggak enak hati pada Sisi sama Rinda di belakangku.

" Ffand, malu donk ada Sisi dan Rinda di belakang," ia malah tertawa terus tangan dilepaskan.

Mobil masuk ke area parkir resto yang berciri khas alam, kami masih berseragam sekolah turun mencari gubug gubug kecil yang belum ada orangnya.

" Itu Ffand ada di tengah," Sisi menunjuk gubug bambu yang posisinya di tengah, lalu berempat berjalan masuk ke rumah kecil dari bambu.

" Masih kotor," kami berdiri di luar sambil milih milih menu juga nunggu dibersihkan pelayan.

" Pesan apa?"

" Kayanya semua enak, tapi aku pengin bakmi goreng komplit dan es campur," Ffandra terus nempel saja padaku, cuman hatiku belum bisa menerimanya, toh aku masih klas 11 saja baru beberapa bulanlah, aku masih belum ingin mikir pasangan.

1
𝒮🍄⃞⃟Mѕυzу​​​᭄
....
Diana Taslim
good
Tika77h
biasanya begitu, yg pendiam jd bulian teman teman
aruna bodoh semakin diam semakin di bully karena di anggap lemah klu harus berani melawan jadi gregetan sama si aruna
Tika77h: terimakasih kasih komennya, beri komen serta like dari setiap Epesosode jangan lupa ya, juga likenya.
total 1 replies
rini wijayanti
semangaaat ....
Tika77h: makasih readerku, kasih comen di episode nya bu rin, kita bisa saling berchat tentang cerita di episode itu. thanks ya.
total 1 replies
Tika77h
karena mereka sedang dalam persembunyian di samping itu Vera tak ingin keluarga Hardiansyah muncul kembali di percaturan bisnis. Vera hanya ingin bahwa pewaris Wisesa adalah Vera, bukan dr keturunan Tari, ibu Hardiansyah.
Herawati Setiamiharja
knp juna n alisa ga mau jujur yaa.... kpd arine n alfin
SugaryHeaven
Terima kasih author...stelah baca chapter ini saya dapat ilmu baru lagi mantap.....
Tika77h: tengki comennya, semoga cerita ku bisa menghibur reader, selalu coment dan apapun coment nya yg penting untuk peningkatan karya, insya Allah, author suka saja
total 1 replies
Tika77h
terimakasih comennyya
Tika77h
hehehe, terimakasih komen nya,
Shinta Teja
jangan2 si fandra adik nya Aruna lagi...
Herawati Setiamiharja
lama2 ngebosenin.... ceritanya diulang2 terus
Herawati Setiamiharja
lama lama jenuh jg yaa ceritanya itu2 az
Tika77h: terimakasih koment yg bagus untuk peninhkstan tulisanku
total 1 replies
Tika77h
kann kaget, orang sejak kecil tahu nya orang tua kandung nya Jono sama Isah, seketika hrs ngakuin Alissya sm Juna, ya hati nya kacau dan perlu proses, apalagi selama 17 thn tdk pernah mengenal nya, dgn tiba tiba datang langsung bilang orang tua kandung, tentu yg oleng dan terluka tdk hanya aruna tp nenek Sanif juga keluarga Jono dan Isah, krn tahunya Aruna anak Jono dan Isah.
Aruna sama Ferdi dan Mia, di mulai dgn keakraban sm Jono dan isah, juga Ffamdra, sehingga hati nya sudah tertata, bahkan sebelum ketemu Juna sama Alissa, Aruna tidak tahu kalau mereka masih saudara.
Herawati Setiamiharja
kok sifat aruna jelek bgt yaa.... ke tasya az dia mau maafin n mau nrima laaahh ini ke org yg lbh tua kok ga mau nrima
Tika77h: thanks you Mba Herawati, komen nya, aku suka banget pd komen komen kyk mba Hera, aku jd sll nyambung.
total 1 replies
Tika77h
hahaha, habis orang pasrah ya gitu biasanya kok, apalagi merasa hidup sendiri, sebrlum hati runa mrngakui pd Alissa dan Juna sbg orang tua kandung.
Herawati Setiamiharja
aahhh lebay bgt seh si aruna. apa iya ada org sebaik aruna. masa seh aruna mendiamkan sj tasya yh sdh menduplikatkan kunci kamar rumahnya aruna. itukan tindak pidana. ya thor jgn spt sinetron dong..... lembek bgt aruna nya
adalahdarling
Ceritanya bagus, kok, thor. Jangan lupa perhatiin tanda baca ya, hehe.. Fighting fighting kakak author‾
Tika77h: aku suka pada komen komen readerku, semua tentu untuk perbaikan penulisanku, dan aku trntu bersha mematuhi aturan, terutama pd penyusunan kalimat maupun tanda baca. cuman tsnda baca pd dialog atau chat, telfon aku masih belum percaya diri, artinya betulkah tanda baca untuk chat dsb benar pd penulisanku, klo reader ada yg tahu. Hehehe.
total 2 replies
margoandme
Aku kepo banget lanjutannya gimana Thor! Plis jangan lama-lama ya!
Tika77h: Iya nih, sdah ngapdate lagi barusan, semoga seneng baca karya karya ku, biar aku sll semangat berkarya, selamat ngebaca!
total 1 replies
Prasetya Wibowo
makasih Thor udah up lagi makin seruu ceritanya
Tika77h: aku jadi semangat buat cerita, dan semoga cerita ku bisa menghibur .
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!