Hanya karena latar belakangnya yang miskin, Naya selalu menjadi keset kaki di rumah suaminya, Reza. Puncaknya, Ningsih—sang ibu mertua—menuduh Naya mencuri uang puluhan juta rupiah. Tanpa mau mendengarkan penjelasan, Reza yang telanjur murka menurunkan Naya begitu saja di pinggir jalan tol yang sepi dan gelap.
Mereka tidak tahu bahwa Naya bukanlah wanita lemah tanpa kuasa. Di balik penampilannya yang sederhana, Naya adalah pewaris tunggal konglomerat yang sedang menyamar.
Langkah demi langkah, Naya mulai membalas. Mulai dari membekukan rekening, memecat Reza dari posisinya di perusahaan, menyita mobil, hingga mengusir mertuanya dari rumah mewah yang ternyata dibeli dengan uangnya. Di saat Reza dan Ibunya jatuh miskin dan mengemis di jalanan, sebuah kebenaran pahit terungkap: pencuri asli uang Ningsih adalah bukan Naya Saat penyesalan datang, pintu maaf Naya sudah tertutup rapat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hadid Salman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tagihan yang Tak Terbayar
Pagi yang angkuh kini telah meleleh menjadi siang yang mencekam. Di dalam ruang kerjanya yang sejuk oleh embusan pendingin udara, Reza Adijaya merasa seolah sedang dikurung dalam peti mati kaca.
Layar ponselnya yang tergeletak di atas meja jati terus berkedip tanpa henti. Nama "Ibu" kembali muncul, bergetar hebat seperti detak jantung yang sekarat. Reza menatap benda persegi itu dengan rasa ngeri yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya. Baginya, getaran ponsel itu kini terdengar seperti ketukan palu hakim yang siap menjatuhkan hukuman mati pada reputasinya.
Dengan tangan yang basah oleh keringat dingin, ia akhirnya menggeser layar hijau.
"Reza! Kamu di mana?! Mengapa lama sekali?!" Suara Ningsih pecah di seberang sana, menggelegar di sela-sela isak tangis yang tak lagi mampu ditutupi oleh kepura-puraan. "Jeng Marni dan yang lainnya sudah pulang! Mereka... mereka membayar bagian mereka masing-masing dan meninggalkanku sendirian di sini! Tapi sup burung walet dan hidangan pembuka yang Ibu pesan untuk menjamu mereka... pihak restoran menuntut Ibu membayarnya! Jumlahnya tiga puluh lima juta rupiah, Reza! Tiga puluh lima juta!"
Ningsih meratap, suaranya melengking pilu, bergaung di sudut-sudut restoran mewah yang kini terasa seperti penjara bawah tanah baginya. "Manajer restoran sialan ini menahanku di ruang privat! Mereka bilang, jika dalam waktu lima belas menit tagihan ini tidak dilunasi, mereka akan memanggil petugas keamanan dan polisi! Cepat kirim uangnya, Reza! Ibu tidak mau diseret seperti maling!"
"Tiga puluh lima juta..." bisik Reza, suaranya mendadak parau. Angka itu biasanya terasa kecil ketika kartu hitamnya masih bernapas. Namun kini, angka itu menjelma menjadi tebing tinggi yang mustahil ia daki.
"Ibu, tenanglah sedikit," Reza mencoba menstabilkan suaranya, meski lututnya terasa goyah di balik celana kainnya yang mahal. "Aku... aku sedang mengurus gangguan sistem di bank. Tunggu sebentar."
"Tunggu? Mereka tidak mau menunggu! Cepat, Reza! Demi harga diri keluarga kita!" Klik. Sambungan terputus.
Reza melempar ponselnya ke meja. Dengan panik yang kian liar, ia membuka laptop kerjanya. Jemarinya menari dengan gemetar di atas papan tik, mencoba mengakses akun tabungan pribadinya—rekening darurat yang selama ini jarang ia sentuh karena ia selalu merasa aman di bawah payung dana tak terbatas dari 'fasilitas kantornya'.
Layar memuat data dengan lambat, seolah-olah sengaja memperpanjang siksaannya. Ketika angka-angka itu akhirnya muncul, wajah Reza mendadak pucat pasi.
SALDO AKTIF: Rp1.240.000,00
Hanya satu juta dua ratus ribu rupiah.
Reza terengah, menatap angka itu dengan mata membelalak. Bagaimana mungkin? Selama tiga tahun ini, gajinya sebagai manajer menengah sebesar dua puluh lima juta rupiah per bulan selalu habis tak bersisa. Ia menggunakannya untuk membayar cicilan klub golf eksklusif, membeli wiski impor, mengangsur jam tangan mewah, dan mendanai gaya hidup sosialita ibunya yang tak pernah kenyang oleh pujian. Ia tidak pernah menabung secara serius karena ia selalu yakin bahwa 'bonus fasilitas' dari struktur Atmadja Group akan selalu mengalir tanpa batas ke rekening bersamanya.
Kini, berhala emas yang ia sembah itu telah runtuh, menyisakan reruntuhan realitas yang dingin dan hampa.
"Sial! Sial!" Reza memaki rendah, memukul meja kerjanya hingga cangkir kopi hitamnya berguncang.
