NovelToon NovelToon
Dicampakkan Suami, Diam-Diam Jadi Miliarder

Dicampakkan Suami, Diam-Diam Jadi Miliarder

Status: sedang berlangsung
Genre:Perubahan Hidup / Kaya Raya / Penyesalan Suami / Penyesalan Keluarga
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Awan

elama dua belas tahun, Nan Shin Sim mengabdikan hidupnya untuk keluarga.
Ia bekerja sebagai perawat, melayani ibu mertua, membesarkan dua anak, sementara suaminya, dr. Cheng An Kho, diam-diam membangun keluarga lain bersama wanita yang dicintainya.
Ketika perselingkuhan itu terbongkar, Nan Shin kehilangan segalanya.
Rumah.
Harta.
Bahkan hak asuh kedua putranya.
Semua orang mengira wanita itu telah benar-benar hancur.
Namun tepat ketika ia meninggalkan keluarga Kho dengan tangan kosong, sebuah telepon misterius dari Singapura mengubah jalan hidupnya.
Sejak hari itu, Nan Shin mulai menyembunyikan sesuatu.
Sesuatu yang cukup besar untuk membalikkan nasibnya.
Dan ketika mantan suami, ibu mertua, serta orang-orang yang pernah menginjaknya mulai menyadari ada yang tidak beres...
sudah terlambat.
Karena wanita yang mereka kenal...
bukan lagi Nan Shin Sim yang dulu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Awan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 24

Bab 24

Hari Tanda Tangan

Pada pagi terakhirnya, Nan Shin menjahit kembali ujung tali kartu identitas yang hampir terlepas.

Benang biru tidak sama dengan warna tali aslinya. Jahitannya juga tidak rapi. Namun kartu itu harus bertahan sampai ia menyerahkannya sore nanti.

Ia mengenakan seragam, memasukkan STR ke dompet dokumen pribadi, lalu memeriksa tas. Dua set perjanjian penyelesaian. Salinan rincian Rp 45 juta. Surat tanggapan yang ditolak. Pulpen sendiri.

Cheng An sudah pergi sebelum ia turun. Di meja makan ada pesan singkat.

Semoga lancar hari ini.

Nan Shin membaca tanpa membalas.

Ibu Kho sedang menyiapkan sarapan anak-anak. “Jangan lupa tanya kapan uangnya masuk.”

“Saya tahu.”

“Mama cuma mengingatkan.”

Nan Shin mencium kepala Yi Chen dan memeriksa tas Yi Ming. Ia tidak menjelaskan bahwa itu hari terakhir. Kedua anak sudah tahu Mama akan berhenti bekerja di rumah sakit, tetapi mereka belum memahami perbedaan antara berhenti memilih dan dipaksa pergi.

Di RSUD Serpong Utama, ia datang tiga puluh menit lebih awal.

Bu Ratna menunggunya di depan ruang HRD.

“Sudah yakin?”

“Tidak.” Nan Shin mengangkat map. “Tapi tidak tanda tangan juga tidak membuat saya tinggal. Saya perlu uang yang bisa dipakai bertahan sambil mencari kerja.”

“Kamu sudah baca semua?”

“Tiga kali. Saya minta satu kalimat diperbaiki.”

Kalimat itu menyatakan bahwa Nan Shin menerima seluruh perhitungan tanpa keberatan. Setelah dua kali surel, HRD setuju menggantinya menjadi menerima penyelesaian administratif sesuai dokumen, sementara surat tanggapan tetap tercatat sebagai lampiran.

Jumlah uang tidak berubah. Setidaknya riwayat keberatannya tidak dihapus.

Supervisor HRD memulai pertemuan tepat pukul delapan.

“Dokumen final sudah disesuaikan sebagaimana korespondensi terakhir,” katanya.

Nan Shin memeriksa nomor halaman, lampiran, tanggal pembayaran, dan rekening tujuan. Dana dijadwalkan masuk paling lambat tujuh hari kerja setelah administrasi selesai.

“Gaji terakhir dan komponen shift dibayar terpisah?”

“Iya, pada siklus penggajian.”

“Surat pengalaman kerja?”

“Dapat diambil setelah data penutupan selesai.”

“BPJS?”

“Panduan pengalihan ada di lampiran empat.”

“Tanggal pembayaran Rp 45 juta tertulis paling lambat tujuh hari kerja. Kalau belum masuk, saya menghubungi bagian ini?”

“Iya. Nomor referensinya tercantum di halaman terakhir.”

