NovelToon NovelToon
Penguasa Di Balik Bayangan

Penguasa Di Balik Bayangan

Status: sedang berlangsung
Genre:Harem / Action / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Cardannak23

Darius Evandra Adhitama adalah putra tertua Keluarga Adhitama yang hidup susah bersama ibunya. Di usia 18 tahun, ibunya meninggal dan ia dicampakkan kekasihnya.

Darius lalu masuk militer, bangkit menjadi "Dewa Perang" legendaris dalam 6 tahun, hingga menguasai bisnis global, lalu menjadi pembunuh bayaran paling ditakuti.

Saat pulang untuk hidup tenang, keluarga Adhitama memaksanya kembali tanpa tahu identitas aslinya.

Darius lalu mendapati mantan kekasihnya telah dinikahi sang adik tiri, dan dirinya justru dijadikan tumbal pernikahan politik dengan Adelina Atmadja demi menyudahi perseteruan berdarah.

Diremehkan dan terjebak pernikahan paksa, Darius hanya menatap dingin. Mereka tidak tahu bahwa "anak buangan" ini sanggup meratakan kedua keluarga besar tersebut hanya dengan satu jentikan jari.

Saat naga yang tertidur akhirnya membuka mata, seluruh kota akan gemetar di bawah kakinya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cardannak23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18

Darius justru duduk dengan sangat tenang, sambil menyandarkan punggungnya di kursi dengan kewibawaan yang alami.

"Darius," Argani Atmadja kembali bersuara dengan suara yang berat. "Malam ini kita berkumpul untuk membahas masa depanmu dan Adelina."

Darius menatap Argani Atmadja dengan raut wajah yang tetap datar tanpa emosi, lalu mengalihkan pandangannya sekilas ke arah Adelina.

Wanita bergaun merah marun itu duduk tegak dengan ekspresi dingin, namun ada riak ketegangan yang tersembunyi di balik matanya.

"Aku menyimak, Tuan Argani," jawab Darius singkat, suaranya tenang dan menggema halus di ruangan yang mewah itu.

Tuan Besar Gandhi kemudian berdeham pelan, lalu mengetukkan jemarinya di atas meja yang dilapisi taplak putih bersih.

"Perjodohan ini sejak awal adalah bentuk kesepakatan antar-keluarga untuk menyudahi perseteruan berdarah," ujar Tuan Besar Gandhi dengan nada berat dan dingin.

"Namun, kami tidak bisa menyerahkan Adelina kepada sembarang orang." lanjut Tuan Besar Gandhi, matanya tertuju pada Darius. "Kamu harus membuktikan bahwa kamu layak bersanding dengannya."

Argani Atmadja menatap Darius dengan tatapan mengintimidasi. "Adelina adalah salah satu orang penting di Atmadja Holdings. Menikahinya berarti Kamu harus setara, bukan jadi beban."

Mendengar hal itu, Miranti Adhitama mengepalkan jemarinya di bawah meja. Rasa cemas dan malu kembali merayapi hatinya.

Ia tahu betul Darius hanyalah pemuda yang dibesarkan di kota kecil, tanpa latar belakang pendidikan bisnis ternama atau jaringan politik.

"Tuan Besar Gandhi, Argani..." Surya Adhitama mencoba meluruskan keadaan. "Darius memang baru kembali, tapi kami akan memberikannya posisi di salah satu anak perusahaan Adhitama..."

"Anak perusahaan yang mana, Surya?" potong Wisnu Atmadja dengan nada mengejek. "Perusahaan logistik yang hampir bangkrut itu? Atau yang asetnya sedang diaudit?"

Shinta dan Yudha Atmadja terkekeh pelan mendengar sindiran ayah mereka. Sementara Kiara dan Savina menundukkan kepala, merasa harga keluarga mereka sedang diinjak-injak.

Namun, di tengah tekanan dan suasana yang semakin memanas, Darius tetap tenang. Ia meraih cangkir teh hangat di hadapannya, menyesapnya dengan perlahan, lalu meletakkannya kembali.

