NovelToon NovelToon
Angkringan Dewa Api Serba Bakar

Angkringan Dewa Api Serba Bakar

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Fantasi / Reinkarnasi
Popularitas:536
Nilai: 5
Nama Author: Sugesti

Lin Mo adalah seorang penjual angkringan dengan bakat tersembunyi yang amat sangat luar biasa, yaitu kendali api tingkat mistik untuk memanggag sate kikil dan usus hingga sempurna. Sayangnya, sebuah ledakan tabung gas nyasar mengakhiri hidupnya dan melempar jiwanya ke dunia fantasi sebagai Dewa Api Pengelana bersama Sistem Angkringan Ilahi. Kini berbekal gerobak terbang dan jurus sate ajaib, Lin Mo harus menjelajahi Kerajaan Aethelgard yang penuh intrik politik demi mengumpulkan Poin Arang, membuka cabang angkringan baru, dan menyelesaikan konflik kuno di negeri tersebut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sugesti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gerbang Kota dan Penjaga yang Haus Bumbu

"Kalau tidak punya sepuluh koin perak, angkat kaki dari barisan! Jangan menyita waktu para prajurit!" teriak penjaga gerbang berbadan tambun dengan zirah besi yang tampak berkarat di bagian bahu.

Pria paruh baya yang merupakan pedagang sayur miskin di depan Lin Mo hanya bisa menunduk pasrah sambil meremas kantong kainnya yang kempis.

"Ampun, Kapten Wang. Pajak masuk minggu lalu kan hanya tiga koin perak, kenapa sekarang naik drastis jadi sepuluh koin perak?" cicit pedagang sayur itu dengan suara bergetar.

Kapten Wang menyeringai sinis sembari menepuk gagang pedangnya yang tergantung di pinggang.

"Aturan di Kota Valen ini dibuat olehku saat aku bertugas di gerbang! Mau masuk ya bayar, kalau tidak punya uang ya silakan membusuk di luar tembok!" gertak Kapten Wang kasar.

Beberapa warga dan pedagang kecil di dalam antrean hanya bisa berbisik-bisik takut tanpa ada yang berani memprotes.

Lin Mo yang berdiri tepat di belakang pedagang sayur tersebut menghembuskan napas panjang sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Aduh, di mana-mana yang namanya oknum penjaga gerbang selalu saja begini," gumam Lin Mo dalam hati.

make_sense: Lin Mo melangkah maju dua langkah hingga posisinya sejajar dengan pedagang sayur yang malang itu.

"Permisi, Paman Kapten yang terhormat," sapa Lin Mo dengan wajah polos tanpa dosa.

Kapten Wang menoleh dengan dahi berkerut, menatap jubah cokelat kumal yang dikenakan Lin Mo serta gerobak kayu aneh di belakangnya.

"Siapa kamu? Pemuda kumal dari mana yang berani memotong pembicaraan?" bentak Kapten Wang galak.

"Saya Lin Mo, cuma seorang penjual angkringan keliling yang mau masuk untuk mencari sesuap nasi," jawab Lin Mo ramah sambil tersenyum lebar.

"Penjual angkringan? Makanan sampah apa lagi itu?" cemooh Kapten Wang dengan nada menghina.

"Sama seperti orang tua ini, kalau kamu mau masuk membawa gerobak kotor itu, bayar sepuluh koin perak!" tambah Kapten Wang sambil menadahkan tangannya.

Lin Mo merogoh saku jubahnya dan hanya mengeluarkan lima puluh koin tembaga yang ia dapatkan dari transaksi sebelumnya.

"Aduh Kapten, saya cuma punya lima puluh koin tembaga ini. Bagaimana kalau sisanya diganti pakai sate bakar racikan khusus?" tawar Lin Mo santai.

"Sate bakar? Kamu pikir penjaga gerbang Kerajaan Aethelgard bisa disogok pakai daging bakar murahan?!" teriak Kapten Wang merasa dilecehkan.

Dua prajurit penjaga di belakang Kapten Wang langsung mencabut tombak mereka dan mengarahkannya ke dada Lin Mo.

"Usir pemuda gila ini keluar dari area gerbang!" perintah Kapten Wang murka.

Lin Mo tidak panik sedikit pun.

Ia justru berjalan santai menghampiri gerobak kayu terbangnya yang kini mengapung rendah di atas tanah.

"Paman Kapten, jangan marah-marah dulu. Orang yang sering marah-marah biasanya cepat tua dan nafasnya bau," gurau Lin Mo tanpa beban.

"Kamu?!" Kapten Wang hampir saja menyuruh prajuritnya menebas leher Lin Mo saat itu juga.

