NovelToon NovelToon
One Piece: Puppet System

One Piece: Puppet System

Status: tamat
Genre:Sistem / Anime / Transmigrasi / Tamat
Popularitas:11.1k
Nilai: 5
Nama Author: RabilMuhammadTahir

Muzan Kibutsi, seorang remaja dari Bumi, meninggal akibat kecelakaan dan bereinkarnasi ke dunia One Piece beberapa bulan sebelum perjalanan Luffy dimulai. Sebagai orang biasa tanpa kekuatan apa pun, ia memperoleh Puppet System, sebuah sistem yang memungkinkannya melakukan gacha menggunakan Belly untuk mendapatkan boneka karakter dari berbagai dunia anime.

Setiap boneka memiliki penampilan, kemampuan, dan gaya bertarung seperti karakter aslinya, tetapi sepenuhnya dikendalikan oleh Muzan dan setia tanpa syarat.

Dengan mengumpulkan Belly, membangun koleksi boneka, dan bergerak dari balik bayang-bayang, Muzan perlahan mengukir namanya di lautan. Sementara sejarah One Piece terus berjalan, seorang dalang misterius mulai memainkan perannya di balik panggung, siap mengubah keseimbangan dunia dengan pasukan boneka dari berbagai dimensi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RabilMuhammadTahir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25: Jebakan Lilin dan Penjagal dari Langit

Kanopi hutan purba di Pulau Little Garden menutupi sebagian besar cahaya matahari, menyisakan pilar-pilar cahaya keemasan yang menembus kabut lembap dan tebal. Udara di pulau ini terasa berat, dipenuhi oleh dengung serangga raksasa, suara gemerisik daun akibat pergerakan dinosaurus, dan gema raungan dua raksasa yang saling menghormati namun dipaksa berperang oleh waktu.

​Di bibir pantai, tak jauh dari tempat kapal Tartarus membuang sauh, Muzan Kibutsi melangkah turun ke atas pasir putih. Di belakangnya, Roy Mustang berjalan dengan langkah tenang, mantel hitamnya berkibar pelan. Putri Vivi dan Mr. 9 mengekor dengan cemas, menjaga jarak aman dari dua sosok yang mereka anggap sebagai iblis berwujud manusia itu.

​"Tuan Muzan," bisik Vivi ragu-ragu, menatap dinding hutan lebat di hadapan mereka yang terlihat begitu mengerikan. "Pulau ini... tidak ada manusia yang tinggal di sini. Tempat ini hanya dihuni oleh binatang buas purba dan... dua raksasa legendaris dari Elbaf. Kenapa kita singgah di tempat berbahaya seperti ini?"

​Muzan tidak menoleh. Matanya menatap tajam ke dalam gelapnya hutan, tempat di mana gelombang suara Mantra Enel dari langit terus mengirimkan laporan intelijen secara real-time ke dalam benaknya.

​"Kita tidak sedang berwisata, Vivi," jawab Muzan datar. "Pulau ini adalah tempat persembunyian tikus-tikus dari Baroque Works. Mereka sedang memasang perangkap untuk membunuh para raksasa, dan sebentar lagi, kelompok bajak laut Topi Jerami akan masuk ke dalam jaring yang sama."

​Vivi menelan ludah. "Baroque Works? Apakah Mr. 3 dan Mr. 5 berada di pulau ini?"

​"Bukan hanya mereka," suara Enel tiba-tiba menggema di ruang mental Muzan dari atas langit, bercampur dengan tawa ringannya yang sombong. “Pencipta, pertunjukan utamanya baru saja dimulai. Si raksasa peminum ale—Dorry—baru saja menelan botol yang dicampur dengan bom bubuk mesiu oleh agen lilin itu. Perutnya meledak dari dalam.”

​Muzan menyunggingkan senyuman tipis yang dingin. Plot pembunuhan licik itu berjalan tepat sesuai skenario canon, namun kali ini, para pemangsa di balik layar itu tidak menyadari bahwa ada predator yang jauh lebih berbahaya sedang mengintai gerak-gerik mereka.