Ia merogoh ponselnya kembali. Pikirannya berputar cepat, mencari dahan yang bisa ia genggam sebelum ia tenggelam ke dasar jurang malu. Ia mencari nomor Rian. Sebagai tangan kanan dan sahabat yang selalu menjilatnya di kantor, Rian pasti memiliki simpanan uang.
Ia menekan tombol panggil. Telepon diangkat pada nada ketiga.
"Rian! Kamu di mana?" cecar Reza tanpa basa-basi, suaranya berbisik kencang, matanya melirik ke pintu kaca ruangannya, takut jika ada stafnya yang mendengar.
"Eh, Za? Aku di pantry bawah, baru mau buat kopi. Ada apa?" jawab Rian santai.
"Rian, aku... aku butuh bantuanmu. Sangat mendesak," Reza menelan ludah, tenggorokannya terasa sekering gurun pasir. Meminta uang kepada bawahan adalah hal terakhir yang ingin ia lakukan, namun harga diri ibunya di restoran mewah itu jauh lebih mendesak. "Bisa pinjamkan aku tiga puluh lima juta rupiah? Hari ini juga. Rekening bank-ku sedang dibekukan sementara karena ada kesalahan sistem dari pusat."
Hening sejenak di ujung telepon. Suara bising mesin pembuat kopi di latar belakang Rian mendadak terasa begitu sunyi.
"Aduh, Za..." Nada suara Rian berubah, dari akrab menjadi ragu-ragu dan kaku. "Tiga puluh lima juta? Waduh, besar sekali, Za. Kalau cuma satu atau dua juta, aku mungkin ada. Tapi kalau sebanyak itu... istriku baru saja bayar uang pangkal sekolah anak yang pertama pagi ini. Tabungan kami habis menyusut."
"Rian, tolonglah. Hanya untuk beberapa hari. Begitu sistem bank-ku pulih, aku kembalikan dua kali lipat!" Reza memohon, suaranya kini terdengar begitu menyedihkan, kehilangan seluruh wibawa seorang atasan yang biasanya ia agungkan.
"Maaf sekali, Za. Sungguh tidak ada. Kamu tahu sendiri kan gajiku di sini tidak seberapa dibanding gajimu yang besar sebagai manajer," jawab Rian, kini ada nada dingin yang halus menyelusup dalam suaranya. Sifat menjilat Rian menguap seketika begitu ia mencium bau-bau kesulitan finansial dari atasannya. "Bagaimana kalau kamu tanya ke manajer divisi lain saja? Maaf ya, Za, aku harus kembali ke meja kerja dulu."
Tut... tut... tut...
Reza menatap layar ponselnya yang mati dengan perasaan kosong. Tikaman pertama dari kenyataan sosial baru saja mendarat di dadanya. Rian, pria yang kemarin malam masih tertawa bersamanya merayakan kepergian Naya, kini dengan mudah membalikkan punggung saat ia membutuhkan uluran tangan.
Ponselnya bergetar lagi. Kali ini bukan panggilan, melainkan pesan singkat dari ibunya.
Reza! Tolong Ibu! Manajer restoran ini sudah memanggil dua sekuriti berbadan besar! Mereka berdiri di depan pintu! Ibu sangat malu, Reza! Jeng Marni tadi sempat melihat Ibu tertahan dan dia tersenyum mengejek! Cepat kirim uangnya atau Ibu akan pingsan di sini!
Keringat dingin Reza kini menetes, membasahi kerah kemeja birunya yang licin. Rasa panik yang semula mengendap di dada kini telah naik ke tenggorokan, mencekik kesadarannya. Di dalam kepalanya yang bising, bayangan wajah Naya kembali melintas.
Tiga tahun ini, jika ibunya meminta uang belanja tambahan atau uang arisan yang membengkak, Naya selalu menyelesaikannya tanpa banyak bicara. Naya yang selalu mengangguk patuh, Naya yang akan mengulurkan amplop cokelat dengan jemari lentiknya yang kasar karena detergen, Naya yang selalu diam menerima caci maki namun selalu memastikan bahwa tidak ada satu pun tagihan di rumah ini yang telat terbayar.
"Mengapa... mengapa semua ini terjadi setelah dia pergi?" bisik Reza, matanya liar menatap sudut ruangan.
Ia tidak pernah tahu bahwa ketenangan hidupnya selama tiga tahun ini dibeli dengan harga diri seorang putri mahkota yang ia perlakukan seperti pelayan. Dan kini, setelah sang pelindung tak kasat mata itu ia buang di bahu jalan tol, badai yang sesungguhnya telah datang untuk menuntut seluruh utang kesombongannya.
Dengan sisa-sisa harapan yang menipis, Reza meraih dompetnya. Ia mengosongkan seluruh isi dompet tersebut di atas meja. Beberapa lembar uang seratus ribu rupiah berserakan, bersanding dengan berbagai kartu anggota klub mewah yang kini tak lebih dari sekeping plastik tak berguna.
Ia menghitung uang tunai yang tersisa. Sembilan ratus ribu rupiah.
Dunia di sekeliling Reza seolah runtuh perlahan, meremukkan seluruh keangkuhan yang selama ini ia pelihara di atas kertas linen mewah. Di luar jendela, matahari siang membakar Jakarta dengan kejam, seolah menertawakan seorang pria sukses yang kini tak mampu menebus ibunya sendiri dari sebuah tagihan makan siang.