"Dia seorang pria tua, Elena. Tapi dia sangat kaya dan royal. Tugasmu hanya melayaninya satu malam dengan mata tertutup."
Setelah kabur dari rumah tanpa uang dan tanpa tujuan, Elena menerima tawaran yang seharusnya tidak pernah ia ambil. Satu malam dan bayaran yang cukup untuk menyelamatkan hidupnya.
Namun malam itu meninggalkan sesuatu yang tidak pernah Elena duga.
Elena Hamil.
Demi melindungi bayinya, Elena melarikan diri ke Indonesia.
Tujuh tahun kemudian, takdir membawanya bekerja di sebuah perkebunan teh yang ternyata adalah milik Leonard—miliarder misterius yang selalu bersembunyi di balik topeng dan penampilan seorang pria tua yang rapuh.
Sementara itu, Leonard masih terus mencari keberadaan Elena, satu-satunya wanita yang sentuhannya tidak memicu penyakit alergi langka yang selama ini membuatnya menjauhi semua orang.
Saat kebenaran mulai terkuak, mampukah Elena menjaga rahasianya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 24
"Kemana perginya bocah sialan itu?!" maki Xander dengan suara menggelegar, wajah keriputnya memerah karena menahan amarah yang sudah mencapai ubun-ubun.
Pria tua penguasa itu berjalan mondar-mandir seperti setrikaan rusak dari ujung sofa ke ujung televisi. Napasnya memburu. Jam dinding antik raksasa di sudut ruangan sudah menunjukkan pukul sebelas malam, namun cucu kebanggaannya belum juga menampakkan batang hidungnya sejak siang tadi.
Naomi yang duduk di sofa memijat pelipisnya yang mulai berdenyut nyeri. Secangkir teh chamomile di tangannya sampai bergetar karena ia ikut-ikutan stres melihat kelakuan suaminya.
"Sayang, tolong berhentilah mondar-mandir! Kepalaku rasanya mau pecah melihatmu jalan bolak-balik begitu. Lebih baik kita telepon polisi saja. Bagaimana kalau Leonard diculik musuh? Atau disekap di gudang kosong? Atau dibuang ke laut dan diikat batu?!" keluh Naomi dengan nada memelas.
Xander mendengus kasar, menatap istrinya dengan raut wajah tak habis pikir.
"Diculik musuh?! Jangan bicara omong kosong, Naomi!" sembur Xander galak. "Musuh mana yang mau repot-repot menculik balok es penyakitan itu, hah?! Yang ada penculiknya yang minta ampun minta dipulangkan karena stres mendengar Leonard menceramahi mereka pakai istilah medis!"
"Tapi ini sudah malam! Leonard itu kan alerginya gampang kumat! Bagaimana kalau dia tidak sengaja memakan debu jalanan? Bagaimana kalau dia pingsan di pinggir jalan lalu ginjalnya diambil oleh sindikat perdagangan organ ilegal?! Ya Tuhan, cucuku yang malang!"
"Dia itu bos mafia! Bukan anak TK yang nyasar sepulang study tour!" bentak Xander frustrasi. "Masa bos dunia bawah tanah ginjalnya dicuri preman pinggir jalan?! Reputasi keluarga kita mau ditaruh di mana?!"
Di tengah perdebatan sengit yang sama-sama berlebihan itu, pintu utama mansion terbuka perlahan. Joni, asisten pribadi sekaligus tangan kanan Leonard, melangkah masuk dengan langkah gontai.
Jasnya tampak kusut, dasinya miring, dan kantung matanya terlihat sedalam palung laut. Ia baru saja kembali dari misi pencarian bos besarnya.
Melihat Joni datang, Xander dan Naomi langsung menerjang pria malang itu seperti dua ekor harimau yang kelaparan.
"Joni! Mana cucu durhaka ku?!" cecar Xander sambil menodongkan tongkatnya tepat di depan dada Joni.
