Chu Xuan menjadi orang pertama dalam sejarah yang menolak reinkarnasi.
Karena murka, utusan akhirat mengutuknya untuk menjalani delapan belas tahun kehidupan yang penuh penderitaan di dunia kultivasi tanpa bakat, tanpa kekayaan, dan tanpa harapan.
Setelah kehilangan satu-satunya keluarga yang membesarkannya dan hidup sendirian selama tiga tahun di sebuah kuil tua yang hampir roboh, Chu Xuan akhirnya disambar petir pada usia delapan belas tahun.
Hari itu, seluruh dunia kultivasi tidak mengetahui satu hal:
Orang paling malas di dua dunia akhirnya memperoleh kekuatan untuk menjadi tak terkalahkan.
Namun, Chu Xuan hanya memiliki satu tujuan.
Memperbaiki atap Kuil Qingfeng.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon D'Silent Novel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12 — Kota yang Tidak Pernah Tidur
Gerbang Kota Canglan menjulang megah di bawah langit pagi.
Tembok batu yang kokoh membentang sejauh mata memandang, sementara arus manusia keluar masuk tanpa pernah berhenti.
Pedagang.
Kultivator.
Pengembara.
Kereta barang.
Suara tawar-menawar bercampur dengan aroma makanan yang terbawa angin.
Chu Xuan berdiri memandang semua itu beberapa saat.
Delapan belas tahun.
Selama delapan belas tahun, dunia yang dia lihat hanyalah Kuil Qingfeng, hutan, dan pegunungan.
Kini...
Untuk pertama kalinya...
Dia benar-benar melihat dunia di luar gunung.
"Ramai sekali."
Han Zhen tersenyum.
"Beberapa bulan lagi kau akan terbiasa."
Luo Ning mengangguk kecil.
"Bahkan ini belum seberapa."
"Kota-kota besar di kerajaan jauh lebih ramai."
Chu Xuan hanya mengangguk pelan.
Dia sudah mengetahui semua itu dari pengetahuan yang diberikan Sistem.
Namun mengetahui...
Dan melihatnya sendiri...
Adalah dua hal yang sama sekali berbeda.
Mereka bertiga berjalan menuju gerbang kota.
Seorang penjaga segera mengangkat tombaknya.
"Biaya masuk."
"Satu batu roh kelas rendah untuk setiap orang."
Han Zhen langsung mengeluarkan batu roh dari kantung penyimpanannya.
Sementara itu, Chu Xuan membuka kantung penyimpanannya.
Puluhan ribu batu roh memenuhi bagian dalam kantung tersebut.
Namun...
Dia justru terdiam.
Han Zhen meliriknya.
"Ada masalah?"
Chu Xuan mengangkat satu batu roh.
"Senior."
"Apakah ini yang disebut batu roh kelas rendah?"
Han Zhen mengangguk.
"Benar."
Chu Xuan kembali bertanya dengan wajah serius.
"Kalau begitu..."
"Satu batu roh cukup untuk membeli semangkuk mi?"
Han Zhen hampir tersedak.
"Yang kau pikirkan sejak tadi ternyata hanya makanan?"
Chu Xuan menjawab dengan tenang.
"Kalau harga mi lebih mahal daripada biaya masuk kota, aku harus menghitung pengeluaranku."
Han Zhen tertawa kecil.
"Tenang."
"Dengan satu batu roh, kau bahkan bisa membeli beberapa mangkuk mi."
Chu Xuan mengangguk puas.
"Itu kabar baik."
Dia menyerahkan tiga batu roh kepada penjaga.
"Tiga orang."
Penjaga menerima batu roh itu.
Namun ketika tanpa sengaja melihat isi kantung penyimpanan Chu Xuan...
Pupil matanya sedikit mengecil.
Sebagai penjaga gerbang, dia sudah melihat banyak orang.
Tetapi...
Jarang ada orang yang membawa begitu banyak batu roh sambil mengenakan pakaian sesederhana itu.
Meski begitu, dia cukup bijaksana untuk tidak bertanya.
"Silakan masuk."
Begitu melewati gerbang kota—
【Misi Tambahan Selesai.】
【Target: Pergi ke Kota Canglan dan mempelajari dunia kultivasi.】
【Hadiah telah diberikan.
• • 500 Poin Tak Terkalahkan.
• • Peta Pegunungan Tianyun telah diperbarui.】
Chu Xuan hanya melirik sekilas notifikasi itu.
Dia sudah terbiasa.
Perhatiannya sekarang jauh lebih tertarik pada kota di hadapannya.
Di sisi kiri jalan, seorang pandai besi menempa pedang hingga percikan api beterbangan.
Di sisi kanan, deretan kios menjual pil, jimat, senjata, pakaian, dan berbagai bahan obat.
Para kultivator berlalu-lalang dengan pakaian berbeda-beda.
Beberapa membawa pedang.
Sebagian lagi menunggangi binatang roh.
Semuanya terasa hidup.
Sangat hidup.
Luo Ning diam-diam memperhatikan wajah Chu Xuan.
Dia mengira pemuda itu akan terpukau.
Namun ekspresi Chu Xuan tetap tenang seperti biasanya.
Padahal, dalam hati Chu Xuan hanya memikirkan satu hal.
"Kalau semua toko ini menjual makanan..."
"Aku ingin mencoba semuanya."
Tepat saat itu...
Perutnya berbunyi pelan.
"Grr..."
Han Zhen menoleh.
