NovelToon NovelToon
Antagonis Yang Menghindari Alur

Antagonis Yang Menghindari Alur

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Mengubah Takdir
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: okolele

Apakah tidak ada pilihan lain?
kenapa sakalinya bertransmigrasi malah ke tubuh Antagonis,lucu sekali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon okolele, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Canggung

Bel baru saja berhenti berbunyi ketika Bu Rina melangkah masuk membawa setumpuk map.

"Selamat pagi."

"Pagi, Bu."

"Yang masih di luar, silakan masuk. Saya nggak mau ada yang nongkrong di koridor."

Malika menarik kursinya pelan lalu duduk.

Tasnya ia letakkan di samping meja,

sementara Aira masih sibuk mengeluarkan buku dari dalam tas dengan wajah kusut.

"Anjir..."

Malika melirik.

"Kenapa lo?"

"Buku matematika gue ketinggalan."

"Lah, semalem ngapain?"

"Ketiduran."

"Pantes."

"Jangan ketawa, woy."

"Gue nggak ketawa."

"Bibir lo senyum."

"Itu refleks."

Aira mendecih pelan. Tanpa basa-basi, ia langsung menarik buku milik Malika setengah keluar dari meja.

"Gue nebeng."

"Enak aja."

"Cuma liat doang."

"Cuma liat nanti jadi dibawa."

"Pelit."

"Tau."

Aira mendengus kesal, tapi ujung bibirnya ikut naik.

Di depan Mereka, Rara yang sejak tadi mendengar Aira dan Malika saling bercanda akhirnya menoleh.

Ia tersenyum kecil.

"Aira..."

Aira mengangkat kepala.

"Hm?"

"Pelan dikit, dong. Kasihan yang lagi nyoba fokus."

Nada bicaranya lembut. Bahkan terdengar seperti sedang mengingatkan dengan baik.

Namun entah kenapa, Aira tahu betul itu bukan sekadar teguran.

Ia menyandarkan tubuh ke kursi.

"Lah? Emang berisik banget?"

"Nggak, sih." Rara tersenyum tipis. "Cuma... tadi Bu Rina udah beberapa kali lihat ke belakang.

Aku takut nanti malah kalian yang ditegur."

Kalimatnya terdengar manis.

Seolah benar-benar sedang mengkhawatirkan mereka.

Aira mendecak pelan.

"Iya, makasih."

"Nggak usah jutek gitu, Aira." Rara terkekeh pelan. "Aku kan cuma ngingetin."

Malika yang sejak tadi diam akhirnya menyenggol pelan lengan Aira.

"Udah."

Aira mengembuskan napas pelan sebelum mengalihkan pandangannya.

"Iya, iya."

Melihat suasana kembali tenang, Rara memutar tubuhnya menghadap depan.

Senyumnya masih terpasang.

"Untung aja Malika sekarang lebih kalem."

Ucapan itu terdengar ringan.

Namun cukup membuat Aira menaikkan

sebelah alis.

"Maksud lo?"

Rara buru-buru menggeleng.

"Hah? Nggak ada maksud apa-apa. Aku cuma bilang sekarang dia beda aja. Lebih enak diajak sekelas,biasakanya dia suka emosi, terakhir kali aja dia marah sama Aku dan Soren karena negur dia duduk di kursi kami."

Malika tidak menanggapi.

Ia membuka bukunya seperti tidak mendengar apa pun.

Justru sikap datarnya itu membuat senyum di wajah Rara perlahan memudar.

Kembali ke kelas.

Bu Rina menutup spidolnya, lalu bertepuk tangan sekali.

"Baik, sekarang ibu bagi kalian menjadi beberapa kelompok. Minggu depan kita presentasi."

Serentak terdengar suara keluhan dari berbagai sudut kelas.

"Yahh..."

"Baru juga Senin, Bu."

"Santai dulu napa."

Bu Rina menggeleng sambil tersenyum tipis.

"Keluhannya disimpan. Yang ibu panggil namanya langsung bergabung."

Beliau mulai menyebutkan satu per satu anggota kelompok.

"Aira, Rara..."

Aira langsung menjatuhkan kepalanya ke meja.

"Astaga... kenapa harus sama dia."

Malika menahan tawa.

"Baru juga dipanggil."

"Gue udah pengen pindah kelompok."

Tak jauh dari sana, Rara justru menoleh sambil tersenyum.

"Aira, nanti kita kerja sama yang baik, ya."

Aira membalas dengan senyum tipis yang jelas-jelas dipaksakan.

"Iya."

"Kan enak kalau akur."

"Iya."

Malika menyenggol pelan lengan sahabatnya.

"Jangan ketahuan malesnya."

"Gue udah berusaha ramah, itu."

"Ramah dari mana?"

"Dalem hati."

Malika terkekeh pelan.

Bu Rina kembali melanjutkan.

"Malika..."

Malika mengangkat kepala.

"...Soren."

Suasana kelas mendadak sedikit lebih ramai.

Beberapa pasang mata langsung berpindah ke arah mereka.

"Wih..."

"Cocok."

"Anjay."

Seseorang di bangku belakang bahkan bersiul pelan sebelum langsung diam saat Bu Rina melirik tajam.

Malika hanya menghela napas.

Sementara Aira menoleh cepat.

"Buset..."

"Apa?"

"Lo sekelompok sama Soren."

"Terus?"

"Lah, terus katanya."

Malika mengangkat bahu.

"Kelompok ya kelompok."

Jawaban itu justru membuat Aira melongo.

Kalau beberapa bulan lalu, Malika pasti sudah senyum-senyum sendiri.

