Bagi Aira, bekerja di kafe itu hal biasa. Sampai ada Arjun-cowok keturunan India yang selalu datang jam sama, pesan minum sama, dan punya senyum yang bikin hati salah tingkah. Di lehernya selalu ada benang merah, katanya itu tanda ikatan. Dan suatu hari, dia mau ikat tali itu juga di tangan Aira, bilang kalau dia udah nggak mau cari ke mana-mana lagi. Cukup Aira aja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WA_19019, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19
Siang itu udara di dalam toko rempah terasa biasa saja, sejuk dan beraroma khas yang biasanya selalu bikin hatiku tenang. Tapi hari ini, rasanya ada yang menyesak banget di dada, seolah udara di sini berubah jadi berat dan susah kuhirup.
Aku berdiri di sudut ruangan, di balik tumpukan karung beras, tubuhku bersandar diam di dinding. Mataku tertuju lurus ke depan, ke arah meja kasir tempat Arjun berdiri. Di sana, dia sedang melayani seorang wanita muda.
Wanita itu cantik sekali, kulitnya putih bersih, penampilannya rapi dan berkelas. Dia berdiri cukup dekat dengan Arjun, suaranya terdengar lembut dan manja saat dia berbicara, sesekali tertawa kecil sambil matanya menatap Arjun lekat-lekat penuh kekaguman.
Tangan wanita itu sempat menyentuh lengan baju Arjun seolah tak sengaja, dan Arjun hanya tersenyum sopan sedikit menjauh, tetap ramah seperti ke semua pelanggan.
Namun bagiku, pemandangan itu seperti duri yang menusuk tepat di dada kiri.
Jantungku berdegup kencang dan nyeri. Ada rasa panas yang menjalar dari dada ke leher, ada rasa ingin menangis yang tiba-tiba datang tanpa alasan yang jelas.
Aku melihat cara wanita itu memandang Arjun, melihat bagaimana dia berusaha menarik perhatian Arjun, dan yang paling menyakitkan... melihat Arjun membalasnya dengan sopan dan sabar, sama seperti dia selalu bersikap baik ke siapa saja.
Rasa sakit itu makin menjadi. Rasanya aku ingin sekali maju ke sana, berdiri di antara mereka, dan mengusir wanita itu pergi. Rasanya aku ingin bilang kalau Arjun itu temanku, sahabatku, orang yang paling sering ada di hariku. Tapi... kenapa?
Kenapa aku merasa punya hak untuk itu?
Kita kan cuma sahabat. Kita kan cuma teman baik. Tidak ada ikatan apa pun yang melarang Arjun dekat dengan siapa saja. Arjun bebas. Arjun bukan milikku.
"Terus kenapa sakit, Aira? Kenapa rasanya sesak banget? Kenapa rasanya ada sesuatu yang hilang? Apa ini namanya cemburu? Tapi cemburu itu kan buat orang yang saling mencintai, buat pasangan. Kita bukan begitu! Kita cuma sahabat! Kenapa hatiku bereaksi seberat ini cuma gara-gara dia ngobrol sama cewek lain? Kenapa aku jadi merasa kehilangan sesuatu padahal tidak ada apa-apa yang hilang? Kenapa aku bingung sekali sama diri sendiri ini?"
Pertanyaan-pertanyaan itu berputar kencang di kepalaku, bikin pusing, bikin makin kacau. Aku bingung, bingung setengah mati. Aku tidak mengerti apa yang sedang kurasakan. Aku tidak mengerti kenapa pemandangan biasa saja itu bisa bikin hatiku hancur sehancur ini.
Aku hanya tahu, saat ini aku ingin sekali pergi dari sini, aku ingin menjauh, aku tidak mau melihat mereka berdua lagi.
Setengah jam berlalu rasanya seperti selamanya. Wanita itu-yang kutahu namanya Diya dari bisikan tetangga-akhirnya pergi sambil melambaikan tangan manja dan berjanji akan datang lagi besok.