"Dimana dia, Jon?! Apa kamu sudah mengecek selokan? Jangan-jangan dia jatuh ke got dan tidak bisa naik!" tambah Naomi histeris, mengguncang-guncang lengan asisten itu.
Joni menelan ludah dengan susah payah, matanya bergerak panik menatap majikan-majikannya.
"Maaf, Tuan Besar... Nyonya... Saya sudah mengerahkan beberapa anak buah untuk menyisir seluruh sudut kota, tapi sir Leon belum juga ditemukan. Ponselnya mati total. Terakhir kali GPS mobilnya terlacak di kawasan perumahan kumuh pinggiran kota, lalu sinyalnya hilang begitu saja."
"Perumahan kumuh?!" Xander melotot tak percaya. "Sedang apa bocah higienis itu ke sana?! Mencari penyakit?!"
"Saya juga tidak tahu, Tuan Besar. Warga sekitar bilang mereka sempat melihat keributan kecil antara sir Leon dan seorang wanita, lalu sir Leon menghilang," jelas Joni hati-hati.
"Wanita?! Leonard bertemu wanita?! Syukurlah! Akhirnya cucuku itu normal!" pekik Naomi, matanya berbinar seketika, kepanikannya mendadak menguap entah ke mana.
"Normal apanya?! Dia hilang." omel Xander memutar bola matanya malas. Ia kembali menatap Joni dengan tajam. "Lalu, bagaimana dengan tugas utamamu? Apa ada kabar soal itu?!"
Mendengar pertanyaan itu, Joni langsung berdiri tegak. Ia merogoh tablet dari dalam tas kerjanya dengan raut wajah yang sedikit lebih cerah.
"Ah, soal itu! Saya membawa kabar baik, Tuan Besar," lapor Joni antusias. "Sampel rambut yang Tuan Besar ambil dari bocah kecil yang mengalahkan Tuan Besar main catur waktu itu, sudah berhasil kami kirimkan ke laboratorium pusat. Kami mencocokkannya dengan sampel DNA sir Leon."
"Bagus! Lalu mana hasilnya?! Apa bocah tengil yang pintar merusak wajahku pakai spidol itu benar-benar cicit kandungku?!" tuntut Xander tak sabar, jantungnya berdebar kencang menanti jawaban.
"Hasil resminya belum keluar malam ini, Tuan Besar. Tapi pihak laboratorium mengonfirmasi bahwa hasil tes DNA tersebut akan keluar besok pagi jam delapan tepat!" jawab Joni sambil tersenyum canggung, mundur selangkah untuk menghindari amukan.
Ruangan itu mendadak hening selama beberapa detik.
Xander dan Naomi saling berpandangan dengan mata membelalak lebar.
"Besok pagi?!" seru Xander dan Naomi bersamaan.
"Bisa tidak kamu sogok laboratoriumnya supaya hasilnya keluar sekarang juga?!" sungut Xander tak sabar sembari memukul lantai dengan tongkatnya.
"Kalau bocah genius nan menyebalkan itu benar-benar anak Leonard, aku sendiri yang akan menyeret cucu sialan itu pulang dan memaksanya bertanggung jawab! Berani-beraninya dia menyembunyikan cicit tampanku selama ini."
Joni hanya bisa tersenyum pasrah, diam-diam berdoa dalam hati agar bosnya masih hidup dan tidak sedang disiksa di luar sana
Karena jika Leonard pulang besok, badai amukan kakek dan ibunya pasti akan jauh lebih mengerikan daripada siksaan musuh mana pun.
tetang bagaimana jadinya ada anak kecil yng mirip
Elena pasti panik melihat Naomi , berasa jadi wanita simpanan
🤣🤣
Leon siap siap jadi asisten opa dan oma mu🤣
meskipun namanya Leon tetap saja akan kupanggil singa yang alergi sentuhan🤣
hahaha Joni sampai menangis itu lho Leon 😂
habislah Leon setelah ini di tangan opa Xander 🤣
berani banget menghamili gadis sampai ada nya seorang anak yang menyebalkan