Nexus Academy bukan sekolah biasa. Hanya 1% siswa terbaik yang berhasil diterima setiap tahun. Dari lebih dari 120.000 pendaftar, hanya 600 siswa yang lolos melewati serangkaian tes yang hampir mustahil: tes logika ekstrem, simulasi kepemimpinan, wawancara psikologi, ujian ketahanan mental, hingga permainan strategi yang membuat ribuan peserta menyerah sebelum mencapai gerbang sekolah.
Mereka yang diterima disebut sebagai Elite One.
Namun tidak semua yang masuk mampu bertahan.
Setiap semester, siswa dengan nilai, etika, atau mental terburuk akan dikeluarkan tanpa kesempatan kedua. Di sekolah ini, tidak ada teman yang benar-benar bisa dipercaya. Tidak ada kemenangan tanpa pengorbanan dan tidak semua siswa jenius adalah orang baik. Sebuah rahasia yang membuat beberapa alumni menghilang tanpa jejak
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyanza Rayyan Fahlevy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28: Kelas Alpha
Ruang kelas Alpha tidak seperti ruangan lain di Nexus Academy. Ruangan ini tidak memiliki jendela, hanya dinding yang terbuat dari kaca elektrokromik yang dapat berubah menjadi transparan atau buram sesuai dengan tingkat kebutuhan privasi sistem. Sepuluh siswa terbaik Atharva, Keisya, Gavin, Nareswara, Kirana, Raka, Celine, Farel, Nabila, dan Dimas duduk melingkar pada meja heksagon yang tertanam di tengah lantai.
Suasana di dalam ruangan itu begitu hening hingga suara dengung rendah dari sirkulasi udara terdengar seperti detak jantung yang konstan.
Pintu geser otomatis terbuka dengan desis halus. Seorang wanita dengan setelan jas abu-abu yang sangat tajam melangkah masuk. Ia adalah Maya Arundhati, wali kelas yang reputasinya sering dibicarakan dalam bisik-bisik di koridor. Tatapannya dingin, namun ada gurat kelelahan yang samar di balik kacamata berbingkai tipisnya. Ia tidak membawa buku, hanya sebuah pad data yang melayang di sampingnya.
Maya berdiri di depan meja, meletakkan tangannya di permukaan meja kaca yang dingin. "Kalian adalah sepuluh orang yang secara statistik memiliki probabilitas tertinggi untuk bertahan hingga akhir semester," ucapnya tanpa basa-basi. "Selamat datang di Kelas Alpha."
Tidak ada satu pun siswa yang menyahut. Raka Elang duduk tegak dengan dagu terangkat, mencoba mempertahankan postur dominannya, sementara Nabila di seberang meja berusaha keras menutupi tangannya yang masih gemetar karena pengumuman eliminasi tadi pagi.
"Kelas Alpha memiliki sejarah panjang di akademi ini," lanjut Maya. Ia berjalan mengelilingi meja, langkah sepatunya terdengar seperti detak jam yang menghitung mundur. "Kalian adalah kelas yang paling banyak menghasilkan lulusan terbaik dalam sepuluh tahun terakhir. Namun, ada satu fakta yang biasanya disembunyikan oleh para instruktur dari kalian."
Ia berhenti tepat di belakang kursi Atharva, lalu mencondongkan tubuh sedikit. "Kelas ini juga kelas yang paling banyak mengeluarkan siswanya. Rasio eliminasi di sini jauh lebih tinggi daripada kelas mana pun di Nexus."
"Kenapa, Bu?" tanya Kirana dengan nada yang dipoles sedemikian rupa agar terdengar penasaran, bukan takut. "Bukankah kami adalah yang terbaik?"
Maya tersenyum yang tipis dan tidak mencapai matanya. "Justru karena kalian adalah yang terbaik. Ketika sepuluh individu dengan ambisi, kecerdasan, dan ego yang besar disatukan dalam satu ruangan, sistem tidak lagi melihat kalian sebagai siswa. Sistem melihat kalian sebagai variabel yang saling mengunci."
Ia kembali ke depan meja dan mengaktifkan proyektor di tengah ruangan. Tiba-tiba, profil sepuluh siswa di kelas itu muncul secara hologram. Skor mereka, kelemahan psikologis, hingga catatan pelanggaran disiplin terlihat jelas bagi setiap orang di ruangan itu.
"Di kelas ini, kerja sama adalah opsional. Tapi persaingan adalah wajib," kata Maya dingin. "Setiap materi yang akan kita pelajari di sini adalah bahan untuk Tantangan Biner yang sesungguhnya. Jika kalian ingin bertahan, jangan pernah menunjukkan kelemahan di depan teman sebangku kalian. Karena di kelas ini, teman yang duduk di sampingmu adalah rival yang paling mungkin menjatuhkan peringkatmu demi posisi puncak."
Ia menatap Atharva dan Keisya secara bergantian. "Kalian berdua adalah dua variabel yang paling sulit diprediksi. Saya menyarankan kalian untuk tidak terlalu banyak bertukar informasi. Karena di Kelas Alpha, rahasia adalah mata uang yang paling cepat didevaluasi."
Maya mematikan proyektor, membuat ruangan kembali ke pencahayaan biru redup yang mencekam.
"Pelajaran pertama akan dimulai sepuluh menit lagi. Materi: Manipulasi Logika Sistem. Jika ada di antara kalian yang merasa tidak sanggup dengan tekanan ini, silakan keluar sekarang. Pintu akan terbuka selama tiga puluh detik."
