Haruto Kazehara hanyalah remaja biasa yang tak pernah bermimpi menjadi seseorang yang istimewa—sampai takdir mengubah segalanya secara tiba-tiba lewat sebuah kecelakaan. Saat ia membuka mata kembali, ia mendapati dirinya terbangun di dunia yang tak pernah ia bayangkan: sebuah negeri yang dipenuhi cahaya sihir, hutan berbahaya, monster purba, naga yang menguasai langit, dan kerajaan kuno yang menyimpan ribuan rahasia.
Penuh harap ia menyambut kekuatan baru sebagai pahlawan yang legendaris. Namun kenyataan berbalik mengecewakan: sihir yang ia miliki justru berjenis aneh, tak terduga, dan seringkali gagal total di saat-saat paling krusial. Alih-alih tampil gagah dan memukau, Haruto malah kerap menjadi bahan tertawaan teman-temannya—belum lagi tingkah laku slime rakus bernama Pochi yang selalu mengikutinya ke mana saja dan tak segan membuat kekacauan di mana pun mereka berada.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon (Rahu)l, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31 – KEDATANGAN YANG MENGUBAH SEGALANYA
Suara ledakan dahsyat mengguncang seluruh lembah saat Kael melepaskan serangan itu. Cahaya biru pekat berbentuk tombak raksasa melesat membelah udara, menghantam benteng sihir terakhir yang dipasang Mizuna.
BRAKK!!!
Zirah air yang selama ini ia pertahankan dengan sisa tenaga terakhir hancur berkeping-keping. Tubuh Mizuna terpental mundur, darah segar menyembur dari sudut bibirnya saat punggungnya menghantam batang pohon besar.
"Mizuna!" teriak Daichi yang seketika kehilangan tumpuan pertahanan. Dua prajurit Orde Air Kuno segera menerjangnya, ujung senjata sihir mereka menyayat lengan dan pinggangnya. Daichi meringis kesakitan, namun ia tetap berdiri tegak, pedang diangkat setinggi dada meski kakinya mulai gemetar.
Kael melangkah maju, sepatunya menyentuh permukaan air danau yang tenang seolah berjalan di atas tanah padat. Di belakangnya, ratusan pasukan berbaris diam tanpa suara, aura dingin mereka membuat udara semakin menyesakkan.
"Kalian sudah melihat batas kemampuan kalian," ucap Kael dingin, matanya menatap tajam ke arah gerbang dimensi yang mulai berkedip lemah. "Menyerahlah sekarang, dan aku akan membiarkan kalian pergi dengan hidup."
"Tidak akan..." desis Mizuna berusaha bangkit, namun kakinya tak lagi sanggup menahan berat tubuhnya. "Selama aku masih bernapas..."
"Kalau begitu, tiada pilihan lain."
Kael mengangkat tangannya sekali lagi. Kali ini cahaya yang terbentuk jauh lebih besar, memancarkan getaran yang membuat bebatuan di sekitar danau pecah berkeping-keping.
"Ambil anak itu dan makhluk itu. Habiskan siapa saja yang menghalangi."
Saat para prajurit mulai melangkah serentak, tiba-tiba...
BYUURRR!!!
Suara gemuruh air yang berbeda menggema dari tengah danau. Permukaan air yang tadinya tenang tiba-tiba terbelah, sebuah pilar cahaya biru menyembur ke langit setinggi puluhan meter, menembus awan kelabu yang menutupi lembah.
Semua orang terpaku. Bahkan Kael pun menahan gerakannya sejenak, menatap tak percaya pada pemandangan di hadapannya.
Dari tengah pilar cahaya itu, sesosok anak muda melangkah keluar.
Haruto turun perlahan seolah ada tangga tak kasat mata yang menopang kakinya. Jubahnya berkibar diterpa angin yang tiba-tiba berhembus kencang, dan sepasang matanya yang tadinya biasa saja kini memancarkan cahaya biru lembut yang sama persis dengan warna air di sekeliling mereka. Di pundak kanannya, Pochi berdiri diam, tubuhnya berkilauan seperti permata biru yang hidup.
Langkah kakinya mendarat tepat di antara pasukan Orde Air Kuno dan kedua temannya yang terluka.
"Jangan sentuh mereka."