“Dan satu set yang saya bawa pulang harus memuat semua lampiran?”

Staf menghitung halaman. “Lengkap, Bu. Dua puluh tiga halaman.”

“Surat tanggapan saya tercantum sebagai lampiran?”

Supervisor membuka daftar isi. “Lampiran enam.”

“Dan kalimat menerima tanpa keberatan sudah dihapus?”

“Sudah diganti sesuai korespondensi terakhir.”

Nan Shin menunjuk baris yang baru. “Saya menerima penyelesaian administratif, tetapi surat tanggapan tetap tercatat. Ini yang berlaku?”

“Betul.”

“Saya ingin staf pencatat membacakan nomor rekening tujuan.”

Staf membacanya perlahan. Nan Shin mencocokkan setiap angka.

“Sesuai,” katanya. “Setelah saya tanda tangan, tidak ada halaman yang diganti tanpa paraf semua pihak.”

“Tidak ada perubahan lagi setelah penandatanganan.”

Nan Shin membuka halaman tersebut. Baru setelah semua cocok, ia menulis namanya.

Nan Shin Sim.

Tanda tangan yang sama pernah ia berikan pada kontrak pertama dengan tangan gemetar karena bahagia. Hari itu tangannya tenang.

Bukan karena tidak sakit.

Karena ia tidak mau HRD mengingatnya sebagai perempuan yang bahkan tidak sanggup menulis namanya sendiri ketika pergi.

Supervisor menandatangani set rumah sakit. Staf membubuhkan stempel dan menyerahkan satu set asli kepada Nan Shin.

“Terima kasih atas pengabdian Ibu selama ini.”

Nan Shin menatap tiga baris kompensasi. “Semoga rumah sakit suatu hari menghitung pengabdian sebelum orangnya harus pergi.”

Ia berdiri dan membawa map keluar.

Bu Ratna masih menunggu.

“Selesai?”

Nan Shin mengangguk.

“Kartu identitas nanti sore saja. STR tetap milikmu. Jangan sampai tercampur dengan berkas rumah sakit.”

“Sudah saya simpan terpisah.”

Mereka kembali ke IGD bersama.

Tidak ada upacara. Pasien tetap datang. Telepon tetap berdering. Nan Shin menerima serah terima bed seperti hari lain, lalu memakai sarung tangan dan bekerja.

Pasien pertamanya seorang pria dengan luka di dahi setelah terpeleset. Putri menyiapkan alat, Ayu memeriksa tanda vital, dan Nan Shin menjelaskan prosedur kepada keluarga.

“Hari ini saya pegang dokumentasi,” kata Putri. “Kak Nan Shin fokus ke pasien.”

Nan Shin melihat catatannya. “Tulis waktu setiap tindakan langsung, jangan ditunda.”

“Iya, Kak.”

Putri tidak salah satu angka pun.

Menjelang siang, seorang pasien sesak yang pernah dirawat beberapa minggu sebelumnya datang kembali. Putrinya mengenali Nan Shin.

“Suster yang waktu itu, kan? Papa saya tenang kalau Suster yang bicara.”

Nan Shin membantu memasang oksigen dan memeriksa obat yang dibawa dari rumah.

“Hari ini tim tetap menangani Bapak dengan baik,” katanya.

Ia tidak memberi tahu bahwa setelah sore, keluarga itu tidak akan menemukannya lagi di sana.

Menjelang pukul sebelas, Putri memanggil dari bed lima. Seorang perempuan lanjut usia yang datang karena lemas mendadak gelisah dan berkeringat. Monitor belum menunjukkan perubahan besar, tetapi tangannya dingin ketika Nan Shin menyentuhnya.

“Cek gula darah sekarang,” kata Nan Shin.

Putri mengambil alat. Angkanya muncul: 42 mg/dL.

“Hipoglikemia,” ujarnya cepat.

“Panggil dokter. Siapkan akses dan terapi sesuai instruksi. Ayu, pastikan kesadarannya.”

Putri bergerak tanpa membeku seperti minggu pertama. Ia menyebut hasil kepada dokter, mengulang instruksi, lalu menyiapkan tindakan dengan pemeriksaan ganda. Nan Shin mengamati setiap langkah dan hanya mengoreksi posisi selang.

Beberapa menit kemudian, pasien mulai membuka mata lebih jelas.

“Saya di mana?” tanyanya lemah.

“Di IGD, Bu. Gula darah Ibu tadi turun. Kami sedang menanganinya,” jawab Putri.

Perempuan itu menggerakkan bibir kering. “Anak saya di mana?”

