NovelToon NovelToon
Bertukar Takdir Dengan Kembaranku

Bertukar Takdir Dengan Kembaranku

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: raya Abc

Emma dan Ella Taylor, sepasang gadis kembar, terpisah sejak kecil akibat perceraian orang tua. Emma tumbuh di New York menjadi wanita pemarah dan sulit mengendalikan emosi, sementara Ella yang dibesarkan di Inggris justru bersifat pendiam, penakut, dan terbiasa mengalah.

Setelah dua puluh tahun, mereka bertemu secara tak terduga di atas kapal pesiar mewah.
Saling bercerita tentang beban hidup masing-masing, keduanya mengambil keputusan nekat untuk bertukar identitas dan menjalani hidup satu sama lain.

Akankah pertukaran ini menjadi jalan keluar, atau justru menjerumuskan mereka ke dalam masalah yang jauh lebih rumit?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon raya Abc, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aturan Yang Tidak Masuk Akal

Ketukan pelan terdengar di balik pintu.

Tok.

Tok.

Tok.

Emma membuka mata perlahan.

Jam di nakas menunjukkan pukul 06.00 pagi.

Ia mengusap wajahnya sambil mengembuskan napas.

"Masuk."

Pintu kamar terbuka.

Seorang pelayan wanita muda masuk sambil sedikit menundukkan kepala.

"Selamat pagi, Nyonya."

Emma hanya mengangguk singkat.

"Ada apa mengganggu sepagi ini?"

"Saya datang membantu Anda bersiap."

Emma menatapnya datar.

"Untuk apa?"

"Memilih pakaian, menyiapkan air mandi, menata rambut, dan juga.."

"Tidak."

Jawaban itu memotong kalimat Hannah.

Pelayan itu berkedip bingung.

"N-Nyonya?"

"Aku tidak membutuhkan bantuan siapapun."

"Tapi itu sudah menjadi tugas saya."

Emma turun dari tempat tidur.

"Aku bisa mandi sendiri."

"Tapi..."

"Aku juga bisa memilih pakaianku sendiri."

Hannah tampak semakin gelisah.

"Kalau Tuan mengetahui saya tidak menjalankan tugas..."

Emma menatapnya lurus.

"Kalau begitu katakan bahwa aku yang menyuruhmu keluar."

"Tapi.."

"Keluar."

Nada suaranya tidak tinggi.

Namun begitu tegas hingga Hannah refleks menundukkan kepala.

"Baik, Nyonya."

Pintu kembali tertutup.

Emma mengembuskan napas panjang.

"Rumah macam apa ini...terlalu banyak peraturan aneh."

Dua puluh lima menit kemudian...

Emma turun ke lantai bawah.

Ia mengenakan celana panjang hitam berpotongan rapi, kemeja putih, dan blazer krem.

Rambut pirang sebahunya dibiarkan lurus tanpa aksesori berlebihan.

Begitu memasuki ruang makan...

Mr. Howard langsung menghampiri.

"Selamat pagi, Nyonya."

Emma mengangguk singkat.

"Ada lagi?"

"Tuan sudah menunggu."

Emma berjalan menuju meja makan.

Namun baru beberapa langkah...

"Nyonya."

Emma berhenti.

"Pakaian Anda..."

"Ada masalah dengan caraku berpakaian?"

"Biasanya Lady Alexander mengenakan gaun saat sarapan."

Emma melihat pakaian yang dikenakannya.

"Lalu?"

"Itu tradisi keluarga Alexander."

Emma kembali menatap Mr. Howard.

"Pakaianku bersih dan juga mahal."

"Ya tentu saja Nyonya."

"Sopan dan layak dipakai."

"Ya."

"Kalau begitu tidak ada masalah apapun."

Tanpa menunggu jawaban, Emma kembali melangkah.

Mr. Howard hanya mampu menghela napas pelan.

Ralph sudah duduk di kursinya.

Seperti biasa.

Setelan jasnya rapi.

Secangkir kopi hitam berada di samping koran pagi yang sedang dibacanya.

Emma menarik kursi.

Duduk.

Tanpa menyapa.

Beberapa detik kemudian...

Ralph melipat korannya.

Tatapannya jatuh pada pakaian Emma.

"Kau tidak memakai gaun."

Emma mengambil serbet.

"Bisa kaulihat sendiri."

"Itu bukan pertanyaanku."

Emma menatap Ralph.

"Kau ingin bertanya atau memberi perintah?"

Sunyi.

Para pelayan langsung menundukkan kepala.

Ralph tetap tenang.

"Itu kebiasaan di rumah ini dan kau tahu itu."

Emma meraih cangkir kopi yang masih kosong.