​"Mustang," panggil Muzan tanpa mengalihkan pandangannya dari hutan.

​"Ya, Tuan?"

​"Waktunya berburu. Di dalam hutan sana, ada seorang pria yang menamakan dirinya sebagai seniman lilin. Dia memiliki kemampuan buah iblis Doru Doru no Mi yang bisa menciptakan struktur pertahanan dan senjata dari lilin, serta rekannya yang mampu meledakkan apapun menggunakan napas atau bagian tubuhnya." Muzan melirik sekilas ke arah Mustang. "Seorang seniman lilin yang keras kepala... tampaknya sangat cocok untuk dibakar hingga meleleh."

​Mustang menyeringai lebar, sarung tangan putihnya bergesekan pelan. "Sebuah kehormatan. Lilin adalah material yang sangat mudah meleleh di hadapan suhu tinggi. Saya akan memastikan dia tidak meninggalkan sisa untuk dijadikan patung."

​"Vivi, Mr. 9," Muzan beralih menatap dua orang pengikut paksa di belakangnya. "Tetaplah berada di dek kapal Tartarus. Sistem pertahanan otomatis kapal ini akan melindungi kalian dari dinosaurus apapun. Jika kalian mencoba kabur... kalian tahu apa konsekuensinya."

​Vivi mengangguk dengan cepat, terlalu takut untuk membantah sepatah kata pun.

​"Ikut aku, Mustang," perintah Muzan.

​Tanpa membuang waktu, Muzan dan Mustang melesat masuk ke dalam lebatnya hutan purba Little Garden. Menggunakan fisik super mereka—Muzan dengan 104 Poin Kecepatan dan refleks setara Soru, serta Mustang dengan mobilitas militer tingkat tingginya—mereka bergerak di antara pepohonan raksasa bagaikan dua bayangan hitam yang membelah angin, mengabaikan lumpur dan akar pohon yang menghalangi.

​Beberapa kilometer dari posisi mereka, di sebuah area terbuka yang dikelilingi oleh pepohonan raksasa, situasi telah mencapai titik didih yang tragis.

​Dorry, raksasa berjanggut lebat dengan helm bertanduk, berdiri dengan tubuh berlumuran darah dan luka bakar parah akibat ledakan ramuan Exploding Rum yang diberikan oleh Mr. 3. Di hadapannya, sahabat sejatinya selama seratus tahun, Brogy, terpaksa mengangkat kapaknya dengan air mata yang mengalir di pipi raksasanya, mengira Dorry telah berkhianat atau menyerang lebih dulu akibat tipu muslihat tersebut.

​"Dorry! Kenapa kau menyerangku?!" teriak Brogy dengan suara menggelegar yang mengguncang tanah, meski dadanya sendiri sesak menahan kesedihan.

​"Aku... aku tidak tahu, Brogy!" rintih Dorry, batuk mengeluarkan darah segar. Luka di perutnya akibat jebakan lilin dan bom sangat parah. Namun, kode kehormatan bangsa Elbaf melarang mereka untuk berhenti bertarung sekali tantangan telah disetujui.

​Di atas dahan pohon yang tinggi, tersembunyi di balik semak-semak tebal, Mr. 3 (Galzino) tertawa cekikikan di balik rambutnya yang dikuncir tiga menyerupai angka 3. Di sampingnya, Miss Goldenweek duduk bersila sambil memegang kuas dan palet warna, tersenyum polos.

​"Kukuku! Sempurna!" bisik Mr. 3 puas, merapikan kacamata bundarnya. "Raksasa-raksasa bodoh itu saling membantai karena kehormatan palsu mereka! Sebentar lagi, mereka akan tumbang kelelahan, dan aku bisa mengambil kepala mereka untuk mendapatkan promosi langsung dari Mr. 0!"

​Di dekat Mr. 3, berdiri Mr. 5 dan Miss Valentine, bersiap untuk turun tangan jika pertarungan itu melenceng dari rencana.

