NovelToon NovelToon
Lima Tahun Dipenjara, Kini Seluruh Keluarga Berlutut

Lima Tahun Dipenjara, Kini Seluruh Keluarga Berlutut

Status: tamat
Genre:Perubahan Hidup / Putri asli/palsu / Penyesalan Keluarga / Tamat
Popularitas:28.8k
Nilai: 5
Nama Author: Vira Dusk

Lima tahun dipenjara. Enam puluh bulan tanpa satu pun kunjungan.

Keira Pratama keluar dengan kaki pincang, ginjal yang hilang, dan hati yang sudah membeku. Dia putri kandung keluarga konglomerat Pratama, tetapi sejak kecil dibuang ke panti asuhan, sementara Vanessa, anak orang lain, dimanjakan sebagai putri kesayangan.

Dulu, Vanessa mendorong seseorang dari tangga, tetapi Keira yang dipenjara. Mama-nya menghapus CCTV. Papa-nya menyuruhnya diam. Lucas, pria yang pernah dia cintai, justru menjadi orang yang mengirimnya ke balik jeruji.

Namun Keira yang kembali bukan lagi gadis penurut.

Saat rahasia mulai terbongkar, keluarga yang dulu membuangnya satu per satu hancur oleh penyesalan. Dan di saat semua orang meninggalkannya, Rayhan Hartono, pewaris Hartono Group, diam-diam berdiri di sisinya.

Kini mereka semua berlutut di bawah hujan.

Tapi bagi Keira, satu hal tetap belum terjawab: **apakah penyesalan mereka datang terlambat?**

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vira Dusk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 8

Bab 8

Pisau dan Jari

Lelaki berpakaian hitam di ujung koridor tidak mendekat.

Keira juga tidak menunggu. Ia mengusap darah di dahinya dengan lengan seragam, lalu berjalan melewatinya tanpa mengangkat kepala. Beberapa menit kemudian, Ryan menutup lukanya dengan tiga jahitan kecil dan mencatat memar baru di leher serta bahunya.

Malam itu, Keira kembali ke rumah keluarga Pratama.

Bukan karena menganggapnya rumah, melainkan karena Tante Mira dan Amanda masih berada dalam jangkauan ancaman keluarga itu.

Dua hari berikutnya berlalu dalam ketegangan. Kevin sibuk menghadapi pembatalan kontrak dengan Adiputra Corporation. Edmond mengunci dokumen perusahaan. Yolanda menemani Vanessa memilih hadiah ulang tahun yang belum sempat dibuka.

Keira tinggal di gudang dan hampir tidak keluar.

Pada sore hari kelima setelah pembebasannya, Tante Mira mengetuk pintu.

"Nak, makan sedikit. Sejak pagi kamu hanya minum."

Keira menerima semangkuk bubur. Ia baru berjalan sampai lorong utama ketika suara Vanessa memanggil dari tangga.

"Kak Keira!"

Vanessa berdiri tiga anak tangga di atas lantai, mengenakan baju rumah berwarna krem. Tidak ada orang lain tepat di dekat mereka.

"Aku ingin minta maaf soal gaun itu," katanya.

Keira berhenti di bawah. "CCTV masih ada."

Senyum Vanessa menipis. "Kenapa kamu selalu merusak semuanya? Ko Kevin bahkan tidak memelukku malam itu."

"Tanyakan kepadanya, bukan kepadaku."

Keira berbalik.

Di belakangnya, Vanessa sengaja menginjak ujung celana sendiri. Tubuhnya jatuh ke depan. Ia sempat menahan pegangan tangga agar tidak terluka parah, lalu melepaskannya ketika suara langkah terdengar dari ruang tamu.

"Tolong!"

Vanessa meluncur tiga anak tangga dan mendarat di lantai dengan tangisan keras.

Mangkuk bubur jatuh dari tangan Keira. Isinya tumpah di karpet.

Edmond datang pertama, disusul Yolanda dan Kevin.

"Van!" Yolanda berlutut dan memeluknya. "Apa yang terjadi?"

Vanessa menunjuk Keira dengan tangan gemetar. "Aku cuma mau minta maaf. Kak Keira mendorongku."

"Aku tidak menyentuhnya," kata Keira.

"Pembohong!" Edmond menatap posisi mereka, lalu langsung membuat keputusan. "Lagi-lagi tangga. Kamu ingin mengulang apa yang kamu lakukan pada Evelyn?"

Kevin melihat mangkuk pecah, lalu kamera di ujung lorong. "Kita periksa rekaman."

"Kamu masih mau membelanya?" bentak Edmond.

Ia melepas sabuk kulit dari pinggang.

Tubuh Keira kaku. Bunyi logam gesper menyentuh lantai membawa kembali koridor lapas dan tongkat yang disusun di depan kakinya.

Sabuk pertama menghantam bahunya.

Keira jatuh berlutut. Bubur hangat meresap ke rok seragamnya.

"Papa, berhenti!" Kevin bergerak maju.

Edmond mengayunkan sabuk lagi.

