Dian meninggal dengan sangat menyedihkan: dikhianati tunangannya sendiri dan saudara tirinya, dihina sebagai wanita miskin pengemis cinta, lalu tewas dalam kecelakaan yang "disengaja". Namun saat membuka mata, ia kembali ke masa 3 tahun lalu—tepat saat ayahnya menawarkan pernikahan kontrak dengan pria paling dingin, misterius, dan ditakuti di kota: Erlan Pratama.
Di kehidupan dulu, Dian menolak tawaran itu dan memilih setia pada tunangannya yang brengsek. Kali ini, Dian tersenyum dingin dan menyetujuinya. Ia pikir ini hanya langkah untuk selamat dari nasib buruk—sampai ia perlahan sadar: pria yang terlihat tidak peduli itu diam-diam melindunginya, menyembunyikan rasa sakit yang sama, dan ternyata sudah mencintainya sejak lama... bahkan di kehidupan sebelumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ristika Rachma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21: Jejak yang Tersisa dan Bayangan yang Tak Pernah Hilang
Langit malam itu tampak begitu jernih tanpa awan, seolah seluruh beban berat yang menimpa kami selama ini telah terangkat sepenuhnya. Namun saat kami melangkah turun dari puncak bukit, ada sesuatu yang terasa berbeda, bukan lebih ringan, melainkan ada kekosongan halus yang menyisakan ruang di dalam dada, seolah sebagian dari diri kami memang ikut terambil bersama ingatan-ingatan yang hilang. Erlan terus menggenggam tanganku erat sepanjang jalan pulang, jari-jarinya saling mengait dengan erat seolah takut jika ia melepaskannya sedetik saja, aku akan lenyap begitu saja. Sesekali ia menoleh ke arahku, menatap lekat-lekat matanya seolah sedang berusaha menyusun kembali potongan-potongan kenangan yang entah ke mana perginya.
"Aku merasa ada yang hilang..." ucapnya pelan, suaranya terdengar bingung namun tetap lembut. "Saat aku berdiri di dalam ruangan batu itu tadi, hatiku berteriak seolah mengenal setiap sudut ruangan itu dengan sangat baik. Namun pikiranku sama sekali tidak bisa mengingat kapan atau bagaimana aku pernah ke sana. Rasanya... seperti bermimpi indah namun saat terbangun, kita tak sanggup menceritakan isinya kepada siapa pun."
Aku mengangguk pelan, menyesuaikan langkahku dengan irama langkahnya. "Aku pun merasakannya, Mas. Seolah ada ribuan kisah yang pernah kita lalui bersama, namun kini kisah itu tersimpan rapat di balik pintu yang tak bisa lagi kubuka. Yang tersisa hanyalah perasaan ini, perasaan bahwa kau adalah orang yang paling berhak berdiri di sampingku, dan aku tak akan pernah menyesal telah memilihmu."
Malam itu, saat kami tiba di rumah, suasana tampak tenang dan damai seolah tidak pernah ada badai yang melanda. Namun saat aku hendak meletakkan liontin dan cincin pusaka itu ke dalam kotak di meja rias, tanganku terhenti seketika. Di bagian dalam tutup kotak itu, terukir tulisan tangan yang samar namun masih terbaca jelas tulisan yang sepertinya sengaja dibuat agar tidak mudah terlihat oleh siapa pun yang tidak memiliki mata hati yang teliti:
"Kalian telah memenangkan kebebasan untuk hidup tanpa beban waktu. Namun ketahuilah, kasih sayang yang begitu kuat tak akan pernah bisa benar-benar dihapus oleh apa pun. Sebagian dari ingatan itu mungkin hilang, namun ikatan yang terjalin tetaplah utuh. Dan hati yang pernah bersatu melintasi waktu, akan selalu menemukan jalannya kembali... meski harus menunggu di ujung takdir yang belum selesai."