​Mr. 3 mengangkat tangan kanannya, mengaktifkan kekuatan buah iblis Doru Doru no Mi. Lilin cair keluar dari telapak tangannya, dengan cepat mengeras membentuk formasi jebakan lilin raksasa (Candle Service) di sekitar tubuh Dorry yang mulai melemah, berniat mengikat sang raksasa agar tidak bisa bergerak sebelum mereka mengeksekusinya.

​"Matilah, para raksasa purba!" seru Mr. 3, menjentikkan jarinya untuk mengeraskan lilin tersebut.

​Namun, sebelum lilin itu sempat sepenuhnya mengunci tubuh Dorry, sebuah suara dingin yang memotong udara hutan menghentikan gerakan sang seniman lilin.

​"Seniman yang menyedihkan. Menciptakan patung dari bahan murahan yang tidak tahan panas."

​Mr. 3 dan Mr. 5 terperanjat kaget. Mereka serempak menoleh ke atas dahan pohon besar di sebelah kanan mereka.

​Di sana, berdiri tegak sesosok pria berjas militer biru dengan mantel hitam berkibar. Roy Mustang menatap rendah ke arah Mr. 3, matanya memancarkan seringai kejam seorang perwira yang menemukan mangsa di lapangan tembak.

​Di samping Mustang, berdiri seorang remaja berjubah hitam dengan postur tubuh yang memancarkan aura dominasi mutlak—Muzan Kibutsi.

​"Siapa kalian?!" teriak Mr. 5 dengan nada mengancam, langsung melangkah maju dan mengarahkan jarinya yang telah dilapisi mesiu ke arah Mustang. "Berani sekali mengganggu operasi Baroque Works! Bomu Bomu no Mi akan menghancurkan kalian berkeping-keping!"

​Mr. 5 meniup jarinya, menembakkan proyektil ledakan udara langsung ke dada Mustang.

​Mustang bahkan tidak mengelak. Ia hanya mengangkat tangan kanannya yang berbalut sarung tangan pyrotex, merentangkan ibu jari dan jari tengahnya.

​SNAP!

​Sebuah jentikan jari menciptakan ledakan api terkonsentrasi di udara. Ledakan termobarik itu menelan proyektil peledak Mr. 5 seketika di tengah jalan, membalikkan gelombang kejutnya kembali ke arah sang agen Baroque Works.

​BOOOM!

​Mr. 5 terpelanting hebat ke belakang, menghantam batang pohon hingga tumbang, pakaiannya hangus dan wajahnya dipenuhi arang hitam.

​Mr. 3 membelalakkan matanya, keringat dingin sebesar biji jagung mengalir deras di pelipisnya. Rambut angka 3 miliknya seolah berdiri karena teror. "A-Api?! Tanpa korek api, tanpa sumbu... Dia memanipulasi api secara instan?!"

​Mustang melangkah perlahan dari atas dahan, turun mendarat di tanah lapang tempat Dorry dan Brogy terkejut melihat kehadiran manusia asing tersebut. Kolonel itu menatap Mr. 3 dengan pandangan jijik, seolah-olah melihat serangga pengganggu di lantai ruang tamunya.

​"Kau menyukai lilin, Tuan Seniman?" tanya Mustang pelan, mengangkat tangannya kembali. "Mari kita lihat seberapa indah patung lilinmu... saat meleleh bersama pemiliknya."

1
variable of ancient
batu gravitasi bukanya udah dipasang thor
Bintang Surya
lanjutttt
Bintang Surya
upp terus thor
Jane R.S
lanjut upp
Axel
thor sebaiknya pakai kalimat dewa, jangan pakai kalimat tuhan
Rabil Muhammad Tahir: terimakasih saran nya dan saya sudah revisi ya 🙂‍↕️
total 1 replies
Bintang Surya
uppp thor
Protocetus
jika berkenan mampir ya ke novelku Blue Lock München Gaiden
MP
gas
Bintang Surya
uppppp
Rabil Muhammad Tahir: makasih komennya 😭😭 jadi terharu ada yang semangat sama novel saya
total 1 replies
Bintang Surya
lanjut plisss
Bintang Surya
bagus
Bintang Surya
pliss upp
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!