Malam itu, kampung Cikabuyutan hangus di bakar jadi abu.
Prajurit Kadipaten Ciaruteun datang.
Membakar rumah. Membunuh orang tua.
Atas perintah satu nama: Adipati Rangga sasmita
Mereka membalas dengan cara nya sendiri.
Istana bilang mereka penjahat.
Rakyat bilang mereka harapan.
Karena mulai malam ini...
Dua buronan akan merampok orang kaya.
Dan membagi-bagikannya ke orang miskin.
Satu anak panah untuk keadilan.
Satu tusukan pisau untuk membongkar kebusukan.
Ini bukan balas dendam.
Ini revolusi.
Dan apinya... baru saja mulai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Galuh pravitasari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10 : PAMANAH RASA
Rombongan prajurit penarik upeti segera berbalik arah. Mereka berjalan tergesa-gesa seolah dikejar sesuatu yang tak terlihat. Dua orang menyangga Jaka Wiradipa yang terpincang-pincang menahan sakit di pahanya. Setiap langkah membuatnya mengerang pelan, wajah menegang, keringat dingin membasahi pelipis.
Sepanjang jalan ia terus melirik ke belakang. Bingung dan takut bercampur jadi satu. Dari mana panah itu datang? Mengapa hanya melumpuhkan tanpa membunuh? Dan bagaimana bisa kembali sendiri seolah punya nyawa? Tak satu pun anak buahnya berani bersuara. Mereka hanya saling pandang, lalu mempercepat langkah menjauh.
Begitu suara langkah dan denting senjata hilang, suasana berubah pelan. Dari ketakutan mencekam, beralih jadi heran yang bercampur lega mendalam. Warga yang tadi hanya bisa menunduk pasrah, kini perlahan berani mengangkat kepala. Mereka saling bertukar pandang, berbisik pelan seolah kekuatan itu masih berdiri di antara mereka.
Seorang gadis remaja yang tadi didorong hingga jatuh, kini merangkak mengambil keranjang yang terbalik. Di dalamnya sisa sayuran masih utuh. Ia memegang sebatang kangkung, lalu menatap Mang Darma dengan mata berkaca.
“Mang… tadi saat emang didorong, aku pikir kami semua akan diusir sampai ke tengah hutan,” suaranya bergetar. “Tapi tiba-tiba… semuanya berhenti begitu saja.”
Ia mengusap kepala gadis itu lembut.
“Kita tidak sendirian, Nyai. Ada yang menjaga kita, walau tak terlihat.”
“Kalian juga melihatnya?” bisik seorang ibu sambil mendekap anaknya erat. “Panah itu melesat begitu cepat, tak tahu dari mana asalnya.”
“Benar sekali,” jawab Mang Darma yang baru bisa berdiri. “Tepat menancap di paha, membuatnya jatuh. Tapi tak merusak urat atau tulang. Seolah hanya ingin menghentikan, bukan mencabut nyawa.”
Seorang pemuda menatap tajam ke arah hutan.
“Dan yang paling aneh… setelah menancap, panah itu lepas sendiri lalu hilang. Tak ada bekas, tak ada yang bisa mengambilnya.”
Bisikan itu menyebar perlahan. Di wajah mereka mulai muncul harapan yang lama padam. Ada yang mengusap dada, ada yang menengadah ke langit penuh syukur. Seorang kakek tua meraba tanah tempat panah itu jatuh sejenak, lalu mengangkat tangan berdoa lirih.
“Selama puluhan tahun kami hidup di sini, baru kali ini ada yang berani menahan mereka. Bukan dengan pedang yang berdarah, tapi dengan kekuatan yang tak kami pahami.”
Embah Suryanata duduk di batu besar, menatap jauh ke arah belukar gelap.
“Ieu lain pagawéan jelema biasa,” ucapnya pelan namun jelas terdengar. “Ieu tandana. Aya kakuatan nu ngajaga turunan urang.”
(Ini bukan perbuatan orang biasa. Ini pertanda. Ada kekuatan yang menjaga kita.)
Beberapa warga mengangguk, memejamkan mata berdoa. Pemuda bernama Darta mengepalkan tangan erat.
“Kalau ia tak membidik dengan mata, tapi tahu ke mana harus pergi… berarti ia membidik dengan rasa dan keadilan. Mari kita sebut saja dia… Si Pamanah Rasa.”