"Kalau begitu biasakan melihatku berpakaian seperti ini. Aku mulai menyukai pilihan ku sendiri."

Ralph tidak menjawab.

Tatapannya tetap datar.

Namun entah mengapa...

Ia merasa wanita di hadapannya semakin sulit ditebak.

Hannah melangkah mendekat sambil membawa teko kopi.

"Izinkan saya, Nyonya."

Belum sempat kopi dituangkan...

Emma mengambil teko itu lebih dulu.

Hannah membeku.

"Nyonya..."

Emma menuangkan kopinya sendiri.

Baru setelah selesai, ia meletakkan teko itu kembali.

"Kenapa?"

Hannah tampak bingung.

"Maaf?"

"Kenapa kau yang menuangkannya?"

"Itu tugas saya."

Emma menatapnya beberapa detik.

"Aku masih bisa menggunakan tanganku."

Ruangan kembali sunyi.

Hannah tidak tahu harus menjawab apa.

Emma melanjutkan sarapannya.

Beberapa saat kemudian seorang pelayan lain hendak menarik kursinya agar lebih nyaman.

Emma langsung menghentikannya.

"Jangan."

Pelayan itu refleks mundur.

"Aku bisa menggeser kursiku sendiri."

Mr. Howard mulai berkeringat.

Seumur hidupnya bekerja untuk keluarga Alexander...

Belum pernah Lady Alexander menolak semua bantuan pelayan.

Emma meletakkan garpunya.

Tatapannya menyapu seluruh pelayan.

"Dengar."

Semua langsung berdiri lebih tegak.

"Selama aku masih bisa melakukannya sendiri..."

Ia berhenti sejenak.

"...jangan lakukan untukku."

Tidak ada nada marah.

Tidak ada bentakan.

Hanya sebuah kalimat tegas yang tidak memberi ruang untuk dibantah.

Ralph akhirnya membuka suara.

"Di rumah ini, mereka hanya menjalankan tugas."

Emma menoleh.

"Aku tidak melarang mereka bekerja."

"Lalu?"

"Aku hanya tidak suka orang lain mengurus hal yang bisa kulakukan sendiri."

"Itu etika keluarga bangsawan."

Emma meminum kopinya.

"Kalau begitu..."

Ia meletakkan cangkirnya perlahan.

"...aku tidak cocok dengan etika itu."

Tatapan mereka kembali bertemu.

Ralph tetap tenang.

Emma pun tidak bergeming.

Dua pribadi keras kepala.

Dua orang yang sama-sama tidak suka mengalah.

Beberapa detik berlalu tanpa suara.

Akhirnya Ralph mengambil kembali korannya.

"Lakukan sesukamu."

Emma juga kembali menikmati sarapannya.

"Ya tentu saja Tuan bangsawan."

Kalimat itu terdengar datar.

Namun cukup membuat Mr. Howard memejamkan mata sesaat.

Ia memiliki firasat...

Hari-hari di tempat ini tidak akan pernah setenang lima tahun terakhir lagi.

Mansion Alexander kembali sunyi setelah sarapan usai.

Ralph melipat korannya dengan rapi, lalu berdiri.

"Aku berangkat."

Emma bahkan tidak menoleh.

"Hm."

Jawaban singkat itu terdengar lebih seperti gumaman.

Ralph mengambil jas panjangnya yang telah disiapkan pelayan.

Sebelum melangkah keluar, ia berhenti sejenak.

"Jangan lupa jam empat sore."

Emma mengangkat kepala.

"Ada apa?"

"Kita menghadiri jamuan minum teh di kediaman keluarga Roosevelt."

"Aku tidak menyukai itu."

"Bukan pertanyaan."

Emma menatap Ralph datar.

"Aku juga tidak meminta pendapatmu."

Keheningan kembali memenuhi ruangan.

Mr. Howard buru-buru menundukkan kepala.

Ralph tetap tenang.

"Itu undangan resmi."

Emma berdiri dari kursinya.

"Bagaiman kalau aku menolak?"

"Kau harus tetap datang mendampingiku."

Emma mendengus pelan.

"Luar biasa."

"Apa?"

"Hidupmu benar-benar diatur Tuan Alexander."

Tanpa menunggu jawaban, Emma berjalan meninggalkan ruang makan.

Ralph memperhatikannya hingga sosok itu menghilang di balik lorong.

Emma memasuki perpustakaan pribadi keluarga Alexander.

Ruangan itu dipenuhi rak-rak kayu tinggi yang berisi ribuan buku.

Ia menarik sebuah buku.

Belum sempat membukanya...

Seorang pelayan kembali muncul.

"Nyonya."

Emma memejamkan mata beberapa detik.