“Sedang dihubungi petugas,” kata Putri. “Ibu jangan berdiri dulu.”

“Saya mau pulang.”

Nan Shin mendekat dari sisi ranjang. “Ibu baru mulai membaik. Dokter perlu menilai penyebabnya sebelum memutuskan boleh pulang.”

“Tas saya?”

“Ada di bawah ranjang dan sudah diberi label,” jawab Putri.

“Obat diabetes saya di dalam.”

“Nanti kami cocokkan dengan dokter. Jangan diminum sendiri sebelum ada instruksi.”

Pasien itu menatap Putri. “Kamu jangan pergi.”

Putri menarik kursi mendekat. “Saya di sini sampai kondisi Ibu stabil dan serah terimanya jelas.”

Nan Shin mengangguk kecil. “Jawaban yang tepat.”

Nan Shin melihat jam. “Catat waktu pemeriksaan pertama dan respons setelah terapi. Ulangi pemeriksaan sesuai instruksi dokter.”

Putri menulis langsung.

Dokter jaga memeriksa pasien, lalu menoleh kepada Nan Shin. “Cepat ketahuan. Kalau menunggu monitor, bisa terlambat.”

“Putri yang lanjut memantau, Dok.”

Putri mengangkat wajah, terkejut mendengar namanya disebut sebagai penanggung jawab. Nan Shin menyerahkan lembar observasi kepadanya.

“Kamu sudah tahu apa yang harus dilihat.”

“Kakak tetap cek?”

“Saya di sini sampai serah terima. Tapi keputusan berikutnya kamu sampaikan berdasarkan data pasien.”

Putri menarik napas dan mengangguk. Saat pemeriksaan ulang, ia melaporkan angka, kesadaran, dan tanda vital tanpa ada satu bagian pun terlewat.

Nan Shin berdiri setengah langkah di belakangnya.

Untuk terakhir kalinya, pengalaman dua belas tahun itu menjaga seorang pasien di IGD. Kali ini bukan hanya lewat tangannya sendiri, tetapi melalui perawat yang pernah ia takutkan akan menggantikannya.

Rasa sakit dan kebanggaan muncul bersamaan. Salah satunya tidak menghapus yang lain.

Sebelum meninggalkan bed lima, ia memeriksa hasil ulang. Gula darah pasien sudah naik, kesadarannya membaik, dan Putri telah menulis jadwal pemeriksaan berikutnya. Tidak ada tugas yang dibiarkan menggantung hanya karena itu hari terakhirnya.

Semua selesai.

Pada jam istirahat, Ayu menariknya ke ruang ganti. Di atas bangku ada kotak kecil berisi kue pasar dan kopi hangat. Dewi berdiri di samping Putri. Kak Sri datang dari ujung lorong sambil membawa tisu.

“Kami nggak sempat pesan apa-apa,” kata Ayu. Suaranya sudah bergetar.

“Ini cukup.”

“Nggak cukup untuk dua belas tahun,” ujar Dewi.

Nan Shin membuka salah satu kotak. “Kalau kalian membuat ini menjadi acara besar, saya bisa menangis sebelum makan.”

Ayu tertawa di sela air mata. “Menangis juga boleh. Hari ini nggak ada penilaian HRD.”

“Masih ada pasien.”

“Pasien sudah diserahterimakan,” kata Dewi. “Lima menit ini milik kami.”

Kak Sri mendorong potongan kue ke arahnya. “Makan. Selama dua belas tahun kamu selalu menyuruh orang lain makan dulu.”

Nan Shin menerima sendok plastik. “Kakak juga harus makan.”

“Saya makan kalau kamu janji tidak menghilang setelah keluar dari grup unit.”

“Saya belum tahu grup mana yang boleh saya simpan.”

Bu Ratna yang berdiri dekat pintu berkata, “Grup resmi pegawai harus dilepas. Grup teman tidak ada yang bisa melarang.”

Ayu segera mengangkat ponsel. “Berarti malam ini aku buat grup baru.”

“Jangan beri nama yang membuat saya terdengar sudah meninggal,” kata Nan Shin.

Untuk pertama kalinya hari itu, semua orang tertawa tanpa menahan suara.

Tidak ada yang tertawa.

Putri menyerahkan buku kecil orientasinya. Pada halaman pertama ada daftar yang ditulis saat Nan Shin mengajarinya tentang troli emergensi.

“Saya mau Kakak tanda tangan di sini.”

“Form kompetensimu sudah lengkap.”