Jantungku berdegup kencang membaca baris terakhir itu. "Belum selesai." Apakah itu berarti cerita kami belum benar-benar berakhir? Bahwa ada sesuatu yang masih tertinggal, sesuatu yang bahkan kekuatan kuno itu sendiri tak mampu selesaikan sepenuhnya?
Keesokan harinya, kehidupan perlahan kembali berjalan seperti biasa. Paman Haris dan sekutunya telah diproses hukum sesuai perbuatannya, nama baik keluarga Erlan dan keluargaku telah pulih sepenuhnya, dan Dimas yang akhirnya mengetahui seluruh kebenaran tentang masa lalunya, memutuskan untuk memulai hidup baru di tempat lain, berjanji akan tetap menjadi sahabat yang setia kapan pun kami membutuhkannya. Segala sesuatu tampak berjalan begitu sempurna, begitu damai, dan begitu... tenang. Namun justru ketenangan itulah yang perlahan mulai menyisakan keresahan di dalam hatiku.
Seringkali, saat Erlan sedang bekerja atau sedang terlelap di sampingku, ia akan mengucapkan sesuatu dalam tidurnya, kata-kata yang samar, namun terdengar begitu akrab di telingaku. Ia menyebutkan nama-nama tempat yang tak kukenal, mengucapkan kalimat-kalimat yang seolah ditujukan kepada seseorang yang sedang terancam bahaya, dan sesekali tangannya meremas selimut erat seolah sedang menahan rasa sakit yang luar biasa. Saat dibangunkan, ia akan terbang dengan napas terengah-engah, keringat dingin membasahi pelipisnya, dan menatapku dengan pandangan yang bercampur baur antara lega dan kecemasan.
"Aku bermimpi aneh lagi," akunya suatu malam, duduk bersandar pada kepala tempat tidur sambil mengusap wajahnya dengan kasar. "Di dalam mimpi itu, aku terus berlari mengejar seseorang yang menjauh dariku. Aku berteriak memintanya berhenti, namun suaraku tak pernah terdengar. Semakin aku mengejar, semakin jauh ia pergi. Dan saat akhirnya aku hampir berhasil menjangkaunya... aku terbangun." Ia menatapku lekat-lekat, lalu menarikku ke dalam pelukannya erat. "Dan anehnya... meski dalam mimpi itu wajahnya tak pernah terlihat jelas, hatiku berteriak bahwa orang yang kucari itu adalah kau. Selalu kau."
Mendengar itu, hatiku terasa bergetar hebat. Apakah ini sisa-sisa ingatan yang belum hilang sepenuhnya? Apakah kekuatan yang mengambil kembali kenangan kami tak mampu mengambil perasaan yang tertanam begitu dalam di sanubari? Dan jika demikian... apakah itu berarti ancaman yang dulu kami hadapi pun belum benar-benar lenyap?
Keresahan itu semakin menjadi saat suatu sore, saat aku berjalan melewati ruang kerja Erlan dan tanpa sengaja melihat sesuatu yang membuat kakiku terasa berat. Di atas meja kerjanya, terselip di antara tumpukan dokumen biasa, terdapat selembar kertas kosong yang di tengahnya perlahan muncul bintik hitam yang perlahan melebar membentuk pola, pola yang persis sama dengan lencana yang pernah kami lihat digenggam Paman Haris dulu. Pola itu tampak samar, seolah sedang terbentuk perlahan, seolah ada sesuatu yang sedang tumbuh kembali dari sisa-sisa kehancuran yang kami kira sudah tuntas.
Erlan masuk ke ruangan tak lama kemudian. Saat melihatku terpaku menatap kertas itu, ia berjalan mendekat dan ikut menatapnya dengan wajah perlahan berubah pucat. "Aku menemukannya tergeletak di lantai ruangan ini sejak tiga hari lalu," ucapnya pelan, suaranya penuh kebingungan namun juga waspada. "Setiap hari polanya semakin terlihat jelas sedikit demi sedikit. Aku tidak tahu apa maknanya, dan aku sengaja tidak menceritakannya padamu agar kau tidak khawatir. Tapi setiap kali aku hendak membuangnya atau membakarnya... kertas itu kembali utuh seperti semula seketika."