"Apa lagi?"

"Tuan meminta kami menyiapkan gaun untuk acara nanti."

"Tidak."

"Nyonya..."

"Aku punya pakaian sendiri yang kubeli saat liburan kemarin pastinya lebih modern dan bergaya."

"Lady Alexander biasanya mengenakan gaun rancangan khusus."

Emma menutup buku yang baru saja diambilnya.

"Aku bosan berpenampilan seperti biasa."

Pelayan itu tampak gugup.

"Kalau Tuan marah..."

Emma menatapnya tanpa ekspresi.

"Yang akan mendengar kemarahannya aku."

"Bukan kau."

Pelayan itu tidak berani membantah.

"Baik, Nyonya."

Setelah pelayan pergi, Emma mengembuskan napas panjang.

"Apa semua orang di rumah ini tidak bisa mengambil keputusan sendiri?"

-------

Siang menjelang.

Emma memutuskan berjalan keluar menuju taman belakang.

Udara musim semi terasa sejuk.

Untuk pertama kalinya sejak tiba di Inggris, ia benar-benar menikmati suasana.

Tidak ada klakson.

Tidak ada gedung pencakar langit.

Tidak ada rapat.

Tidak ada Roman yang terus berdebat dengannya.

Baru beberapa menit menikmati ketenangan...

Suara langkah kaki terdengar dari belakang.

Mr. Howard lagi.

"Nyonya."

Emma memijat pelipisnya.

"Ada apa sekarang?"

"Tuan menyampaikan pesan."

Emma menoleh.

"Katakan."

"Mobil akan berangkat pukul tiga lewat tiga puluh."

Emma mengangguk singkat.

"Lalu?"

"Penata rambut akan datang satu jam lagi."

"Tidak."

"Tapi.."

Emma memotong.

"Aku sudah bilang."

"Aku bisa menata rambutku sendiri."

"Penata rias juga akan datang."

"Tidak."

"Dan penjahit.."

"Tidak."

Mr. Howard terdiam.

Emma melangkah mendekatinya hingga hanya berjarak beberapa langkah.

"Howard."

"Ya, Nyonya."

"Berapa umurku?"

Howard tampak bingung.

"Dua puluh delapan tahun."

"Benar."

Emma mengangguk.

"Bukan delapan tahun."

Howard tidak mengerti maksudnya.

Emma melanjutkan.

"Aku bukan anak kecil."

"Aku tidak membutuhkan orang untuk memilihkan pakaian."

"Tidak membutuhkan orang untuk menyisir rambut."

"Atau memakaikan sepatuku."

Nada bicaranya tetap datar.

Namun setiap kalimat terdengar begitu tegas.

"Kalau keluarga Alexander terbiasa hidup seperti itu..."

Emma mengangkat bahu.

"...aku tidak."

Howard hanya mampu menundukkan kepala.

"Baik, Nyonya."

Emma berbalik.

Namun baru beberapa langkah...

Suara Ralph terdengar dari belakang.

"Howard."

Pria tua itu langsung menoleh.

"Tuan."

"Biarkan saja."

Howard tampak terkejut.

"Tapi Tuan..."

"Dia sudah membuat keputusannya."

Ralph mengalihkan pandangannya kepada Emma.

Tatapan keduanya kembali bertemu.

Untuk beberapa detik...

Tak satu pun berbicara.

Akhirnya Ralph berkata singkat.

"Jangan terlambat."

Emma menyilangkan kedua tangan.

"Aku benci diperintah."

Ralph mengangguk tipis.

"Aku sudah menyadarinya."

Ia berbalik dan berjalan menuju ruang kerjanya.

Sementara Emma tetap berdiri memandangi punggung pria itu.

"Pria paling menyebalkan yang pernah kutemui..."

gumamnya pelan.

Di ujung lorong, tanpa Emma sadari...

Sudut bibir Ralph terangkat nyaris tak terlihat.

Hanya sesaat.

Lalu kembali datar seperti biasa.

Untuk pertama kalinya dalam lima tahun pernikahan mereka...

Rumah besar itu tidak lagi dipenuhi keheningan yang membosankan.

Melainkan dipenuhi benturan kecil yang entah mengapa... tidak terlalu ia benci.

1
Sriza Juniarti
lanjut kk..terus berkaeya..bagus banget
Sriza Juniarti
lanjut kk
mulai ngikuti sepertinya menarik
putmelyana
omg seharian nyari cerita bagus akhirnya ketemu jga aku bakalan masukin daftar cerita favorit aku. gak sia² secrol cari cerita bagus akhirnya ketemu jga. next Thor ceritanya aku tungguin🥰
rhien90
lanjuuuutt kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!