Arjun menghela napas panjang, menutup pintu, dan saat berbalik badan, matanya langsung menangkap sosokku yang berdiri diam di sudut ruangan. Wajahnya yang tadinya biasa saja langsung berubah cerah.
Senyum lebar, hangat, dan tulus langsung merekah di bibirnya begitu dia melihatku. Senyum yang biasanya selalu bikin hatiku meleleh dan bahagia. Tapi hari ini... senyum itu malah terasa menyakitkan.
"Aira! Kamu udah lama datang? Maaf ya tadi ada pelanggan yang agak lama ngobrolnya," seru Arjun antusias. Dia langsung berjalan mendekat ke arahku dengan langkah panjang kakinya yang lebar, begitu gembira melihatku ada di sana.
"Kamu nunggu lama banget ya? Ayo duduk, aku ambilin minum dulu. Ada cerita apa hari ini?"
Arjun berdiri tepat di depanku, tingginya yang 183 cm membuatnya harus sedikit menunduk menatapku, sementara aku dengan tinggi 175cm berdiri tegak, tapi kali ini aku tidak berani menatap balik matanya.
Wajahku datar. Tidak ada senyum. Tidak ada cahaya di mataku. Aku hanya menatap lurus ke dada bajunya, lalu perlahan memalingkan wajah, berjalan melewati dia menuju kursi di ujung ruangan yang paling jauh.
"Enggak ada apa-apa," jawabku pelan, suara ku datar, dingin, dan jauh. Aku duduk, melipat tangan di dada, menatap ke arah jendela tanpa menoleh sedikit pun ke arahnya.
"Cuma lewat aja. Sebentar lagi juga pulang."
Suasana seketika berubah hening. Udara hangat yang tadi ada lenyap seketika.
Arjun diam di tempatnya. Dia mengerutkan kening, bingung sekali. Dia menatap punggungku yang tegap tapi terasa kaku dan tertutup itu. Dia mengenaliku baik sekali. Dia tahu aku tidak pernah bicara dengan nada sedingin ini kepadanya. Dia tahu aku tidak pernah menjauh sejauh ini.
Dia berjalan pelan mendekat, duduk di kursi seberangku, berusaha menangkap pandanganku yang terus kuhindari.
"Ra... kamu kenapa?" tanyanya pelan, nada suaranya penuh kebingungan dan mulai terasa khawatir.
"Ada yang salah? Ada yang bikin kamu kesal? Atau aku ada salah ngomong pas tadi? Kamu... kamu lagi marah ya?"
Aku diam saja. Bibirku terkatup rapat. Hatiku berteriak minta dikeluarkan semua rasa sakit dan bingung ini, tapi bibirku terkunci mati. Aku tidak mau bilang apa-apa. Aku malu. Aku bingung. Aku sendiri tidak paham kenapa aku bereaksi begini, mana mungkin aku bisa menjelaskannya ke dia.
Kalau aku bilang aku sakit hati karena dia ngobrol sama cewek lain, dia pasti bingung, dan aku pun tidak punya alasan yang masuk akal untuk itu.
"Enggak," jawabku singkat, masih dengan nada dingin yang sama. Mataku menatap jalanan di luar jendela.
"Enggak ada apa-apa. Cuma lagi capek aja. Mau diam dulu."
"Capenya kok jadi gini, Ra?" Arjun makin bingung. Dia maju sedikit ke depan, berusaha melihat wajahku yang terus kuelakkan.
"Dari tadi kamu enggak senyum, enggak ngomong, enggak natap aku. Biasanya kamu paling cerewet kalau datang ke sini. Ada apa sebenernya? Cerita dong, Ra. Kita kan biasa cerita tentang apapun."
Arjun benar-benar tidak mengerti. Di kepalanya, tidak ada satu hal pun yang dia lakukan salah hari ini. Dia datang, dia bekerja, dia melayani pelanggan seperti biasa, lalu melihatku datang dan dia senang sekali. Tapi tiba-tiba sahabatnya yang paling akrab berubah jadi orang asing yang dingin dan tertutup.
