Memiliki suami tampan, kaya dan mapan, serta hidupnya diratukan, adalah impian semua perempuan. Seperti Elena yang tiba-tiba berubah menjadi Elea, istri dari Anres Alvaro Tanujaya, serta ibu dari si cantik Arabella. Hidup Elena pun berubah bak seorang ratu dari negeri dongeng.
Tapi, bagaimana jika semua itu hanya pinjaman. Bagaimana jika satu saat pemilik sahnya datang, dan meminta kembali semua yang sudah dipinjamkan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon najwa aini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
"Elea."
"Eh." Elea kaget dan langsung menghentikan langkah. Padahal ia sudah memastikan dengan jelas kalau Anres sedang tidur, napasnya terlihat teratur. Karena itulah ia beranikan diri masuk, dengan langkah pelan, bahkan untuk bernapas saja ia juga mengaturnya agar tak kedengaran. Karena katanya, orang yang buta lebih banyak menggunakan inderanya yang lain untuk mengetahui kehadiran seseorang. Dan yang paling sering digunakan adalah pendengaran.
Akan tetapi apa barusan, Anres tetap tahu kalau ia datang.
Elena perlahan berbalik menatap ke arah pembaringan. Dan ternyata Anres masih tetap berbaring di posisi semula, bahkan sepasang matanya juga tidak terbuka. "Anres."
"Aku memang menunggumu, Elea."
Rasanya Elea ingin berteriak kaget mendengar ucapan itu. "Ka-kau tahu kalau aku datang?"
"Kenapa masih bertanya?"
"Eh aku ..."
"Karena aku buta dan tak bisa melihatmu? Sudah aku bilang kalau aku bisa merasakan hadirmu." Terlihat Anres beringsut dari tidurnya dan duduk selonjor dengan kepala bersandar di head board. "Dan jangkauan perasaan itu luas, Elea. Bukan hanya karena kau dekat."
Sengajakah Anres mengatakan hal itu agar Elena berpikir keras untuk memaknainya, lalu ia lupa pada tujuan awal masuk ke dalam kamar Anres secara diam-diam.
Ataukah lelaki itu ingin menjerat wanita itu diam-diam dalam perasaan yang mengharu biru lalu terjerat pada pesonanya yang tak terbantahkan.
Dan kemungkinan terakhir, Anres mungkin memang menganggap Elena benar-benar sebagai Elea. Istrinya yang tercinta.
Dan karena hal itu, Elena memang terdiam untuk waktu yang tidak hanya sebentar. Ia benar-benar berpikir hingga kepalanya terasa pening.
"Jangan terlalu banyak berpikir," cegah Anres. Apa-apaan lelaki itu ia seperti sangat tahu apa yang ada dalam benak Elena. Apa jangan-jangan dia cenayang, atau memang punya indera kesembilan.
"Hasil CT-Scanmu kemarin, kamu tidak boleh banyak berpikir, Elea," lanjut Anres, yang membuat Elena segera menahan napas.
Ternyata...
"Kau bilang memang sedang menungguku, apa yang bisa aku bantu, Anres?" tanya Elena segera, sebelum lelaki itu keburu bertanya ada tujuan apa Elena masuk diam-diam ke kamarnya.
"Kemarilah!" titah Anres. Lelaki itu sendiri merubah posisi duduknya jadi berjuntai di tepi ranjang, kedua tangannya bertumpu di samping kanan dan kiri tubuhnya. Elena pun duduk tak jauh di samping Anres.
"Ambil laptopku Elea buka layarnya dengan kata kunci, Arabella."
Elena mengangguk patuh dia melakukan sesuai dengan perintah tersebut. Anres pun terus memandu Elena untuk masuk ke sebuah folder rahasia di laptop itu, dengan mengetik beberapa kata kunci, baik berupa angka maupun huruf. Anehnya kata kunci yang disampaikan Anres adalah hal-hal yang bersifat umum, yang pastinya tak akan diduga kalau itu menjadi sebuah kata sandi untuk membuka file-file penting dan rahasia di laptopnya. Atau memang itu adalah strategi lelaki itu, agar tak ada yg bisa membobol folder rahasia tersebut.
"Sudah," kata Elena saat ia telah usai mengetikkan pin khusus untuk sebuah transaksi dengan jumlah nominal fantastis.
"Kirim."
Elena pun patuh. Dan pastinya transaksi berhasil. Nominal yang tak sedikit itu sudah berpeindah ke rekening pribadi milik Anres. Elena sempat menahan napas. Ia lalu memerhatikan dengan seksama, rekening sumber itu atas nama siapa. Ternyata tertera atas nama sebuah perusahaan yang memiliki nama belakang Tanujaya. Tapi bukan perusahaan Tanujaya yang dikendalikan oleh lelaki itu. Mungkinkah itu cabang dari perusahaan Tanujaya corp. Lalu kenapa Anres mengambil alih uang dari perusahaan tersebut dalam jumlah besar. Apa itu artinya Anres sedang mencuri di perusahaannya sendiri?