Chu Xuan batuk kecil.
"Aku lapar."
Han Zhen tertawa lepas.
"Hahaha!"
"Kalau begitu, aku tahu tempat yang masakannya cukup enak."
Chu Xuan langsung mengangguk.
"Ayo."
Han Zhen memimpin mereka menyusuri jalan utama Kota Canglan.
Semakin jauh mereka berjalan, suasana kota semakin ramai.
Di kiri-kanan jalan berdiri bangunan bertingkat dengan papan-papan kayu yang dihiasi ukiran indah.
Terdengar suara pandai besi menempa senjata.
Aroma obat dari paviliun alkimia bercampur dengan wangi daging panggang dan mi hangat.
Chu Xuan memperhatikan semuanya dengan tenang.
Sesekali ia membandingkannya dengan ingatan kehidupan di Bumi.
"Kalau di sana ada minimarket..."
"Di sini malah ada toko jimat."
"Kalau di sana ada apotek..."
"Di sini ada paviliun pil."
Meski berbeda, anehnya ia merasa dunia ini memiliki ritme kehidupan yang tidak jauh berbeda.
Hanya saja...
Orang-orang di sini membawa pedang ke mana-mana.
"Tiba."
Han Zhen berhenti di depan sebuah rumah makan berlantai dua.
Papan kayunya bertuliskan tiga huruf besar.
Rumah Makan Awan Harum.
"Asal jangan melihat harganya dulu."
"Kualitas makanannya cukup baik."
Chu Xuan mengangguk.
"Aku akan berusaha."
Mereka memasuki rumah makan.
Pelayan segera menghampiri.
"Selamat datang, para tamu."
Han Zhen tersenyum.
"Siapkan meja untuk tiga orang."
"Baik."
Tak lama kemudian mereka duduk di dekat jendela lantai bawah.
Dari sana, jalan utama Kota Canglan terlihat jelas.
Banyak kultivator keluar masuk tanpa henti.
Pelayan menyerahkan daftar makanan.
Chu Xuan menerimanya.
Lalu...
Dia terdiam.
"Ada apa?"
Tanya Luo Ning.
Chu Xuan membalik daftar itu beberapa kali.
"Kenapa tidak ada gambarnya?"
"..."
Han Zhen menatapnya heran.
"Gambar?"
"Di tempat asalku..."
Chu Xuan buru-buru menghentikan ucapannya.
"Maksudku..."
"...aku lebih mudah memilih kalau melihat bentuk makanannya."
Pelayan tersenyum ramah.
"Kalau begitu, izinkan saya menjelaskan."
Selama beberapa menit berikutnya, pelayan memperkenalkan berbagai hidangan khas Kota Canglan.
Mi daging roh.
Sup jamur gunung.
Nasi bambu.
Daging rusa roh panggang.
Sayuran spiritual.
Semakin lama mendengar penjelasan itu...
Mata Chu Xuan semakin berbinar.
Han Zhen tertawa kecil.
"Pesan saja."
"Hari ini aku yang mentraktir."
Chu Xuan langsung menggeleng.
"Tidak."
"Aku punya uang."
Setelah berkata demikian, ia mengeluarkan sebuah batu roh.
Pelayan tersenyum.
"Baik, Tuan."
Kemudian...
Chu Xuan meletakkan batu roh itu di atas meja.
"Lalu..."
"Aku harus bagaimana?"
Pelayan berkedip.
Han Zhen menahan tawanya.
"Kau benar-benar belum pernah membeli sesuatu?"
"Belum."
Han Zhen mengambil batu roh itu.
"Nanti setelah selesai makan, mereka akan menghitung totalnya."
"Kalau masih ada sisa, mereka mengembalikannya."
Chu Xuan mengangguk pelan.
"Ternyata sama seperti di duniaku."
Kalimat itu keluar tanpa sadar.
Han Zhen hanya mengira Chu Xuan sedang membandingkannya dengan desa tempat tinggalnya.
Tak lama kemudian...
Hidangan demi hidangan mulai memenuhi meja.
Uap hangat mengepul.
Aroma daging memenuhi ruangan.
Chu Xuan menatap semangkuk mi daging roh di depannya beberapa saat.
Kemudian perlahan mengambil sumpit.
Satu suapan.
Dua suapan.
Dia berhenti.
Han Zhen bertanya,
"Bagaimana?"
Chu Xuan menatap mangkuknya.
"Enak."
"Hanya saja..."
"Apa?"
"Masakan kakek tetap lebih enak."
Suasana meja mendadak hening.
Luo Ning menundukkan kepala.
Han Zhen tidak berkata apa-apa.
Dia tahu...
Kadang seseorang tidak merindukan rasa makanannya.
Melainkan orang yang memasaknya.
Chu Xuan tersenyum tipis.
Lalu melanjutkan makan tanpa berkata apa-apa lagi.
Di saat yang sama...
Di meja sebelah.
Dua kultivator muda diam-diam memperhatikan kantung penyimpanan di pinggang Chu Xuan.
"Hei."
"Pemuda itu memakai pakaian biasa."
"Tapi kantung penyimpanannya terlihat cukup bagus."
Yang satunya mengangguk pelan.
"Jangan gegabah."
"Dia datang bersama Senior Han."
Meski begitu...
Tatapan mereka tetap sesekali mengarah kepada Chu Xuan.
Benih keserakahan...
Sering kali lahir dari hal-hal kecil yang tampak sepele.
Bersambung...