Suara Haruto tidak keras, namun terdengar jelas hingga ke telinga setiap orang yang ada di sana. Ada ketegasan yang belum pernah ia miliki sebelumnya, berpadu dengan ketenangan yang membuat siapa pun yang mendengarnya merasakan getaran halus di dalam hati.
Kael mengerutkan kening, menatap sosok anak muda yang baru muncul itu dari ujung kepala hingga ujung kaki.
"Jadi kau anak yang dicari?" ucapnya perlahan. "Aku mendengar banyak hal tentangmu. Seorang asing yang tiba-tiba muncul dengan kekuatan yang tak masuk akal, ditemani makhluk yang seharusnya sudah punah ribuan tahun lalu."
Haruto diam sejenak, menatap Mizuna dan Daichi yang menatapnya dengan pandangan campur aduk antara lega dan tak percaya. Ia menggeleng pelan.
"Aku tidak tahu siapa kalian, dan apa tujuan kalian mengambilku serta Pochi," ucapnya mantap. "Tapi satu hal yang kau harus tahu... kau tidak boleh menyakiti orang-orang yang berharga bagiku."
Mendengar itu, para prajurit di belakang Kael bergemuruh. Namun Kael hanya mengangkat satu tangan, seketika membuat suasana kembali sunyi senyap.
"Kesombongan anak muda yang tidak tahu diri," ucap Kael dingin. "Kau kira dengan muncul begini kau bisa menghentikan Orde Air Kuno? Kami adalah penjaga keseimbangan air yang telah ada sejak kerajaan pertama berdiri. Kekuatanmu hanyalah percikan kecil dibanding lautan kekuatan yang kami miliki."
"Kau salah," balas Haruto tenang. Tangannya terangkat perlahan, dan seketika itu juga aliran air di sekeliling mereka seolah menari mengikuti irama gerakannya. "Guruku pernah bilang... kekuatan air bukanlah tentang seberapa besar serangan yang kau lepaskan. Bukan tentang seberapa keras kau menahan atau melawan."
Ia menatap lurus ke manik mata Kael.
"Air akan selalu mengalir. Menembus celah yang tak terlihat, mengelilingi rintangan yang tak bisa dihancurkan, dan melindungi apa yang patut dilindungi tanpa pernah memaksakan kehendak."
Kael mendengus kasar.
"Omong kosong! Serang!"
Perintah itu langsung dilaksanakan. Puluhan prajurit melesat maju bersamaan, melepaskan rentetan tombak, cambuk, dan gelombang sihir air yang menyelimuti seluruh ruang di hadapan mereka. Mizuna dan Daichi menahan napas, takut melihat anak muda itu hancur dalam sekejap.
Namun yang terjadi tak terduga.
Begitu serangan-serangan itu hampir menyentuh tubuh Haruto, seluruhnya seolah dialihkan oleh arus tak kasat mata. Gelombang besar yang seharusnya menghantam justru berbelok lembut, membelah diri mengelilingi Haruto tanpa menyentuh sehelai benang pun di tubuhnya, lalu menyatu kembali dan menghilang ke dalam danau seolah tak pernah ada apa-apa.
Para prajurit tertegun. Bahkan Kael pun sedikit membuka matanya lebar.
"Impossible..." gumamnya.
Haruto tidak menyerang balik. Ia hanya berdiri diam, membiarkan seluruh serangan melintas di sampingnya tanpa menimbulkan kerusakan sedikit pun.
"Ini..." bisik Mizuna tak percaya. "Ia mengalirkannya... bukan melawannya."
Pochi tiba-tiba melompat ke udara, tubuhnya memancarkan cahaya biru yang lebih terang dari sebelumnya. Seketika bayangan sosok besar yang samar tampak melayang di atas mereka—bayangan makhluk kuno yang pernah menguasai seluruh elemen air ribuan tahun silam.
Kael mundur selangkah untuk pertama kalinya. Wajahnya yang tenang kini mulai memperlihatkan bayang-bayang kekaguman bercampur ketakutan.
"Slime Legendaris..." gumamnya. "Dan kau... kau bukan sekadar penyihir air biasa."
Haruto perlahan merentangkan kedua tangannya. Seluruh permukaan danau bergetar lembut, seolah menyambut kehadiran tuannya yang sesungguhnya.
