Alin, gadis yatim piatu yang dekil dan jerawatan, mendadak punya kekuatan magis: bisa berubah jadi bidadari glowing setiap kali makan ubi rebus! Sialnya, sihir ini punya kedaluwarsa dan luntur tepat tengah malam.
Masalah makin rumit saat Alin tidak sengaja merusak hoodie mahal seharga 8 juta milik Rakha Pratama Bagaskara—kakak kelas arogan yang ternyata tetangga kamar kosnya! Karena tidak bisa ganti rugi, Alin dipaksa menjadi budak pembersih kamar kos Rakha setiap hari.
Tensi makin memanas ketika Rayi Arjuna Bagaskara—kembaran Rakha yang super ramah—mulai gencar mendekati Alin. Sementara Rayi tulus menyukai Alin yang apa adanya, Rakha justru gila-gilaan mengejar sosok "Bidadari Glowing" malam hari, tanpa sadar kalau cewek itu adalah pembantu kosan yang setiap hari ia tindas!
Bagaimana jadinya jika sihir ubi rebus Alin habis tepat tengah malam di dalam kamar kos Rakha?
"Nggak usah panggil gue Kakak. Ntar kalau udah sah, baru lo panggil gue Sayang!" — Rakha.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15. Skandal Kamar Lantai Dua
Suara deru mesin mobil taksi yang berhenti di depan drop-off utama memecah kesunyian sore di Mansion Abraham. Bi Susi, sang kepala pelayan yang selalu setia siaga, dengan sigap menghampiri pintu utama yang megah. Ia segera membuka daun pintu jati yang besar dan menerima beberapa kantong belanjaan bermerek dari tangan nyonya besarnya yang baru saja tiba dari mal.
"Bi Susi, apakah Linzy sudah makan siang?" tanya wanita itu, Karin Aurora.
Meskipun usianya sudah resmi menginjak kepala enam lewat lima tahun, penampilannya tetap luar biasa elegan dengan setelan blazer sutra rancangan desainer Paris dan rambut pirang (blonde) alami yang tersanggul super rapi. Ia adalah nenek kandung Linzy dari pihak ibu, sosok sosialita kelas atas yang selama ini menjadi pelindung utama sekaligus pemegang kendali di rumah mewah itu pasca-tragedi.
"Sudah, Nyonya Besar. Bahkan... hari ini ada kejadian yang sangat aneh dengan Nona Linzy," jawab Bi Susi dengan nada bicara yang mengandung sedikit keraguan, namun dipenuhi oleh antusiasme yang tertahan di tenggorokan.
Oma Karin menghentikan langkah kakinya di tengah lobi besar yang berlantai marmer Carrara mengkilap. Ia menoleh cepat, menatap tajam Bi Susi dengan kening berkerut sempurna. "Aneh bagaimana yang kamu maksud, Susi? Dia mengamuk lagi?"
"Bukan, Nona justru keluar dari kamarnya, Nyonya! Nona Linzy nekat berlari keluar mansion untuk menolong seorang nenek pengemis tua yang sedang diusir oleh satpam Joko di depan gerbang. Tidak hanya itu, Nona Linzy mengajak nenek lusuh itu masuk ke ruang makan paviliun dan memberinya makan nasi hangat. Dan satu lagi yang paling membingungkan, Nyonya... setelah nenek itu hilang misterius, Nona menyuruh saya merebus sebutir ubi jalar kotor pemberian nenek itu untuk ia makan sendiri di dalam kamar."
Oma Karin tertegun sejenak di tempatnya berdiri, kantong kertas belanjaannya hampir saja terlepas. Sepasang matanya yang berwarna biru jernih membelalak tidak percaya.
"Apa aku tidak salah dengar, Susi? Kamu tidak sedang berhalusinasi atau berkomplot menyusun cerita fiksi fabel denganku, kan?!"
"Saya berani bersumpah demi potongan gaji saya bulan ini, Nyonya! Kalau Nyonya Besar tidak percaya, tanyakan saja pada Tata, Lusi, atau satpam Joko di depan. Mereka semua melihat aksi nekat Nona Linzy dengan mata kepala mereka sendiri sampai melongo!" sahut Bi Susi dengan raut wajah super sungguh-sungguh.
"Lebih baik aku mengecek dan menanyakannya langsung pada cucuku sebelum kepalaku ikut pusing," ujar Oma Karin tegas.
Dengan langkah kaki terburu-buru yang menimbulkan suara ketukan sepatu hak tinggi ritmis di atas lantai marmer, ia segera menaiki tangga melingkar besar menuju area lantai dua.
Oma Karin kini berdiri di depan pintu kamar tidur Linzy yang biasanya selalu tertutup rapat, digembok ganda, dan bernuansa gelap pengap. Dengan tangan yang sedikit bergetar karena cemas bercampur penasaran, ia mengetuk pintu kayu jati tebal itu.
Tok! Tok! Tok!
"Linzy, ini Oma, sayang. Oma baru pulang dari mal. Boleh Oma masuk ke dalam?" panggilnya dengan nada suara lembut yang dipenuhi rasa kerinduan yang mendalam.
"Iya, masuk saja, Oma. Pintunya tidak dikunci," sahut sebuah suara merdu dari dalam kamar.
Suaranya terdengar sangat jernih, bersih, dan berenergi, sangat kontras dengan gumaman lesu atau bentakan histeris yang biasa Oma Karin dengar selama satu tahun terakhir pasca-kebakaran.