Namun sebelum Kapten Wang sempat memberi perintah eksekusi, Lin Mo sudah mengibaskan kipas bambunya ke arah tempat arang di gerobaknya.

Fwoooshhh!

Arang kayu mistik di dalam panggangan langsung menyala dengan pendaran cahaya keemasan yang hangat.

[Mengaktifkan Resep Baru: Sate Usus Ayam Api]

[Bumbu Tambahan Khusus: Ekstrak Cabai Rawit Mistik]

Lin Mo mengambil beberapa tusuk usus yang sudah dibersihkan dan dibumbui secara otomatis oleh Sistem dari wadah penyimpanannya.

Tekstur usus ayam itu tampak sangat bersih, kenyal, dan berwarna kekuningan beraroma rempah murni.

Sssttt... Sssttt...

Lin Mo membeberkan sepuluh tusuk sate usus ayam api itu di atas panggangan arang yang membara merah.

Settt!

Jari telunjuk tangan kiri Lin Mo menjentikkan percikan *Api Murni Pemanggang Arang* ke arah tumpukan arang.

Suhu di sekitar gerobak mendadak naik beberapa derajat, menciptakan sensasi hangat yang sangat nyaman di kulit.

Lin Mo mengibaskan kipas bambunya dengan ritme yang sangat gemulai bagaikan seorang penari profesional.

Pfffuuushhh!

Asap tipis berwarna putih keemasan membumbung tinggi dari atas panggangan sate usus tersebut.

Aroma gurih yang tiada tanding, bercampur manis gurih kecap dan sengatan pedas yang menggugah selera, menyebar dalam radius lima puluh meter!

Gerrr...

Suara perut seseorang tiba-tiba berbunyi sangat keras di tengah keheningan gerbang kota.

Suara itu berasal dari perut Kapten Wang yang mendadak terasa sangat kosong dan lapar.

Bukan hanya Kapten Wang, dua prajurit tombak di sebelahnya bahkan sampai menelan ludah mereka sendiri dengan suara tersedak.

"B-bau apa ini... kenapa aromanya bisa sampai membakar tenggorokanku begini?!" batin Kapten Wang shock berat.

Selama puluhan tahun bertugas di kota perbatasan dan memakan hidangan mewah di restoran bintang lima Kerajaan Aethelgard, ia belum pernah mencium aroma makanan yang sebegitu dahsyatnya.

Aroma asap sate usus itu seolah-olah memiliki tangan gaib yang meremas-remas lambung siapa pun yang menghirupnya.

Seluruh antrean warga di belakang Lin Mo langsung heboh dan berdesak-desakan ingin melihat apa yang sedang dimasak oleh pemuda berjubah kumal itu.

"Gila! Bau apa ini?! Kenapa mendadak aku merasa lapar setengah mati?!" seru seorang petualang berarmor besi di tengah antrean.

"Wangi sekali! Makanan apa yang sedang dibakar pemuda itu?!" sahut wanita pedagang buah di sebelahnya.

Lin Mo menyeringai tipis melihat reaksi orang-orang di sekitarnya.

"Daging kikil atau serigala memang enak, tapi usus ayam api bakar garing ini adalah senjata pamungkas penjual angkringan," bisik Lin Mo penuh percaya diri.

Lin Mo membolak-balikkan tusukan sate usus tersebut dengan kecepatan tangan yang sangat presisi.

Bagian luar usus ayam itu perlahan berubah warna menjadi cokelat keemasan yang agak garing, namun bagian dalamnya tetap lembut dan juicy.

Minyak gurih alami dari usus menetes ke atas arang panas, menimbulkan suara desisan manis yang memanjakan telinga.

Cusss!

Kepulan asap harum gelombang kedua terpancar keluar lebih pekat dari sebelumnya.

Kapten Wang yang tadinya berdiri tegap dengan gaya angkuh, kini melangkah mendekati gerobak Lin Mo secara tidak sadar bagaikan terkena hipnotis.

Matanya terbelalak lebar menatap gulungan usus ayam bakar berbalut bumbu karamel keemasan yang melambai-lambai di atas arang.

Air liur Kapten Wang menetes membasahi armor besinya tanpa ia sadari.

"B-bocah... maksudku, Adik manis... apa nama makanan yang sedang kamu bakar ini?" tanya Kapten Wang dengan suara gemetaran dan nada yang mendadak berubah seratus delapan puluh derajat.

Dua prajurit tombak di belakangnya juga sudah ikut merapat dengan mata berbinar-binar penuh hasrat.

"Ini namanya Sate Usus Ayam Api garing renyah bumbu racikan rahasia Angkringan Dewa Mo," jawab Lin Mo sambil mengibaskan kipas bambunya santai.