"Aku tidak tahu siapa aku sebenarnya," ucap Haruto jujur, suaranya kembali tenang namun penuh keyakinan. "Tapi hari ini... aku akan melindungi mereka. Dan aku tidak akan membiarkan siapa pun mengambil apa yang menjadi bagian dari hidupku."
...****************...
Kael menatap tajam, rasa ragu yang sempat muncul seketika lenyap digantikan tekad yang membatu.
"Ah, aku baru ingat," ucapnya tiba-tiba, suaranya kembali dingin dan kaku. "Pemimpin kami bukan menginginkanmu sebagai individu. Melainkan kekuatan yang mengalir di dalam darahmu. Maka kami akan membawamu... hidup atau mati."
Ia mengangkat tangannya tinggi-tinggi.
"Semua pasukan! Lakukan Sihir Arus Besar! Serentak!"
Seketika ratusan prajurit Orde Air Kuno mengangkat tongkat dan senjata mereka serempak. Cahaya biru pekat berkumpul di ujung setiap senjata, menyatu menjadi satu raksasa pusaran air yang berputar liar di atas langit. Udara menjadi berat, desis air yang bergesekan terdengar bagaikan amukan lautan yang hendak menelan seluruh lembah.
Mizuna menahan napas erat. "Itu... sihir terlarang yang menyerap seluruh energi di sekitarnya..."
Daichi mencengkeram gagang pedang hingga buku jarinya memutih. "Haruto..."
Namun pemuda itu tak bergeming sedikit pun. Matanya tetap tenang, seolah amukan sihir di hadapannya hanyalah aliran sungai biasa yang ia temui setiap hari. Perlahan ia mengangkat telapak tangan kanannya, melambai lembut seolah mengajak air itu menari.
Dari permukaan danau, puluhan aliran air memanjang ke atas, berubah wujud menjadi cambuk-cambuk air yang lentur namun kokoh, berkilauan seperti kaca bening yang hidup. Mereka melayang mengelilingi Haruto, menunggu perintah sepenuh hati.
"Sampaikan kepada pemimpin kalian," ucap Haruto lantang, suaranya membelah deru angin dengan jelas. "Bahwa aku sendiri yang akan mendatanginya."
Dengan satu ayunan tangan yang tegas namun lembut...
BYUAK!!!
Puluhan cambuk air melesat seketika, bukan menabrak, melainkan membelah dan mengalir di sela-sela serangan musuh. Di mana pun tombak sihir dilepaskan, cambuk air itu hadir melilit, mengarahkan, dan membalikkan arah serangan tanpa menyakiti siapa pun secara berlebihan—namun cukup kuat menjatuhkan senjata, menjatuhkan keseimbangan, dan melumpuhkan kemampuan mereka menyihir.
Pasukan yang menyerang seketika terhuyung-huyung. Sihir besar yang mereka kumpulkan dengan susah payah perlahan terurai, terserap dan mengalir masuk ke dalam aliran yang dikendalikan Haruto seolah mereka adalah bagian dari satu arus yang sama.
"Mustahil..." desis salah satu prajurit yang terpental mundur. "Dia tidak melawan... dia menguasai arus itu sendiri!"
Dalam hitungan detik, ratusan pasukan yang tadinya tampak tak terkalahkan kini tersungkur di tepi danau. Tidak ada yang terluka parah, namun tak satu pun yang mampu bangkit kembali untuk melawan. Kekuatan mereka habis tersedot mengalir mengikuti irama yang ditetapkan pemuda itu.
Kini hanya tersisa Kael sendiri.
Ia berdiri diam di tengah hamparan air yang tenang kembali, napasnya sedikit tersengal. Wajahnya yang penuh keangkuhan kini memancarkan kekaguman bercampur amarah yang tak sanggup ia sembunyikan.
"Kau... kau benar-benar berbeda dari apa yang kami duga," ucapnya pelan, tangannya mencengkeram gagang pedang air yang baru terbentuk di telapak tangannya. "Tapi tugasku belum selesai. Selama aku masih bernapas... aku akan membawamu."
Haruto menatapnya tenang. Di pundaknya, Pochi memancarkan cahaya lembut seolah memberi isyarat bahwa pertarungan sejati baru saja dimulai.
"Kalau begitu," ucap Haruto pelan, "Mari kita selesaikan ini di antara kita."