Adelina Atmadja yang duduk tepat di seberangnya memperhatikan setiap gerak-gerik Darius. Tidak ada setitik pun keringat dingin di pelipis pemuda itu.

Tidak ada getaran pada jemarinya. Bahkan sorot matanya tampak memancarkan dominasi yang begitu pekat, seolah seluruh tekanan dari Keluarga Atmadja tak lebih dari sekadar riak kecil.

"Tuan Besar Gandhi," suara Darius akhirnya terdengar, mengalun rendah dan sangat tenang.

Darius menatap Tuan Besar Gandhi dan Argani secara bergantian. "Anda berbicara tentang kelayakan seolah-olah perjodohan ini adalah sebuah nikmat yang sedang Keluarga Atmadja berikan kepada Adhitama."

Kedua alis Argani Atmadja seketika menyipit tajam. "Apa maksudmu? Jaga batasan bicaramu, Anak muda!"

"Maksudku sangat sederhana, Tuan Argani," sahut Darius datar tanpa sedikit mengalihkan pandangannya. "Perseteruan antara Adhitama dan Atmadja sudah merugikan kedua belah pihak."

"Jika Keluarga Atmadja berada di posisi unggul, Anda tidak akan duduk di meja ini untuk menggunakan pernikahan sebagai jaminan kedamaian." lanjut Darius dengan nada dingin

"Kau...!" Wisnu Atmadja menggebrak meja dengan keras. Napasnya memburu dan raut wajahnya memerah.

"Cukup, Wisnu," pangkas Tuan Besar Gandhi dengan suara berat, matanya kini menatap Darius dengan sorot yang jauh lebih tajam dan penuh keheranan.

Darius menyunggingkan senyum tipis yang sangat dingin. "Jadi... jangan memutar balikkan fakta seolah-olah hanya satu pihak yang membutuhkan pernikahan ini."

Keheningan melingkupi ruangan tersebut. Tuan Besar Hardiman menyipitkan mata dengan rasa takjub yang tersembunyi di balik raut wajah tuanya.

Ia tidak pernah menduga bahwa cucu yang pernah dibuangnya sanggup membalikkan tekanan Keluarga Atmadja hanya dengan beberapa kalimat singkat.

Tuan Besar Gandhi masih menatap Darius dalam-dalam. Ketajaman dan ketenangan yang dipancarkan pemuda di hadapannya benar-benar di luar perkiraan.

Sebagai seorang veteran di dunia bisnis dan politik, Tuan Besar Gandhi bisa merasakan bahwa keberanian Darius bukanlah gertakan, melainkan keberanian yang lahir dari pijakan yang sangat kokoh.

"Menarik..." gumam Tuan Besar Gandhi lirih. "Anak muda, kau memiliki nyali yang cukup besar untuk ukuran seseorang yang baru pertama kali ke Ibukota."

"Ibukota tidak mengukur seseorang dari seberapa lama ia tinggal, Tuan Besar Gandhi," sahut Darius dengan nada datar. "Melainkan dari seberapa besar beban yang sanggup ia tanggung."

Rendra, yang sejak tadi menyimak dengan wajah kaku, melipat kedua tangannya di atas meja. Tangannya yang berurat menegang saat matanya menatap Darius tanpa berkedip.

"Kau bicara seolah-olah posisi keluargamu itu sangat kuat, Darius," ujar Rendra dengan intonasi dingin dan tegas.

Argani Atmadja berdeham keras, mencoba mengambil alih jalannya perjamuan. "Jika kau memang ingin menikahi Adelina, kau harus membuktikan bahwa kau sanggup menjaga aset serta keselamatannya."

Mendengar ucapan Argani Atmadja, Darius hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman yang terkesan dingin dan sarat akan makna tersembunyi.

"Ingin menikahi Adelina?" sahut Darius dengan nada rendah dan sarat dominasi. "Bukankah ini sebuah perjodohan, Tuan Argani."