Selama tiga puluh detik berikutnya, kesunyian di dalam ruangan itu terasa mencekik. Tidak ada yang bergerak. Dimas melirik Farel, lalu ke arah Atharva. Atharva menatap lurus ke depan, ke arah pintu yang terkunci. Ia tahu bahwa keluar bukanlah pilihan. Jika mereka keluar, mereka tidak hanya kehilangan posisi di kelas, tetapi juga kehilangan jejak untuk mengungkap misteri di balik Alvaro dan sejarah yang dihapus.
Tiga puluh detik berlalu. Pintu tetap tertutup rapat.
Maya mengangguk pelan, seolah sudah menduga hasilnya. "Bagus. Mari kita lihat, siapa di antara kalian yang akan menjadi yang pertama untuk dikeluarkan."
...****************...
Setelah waktu tiga puluh detik berakhir tanpa ada yang beranjak, Bu Maya mengetuk permukaan meja kaca. Seketika itu juga, sepuluh perangkat personal muncul dari balik meja di depan setiap siswa. Perangkat itu berbentuk kubus kristal kecil yang memancarkan cahaya biru pucat.
"Ambil kubus itu," perintah Bu Maya dengan nada datar. "Itu adalah kunci akses kalian untuk pelajaran hari ini. Di dalamnya terdapat sebuah kode fragmen yang tidak lengkap. Tugas kalian sederhana: sempurnakan kode tersebut dalam waktu lima belas menit. Siswa dengan tingkat efisiensi terendah akan mendapatkan pengurangan sepuluh poin NRS secara otomatis."
Nabila langsung menyentuh kubus miliknya. Saat jemarinya menyentuh permukaan kristal itu, sebuah virtual meledak di depan matanya, menampilkan ribuan baris kode biner yang terus bergerak cepat. Ia hampir terkesiap melihat kerumitan yang luar biasa itu seolah kode tersebut sedang mencoba menolak untuk dibaca.
Di sebelahnya, Raka langsung mengetik dengan kecepatan yang luar biasa, matanya menyipit fokus. Ia adalah salah satu yang paling percaya diri dengan kemampuan teknisnya. Sementara itu, Celine tampak lebih tenang, ia memejamkan mata sejenak, membiarkan pikirannya memetakan struktur logika kode tersebut sebelum mulai melakukan intervensi.
Atharva, dengan tenang, menatap kode di kubusnya. Ia tidak langsung mengetik. Ia mengamati bagaimana kode-kode itu membentuk pola yang familiar pola yang sama dengan simbol mata geometris yang sempat ia lihat di Arsip Angkatan 17–31. Kode ini tidak sedang meminta untuk diperbaiki; kode ini sedang menyembunyikan sesuatu.
"Waktu tersisa sepuluh menit," suara Bu Maya memecah konsentrasi mereka. "Ingat, sistem tidak mencari jawaban yang benar. Sistem mencari cara paling efisien untuk memanipulasi celah dalam arsitektur logika."
Farel yang berada di seberang Atharva terlihat mulai berkeringat. "Ini mustahil," gumamnya pelan. "Struktur kodenya sengaja dibuat kontradiktif. Jika aku memperbaiki bagian atas, bagian bawahnya justru hancur."
"Itu karena kau mencoba memperbaikinya secara linear, Farel," bisik Atharva tanpa mengalihkan pandangan dari kubusnya. "Lihat parameter di baris ke-402. Itu bukan bagian dari kode, itu adalah umpan. Jika kau menghapusnya, seluruh logika akan terurai dengan sendirinya."
Farel tertegun. Ia mencoba melakukan apa yang disarankan Atharva. Benar saja, begitu ia menghapus baris itu, kekacauan kode di depannya berubah menjadi alur yang sangat sederhana dan elegan.
Di sudut lain, Keisya memperhatikan interaksi mereka. Ia tidak ikut bicara, namun ia dengan cepat melakukan langkah yang sama. Matanya yang tajam menangkap pergerakan Atharva. Ia kini mengerti: tantangan ini bukan tentang seberapa cepat mereka bisa menulis kode, melainkan tentang seberapa cepat mereka bisa melihat kebohongan dalam sistem itu sendiri.
Bu Maya, yang berdiri di depan meja, mengamati setiap gerak-gerik siswanya melalui monitor besar di dinding belakang. Ia melihat Atharva dan Keisya mulai bekerja dengan pola yang sama, sementara Raka masih terjebak dalam perangkap logika yang rumit.
"Lima menit lagi," peringatan Bu Maya terdengar lebih berat.
Tiba-tiba, kubus di tangan Nabila mulai memanas. Layar hologramnya berubah warna menjadi merah tanda bahwa ia telah membuat kesalahan fatal dalam logika kodenya. Kepanikan mulai merambat di wajahnya. "Bagaimana ini? Aku tidak bisa menghentikannya!"
"Jangan panik," bisik Gavin dari sampingnya, meski tangannya sendiri masih sibuk dengan kubusnya. "Hapus variabel dasarnya. Jangan pedulikan fungsinya."
Kelas Alpha bukan lagi tempat untuk belajar. Ruangan itu kini berubah menjadi medan perang digital yang bisu, di mana setiap ketukan jari adalah hidup dan mati bagi peringkat mereka. Dan di balik meja itu, Bu Maya Arundhati tersenyum tipis, menyaksikan bagaimana sepuluh siswa terbaik ini perlahan mulai menunjukkan sisi asli mereka: apakah mereka akan saling membantu, atau justru saling memangsa demi bertahan hidup.