“Bukan untuk form. Untuk saya.”

Nan Shin menulis satu kalimat di bawah catatan Putri.

Periksa pasiennya, bukan hanya angkanya.

Ia menandatangani dengan nama kecil.

Putri memeluk buku itu ke dada. “Saya nggak akan lupa.”

Kak Sri akhirnya menangis. “Saya masih punya beberapa minggu, tapi setelah kamu pergi, rasanya seperti menunggu giliran sendiri.”

Nan Shin menggenggam tangannya. “Simpan semua dokumen. Jangan tanda tangan sebelum baca.”

“Kamu masih saja mengingatkan orang lain.”

“Karena saya sudah belajar terlambat.”

Ayu menghapus air mata dengan punggung tangan. “Kalau ada lowongan, saya kabari.”

“Kabari juga Kak Sri.”

Mereka makan kue di ruang sempit sambil mendengar panggilan pasien dari luar. Tidak ada pidato panjang. Hanya cerita singkat tentang shift kacau, kopi dingin, dan kesalahan kecil yang dulu membuat mereka tertawa.

Ketika bel berbunyi, semua kembali bekerja.

Sore hari, Nan Shin melakukan serah terima terakhir. Ia menyebut kondisi setiap pasien, obat yang sudah diberikan, hasil yang masih ditunggu, keluarga yang perlu dihubungi, dan risiko yang harus diamati.

Putri mencatat. Ayu mengulang instruksi kritis. Bu Ratna memeriksa daftar.

“Ada yang tertinggal?” tanya Bu Ratna.

Nan Shin melihat papan bed.

“Bed tiga menunggu hasil elektrolit. Bed tujuh perlu evaluasi nyeri pukul enam. Keluarga bed empat minta penjelasan dokter setelah hasil radiologi.”

“Selain pasien?”

Nan Shin terdiam.

Di loker ada seragam cadangan. Mug lama dengan noda kopi. Sepasang sepatu yang solnya mulai tipis. Tidak ada benda yang benar-benar penting, tetapi semuanya pernah menjadi bagian dari hari-harinya.

“Tidak ada.”

Ia membersihkan loker sampai kosong. Seragam dibawa pulang. Mug diberikan kepada Ayu. Sepatu tetap dipakai.

Terakhir, Nan Shin melepaskan kartu identitas.

Stiker “12 Tahun Mengabdi” masih menempel di bawah fotonya. Jahitan biru yang dibuat pagi tadi terlihat jelas.

Ia menyerahkannya kepada Bu Ratna.

Bu Ratna menerima kartu itu, lalu menyelipkan selembar kertas kecil ke telapak tangannya.

“Baca nanti,” katanya.

Nan Shin ingin mengatakan sesuatu, tetapi tenggorokannya mengeras. Ia hanya mengangguk.

Di lift, ia membuka lipatan kertas.

Jaga diri baik-baik. Pengalamanmu tidak berakhir di pintu ini.

Tulisan tangan Bu Ratna miring dan terburu-buru.

Nan Shin melipatnya kembali, memasukkannya ke dompet dokumen bersama STR, lalu berjalan melewati lobi.

Petugas keamanan yang biasa melihatnya keluar menjelang subuh mengangkat tangan.

“Sudah pulang, Suster?”

Nan Shin merapatkan map ke dadanya. “Sudah selesai.”

Petugas itu melihat lehernya yang kosong. “Besok tidak masuk lagi?”

“Tidak.”

“Terima kasih, Suster. Waktu istri saya dibawa ke IGD tahun lalu, Suster yang menjelaskan antreannya.”

Nan Shin mencoba mengingat, tetapi terlalu banyak wajah telah melewati malam-malamnya. “Semoga istri Bapak sehat.”

“Sehat. Dia masih ingat nama Suster.”

“Kalau begitu, sampaikan salam saya.”

Nan Shin hampir menjawab seperti biasa.

“Iya. Saya pulang.”

Pintu kaca terbuka.

Bangunan RSUD Serpong Utama berdiri putih di belakangnya. Jendela-jendela IGD memantulkan matahari sore. Dua belas tahun hidupnya masih berlangsung di balik kaca tanpa dirinya.

Nan Shin berdiri di tepi jalan dengan map di satu tangan dan kertas Bu Ratna di tangan lain.

Untuk pertama kalinya, ia tidak tahu harus pergi ke mana setelah keluar dari rumah sakit.

1
Lili Inggrid
tetap semangat...
Ika Kirana
terlalu lambat alur ny thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!