Tante Mira berlari dari lorong dapur dan menjatuhkan tubuhnya di atas Keira. Sabuk itu mengenai punggungnya.

"Tante!"

Keira menangkap tubuh perempuan itu. Garis merah terbuka di balik kain seragam kerja yang robek.

Edmond masih mengangkat tangan. Kevin merampas sabuknya dan melemparkannya ke lantai.

"Cukup!"

"Minggir!" Edmond mendorong putranya. "Perempuan ini hampir mencelakai Vanessa lagi."

"Belum ada yang melihat CCTV."

"Aku melihatnya berdiri di depan Vanessa!"

"Berdiri di dekat seseorang bukan bukti."

Yolanda memeluk Vanessa yang menangis makin keras. Tidak seorang pun dari mereka bertanya apakah Tante Mira membutuhkan dokter.

Keira membuka kancing atas seragam kerja Tante Mira dan melihat bekas sabuk memanjang di punggungnya. Tangannya mulai gemetar.

"Kenapa Tante melindungiku?"

"Karena kamu tidak bersalah, Nak."

Jawaban itu sederhana. Di rumah yang sama, hanya seorang pekerja berani mengatakan hal yang tidak bisa diucapkan keluarganya sendiri.

Pintu utama terbuka tanpa ketukan.

Lucas masuk dengan wajah cemas. "Aku dengar ada masalah."

Kevin berdiri. "Siapa yang memanggilmu?"

Vanessa segera menunduk di pelukan Yolanda. Ponselnya tersembunyi di bawah lengan.

"Aku hanya ingin memastikan Keira baik-baik saja," jawab Lucas.

Keira membantu Tante Mira bangkit. "Keluar."

"Keira, dengarkan dulu. Semua orang sedang emosi. Aku bisa membantu menjelaskan."

"Seperti di pengadilan?"

Wajah Lucas menegang.

Kevin memanggil pembantu untuk membawa Tante Mira ke kamar. Saat perhatian terpecah, Keira berjalan menuju gudang. Lucas mengejarnya sampai lorong belakang.

"Keira, tunggu."

Ia menangkap pergelangan tangan Keira.

Keira langsung berusaha menarik diri. "Lepaskan."

"Aku masih peduli padamu."

"Orang yang peduli tidak mengirimku ke penjara."

"Aku bisa memperbaikinya. Kita pergi dari sini bersama."

"Aku lebih memilih jalan sendirian dengan kaki ini."

Lucas memperkuat genggaman. "Kamu bicara begitu karena mereka membuatmu membenciku. Ingat panti asuhan? Ingat janji kita?"

Keira memutar tangan, tetapi ibu jarinya menekan memar bekas jarum. Rasa takut naik ke tenggorokan. Lorong sempit itu tidak memiliki kamera. Suara musik dari ruang tamu menutup percakapan mereka.

"Lepaskan aku."

"Tidak sampai kamu mau mendengarkan."

Keira menatap dinding di sampingnya.

Lalu ia menghantamkan dahinya ke sana.

Darah dari jahitan lama merembes kembali.

Lucas terkejut, tetapi belum melepas. "Apa yang kamu lakukan?"

Keira membenturkan kepala untuk kedua kali.

"Berhenti!"

"Lepaskan."

Ketika ia menarik kepala untuk ketiga kali, Lucas akhirnya membuka tangan. Keira segera menjauh dan menahan dinding agar tidak jatuh.

Lucas menatap darah di dahinya dengan wajah pucat. "Kamu lebih baik melukai diri sendiri daripada membiarkanku menyentuhmu?"

"Ya."

Keira masuk ke gudang dan mengunci pintu.

Kevin tiba beberapa detik kemudian. Ia melihat darah baru di dinding dan Lucas yang masih berdiri dengan tangan terbuka.

"Apa yang kamu lakukan padanya?"

"Aku cuma menahannya supaya mau bicara. Dia membenturkan kepalanya sendiri."

Kevin mencengkeram kerah Lucas. "Kamu menahan seorang perempuan yang baru keluar dari lapas sampai dia memilih menghantam dinding untuk lepas darimu. Dan kamu masih menyebut itu peduli?"

"Kamu tidak tahu hubungan kami."

"Aku tahu kamu berdiri di pengadilan untuk Vanessa."

Lucas menepis tangan Kevin. "Setidaknya aku datang. Kamu bahkan tidak pernah mengunjunginya."

Kalimat itu tepat mengenai luka yang belum bisa dibantah Kevin. Genggamannya terlepas.

Namun ia tetap menunjuk pintu utama. "Keluar dari rumah ini. Jangan kembali tanpa izin Keira."

Lucas menatap pintu gudang sekali lagi, lalu pergi.

Malam turun tanpa suara.

Tante Mira sudah diberi salep dan obat nyeri. Kevin mengira Keira tertidur. Tidak ada yang melihatnya duduk di depan meja tua, menatap tangan kirinya di bawah cahaya lampu kuning.

