NovelToon NovelToon
Setiap Malam Bermimpi Panas dengan Suami Koma

Setiap Malam Bermimpi Panas dengan Suami Koma

Status: tamat
Genre:Horor / Romantis / Fantasi / Suami Hantu / Tamat
Popularitas:70
Nilai: 5
Nama Author: Nguyệt Cầm Ỷ Mộng

Sari Wulandari dibawa dari desa ke keluarga Pratama bukan sebagai putri yang disayangi, melainkan sebagai calon istri untuk Arga Pratama, pewaris kaya raya yang sudah dua tahun terbaring koma. Semua orang mengira ia hanya akan menjadi perawat di rumah megah itu.
Namun kamar Arga menyimpan rahasia yang tidak masuk akal: tirai bergerak tanpa angin, jimat tersembunyi di bawah seprai, dan sosok tak terlihat selalu mengawasi Sari. Setiap malam, pria koma itu datang ke dalam mimpinya dengan hasrat yang terlalu nyata.
Di balik pernikahan mendadak itu, keluarga elite lain menyembunyikan ritual penahan nasib yang mengorbankan hidup Arga. Sari yang polos hanya ingin merawat calon suaminya dengan baik, tanpa tahu bahwa sejak ia masuk ke rumah itu, sang hantu telah menganggapnya sebagai miliknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nguyệt Cầm Ỷ Mộng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 15

# Bab 15: Mendekati yang Berkuasa

Awalnya Livia sebenarnya tidak memperhatikan Sari. Lebih tepatnya, ia tidak mengenal Sari. Livia belum pernah bertemu Sari. Alasan Livia melihat ke arah itu adalah karena ia melihat Bu Pratama.

Keluarga Wijaya selalu ingin menempel pada keluarga berkuasa di Jakarta. Karena itu, meski Livia belum pernah berurusan dengan Bu Pratama, ia mengenali perempuan itu.

Melihat Bu Pratama, Livia langsung teringat bahwa keluarga Wijaya dan keluarga Pratama sudah membicarakan pernikahan. Meski ia tidak ingin menikahi Arga yang cacat itu, bukan berarti ia tidak menyukai kekuasaan keluarga Pratama.

Jadi sekarang, bisakah ia mendekati perempuan anggun itu, menyapa, menjalin hubungan, sekaligus mencari sedikit keuntungan?

Begitu berpikir demikian, Livia bersemangat sampai tanpa sadar melangkah mendekati Bu Pratama.

Namun ketika Livia masih berjarak tujuh delapan langkah, ia melihat Bu Pratama memegang gaun dari merek mahal yang sudah berkali-kali ia impikan, lalu menempelkannya ke tubuh seorang gadis.

Di mata Livia, gadis itu sama sekali tidak pantas memakai gaun itu.

Melihat gaun berharga yang ia inginkan tetapi tidak mampu ia dapatkan dipasangkan pada seseorang yang gelap dan buruk rupa, hati Livia seperti berdarah. Kecemburuan hampir meluap keluar.

Seketika ia memanggil, "Bu Pratama!"

"Coba gaun ini untuk Tante lihat... Hm?"

Bu Pratama baru hendak memasukkan gaun itu ke tangan Sari ketika berhenti. Ia menoleh melihat Livia berlari mendekat.

Livia mempercepat langkah, lalu berhenti di hadapan Bu Pratama. Ia sengaja memasang sikap manis, menyedihkan, dan sopan. "Selamat siang, Bu Pratama. Tidak kusangka bisa bertemu Ibu di sini."

"Ibu sedang belanja?"

Bu Pratama mengangkat alis dan memandangnya hambar. "Anda siapa?"

Wajah Livia sedikit kaku, tetapi ia tetap mempertahankan kesopanan. "Saya putri Hendra Wijaya."

Livia sangat licik dalam bersikap. Ia tahu orang seperti apa yang disukai orang tua, jadi selalu menunjukkan diri sebagai gadis sopan dan pengertian. Di hadapan orang muda, ia tampil lemah seperti bunga teratai putih.

Sebenarnya caranya tidak salah. Sebelum ini, ia selalu berhasil meninggalkan kesan baik di hati orang-orang tua.

"Oh."

Bu Pratama menanggapi datar.

Namun Livia tidak merasa perempuan itu dingin kepadanya. Orang berkuasa selalu punya sedikit temperamen. Ia menganggap sikap Bu Pratama normal dan tidak menolaknya.

Maka Livia memanfaatkan kesempatan itu untuk mengamati gadis di samping Bu Pratama.

Dari jauh ia tidak melihat jelas. Sekarang ketika melihat lagi, Livia tanpa sadar tertegun. Ia merasa orang ini agak familier, tetapi sesaat tidak bisa mengatakan di mana ia pernah melihatnya.

Saat itu Bu Pratama kembali bicara, tetapi bukan kepadanya.

"Sari, kau pergi coba dulu."

"Baik."

Livia akhirnya tersadar. Ia menatap punggung Sari lekat-lekat.

Jadi inilah kakak seayahnya, sekaligus menantu yang sudah diakui keluarga Pratama, tiga hari lagi akan resmi masuk keluarga Pratama.

Namun Livia tidak pernah berpikir keluarga Pratama akan memperlakukan Sari dengan baik. Hari ini Bu Pratama bahkan membawanya ke sini membeli pakaian.

Livia hampir menunjukkan kecemburuannya di wajah.

Kenapa bisa begitu!

Sebenarnya apa yang keluarga Pratama sukai darinya?

Jika barusan ia hanya merasa Sari tidak enak dipandang, sekarang Livia hampir ingin menarik keluar semua kekurangan Sari. Ketika melihat Sari keluar memakai gaun itu, matanya nyaris menyemburkan api. Kalau bukan karena Bu Pratama ada di sini, ia pasti sudah mencaci habis-habisan.

Di mata Livia, Sari baru saja menodai gaun indah dan mahal yang tidak bisa ia terima.

Perempuan kampungan ini sebenarnya bagaimana bisa tetap ada!

Ia tidak pantas berada di Jakarta! Seharusnya ia kembali ke tempat kampungan yang cocok untuknya!

Livia sepenuhnya lupa siapa yang memberinya kesempatan untuk mencoba mendekati Bu Pratama.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!