Dia bingung setengah mati. Dia menatapku dengan tatapan yang bercampur aduk: heran, khawatir, dan sedikit sedih karena diperlakukan begini. Dia bertanya-tanya dalam diam.
"Apa yang salah? Kenapa dia berubah? Apa aku ada salah bicara waktu dia belum datang? Apa ada masalah lain? Kenapa dia menjauh padahal tadi kemarin kita masih tertawa dan akur banget?"
Tapi aku tetap diam. Aku memendam semuanya sendiri. Rasa sakit di dada, rasa cemburu yang tidak beralasan, rasa bingung yang luar biasa tentang perasaanku sendiri... semuanya aku kunci rapat-rapat di dalam hati.
Aku tidak mau dia tahu. Aku tidak mau dia bertanya lebih jauh karena aku sendiri tidak punya jawaban.
Aku hanya ingin menjauh, aku hanya ingin sendiri, berusaha mencari tahu kenapa hatiku tiba-tiba terasa begitu berat dan sakit hanya karena melihat sahabatku dekat dengan orang lain. Padahal, dia sahabatku. Hanya sahabatku.
Akhirnya aku berdiri tegak, menutup tas kecilku, dan melangkah pergi tanpa menatap Arjun sedikit pun.
"Aku pulang dulu," kataku datar, tanpa ekspresi, tanpa nada hangat yang biasa ada.
Arjun ikut berdiri cepat, wajahnya penuh kekhawatiran dan kebingungan yang makin besar. Dia ingin menahan, dia ingin bertanya lagi, dia ingin tahu apa yang terjadi. Tapi raut wajahku yang dingin dan tertutup itu membuatnya ragu. Dia takut kalau dia memaksa, aku malah makin menjauh.
"Ra... sebentar..." panggilnya pelan, suara berat dan bingung.
"Nanti kamu datang lagi kan besok? Kamu... kamu enggak apa-apa kan beneran?"
Aku berhenti sebentar di ambang pintu, punggungku menghadap dia. Hatiku berteriak ingin berbalik, ingin meminta maaf, ingin cerita semuanya. Tapi rasa bingung dan sakit itu lagi-lagi menahan aku.
"Enggak tau," jawabku singkat.
Dan aku melangkah keluar, menutup pintu kayu itu pelan-pelan. Meninggalkan Arjun yang berdiri diam di tengah toko, menatap pintu yang tertutup itu dengan penuh tanya. Dia benar-benar tidak mengerti apa yang terjadi. Dia sama sekali tidak paham kenapa sahabat baiknya tiba-tiba berubah jadi sedingin es dan sejauh bintang.
Di sisi lain, aku berjalan menyusuri jalanan dengan langkah cepat, mataku mulai memanas dan air mata hampir jatuh. Hatiku makin kacau. Aku bingung luar biasa. Kenapa aku begini? Kenapa rasanya sakit sekali? Kenapa aku tidak bisa bersikap biasa saja?
Aku tidak tahu. Aku benar-benar tidak tahu apa nama rasa ini, apa penyebabnya, dan ke mana arahnya. Aku hanya tahu satu hal: rasanya aku baru saja kehilangan sesuatu yang sangat berharga, padahal itu belum pernah benar-benar menjadi milikku.
Dan Arjun? Dia masih berdiri diam di sana, menggaruk kepalanya yang tidak gatal, bingung, khawatir, dan penuh pertanyaan yang tak terjawab: "Apa yang salah? Kenapa dia berubah? Kenapa dia dingin? Kenapa dia menjauh?"
Semuanya menjadi teka-teki besar, yang jawabannya tersembunyi jauh di dalam hati Aira sendiri-hati yang sedang bergumul hebat dengan rasa yang belum ia kenali namanya.