Sekarang?

Ekspresinya datar saja.

"Seriusan, terus perasaan lo sama dia sekarang gimana?. "

"Sekarang gue gak ada lagi rasa sama dia, percaya sama gue Ra lebih enak ngejomblo dari pada ngejar yang gak mau sama kita buang-buang energi tau ga. "

Di sisi lain, Rara yang sedari tadi tersenyum perlahan merapatkan bibir.

"Soren."

"Hm?"

"Nanti kita tetap ngerjain bareng, kan? Soalnya kelompok kita kan sering diskusi rame-rame."

Soren menoleh sekilas.

"Kayanya gak bisa deh, kelompok kita aja beda."

"Oh... iya."

Jawabannya singkat.

Tidak seperti yang diharapkan Rara.

Bu Rina menepukkan map ke meja.

"Sudah. Jangan ribut sendiri. Kelompok boleh mulai diskusi sepuluh menit."

Begitu guru itu duduk di kursinya, Aira langsung menoleh ke Malika.

"Mal."

"Hm?"

"Titip doa."

"Buat apa?"

"Semoga gue nggak nyubit orang hari ini."

Malika menahan tawanya.

"Gue rasa yang butuh didoain bukan lo."

"Lah?"

"Si Rara."Timpal malika sembari menunjuk Rara lewat lirikan pada Aira.

Aira langsung menutup mulutnya, berusaha menahan tawa agar tidak terdengar.

"Anjir... baru kali ini jokes lo masuk di gue."

"Sekali-sekali."

Di depan mereka, Rara sempat melirik ke belakang.

Ia tidak mendengar jelas apa yang dibicarakan, tetapi melihat Aira tertawa bersama Malika membuat senyumnya perlahan menghilang sesaat sebelum kembali memasang ekspresi manis seperti biasa.

"Sepuluh menit. Manfaatkan waktunya buat diskusi, bukan ngobrol," ujar Bu Rina sebelum kembali memeriksa berkas di mejanya.

Suasana kelas kembali riuh. Kursi-kursi mulai bergeser, beberapa siswa berpindah mendekati anggota kelompoknya masing-masing.

Aira menepuk bahu Malika.

"Gue ke depan dulu, ya. Si pikmi udah manggil-manggil tuh."

"Buruan. Nanti dia ngambek."

"Ih, ogah."

Aira bangkit sambil membawa buku catatannya. Sebelum pergi, ia masih sempat memelototi Rara yang membalas dengan senyum manis seolah tak terjadi apa-apa.

Malika menggeleng pelan melihat tingkah sahabatnya.

"Ngapain Lo senyum-senyum sendiri?"

Suara datar itu membuat Malika mengangkat kepala.

Soren berdiri di samping mejanya. Satu tangan dimasukkan ke saku celana, sementara tangan satunya membawa buku tulis.

Tak lama kemudian,ia menggeser kursi di sebelah Malika lalu mendaratkan bokongnya di sana.

Malika menggeser kursi sedikit agar menjaga jarak dari Soren.

Tak ada satu pun yang mau memulai percakapan.

Akhirnya Soren angkat suara.

"Tumben lo diem aja."

Malika menoleh sekilas.

"Lah?"

"Biasanya berisik."

"Orang lagi nggak pengen ngomong."

"Hm."

Jawaban itu datar.

Soren menyandarkan punggung ke kursi sambil memainkan pulpen di tangannya.

Malika juga kembali sibuk membuka buku, walaupun sebenarnya tidak sedang membaca apa-apa.

Hening lagi.

Entah kenapa...

Canggung.

Padahal dulu justru kebalikannya.

Soren hampir tidak pernah mendapat kesempatan menikmati suasana tenang kalau ada Malika di dekatnya.

Soren memutar pulpennya sekali lagi.

"Berubah."

"Siapa?"

"Lo."

Malika mengangkat sebelah alis.

"Emang."

"..."

"Gue capek."

Soren menatapnya sebentar.

"Capek?"

"Iya."

"Kenapa?"

"Ngejar sesuatu yang emang nggak bisa dikejar."

Kalimat itu keluar begitu saja.

Malika sendiri tidak bermaksud menyindir.

Ia hanya menjawab apa adanya.

Namun entah mengapa, jemari Soren yang sedari tadi memutar pulpen mendadak berhenti.

Untuk pertama kalinya sejak duduk di sana, ia benar-benar meleburkan atensinya pada Malika.

Sementara Gadis itu justru sedang melihat ke luar jendela.

Ekspresinya tenang.

Tidak ada senyum hangat yang gadis itu tunjukan lagi padanya.

Tidak ada harapan yang dulu selalu terlihat setiap kali mata mereka bertemu.

Aneh.

Harusnya ini lebih mudah.

Harusnya ia tidak perlu lagi memikirkan bagaimana caranya agar gadis ini berhenti mengejarnya.

Tapi melihat Malika benar-benar berhenti mengejarnya...

Ada bagian kecil dalam dirinya yang justru merasa ada sesuatu yang hilang.

"Mal!"

Suara Aira memecah keheningan.

"Gue pinjem tipe-x!"

Malika langsung berdiri.

"Ambil aja di tas."

Tanpa menunggu balasan Soren, ia berjalan menghampiri Aira.

Soren tetap duduk di tempatnya.

Tatapannya mengikuti langkah Malika

beberapa detik sebelum akhirnya mengalihkan pandangan.

________

For u🌺.

Jangan lupa, vote, like sama Coment.

Makasih banyak untuk yang udah mau baca ceritanya samapai sini.

See u next chapter.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!