Nama itu melayang ringan namun terasa berat. Diulang perlahan dari mulut ke mulut, seketika diterima semua orang. Sejak saat itu mereka tak lagi merasa sepenuhnya tak berdaya. Tumbuh keyakinan baru: ada penjaga yang mengawasi dari balik bayangan.
Di sudut tersembunyi bawah pohon rindang, Bayu bersandar pada batang kayu. Wajahnya tertutup bayangan dedaunan. Tubuhnya lemas namun dada terasa lebih ringan. Di pangkuannya tergeletak busur SANGHYANG RASA, dipegang lembut seolah memegang amanah paling berat. Jemarinya merasakan getaran halus yang perlahan mereda, seolah busur itu juga ikut beristirahat setelah di pakai melindungi warga Cikabuyutan.
Di sampingnya Karta duduk bersila, mengasah pisaunya perlahan dengan batu sungai. Suara gesekan halus terdengar menenangkan. Sesekali ia melirik kerumunan warga, mendengar nama yang baru saja terucap, lalu tersenyum kecil.
“Mereka sudah memberimu nama yang indah, Kang Bayu,” ucapnya pelan. “Si Pamanah Rasa. Kedengarannya gagah, penuh makna.”
Bayu menoleh perlahan, mengusap ukiran sulur pada batang busur dengan ujung jari.
“Lalu?”
Karta tertawa kecil. “Lalu aku bangga punya kakak yang perlahan jadi harapan mereka.”
Bayu menggeleng pelan, menunduk sejenak merenung.
“Kita tak butuh pujian atau nama besar. Biarkan mereka menyebut apa saja. Yang terpenting bukan nama yang terucap, melainkan apa yang kita perbuat.”
Ia menegakkan badan sedikit, menatap lurus ke jalan yang dilalui rombongan tadi.
“Cukup mereka tahu satu hal: selama kita hidup, selama busur dan pisau ini dipegang dengan hati yang lurus, yang lemah tak akan dibiarkan terus terinjak.”
Suasana kembali hening. Jangkrik mulai bersuara pelan dari kejauhan.
“Kita tak perlu muncul ke permukaan,” lanjut Bayu tenang. “Biarlah kita tetap jadi bayangan yang mengawasi, angin yang terasa saat dibutuhkan. Bukan bintang yang selalu ingin dilihat dan dipuji.”
Karta diam sejenak meresapi kata itu, lalu menyeka bilah pisau hingga mengkilap sebelum menyimpannya kembali.
“Baiklah, Kang. Kita tetap jadi bayangan saja. Selama mereka merasa aman, dan kejahatan tahu ada yang mengawasi, tugas kita sudah selesai.”
Ia menepuk bahu kakaknya pelan. “Tapi kalau kau lemas lagi gara-gara busur itu, aku yang cari makanan. Sepakat?”
Bayu akhirnya tersenyum tipis. “Sepakat.”
Sore itu matahari mulai merunduk. Cahaya keemasan menyinari sisa puing yang masih hangat. Warga perlahan bergerak kembali, menyusun tempat berteduh, membagi sisa umbi dan air dengan adil. Anak-anak yang tadi menangis kini sudah terlelap di pangkuan ibu mereka, tenang dalam pelukan harapan baru.
Mereka tak tahu siapa sosok yang melindungi. Tapi nama Si Pamanah Rasa sudah tertanam kuat di hati. Di balik rimbun dedaunan, dua pemuda itu tetap diam menyembunyikan jati diri.
Karta menatap langit yang mulai jingga.
“Mereka pasti akan kembali, Kang. Dengan pasukan lebih banyak, dengan cara lebih kejam.”
Bayu mengangguk mantap.
“Dan kita akan tetap di sini. Menunggu, mengawasi. Mereka mengandalkan kekuatan karena takut. Kita mengandalkan kekuatan karena cinta pada tanah dan sesama.”
Angin sore berhembus lembut, membawa pesan keteguhan di antara reruntuhan. Perjuangan memang baru dimulai. Tapi dengan hati yang lurus dan niat tulus, mereka siap menghadapi apa pun yang datang. Tetap menjadi penjaga yang tak terlihat, namun selalu ada saat dibutuhkan.