Adelina yang sedari tadi hanya menyimak perdebatan dengan tatapan yang dingin, perlahan melipat kedua tangannya di atas meja.

"Cukup," potong Adelina. Suaranya tidak keras, tetapi terdengar mengalun tegas, bening, dan dingin.

Seluruh pasang mata di meja perjamuan itu mulai dari Tuan Besar Gandhi, Argani, hingga Tuan Besar Hardiman dan Surya Adhitama seketika tertuju penuh ke arah Adelina.

Adelina mengalihkan pandangan indahnya, menatap lurus tepat ke dalam sorot mata Darius yang begitu tenang dan tak terabaikan.

"Perjamuan ini hanyalah sebuah bentuk formalitas yang sia-sia," ucap Adelina dengan nada suara datar tanpa cela. "Saya tidak akan menyetujui perjodohan ini."

Pernyataan bernada penolakan mutlak itu terlontar begitu lugas, membuat suasana di ruangan VIP The Imperial Hotel seketika membeku.

Argani Atmadja mendelik tajam ke arah putrinya dengan raut wajah kaget bercampur geram. "Adelina! Apa yang kau bicarakan? Ini adalah keputusan penting bagi masa depan keluarga!"

"Keputusan keluarga tidak harus mengorbankan pilihan hidupku, Ayah," sahut Adelina tanpa keraguan sedikit pun.

Wanita itu lalu menyapu pandangannya ke arah Tuan Besar Hardiman dan Surya Adhitama, sebelum kembali menatap Darius.

"Keluarga Adhitama berpikir mereka bisa menyelesaikan konflik hanya dengan melemparkan seorang putra yang baru saja kembali," sambung Adelina, senyum tipis yang dingin mengukir bibirnya.

Adelina kemudian bangkit berdiri dari kursinya dengan anggun. Posturnya yang jenjang memancarkan aura keanggunan dan dominasi seorang wanita karier kelas atas.

"Aku tidak mau disandingkan dengan dia, hanya demi kedamaian semu di atas kertas," ucap Adelina sambil menunjuk Darius.

Miranti Adhitama mengepalkan tangannya dengan wajah memerah menahan malu atas penolakan terang-terangan Adelina tersebut.

Adelina mengambil tas tangannya, lalu menatap Darius untuk terakhir kalinya malam itu dengan tatapan menilai yang sarat akan tantangan.

"Perjodohan ini batal. Permisi," pungkas Adelina dengan dingin sebelum berbalik dan melangkah pergi.

Namun, langkah kaki Adelina mendadak terhenti saat sebuah suara berat dan dipenuhi aura penekanan yang teramat pekat menggema di seluruh ruangan.

"Duduk kembali, Adelina!"

Suara itu berasal dari Tuan Besar Gandhi Atmadja. Pria tua yang menjadi pilar utama Keluarga Atmadja itu mengetukkan tongkat kayunya ke lantai dengan keras.

1
Akang
up lagi thor
Glastor Roy
makasih torku update ya
Cardannak: Sama²
total 1 replies
Julia thaleb
Thor.
up nya yg banyak..
jgn satu.
KLO up nya 1 aja seperti makan krupuk seribuan, 1 menit SDH ludes.
Glastor Roy
yg bayak tor up ya
Julia thaleb
Thor..
aku suka.
up terus yg banyak ya
Glastor Roy
yg bayak tor up ya
Glastor Roy
update ya torku yg baik hati
Glastor Roy
yg bayak tor up ya
Glastor Roy
tor update ya
Glastor Roy
yg bayak tor up ya
Glastor Roy
update ya torku yg baik hati
Glastor Roy
yg bayak tor up ya torku
Glastor Roy
torku update ya lgi dong
Glastor Roy
update lgi
Glastor Roy
yg bayak tor up ya
Glastor Roy
makasih torku update ya
Muhamad U Fadillah Udwm
bguss
Muhamad U Fadillah Udwm
lqnjut
Glastor Roy
update ya torku yg baik hati
Glastor Roy
yg bayak tor up ya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!