"A-apa boleh aku mencicipinya satu tusuk?" tanya Kapten Wang sambil menyeka bibirnya yang basah.

Lin Mo pura-pura menunjukkan wajah ragu-ragu dan mendesah pelan.

"Wah, bagaimana ya Kapten? Kata Kapten tadi makanan saya ini cuma makanan sampah murahan," kata Lin Mo menyindir halus.

"Lagipula saya kan tidak punya sepuluh koin perak untuk bayar uang masuk gerbang," tambah Lin Mo dengan nada memelas yang dibuat-buat.

Wajah Kapten Wang langsung berubah merah padam karena malu sekaligus panik melihat Lin Mo hendak mematikan api panggangannya.

"Tidak! Jangan dimatikan apinya!" teriak Kapten Wang refleks memegang lengan baju Lin Mo.

"Tadi itu cuma bercanda! Siapa bilang makanan ini sampah?! Ini adalah karya seni kuliner tingkat tinggi!" puji Kapten Wang panik.

"Soal pajak masuk... gratis! Khusus untukmu dan gerobak melayangmu ini, bebas masuk kapan saja tanpa bayar sepeser pun!" lanjut Kapten Wang cepat-cepat.

"Benarkah Kapten? Tapi bagaimana dengan paman pedagang sayur di depanku ini?" tanya Lin Mo sambil menunjuk pedagang miskin tadi.

"Gratis juga! Semuanya gratis hari ini!" seru Kapten Wang tidak peduli lagi dengan aturan demi bisa mendapatkan tusukan sate di depan matanya.

Pedagang sayur tua itu tertegun kaget dan menatap Lin Mo dengan mata berkaca-kaca penuh rasa terima kasih.

"Terima kasih, Adik manis... terima kasih banyak!" bisik pedagang sayur itu terharu.

Lin Mo tersenyum puas di dalam hati.

"Sistem, ternyata kekuatan bumbu sate usus ini lebih ampuh daripada diplomasi politik," batin Lin Mo terkekeh.

[Sistem Angkringan Ilahi dirancang untuk menaklukkan perut semua makhluk hidup, termasuk Dewa sekalipun]

"Nah, karena Kapten Wang sudah sangat baik hati, ini tiga tusuk Sate Usus Ayam Api khusus untuk Kapten dan anak buah," ujar Lin Mo menyodorkan tiga tusuk sate yang baru saja diangkat dari panggangan.

Kapten Wang langsung menyambar tusukan sate tersebut bagaikan serigala kelaparan yang menemukan mangsa empuk.

Ia membagikan dua tusuk kepada dua prajuritnya, lalu tanpa ragu-ragu memasukkan seluruh gulungan usus di tusukan pertama ke dalam mulutnya.

Krikk! Nyuttt!

Bunyi renyah dari kulit luar usus yang garing pecah di antara gigitannya, disusul dengan ledakan rasa gurih pedas manis yang luar biasa kental.

Sensasi pedas dari cabai murni melesat cepat membakar lidahnya, namun rasa gurih rempah-rempahnya langsung membelai tenggorokannya dengan rasa nyaman yang memabukkan.

"KERAGAMARAN RASA APA INI?!" teriak Kapten Wang histeris sampai matanya melotot ke atas.

Bukan hanya itu, kehangatan murni dari energi api mistik yang ada di dalam sate usus itu mengalir deras menembus pembuluh darah Kapten Wang.

Sreeeeeshhh!

Tubuh Kapten Wang mendadak memancarkan pendaran cahaya merah tipis.

Penyumbatan energi mana di dalam dadanya akibat luka lama bekas pertempuran belasan tahun lalu tiba-tiba hancur dan terbuka secara instan!

Brakkk!

Tingkat kekuatan ranah sihir Kapten Wang yang sudah tertahan di Kelas Prajurit Tingkat Rendah selama sepuluh tahun mendadak terobos masuk ke Kelas Prajurit Tingkat Menengah!

"A-aku... aku menerobos ranah kekuatan?!" jerit Kapten Wang kaget setengah mati sambil menatap kedua tangannya yang kini dipenuhi energi aura pekat.

Dua prajuritnya yang juga baru saja menghabiskan sate usus mereka langsung berlutut di tanah karena energi stamina mereka mendadak terisi penuh seratus persen.

"Luar biasa! Makanan ini bukan sekadar enak, tapi bisa meningkatkan kultivasi dan menyembuhkan penyakit dalam!" teriak prajurit tombak terpana.

Seluruh warga dan pedagang di sekitar gerbang kota yang menyaksikan kejadian ajaib tersebut langsung ternganga lebar.