Sebelum langkah di lorong benar-benar hilang, terdengar ketukan pelan.

"Nak, ini Tante."

Keira tidak membuka pintu.

"Punggung Tante sudah diobati. Jangan menyalahkan diri sendiri." Suara Tante Mira tertahan oleh kayu. "Amanda menelepon. Selama kamu di lapas, dia selalu tanya kapan bisa bertemu. Setiap Natal dia menulis kartu untukmu, tapi semua dikembalikan ke rumah ini."

Keira menatap celah di bawah pintu. Bayangan kaki Tante Mira tetap di sana.

"Manda tidak pernah melupakanmu," lanjutnya. "Jadi kamu juga jangan melupakan bahwa masih ada orang yang menunggu."

Keira menutup mulut dengan tangan agar napasnya tidak terdengar.

"Istirahatlah, Nak. Tante di kamar sebelah kalau kamu butuh apa pun."

Bayangan itu akhirnya pergi. Keira mengeluarkan napas yang ditahannya, lalu melihat kelingking kiri yang pernah dikaitkan Yolanda saat berjanji akan menjemputnya dari kantor polisi.

Tangan itu pernah meraih lengan Yolanda di kantor polisi.

Pernah mengetuk pintu Kevin untuk meminta biaya sekolah.

Pernah menulis surat kepada keluarga setiap bulan dari lapas, meski tidak satu pun dibalas.

Keira mengambil pisau buah dari nampan makan.

Ia tidak menangis. Tidak berteriak. Gerakannya tertutup oleh bayangan tubuhnya sendiri.

Ketika pisau diletakkan kembali, kelingking kirinya sudah terpisah di atas kain putih.

Darah menyebar di permukaan meja.

"Dilahirkan tapi tidak dibesarkan," ucap Keira kepada ruangan kosong. "Potong jari, hutang lunas."

Kotak logam terjatuh ketika sikunya menyenggol meja.

Bunyi keras itu terdengar sampai lantai dua.

Kevin berlari ke gudang. Ia mendobrak pintu setelah Keira tidak menjawab.

Wajahnya langsung kehilangan warna.

Keira duduk sangat tenang di depan meja. Tangan kirinya dibungkus kain yang makin merah. Di sampingnya terletak kelingking yang terputus.

"Kei!"

Kevin melepaskan kemeja luarnya untuk menekan luka, lalu mengangkat Keira. Kali ini ia tidak melawan. Kepalanya bersandar di dada Kevin, matanya terbuka tetapi kosong.

"Panggil mobil!" teriak Kevin. "Sekarang!"

Di RS Pondok Indah, Ryan menerima mereka di ruang bedah darurat. Luka distabilkan, tetapi jaringan pada jari tidak lagi layak disambungkan dengan peluang fungsi yang aman. Ryan membersihkan dan menutup pangkal kelingking agar pendarahan berhenti.

Kevin menunggu di balik pintu kaca dengan kemeja bernoda merah di kedua tangan. Ia telah menandatangani persetujuan tindakan sebagai keluarga, tetapi kolom hubungan pasien terasa seperti tuduhan ketika ia menulis `kakak kandung`.

Ryan keluar sebentar untuk menjelaskan risiko.

"Kami akan menyelamatkan sebanyak mungkin fungsi tangannya," katanya. "Tapi kelingking itu tidak bisa dipertahankan."

"Dia melakukannya karena kami."

"Kalau kamu benar-benar mengerti itu, jangan paksa dia kembali ke rumah yang sama setelah sadar."

Kevin menunduk. Untuk pertama kalinya, ia tidak membela keluarga Pratama.

Hasil laboratorium sebelum anestesi menunjukkan fungsi ginjal yang tidak wajar. Mengingat riwayat trauma Keira dan tidak adanya catatan medis lengkap, Ryan memerintahkan CT abdomen sebelum prosedur lanjutan.

Ia juga meminta bank darah menyiapkan cadangan dan membatasi obat yang dapat membebani ginjal. Keputusan itu diambil sebelum siapa pun mengetahui penyebab hasil laboratorium tersebut.

Gambar muncul di monitor ruang persiapan.

Seorang asisten menunjuk sisi kiri layar. Suaranya berubah pelan.

"Dokter... ginjal kirinya tidak ada."

Ryan menatap ruang kosong di tempat organ itu seharusnya berada.

Wajahnya seketika memucat.

1
Intan Marliah
mewekkk banget... ceritanya disusun seepik ini.
Iba Sa Iba Daud
apa ginjal tu tuk bokapnya ato evelyn
Iba Sa Iba Daud
Kluarga bangat iblis... si kevin ni ga bs apa" klo udh depan bokapny.. bilang priksa CCTV tp bentakn bokap diam..
Iba Sa Iba Daud
sungguh orgtua yg pling kejam.. tunggu sj katmamu tua bngka
Iba Sa Iba Daud
kavin klo lo sayg kaira cari tau ksuus 5 thn llu dn sobeknya baju adk tiri manja lo tu
Rina Arie
good book
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!