Cklek!
Begitu selot pintu terbuka dan Oma Karin melangkah masuk, langkah kakinya langsung terkunci mati di atas karpet. Pasokan oksigen di paru-parunya mendadak tertahan di tenggorokan. Sepasang mata birunya tertuju pada sosok seorang gadis remaja yang berdiri tegap di dekat jendela besar yang gordennya kini terbuka lebar membiarkan cahaya sore masuk.
Gadis itu tampaknya baru saja selesai mandi, hanya mengenakan jubah mandi handuk putih dengan rambut pirang alaminya yang masih basah tergerai indah. Kulitnya putih bersih bersinar tanpa cacat sepeser pun, garis wajahnya simetris sempurna layaknya pahatan patung dewi Yunani kuno.
Deg!
Wajah Oma Karin seketika mengeras. Insting protektifnya bergejolak, berubah menjadi ekspresi syok sekaligus waspada tingkat tinggi.
"Kamu siapa?! Di mana cucu saya, Linzy?! Berani-beraninya kamu menyusup masuk dan memakai kamar tidur cucu saya, hah?!" teriak Oma Karin dengan suara melengking tinggi, jarinya menunjuk-nunjuk wajah gadis di depannya dengan gemetar hebat akibat luapan amarah. Sebagai pengidap agorafobia, Linzy tidak mungkin membiarkan model asing secantik ini masuk ke kamarnya.
Gadis pirang di depan jendela itu justru tersenyum manis, memamerkan deretan gigi putihnya yang rapi. "Oma, tenang dulu. Ini benar-benar aku, Linzy... cucu kandung Oma. Coba Oma lihat baik-baik foto Linzy yang dipajang sebelum kebakaran itu," ucap gadis itu dengan nada bicara yang sangat tenang, sambil menunjuk ke arah bingkai foto perak besar di atas meja rias kayunya.
Oma Karin menatap foto besar Linzy sebelum kecelakaan maut melanda, lalu beralih menatap tajam garis wajah gadis di depannya berkali-kali secara bergantian dengan napas memburu.
Detik demi detik berlalu dalam keheningan yang mencekam, hingga sebuah kesadaran magis menghantam telak sirkuit logikanya.
Fitur wajah itu... binar mata birunya yang dalam itu... cara dia menaruh tangan di pinggang... memang benar, makhluk sempurna di depannya ini adalah Linzy.
Seketika, seluruh tembok amarah di dada Oma Karin luruh, runtuh berganti menjadi keharuan dan rasa syok yang luar biasa dahsyat. Ia langsung menerjang maju, mencengkeram kedua lengan Linzy dengan sangat erat.
Oma Karin memutar-mutar tubuh cucunya ke kiri dan ke kanan seperti sedang memeriksa barang dagangan, meneliti dengan detail setiap jengkal kulit lengan, bahu, dan leher Linzy yang kini mulus sehalus kain sutra tanpa menyisakan satu pun bekas luka bakar yang mengerikan.
Oma Karin memegang kedua pipi Linzy, menatap dalam-dalam ke matanya, dan akhirnya mendekap erat tubuh cucunya itu ke dalam pelukannya dengan tangis yang pecah seketika.
Air mata kebahagiaan Oma Karin tumpah ruah membasahi jubah handuk Linzy. Bahunya berguncang hebat saking bahagianya menyaksikan mukjizat medis—atau apa pun itu namanya—yang nyata berdiri di depan matanya.
"Cucuku... oh Tuhan, Linzy-ku sayang... kamu kembali..." isak Oma Karin histeris.
Setelah beberapa menit suasana kamar mewah itu dipenuhi adegan mengharu biru, Oma Karin perlahan melepaskan pelukannya. Ia menghapus air matanya, lalu menuntun Linzy untuk duduk di tepi tempat tidur King Size-nya yang empuk.
Namun, sepasang mata birunya tetap tidak lepas menatap takjub kecantikan cucunya yang seolah-olah baru saja dilahirkan kembali ke bumi.
"Oma sebenarnya masih belum bisa mencerna dengan akal sehat tentang apa yang baru saja terjadi pada fisikmu, Linzy. Kulitmu... wajahmu... ini mustahil secara ilmu kedokteran! Coba ceritakan pada Oma kejadian yang sebenarnya, hal apa yang membuat kamu berubah total dalam hitungan menit seperti ini?!" tanya Oma Karin dengan suara yang masih serak dan sengau karena sisa tangis.
Linzy pun akhirnya mulai bercerita dengan sangat detail tanpa ada yang ditutupi. Ia mengisahkan pertemuannya dengan Nenek Tari di gerbang depan, pemberian kantong kain hitam berisi ubi jalar yang semula ia anggap lelucon gila, hingga sensasi badak di perutnya—alias kentut menggelegar berbau mawar di kamar mandi marmer—setelah ia nekat memakan separuh ubi rebus tersebut.
Oma Karin mendengarkan cerita itu dengan mulut sedikit terbuka. Pikiran logisnya sebagai wanita modern Jakarta yang hobi berbisnis fashion mendadak dipaksa menerima unsur magis. "Jadi... maksud kamu, kamu bisa kembali normal dan secantik dewi ini hanya gara-gara memakan umbi-umbian rebus dari pengemis tua itu?!"