Mencuri uang? Tidakkah itu sangat aneh. Orang sekaya raya Anres mencuri uang di rumahnya sendiri. Pasti ada sebuah alasan besar.
Selagi Elena diam berpikir, Anres berkata padanya. "Terima kasih, Elea."
"Tak masalah," sahut Elena yang kini mulai merasa kalau lelaki tampan yang bersamanya itu penuh dengan misteri dan rahasia. "Aku harus merahasikan semua ini kan Anres?" Elena memancing pendapat lelaki itu dengan bertanya demikian.
"Terserah padamu," sahut Anres santai.
Elena terdiam. Betul-betul pribadi yang sulit diterka. Belum selesai Elena membaca sosok Edward yang sepertinya menyimpan rahasia, kini ia dihadapkan pada sosok Anres yang ternyata menyimpan misteri yang dirasa oleh Elena lebih pekat dari Edward.
Jika tentang Damita, kemauannya sudah jelas. Maka Lebih mudah bagi Elena untuk menghadapi wanita itu. Tapi, Anres dan Edward, keduanya masih menjadi sosok yang sama-sama abu-abu, hingga Elena cenderung tidak tahu akan menganggapnya sebagai apa. Teman atau musuh.
Tiba-tiba saja pintu kamar itu dibuka dari luar. Elena cepat menoleh, dan tatapannya mendapati Edward yang berdiri di sana.
"Masuk, Ed!" Titah Anres. Tanpa menoleh, dan tanpa bertanya ia tahu siapa yang membuka pintu kamarnya dengan tanpa permisi itu.
"Ada nyonya Elea," kata Edward saat membawa langkahnya kian ke dalam ruangan kamar.
Elena hanya menatap pria itu sekilas.
Edward pun segera mengambil posisi duduk tak jauh di depan Anres yang duduk bersebelahan dengan Elena.
"Apa laporanmu malam ini?" Tanya Anres begitu Edward telah sempurna dalam posisi duduknya.
"Semua sudah siap."
"Bagus." Anres nampak tersenyum.
"Vodka, Tuan?" Edward menawarkan.
"Boleh," sahut Anres setuju.
"Kau ajak Anres minum?" celetuk Elena dalam sebentuk tanya pada Edwrad. Lelaki itu mengangguk.
"Anres, jangan terlalu banyak," ucap Elena cepat. Dan setelah itu ia langsung mendekap mulutnya seraya membuang pandangan ke alin arah. Sepertinya apa yang sedang sudah dikatakannya barusan hanya spontanitas saja. Dan kini wanita itu sedang menyesali juga merasa malu karenanya.
"Tidak boleh sama nyonya, Tuan," kata Edwatd sambil tersenyum tak terarah. Elena merasa kalau lelaki itu sedang menyorakinya.
"Iya, sudah. Aku patuh. Sedikit saja Ed, sesuai kata Elena," ucap Anres.
"Wahh," seloroh Edward singkat.
"Mematuhi istri itu, di beberapa tempat, menjadi wajib. Karena aturannya pada kita, adalah tanda cintanya."
Bluss.
Ucapan Anres itu membuat wajah Elena merona. Ia langsung tertunduk, seiring ritme jantung yang kuat berdenyut.
Entahlah, apa maksud Anres dengan ucapannya. Apakah ia benar-benar menganggap Elena itu sebagai Elea? Ataukah ...
Edward benar-benar mengambilkan minuman untuk Anres. Vodka martini, minuman yang mengandung 40 persen alkohol. Kedua lelaki itu sama-sama menenggak minumannya, meski tanpa bersulang, namun, Elena merasa yakin kalau mereka minum itu adalah sebentuk perayaan. Mungkin merayakan sebuah kemenangan, atau keberhasilan. Entahlah. Saat ini bagi Elena semuanya masih abu-abu.
"Oya, Ranti dari tadi menunggu di luar. Katanya ia ingin menghadap, Tuan," kata Edward setelah segelas minuman itu tandas di tangan.
"Jika ada perlu denganku, suruh masuk saja!" titah Anres.
Edward mengangguk dan segera berdiri untuk memanggil Ranti di luar.
"Aku saja," cegah Elena, dan wanita itu segera bangkit dari duduknya. "Tolong kembalikan minuman itu ke tempatnya," lanjut wanita itu sebelum berbalik badan untuk membuka pintu.
kalau dilihat dari crita awal ny si ada bawa2 bama Pramudya corp..
semangat ya...