Ia berhenti sejenak, lalu menatapku dengan tatapan yang perlahan mulai berubah bukan lagi tatapan bingung seperti sebelumnya, melainkan tatapan yang mulai menyadari sesuatu yang mengerikan. "Dan ada hal lain yang terus terjadi. Setiap malam, tepat pukul dua belas, aku mendengar suara ketukan pelan di pintu lemari besi di ruangan itu. Saat kubuka... tidak ada siapa pun. Namun liontin dan cincin yang kau simpan di sana... selalu tergeletak di luar lemari, seolah-olah ada yang mengeluarkannya saat aku tertidur."
Darahku terasa membeku di pembuluh. Aku segera berlari menuju lemari penyimpanan itu, membukanya dengan tangan gemetar. Di dalamnya kosong. Liontin dan cincin itu tidak ada di sana.
Kami berdua mencari ke seluruh penjuru rumah dengan napas terengah-engah, namun tak ada jejak benda itu. Hingga akhirnya, saat kami kembali ke ruang kerja dan melirik ke arah meja batu kecil yang menjadi hadiah pernikahan kami, meja yang bentuknya persis seperti meja batu di puncak bukit namun berukuran lebih kecil kami melihatnya. Liontin dan cincin itu kini tergeletak menyatu tepat di tengah permukaan meja itu, memancarkan cahaya samar yang perlahan berubah warna menjadi merah gelap yang mengerikan.
Dan di permukaan meja itu, muncul tulisan yang perlahan terbentuk seolah ditulis oleh tangan tak kasat mata:
"Kalian berpikir kemenangan itu sudah menjadi milik kalian sepenuhnya? Kalian hanya menunda waktu. Keseimbangan yang sesungguhnya belum pulih. Karena yang kalian kira telah dikalahkan... sebenarnya hanyalah tidur sesaat. Dan saat ia terbangun kembali, ia akan datang bukan untuk menuntut penebusan... melainkan untuk mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi miliknya sejak awal. Hati kalian mungkin telah menyelamatkan hidup kalian saat itu. Namun hati kalian jugalah yang akan menjadi pintu gerbang bagi kedatangannya."
Erlan menarikku ke belakang punggungnya seketika, melindungiku dari meja itu seolah benda itu bisa melukai kami kapan saja. Napasnya memburu, dan saat ia menatapku dari balik bahunya, aku melihat sesuatu yang baru di matanya secercah ingatan yang perlahan kembali, meski masih samar dan membingungkan.
"Aku mulai mengerti..." bisiknya parau. "Kita tidak pernah benar-benar menyelesaikan semuanya di puncak bukit itu. Kita hanya menutup pintu... namun kuncinya justru tertinggal di tangan kita sendiri. Dan sekarang... pintu itu perlahan terbuka kembali."
Di luar, angin tiba-tiba bertiup kencang mengguncang jendela. Cahaya bulan yang tadinya terang benderang perlahan tertutup awan hitam pekat. Dan di kejauhan, seberkas cahaya merah samar terlihat menyala perlahan di puncak bukit itu tempat yang seharusnya sudah kembali menjadi hutan biasa tanpa kekuatan apa pun.
Apakah kemenangan kami dulu hanyalah ilusi? Apakah ancaman yang sebenarnya baru saja mulai terbangun? Dan mengapa kasih sayang kami justru disebut sebagai pintu gerbang bagi kedatangan sesuatu yang mengerikan itu? Pertanyaan-pertanyaan itu kini kembali menghantam pikiran kami, kali ini tanpa bekal ingatan yang lengkap, tanpa petunjuk yang jelas, dan tanpa tahu apa yang sebenarnya sedang kami hadapi.