Memakan sate usus bisa langsung membuat seorang Kapten Penjaga menerobos ranah kekuatan?

Apakah pemuda berjubah kumal itu seorang Master Alkemis Agung yang sedang menyamar menjadi pedagang kaki lima?!

"Master! Ampuni kelakuan hamba yang tidak sopan tadi!" Kapten Wang langsung membungkuk sembilan puluh derajat di hadapan Lin Mo.

"Berapa harga Sate Usus Ayam Api ini per tusuknya? Hamba ingin membeli seratus tusuk sekarang juga!" seru Kapten Wang bersemangat.

Lin Mo menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum santai.

"Maaf Kapten, stok sate usus untuk hari ini sudah habis. Saya mau masuk ke kota dulu untuk cari lapak dagang," jawab Lin Mo beralih alasan.

"Siap Master! Hamba sendiri yang akan mengawal Master menuju pusat Pasar Kota Valen!" tawar Kapten Wang penuh kesetiaan.

"Tidak perlu direpotkan Kapten, saya bisa jalan sendiri," tolak Lin Mo halus.

PING!

[Misi Berhasil: Menembus Gerbang Kota Valen]

[Hadiah Misi Diterima: 300 Poin Arang & Surat Izin Dagang Resmi Kota Valen]

Sebuah dokumen kertas perkamen berstempel emas mendadak muncul secara gaib di dalam saku jubah Lin Mo.

Lin Mo melambaikan tangan kepada Kapten Wang dan warga yang masih menatapnya dengan tatapan penuh pemujaan.

Sreeeeeshhh!

Gerobak sihir melayang milik Lin Mo perlahan meluncur melewati pintu gerbang batu yang megah tersebut, memasuki area dalam Kota Perbatasan Valen.

Kota Valen ternyata jauh lebih luas dan ramai daripada yang dibayangkan Lin Mo.

Jalanan utamanya terbuat dari susunan batu tebal yang bersih, diapit oleh bangunan-bangunan batu bertingkat tiga dengan arsitektur klasik Eropa kuno dipadukan gaya oriental.

Berbagai macam ras manusia, elf kerdil, hingga manusia setengah hewan tampak berlalu-lalang memenuhi trotoar jalan.

"Wah, kotanya hidup sekali. Banyak calon pelanggan potensial di sini," gumam Lin Mo sambil menyapu pandangannya dengan antusias.

Namun di balik keramaian dan kemegahan kota perbatasan ini, Lin Mo bisa merasakan adanya ketegangan terselubung di udara.

Banyak prajurit bertopeng dengan lambang jam pasir—simbol pengawal peninggalan Kaisar Waktu Lin Dan—yang berpatroli dengan wajah ketat dan penuh kejelian.

Setiap pedagang kaki lima di tepi jalan tampak diawasi dengan ketat oleh kelompok gangster lokal yang mengenakan rompi bersimbol taring serigala.

"Sepertinya pasar di kota ini dikuasai oleh kelompok preman lokal," bisik Lin Mo membatin.

Lin Mo terus mendorong gerobak melayang ringan milik dasarnya menuju area Pasar Kumuh yang terletak di bagian selatan kota.

Di sinilah tempat para pedagang kecil dan rakyat jelata berkumpul untuk mengadu nasib.

Lin Mo menemukan sebuah sudut lahan kosong yang cukup strategis di bawah rindangnya pohon beringin tua.

"Tempat ini cukup bagus. Teduh dan tidak terlalu sempit untuk gerobakku," kata Lin Mo puas.

Ia memarkir gerobak terbangnya di sudut tersebut lalu menurunkan penyangga kayu gerobaknya hingga menyentuh tanah.

Lin Mo kemudian mengeluarkan sebuah papan kayu kecil dari Sistem dan menuliskan nama warungnya menggunakan arang hitam:

[ANGKRINGAN DEWA MO - BUKA SEKARANG]

[Menu Hari Ini:]

Sate Daging Serigala Taring Besi - 10 Koin Tembaga

Sate Usus Ayam Api - 5 Koin Tembaga

Ia baru saja selesai menggantungkan papan nama tersebut ketika tiba-tiba tiga orang pria berwajah seram dengan tato taring di leher mereka melangkah menghampiri lapaknya dengan gaya angkuh.

Pria yang berdiri di tengah memegang tongkat kayu berlapis besi sambil memukulkannya ke telapak tangannya sendiri.

Brakkk!

Pria itu memukul ujung meja kayu gerobak Lin Mo dengan keras hingga membuat debu berterbangan.

"Hei, Bule Kertas! Siapa yang beri kamu izin buka lapak di wilayah Gangster Taring Hitam ini?!" bentak pria bertato itu galak.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!